Giliran Yanto turun tangan. Ia melingkarkan tangan di atas pundak Rida dan memaksa dengan halus agar pandangan Rida mengarah padanya.
"Rida ... Lihat aku. Tolong lihat Kak Yanto sebentar," ucap Yanto lirih di telinga Rida.
Rida awalnya mengabaikan ucapan Yanto, tapi Yanto terus mengulangi ucapannya hingga Rida fokus ke arahnya.
Saat Mata mereka berserobok, Yanto pun berujar pelan, "Rida ... kamu masih aku, Adik Faiz, Paklek dan Bulek. Kamu masih punya kami. Tolong bertahanlah demi kami, juga demi kakek."
Rida tak menyahut ucapan Yanto. Hanya matanya yang tampak berurai air mata memandang ke arah Yanto.
"Kamu masih punya kami. Jadilah kuat demi kami dan kakek. Aku mohon ...," pinta Yanto.
Tatapan mata Rida agaknya semakin buram oleh air mata yang menetes di pipi. Hingga tanpa sadar semua terasa gelap. Tubuh Rida menjadi lemas. Ia pun kembali pingsan.
Yanto segera memindahkan Rida ke kamarnya agar proses pengurusan jenazah segera dilaksanakan.
Meski Rida tidak bisa mengikuti prosesnya karena ia sedang tidak sadarkan diri, tapi warga sepakat untuk segera memproses jenazah Kakek Suro. Paling tidak mereka telah menunggu sampai gadis itu bersua dengan sang kakek untuk terakhir kali.
Dipimpin oleh keluarga Bulek Bas dan gotong royong seluruh warga kompleks, proses pemakaman pun segera dilaksanakan. Masing-masing telah berjanji bahwa mereka akan berlaku baik dan menganggap Rida sebagai bagian dari keluarga mereka. Semoga Rida tabah menghadapi ujian kali ini.
***
Rida membuka matanya perlahan. Badannya terasa sakit, matanya juga perih. Sejenak ia mengerjapkan mata mencoba mengumpulkan nyawa. Namun, saat ingatannya beralih pada momen meninggalnya sang kakek, Rida dengan cepat bangkit dari tidur, membuka pintu kamar dengan keras, dan bergegas ke ruang tamu.
Kursi telah dipinggirkan berganti dengan karpet yang sama seperti waktu jasad kakeknya masih di tengah ruangan. Suasana telah sepi. Hanya ada Bulek Bas dan Yanto yang tidur di lantai.
Apakah tadi ia kembali pingsan? batin Rida. Ia sontak menengadah melihat jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Tubuhnya langsung merosot saat tahu ia melewatkan pemakaman sang kakek. Meski tidak umum bagi wanita di daerahnya untuk ikut ke pemakaman, tapi ia sangat ingin melepas jasad sang kakek ke liang lahat.
Dengan pelan Rida duduk di kursi. Ia tertegun dengan nasib yang menimpanya. Ada rasa tidak percaya akan meninggalnya sang kakek. Ia menghela napas keras. Ia ingin menangis, tapi tidak bisa seolah stok air matanya telah habis. Matanya juga telah sembab oleh tangisannya sore tadi.
Yanto bergerak dalam tidurnya sebelum membuka mata. Rupanya ia mendengar helaan napas Rida barusan.
"Kau sudah bangun?" tanya Yanto. Ia bangun dari tidur dan duduk menghadap ke arah Rida.
"Iya, Kak. Aku baru saja bangun. Maaf karena telah membangunkanmu," ucap Rida.
Yanto menggeleng. "Jangan berpikir begitu," ucapnya lembut. "Kamu pasti lapar. Aku akan menyiapkan makanan. Tadi ibu sudah membuatkan makanan hanya tinggal menghangatkan."
Rida tidak tahu apa ia punya selera makan sekarang. Namun, ia ingat jelas jika ia memang belum makan seharian. Hanya saja ia benar-benar enggan makan sekarang.
"Aku akan menemanimu makan," ujar Yanto cepat sebelum Rida menolak makan. "Aku sengaja belum makan agar bisa menemanimu makan," lanjutnya.
Tentu saja pengakuan Yanto membuat Rida tidak bisa menolak permintaan makan bersama. Apalagi Yanto sengaja melaparkan diri demi makan bersama.
"Baiklah," ucap Rida. Sepertinya ia juga tidak akan siap jika harus makan sendirian setelah sebelumnya ia selalu menyempatkan diri makan bersama sang kakek.
"Gantilah baju lain," perintah Yanto saat menyadari Rida masih mengenakan setelan resmi untuk sidang skripsi. "Nanti temui aku di dapur. Biar aku menghangatkan lauknya untuk kita."
Rida mengangguk tanpa protes. Sejujurnya ia juga ingin mandi, tapi untuk saat ini ia belum berani ke kamar mandi sendirian.
Sejurus kemudian Yanto dan Rida telah siap di meja makan yang ada di pinggir dapur dekat dengan jendela. Makanan telah siap di atas meja dengan asap yang mengepul.
Rida melihat ada semur ikan kesukaannya. Mau tak mau nafsu makannya terbit sewaktu melihat makanan kesukaannya. Ditemani nasi hangat dan kerupuk ikan, keduanya makan dengan lahap.
Rida kembali ingin menangis karena perhatian keluarga Bulek Bas. Ia tahu mereka sengaja menyiapkan makanan kesukaannya agar ia bisa makan dengan lahap di tengah cobaan yang melanda.
Rida tak banyak makan sehingga mereka menyelesaikan makan malam dengan cepat. Sebagai gantinya, Yanto menyiapkan teh hangat dan camilan agar mereka bisa saling berbincang.
"Apa yang akan aku lakukan setelah ini?" tanya Rida sendu.
"Pasti akan ada yang berbeda setelah kepergian kakek, tapi aku berharap kedepannya kamu bisa menjalani hidup dengan baik," jawab Yanto.
"Aku belum melakukan apa-apa untuk membalas kebaikan kakek. Aku belum melakukan apa-apa. Selama ini aku hanya membebani kakek. Kenapa kakek pergi secepat ini sebelum aku sempat membahagiakannya? Ayah, ibu, dan sekarang kakek. Kenapa semua orang pergi meninggalkanku?"
Yanto membuka mulut hendak berkata sesuatu, tapi ia mengurungkannya. Ia tidak bisa memilih kata-kata terbaik sebagai penghiburan karena nasib Rida memang tidak sebaik orang-orang.
"Kakak ... apa aku pantas dicintai? kenapa semua orang yang sayang padaku harus pergi meninggalkanku?"
"Aku tidak akan pergi meninggalkanmu," ucap Yanto tegas.
Rida memandang Yanto yang tampak bersungguh-sungguh. Ia menyunggingkan senyum dan berucap terima kasih.
"Sudah, mari kembali tidur biar bisa bangun pagi. Aku akan mengantarmu ke makam kakek besok pagi."
Rida mengangguk. Sekali lagi ia berucap terima kasih sebelum berlalu kembali ke kamarnya.
Yanto hanya bisa memandang gadis malang itu dari belakang. Sejujurnya ia dan Rida tetaplah orang asing. Jadi, ia tidak berbuat lebih dari ini. Padahal jauh di lubuk hati, ia ingin sekali memeluk Rida dan menenangkannya. Namun, sayang sekali hanya ini yang bisa ia perbuat.
Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mendengar pembicaraan mereka. Siapa lagi kalau bukan Bulek Bas. Tidak seperti biasanya, kali ini ia terlihat kurang suka akan kedekatan putra sulungnya dengan Rida. Ditambah lagi ia mulai khawatir saat menyadari betapa sialnya nasib Rida. Meski ia juga menyayangi Rida, tapi sebagai seorang ibu, tentu saja Bulek Bas tetap mengutamakan keselamatan putranya. Mulai sekarang ia harus berusaha menjauhkan Yanto dari Rida sebelum Yanto jatuh cinta sungguhan dengan gadis itu.
***
Sesuai yang dijanjikan oleh Yanto, pagi-pagi sekali Rida pergi ke pemakaman guna berziarah di kuburan sang kakek. Tanah kuburan masih basah karena sang kakek baru dikuburkan semalam.
Berbeda dari apa yang dikhawatirkan Yanto. Tampaknya Rida begitu tenang. Ia mendoakan sang kakek dengan khusuk. Tak lupa ia juga menabur bunga di atas gundukan tanah yang masih merah.
"Kakek ... aku janji akan melaksanakan wasiatmu," ujar Rida pelan.
Alis Yanto terangkat. Wasiat? batinnya. Wasiat apa? Meski Yanto begitu penasaran, tapi ia mengurungkan diri bertanya. Jikalau ia hendak bertanya, yang jelas bukan di sini karena ini bukanlah waktu dan tempat yang tepat untuk bertanya. Biar nanti ia bertanya pada sang ibu. Siapa tahu ibunya mengetahui tentang wasiat yang harus Rida laksanakan.
Usai berziarah, mereka berdua disibukkan dengan berbagai urusan masing-masing. Rida menghabiskan sebagian waktunya menemui tamu yang datang bertakziyah.
Yanto pun demikian ia yang sudah bekerja di sebuah bank swasta sudah kembali bekerja. Jika ia biasanya tinggal di perumahan yang dibelinya dengan cara mencicil, kali ini ia harus pulang setiap hari agar bisa mengikuti kegiatan berdoa yang diadakan di rumah Rida sampai malam ke tujuh.
Tepat malam kelima pengajian, Yanto teringat untuk bertanya pada sang ibu mengenai wasiat yang pernah didengarnya saat mengantar Rida ke pemakaman.
"Ibu ... waktu aku mengantar Rida ke makam, aku mendengar ia menyebut mengenai wasiat. Sebenarnya wasiat apa yang dimaksud?" tanya Yanto.
"Wasiat?" Bulek Bas balik bertanya. Ia baru mengetahui ini dari Yanto.
"Rupanya Ibu juga tidak tahu."
"Begitulah ...," jawab Bulek Bas. "Kalau menyangkut wasiat. Kita tidak boleh terlalu ikut campur. Meski keluarga kita dan Rida cukup dekat, tapi tetap saja tidak baik mencampuri ranah privasi seseorang," lanjutnya.
Hanya saja, apa yang dikatakan Bulek Bas berbeda dengan apa yang ada di hati. Sejatinya Bulek Bas mengatakan itu pada Yanto agar putranya tidak bertanya terlalu jauh dan berhenti ikut campur urusan Rida. Ia tidak ingin putranya menjadi terlalu akrab hingga terlibat romansa dengan Rida. Biar urusan Rida, ia saja yang akan mengurusnya.
"Begitu ya ...," ujar Yanto. Ia tampak kecewa. Tampaknya ia ingin berguna untuk Rida, tapi kasus kali ini memang tidak seharusnya ia ikut campur.
Tanpa setahu Yanto, Bulek Bas bertanya secara pribadi mengenai wasiat pada Rida. Rida pun menceritakan semua pada Bulek Bas karena ia sudah begitu percaya. Tak tahunya, itu adalah bumerang untuknya. Bumerang yang semakin menjauhkan Rida dari wasiatnya.
Apa persisnya wasiat Rida?