"Rida ...," panggil Bulek Bas. Saat ini mereka tengah rehat setelah beres-beres sehabis malam ketujuh kirim doa almarhum kakek Suro.
"Dalem, Bulek," jawab Rida.
"Kemarilah ... Mari kita berbincang-bincang."
Rida yang sebelumnya fokus dengan sapu kebas segera menghentikan aktivitasnya dan pindah di dekat Bulek.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Bulek. Ia mengusap tangannya ke wajah manis Rida.
"Alhamdulilah, sudah lebih baik, Bulek," jawab Rida.
"Hm, kamu sudah besar ... Kakek Suro telah membesarkanmu dengan baik."
"Iya, tapi ada apa, ya, Bulek?" tanya Rida penasaran.
"Maaf sebelumnya Rida. Bulek hanya penasaran, apa Kakek Suro berwasiat sesuatu padamu sebelum Beliau meninggal?"
"Anu ...," Rida bimbang sejenak. Sebenarnya ia ingin menyimpan wasiat kakeknya seorang diri, tapi pertanyaan Bulek membuat Rida ingin menceritakannya. Apalagi Bulek Bas termasuk sangat dekat dengannya. Bulek Bas sudah seperti ibu yang tidak pernah dimiliki Rida.
Bulek Bas tersenyum lembut dan menanti dengan sabar. Ia sangat penasaran apa wasiat itu. Apakah wasiat itu menyangkut keluarganya?
Rida menarik napas panjang sebelum bercerita.
"Iya, kakek memang memberi pesan padaku sebelum meninggal," ujar Rida.
"Sungguh? Apa itu?" tanya Bulek Bas.
"Kakek memintaku menikah," terang Rida.
"Menikah?" Bulek Bas tentu saja terkejut. "Menikah dengan siapa? Aku tidak pernah melihatmu punya pacar. Apa calonnya itu teman kuliahmu. Siapa itu ... Apa yang bernama Musa?"
Rida menggeleng saat melihat Bulek Bas terlihat kepo.
"Bukan Bulek ... Musa hanya teman."
"Lantas siapa?" tanya Bulek Kembali. Ia tentu saja khawatir jika pria yang dimaksud adalah Yanto, putra sulungnya. Apalagi perhatian Yanto pada Rida terlihat sangat intim. Kedekatan dua sejoli itu begitu menerbitkan tanda tanya. Bahkan bagi ia yang sudah terbiasa melihat keakraban mereka.
"Aku juga tidak tahu, Bulek."
"Hm, kalau kamu tidak tahu, apa mungkin Kakek Suro sebenarnya ingin kamu segera menikah, tetapi kamu belum punya calon, begitu? Mau bulek carikan calon?" tawar Bulek Bas.
Rida menggeleng. "Tidak perlu, Bulek. Kakek sudah memberitahukan siapa yang harus kunikahi."
"Siapa orangnya? Anak mana? Apa Bulek tahu orangnya juga?" Bulek Bas memberondong Rida dengan banyak pertanyaan.
"Aku belum menemukan orangnya. Kakek hanya menceritakan ciri-cirinya padaku," ujar Rida menjelaskan.
"Oh, kalau gitu cukup sebutkan saja ciri-ciri pemuda itu, nanti Bulek bantu," desak Bulek Bas. Ia masih belum lega jika belum mengetahui dengan detail apa isi wasiat itu. Ia belum puas jika wasiat itu tidak menyangkut Yanto sama sekali.
"Menurut Kakek, pria itu harus bernama Tubagus dan lahir jumat kliwon," ucap Rida.
Bulek Bas terdiam sejenak sembari menelan ludah. Sayangnya Rida sama sekali tidak menyadarinya.
"Kakek lucu sekali. Kenapa Beliau harus menyebutkan syarat seperti itu. Nama, sih, tak masalah, tapi soal weton … aku kan tidak mungkin bertanya mengenai weton lahir pada sembarang orang yang mempunyai nama Tubagus. Iya, kan, Bulek?"
"Hehe, iya. Itu tidak masuk akal," ujar Bulek Bas ikut-ikutan. "Apa ada ciri yang lain? Berkulit putih, warna rambut, atau ciri-ciri yang lain mungkin?"
Rida menggeleng. "Sebenarnya bukan ciri-ciri spesifik yang seperti itu. Kakek hanya bercerita mengenai nama dan weton lahir saja.”
Oh, begitu, ya.”
“Oia, ada satu lagi!” seru Rida.
“Apa?” sahut Bulek cepat.
“Kakek bilang jika aku akan bertemu dengannya di sebelum hari ulang tahunku dan naik gunung bersamanya."
"Naik gunung?"
"Ya, tepatnya Gunung Kendil. Gunung yang ada di pesisir utara Pulau Jawa."
"Kenapa Kakek Suro berpesan seperti itu? Apa persisnya tujuan beliau?"
"Kakek bilang itu demi keselamatan nyawaku. Bulek tahu sendiri jika aku orang yang sial. Katanya, hanya pria inilah yang bisa memberiku keberuntungan dan menyelamatkanku. Menurut Kakek, andaikata aku tidak menemukan pria bernama Tubagus yang lahir pada jumat kliwon, aku harus tetap menaiki gunung."
"Hm, begitu ya. Pokoknya Bulek doakan semoga ketemu jodohnya," ucap Bulek dengan senyuman. Namun, ucapannya tidak berhenti sampai di sana. "Dan satu lagi pesan Bulek. Karena ini wasiat, sebaiknya kamu tidak menceritakan pada sembarang orang. Bahkan orang-orang di sekelilingmu pun jangan. Bulek khawatir akan ada orang-orang tidak bertanggung jawab yang akan memanfaatkanmu."
Rida memandang penuh arti ke arah Bulek Bas. Jujur, ia tidak pernah terpikirkan akan hal itu sama sekali. Kalau dipikir-pikir sepertinya memang benar. Ia akan menjadi target empuk penipuan jika ia menceritakannya dengan terang-terangan.
"Baiklah Bulek. Aku akan berhati-hati," balas Rida.
"Dan lagi ....” Bulek ragu sejenak.
“Iya, Bulek?”
“Apa Bulek bisa minta tolong sama kamu?”
“Tentu saja. Selagi bisa maka akan aku lakukan.”
“Bulek mohon jangan menceritakannya pada Yanto," pinta Bulek. "Nanti dia heboh. Kamu tahu kan seperti apa dia. Masalahnya Bulek mau mengatur perjodohan untuknya. Sangat tidak elok melihatnya dengan gadis lain selama proses itu. Dikiranya keluarga kami tidak bersungguh-sungguh."
Rida bengong sejenak. Permintaan Bulek terdengar aneh mengingat betapa dekatnya keluarga mereka, tapi mau tak mau ia harus mengiyakan.
"Baguslah kalau begitu. Oia, malam ini mau Bulek temani lagi?" tawar Bulek Bas.
Rida menggeleng. "Aku harus membiasakan diri, Bulek. Lagi pula Bulek juga sudah tidur di sini 7 malam penuh. Aku sangat berterima kasih untuk malam-malam sebelumnya, tapi mulai malam ini aku akan berusaha semaksimal mungkin sendiri. Mungkin kedepannya aku harus sering-sering mengajak teman kuliahku menginap."
"Baiklah kalau begitu, Bulek tidak memaksa. Jangan lupa mengecek pintu dan jendela sebelum tidur."
"Baik Bulek," balas Rida sopan.
"Jika ada perlu apa-apa tinggal teriak saja. Bulek akan langsung datang."
"Baik Bulek," balas Rida sekali lagi. Ia lantas mengantar Bulek ke pintu depan dan melepas Bulek sebelum kemudian mengunci pintu dan jendela yang ada.
Sebetulnya rumah Rida dan Bulek Bas memang bersebelahan, akan tetapi rumah-rumah di kompleks ini yang cenderung lebar membuat jarak tiap rumah jadi makin lebar. Kesimpulannya, sangat musykil bagi Bulek untuk mendengar teriakan Rida jikalau memang benar terjadi sesuatu. Namun, apapun itu Rida sangat berterima kasih pada Bulek karena begitu peduli padanya.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Rida segera membenahi beberapa barang kecil seperti tisu, beberapa gelas dan korek api sisa pengajian. Suara detak jarum terdengar nyaring menemani kesibukan Rida. Ia berhenti sejenak sembari menghela napas panjang. Malam ini terasa benar-benar sunyi.
Sepeninggal Kakek Suro, baru kali ini Rida benar-benar sendirian. Malam-malam sebelumnya banyak yang datang menemani, tapi kali ini yang tersisa hanya ada dia seorang. Tanpa keluarga dan handai taulan.
Sepintas Rida melihat dipan kecil yang biasa dipergunakan sang kakek ngaso sembari menonton televisi. Biasanya ada sang kakek di sana, tapi sekarang dipan itu kosong ditinggal penghuninya. Mau tak mau hal itu mengingatkannya kembali kepada almarhum sang kakek. Ia pun menyudahi semua aktivitas dan memilih duduk di kursi tamu sambil termenung. Hatinya terasa sesak oleh rasa sepi dan kehilangan. Perasaan sesak itu begitu membuncah sampai-sampai air matanya mengalir deras di pipi. Ia pun menangis tersedu-sedu. Tangisan yang begitu memilukan dan menyayat hati. Rida tak perlu repot-repot menyembunyikan suara tangisannya karena ia tahu tak akan ada orang yang akan datang menghiburnya. Namun, tampaknya Rida salah sangka. Sebuah ketukan tiba-tiba mengejutkannya.
Tok tok ....
Rida menghentikan tangisannya dan memasang baik-baik telinganya. Sungguhkah ada suara ketukan di pintu rumahnya. Siapa yang bertamu malam-malam begini?
"Rida ... kamu sudah tidur?" terdengar suara Yanto dari luar.
Untungnya itu Kak Yanto, batin Rida lega. Ia mengusap air mata dan berdehem sebentar sebelum menjawab. "Aku hampir tidur, ada apa?" ujar Rida balik bertanya.
"Tidak ada. Aku mendengar kamu menangis.”
"Tidak! Aku tidak menangis," jawab Rida tegas. Sangat jelas jika ia tengah berbohong karena suaranya masih terdengar parau.
"Jika kamu belum terbiasa sendiri, aku akan tidur di depan rumahmu bila perlu."
"Tidak--tidak! itu tidak perlu," tolak Rida. Lagipula apa kata tetangga nanti? Apalagi ia dan Yanto sudah sama-sama dewasa. Bisa-bisa malah menimbulkan gosip yang tidak-tidak. “Kak Yanto pulang saja.”
Yanto merasa sedih karena Rida menahan kesedihannya seorang diri, tapi ia bisa apa. Ia bukan siapa-siapa. Ia hanya tetangga baik hati yang membantu. Andai ia bisa berbuat lebih dari sekedar tetangga pasti Rida tidak akan merasa terbebani.
“Benar tak apa? Kakak gak masalah, kok, jika harus tidur di halaman.”
“Aku yang tidak enak. Aku sungguh baik-baik saja, kok.”
“Tolong buka pintunya, Kak Yanto ingin memastikan jika kamu benar-benar baik saja.”
“….” Rida merasa keberatan. Jika ia membuka pintu, Yanto pasti tahu kondisinya yang sedang tidak baik-baik saja. Namun, jika ia tak membuka pintu maka Kak Yanto tidak akan mau pulang.
Kriet ….