Pintu terbuka. Rida tertunduk tak berani mendongakkan kepala.
Hati Yanto terluka melihat gadis di hadapannya begitu rapuh. Ia ingin merengkuh gadis ini dalam pelukannya untuk melindunginya, tapi ia berusaha keras menahan diri untuk tidak melakukan itu. Alih-alih memeluk, ia mengulurkan tangan menggapai wajah Rida. Ia lantas mengusap sisa air mata di pipi Rida dengan kedua tangan.
“Ridaku Sayang, Kak Yanto ada di sini. Apapun yang kamu butuhkan, katakan saja pada kakak. Jika kamu ingin menangis, menangislah Bersama kakak, jangan menangis sendirian.”
Rida hanya bisa mengangguk. Tangan Yanto yang hangat seolah meresap ke sanubari.
"Baiklah, aku pulang ya," pamit Yanto.
"Ya, hati-hati di jalan," balas Rida tanpa memandang mata Yanto. Ia khawatir Yanto tak akan pulang jika melihat matanya yang memerah saga. Ia harus mulai membatasi diri untuk tidak bergaul terlalu dekat dengan Yanto karena mereka sudah sama-sama dewasa. Juga dari cara Bulek Bas memperingatkan Rida, sepertinya Bulek Bas tidak terlalu suka dengan kedekatan mereka. Bisa-bisa ia malah menutup jalan jodoh Kak Yanto dengan kesialannya nanti.
Ah, sudahlah. Rida memilih untuk tidak terlalu memikirkannya dan bergegas menutup pintu. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Yanto selanjutnya.
"Aku akan VC begitu aku sampai rumah."
"...."
"Kau mendengarku?" tanya Yanto memastikan. Namun tetap tak ada jawaban dari Rida. Ia pasrah saja dan bergegas kembali ke rumah.
Bukan Rida tak mendengar pertanyaan Yanto, tapi ia memilih untuk mengabaikannya. Jika orang-orang melihat Yanto sebegitu perhatiannya padanya, apa ada yang percaya jika hubungan mereka hanya adik kakak biasa?
Rida menggelengkan kepala mengenyahkan pikiran-pikiran yang menghinggapinya. Hari sudah malam. Ia harus menyelesaikan ritual malam sebelum tidur meliputi: sikat gigi, membersihkan wajah dan mengaplikasikan krim malam. Tepat saat Rida menarik selimutnya bersiap tidur ponselnya berdering. Tanpa perlu melihat, ia sudah tahu siapa yang tengah menelepon karena ia menyiapkan nada dering khusus untuk Kak Yanto.
Foto profil Yanto muncul di layar begitu Rida mendekatkan ponsel ke arahnya. Sejujurnya mereka sering melakukan video call sebelumnya. Ritual video call sampai pagi sering mereka lakukan paling tidak seminggu sekali. Terkadang mereka berbicara panjang lebar, tak jarang juga hanya video tanpa kata karena masing-masing sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ada kalanya Rida tertidur di tengah-tengah, atau Yanto yang tidur.
Rida ragu sejenak, tapi ia harus memberi jarak yang pasti pada hubungan mereka. Telepon pertama pun berakhir dan ia sangat lega karenanya. Namun, Yanto tidak berhenti dengan satu kali telepon. Detik berikutnya telepon Kembali berdering.
Dengan berat hati, Rida pun mengusap layar ponselnya. Tampak di layer, Kak Yanto muncul dengan senyumnya yang khas.
"Halo!" sapa Yanto lembut.
Suara Yanto yang lembut selalu meneduhkan untuk didengar. Rida tidak pernah bosan dibuatnya. Bahkan di saat ia sudah berkomitmen untuk menjaga jarak seperti hari ini, godaan suara meneduhkan ini langsung sukses membuatnya menyerah. Ia akan membuat kelonggaran untuk malam ini.
"Halo, juga, Kak Yanto!" balas Rida. Ia menyandarkan ponselnya pada bantal di samping sembari memandanginya.
"Bagaimana perasaanmu?"
"Rasanya kosong. Aku sudah merindukan kakek."
"Ya, aku tahu. Mau kunyanyikan lagu pengantar tidur?" tawar Yanto.
Satu di antara banyak hal yang disukai Rida dari Yanto tentu saja suaranya, yang tak hanya meneduhkan, tapi juga sangat merdu. Apalagi kalau menyanyikan lagu-lagu melow pengantar tidur. Namun, berbeda dengan biasanya, kali ini Rida tentu saja menolaknya. Yanto bukan berada di perumahannya melainkan di rumah. Sangat tidak elok ketika ia baru saja diingatkan Bulek untuk menjaga jarak dengan Yanto malah video call malam-malam.
"Tidak, aku sudah mengantuk. Aku akan tidur sekarang."
"Jangan dimatikan teleponnya," ujar Yanto cepat saat melihat tangan Rida sudah terulur hendak mematikan sambungan video call.
"Ada apa lagi?" tanya Rida. Kali ini sembari menguap lebar. Ia sudah sangat mengantuk dan lelah. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, hari ini ia sangat kelelahan karena menyiapkan banyak hal untuk malam ketujuh kematian sang kakek.
"Jangan matikan teleponnya. Aku ingin melihatmu tidur," ungkap Yanto dengan senyumnya yang manis.
Yanto memang tergolong anak yang tampan. Tubuhnya tinggi dengan postur badan yang tegap. Ditambah kesukaannya berolahraga lari, ia tumbuh menjadi pemuda yang lincah. Selain fisiknya yang menawan, Yanto juga berotak encer. Dan jangan lupakan suaranya yang merdu. Apalagi saat ia melantunkan adzan, sampai-sampai para ibu-ibu getol memikatnya untuk menjadikan mantu.
Dan pria istimewa itu hanya memberikan privilage suara merdunya untuk 'gadis kecilnya', Rida Utami. Rida yang selalu menjadi adik perempuan tersayang Yanto.
Yanto masih ingat jelas bagaimana sang ibu merawat Rida kecil sewaktu masih bayi merah. Keluarga Kakek Suro sedang kesusahan karena ibunda Rida meninggal sesaat setelah melahirkan Rida. Kehadiran Rida di rumah Yanto membuat mereka seolah ketambahan satu anggota baru, seolah Yanto baru saja punya adik. Rasa sayang dan ingin melindungi tumbuh di hatinya tanpa bisa ditahan. Apalagi sang ibu juga berpesan agar selalu menjaga Rida yang saat itu hanya punya seorang kakek, tanpa saudara dan orang tua. Peran sebagai kakak yang baik berlanjut hingga detik ini.
Namun, makin ke sini Yanto semakin kesulitan membedakan perasaan hatinya. Hal itu terjadi saat ia harus kuliah di kota lain dan jarang pulang. Sekali pulang, ia menjumpai Rida telah menjelma menjadi gadis muda yang cantik nan manis. Lesung pipinya menambah manis senyuman gadis itu. Rida kecil telah bertumbuh menjadi tinggi semampai, kulitnya kuning langsat, dengan rambut sehitam malam.
Yanto terpana pada kecantikan Rida. Saat itu ia sadar ia tengah jatuh cinta. Butuh cukup lama baginya mengenyahkan perasaan cinta menjadi rasa sayang biasa. Tampaknya usahanya berhasil karena ia sudah bisa saling video call tanpa canggung akan keakraban mereka. Namun, usahanya sia-sia saat Kakek Suro meninggal. Rasa ingin melindungi membuncah tanpa bisa ditahan.
Meski ia telah bertemu berbagai macam wanita cantik saat kuliah maupun bekerja, tapi bagi penglihatannya hanya Rida-lah gadis tercantik di matanya. Kalau boleh, ia ingin selangkah lebih dekat dengan gadis itu.
Dari layar ponsel, Yanto bisa melihat Rida yang mulai mengantuk. Tampaknya sebentar lagi Rida akan jatuh tertidur.
"Kak, aku akan matikan sambungannya," ucap Rida sembari menguap lebar.
"Jangan!" tolak Yanto buru-buru. "Kamu tidur saja biar aku melihatmu."
"Hm, jangan membuat semua menjadi rumit deh, Kak. Orang-orang akan berpikir kita punya hubungan yang tidak seharusnya."
"Hubungan apa yang tidak seharusnya?" desak Yanto. Alisnya terangkat menuntut penjelasan. Pasti ada yang meracuni pikiran Rida kecilnya. Gadis itu tidak pernah sekalipun merasa terganggu dengan perhatian maupun perlakuannya selama ini. Kenapa tiba-tiba mempermasalahkan semua ini sekarang?
"Kita tidak sedang berpacaran," ucap Rida pelan.
Deg!
Yanto terdiam sejenak tanpa kata. Ia ragu menerjemahkan ucapan Rida. Apakah Rida mengatakan hal tersebut agar ia selangkah lebih jauh dan mengakui perasaan dalam hatinya atau malah sebaliknya Rida merasa terbebani? Yanto menggeleng. Ia tidak bisa menjawab itu sekarang. Ia harus berpikir matang-matang.
"Kita hanya saling video call, tidak ada yang salah," ujar Yanto.
"Ada yang salah!" sahut Rida. "Video call yang seperti ini hanya dilakukan oleh sepasang kekasih," terangnya dengan mata setengah terpejam. Ia lelah, tapi ia harus menjernihkan masalah ini.
"Ini hanya video call," dalih Yanto. Tetap saja ia tidak terima jika harus berhenti menghubungi Rida hanya demi apa kata orang.
"Kak Yanto ... aku mengantuk," rengek Rida.
"Tidurlah, tapi jangan mematikan teleponnya."
"Kakak ...."
"Besok kakak harus kembali bekerja. Sudah tidak bisa ambil cuti lagi. Jadi, tolong, ya. Malam ini kakak ingin melihatmu." Yanto sekarang bekerja sebagai pegawai bank di kota tempatnya kuliah dulu. Jarak tempuhnya sekitar 3 jam dari tempat tinggal asal.
"Aish!" Rida merutuk. Mau tak mau ia Kembali mengalah. "Pokoknya ini yang terakhir,” pungkasnya.
Yanto hanya tersenyum di kulum. Ia tidak menyanggupi gertakan Rida. Baginya yang penting malam ini bisa dihabiskan dengan memandang wajah ayu adik kecilnya. Sayang sekali ia belum mendapatkan banyak senyum berlesung pipi malam ini.
Yanto mulai menempatkan ponselnya di tempat yang nyaman dan ia pun tidur menghadap ke arah ponsel. Senyumnya cerah melihat Rida ada di depannya. Meski keberadaan Rida terhalang ponsel, tapi rasanya seperti waktu kecil saat mereka tidur bersebelahan.
Rida pun demikian. Ia tidur miring sembari menghadap ke arah ponsel. Sekilas tampak keduanya tengah tidur di ranjang masing-masing. Namun, kesan yang didapat seolah mereka saling berhadap-hadapan.
"Mau kakak nyanyikan lagu pengantar tidur? kakak mempelajari lagu baru."
"Terserah kakak saja." Rida malas berdebat.
Yanto menyenandungkan lagu berbahasa arab yang mendayu-dayu. Rida yang sudah mengantuk tak kuasa menahan matanya untuk tidak terpejam. Rupanya suara Yanto memang sakti, tak butuh waktu lama, Rida pun tertidur. Otot di keningnya mengendur. Wajahnya rileks dan damai.
"Adikku tersayang, tidur nyenyak. Jangan takut sendirian. Kakak akan selalu ada bersamamu," ucap Yanto dengan senyum tersungging. Matanya berbinar penuh cinta. Bibirnya mengarah ke ponsel dan ….
Chu ....
Sebuah ciuman mendarat dengan sukses.
"Bagaimana caraku mengendalikan perasaanku, Rida," aku Yanto. "Aku begitu mencintaimu."
Rida tidak bereaksi. Matanya masih terpejam. Namun, napasnya sesaat menjadi tidak teratur.