Rida bangun pagi sekali dengan kepala berat. Matanya tebal dengan garis hitam samar. Semalam ia tidak bisa tidur dengan nyenyak gara-gara pengakuan Yanto. Ucapan Yanto bercampur dengan ucapan Bulek Bas terngiang-ngiang di benak Rida membuatnya stress. Apakah tidak apa jika ia mengabaikan pernyataan itu? Lagi pula mereka tidak berjodoh. Baik karena Bulek Bas maupun karena wasiat sang kakek.
“Ah, sudahlah. Aku harus beraktivitas.”
Rumah terasa kosong dan sepi pagi ini. Tanpa adanya sang kakek, rumah sebesar ini tampak sunyi karena hanya ada Rida seorang. Seperti biasa, Rida akan mengawali pagi dengan merebus air kemudian membuat wedang jahe untuk sang kakek. Namun, saat bau jahe semerbak pertanda wedang itu telah siap. Ia seolah tertampar akan kenyataan bahwa orang yang harusnya minum wedang itu ternyata sudah tidak ada.
Rasa sesak kembali menyeruak. Rida menyeka air mata yang sempat lolos di pipi. Asap yang mengepul dari gelas alumunium di hadapannya memburamkan penglihatan. Sesedih itulah rasanya sendirian. Semua rutinitasnya harus berubah tanpa terkecuali. Ia melirik dengan sendu ke arah beras yang ada di baskom yang hendak dicuci. Kalau cuma sendirian rasanya ia tak selera makan.
Rida menguatkan hati membawa segelas besar wedang jahe itu ke ruang tamu. Ada meja kecil di samping kursi malas tempat biasanya sang kakek menghabiskan hari.
Rida pun berlaku demikian. Ia duduk di kursi malas sembari menunggu wedang jahe cukup hangat agar bisa diminum. Itulah saat ia menyadari ada keramaian di rumah Yanto.
Ada apa gerangan? tanyanya penasaran. Ia pun membuka pintu rumah dan turun ke halaman. Ia beranjak ke pagar rumah yang paling dekat dengan pagar rumah Bulek.
Saat sudah dekat, barulah ia bisa melihat apa yang terjadi. Rupanya Bulek Bas kedatangan tamu. Ada sekitar 5 atau 7 orang tamu, pria wanita muda dengan pakaian rapi nan klimis. Tak hanya masih muda tampaknya semua tamu Bulek Bas juga good looking.
Saat sibuk mengamati rombongan dengan hati-hati. Terlihat Yanto melambai ke arah Rida. Kontan saja ia terkejut dan langsung sembunyi di balik pepohonan. Wajahnya memerah karena malu. Apalagi saat ia teringat ungkapan cinta Yanto semalam. Uh, rasanya ia benar-benar harus kabur sebelum Bulek Bas mengetahui kalau Yanto menyukainya.
Rida pura-pura tidak mendengar sapaan Yanto dan bergegas masuk ke rumah. Menghabiskan wedang jahe yang sudah hampir dingin, mandi, dan bersiap ke kampus. Saat sedang memanaskan motor matic kesayangan, Yanto kembali menyapanya.
"Rida ...," teriak Yanto dari atas kursi di bawah pohon rambutan yang letaknya berdekatan dengan halaman samping rumah Rida.
Teriakan Yanto yang lumayan keras membuat teman-temannya ikut memandangi sosok yang disapa Yanto. Dengan tatapan penasaran, mereka ikut melongok ke balik pagar yang cukup rapat oleh rimbunnya pepohonan.
Rida menoleh sembari tersenyum canggung. Apalagi semua teman-teman Yanto ikutan memandanginya dengan raut penasaran.
"Kau mau kemana?" tanya Yanto. Ia segera turun dari kursi dan memasukkan beberapa buah rambutan yang baru saja dipetik ke dalam kantong keresek dan bergegas ke pinggir pagar.
"Mau ke kampus, Kak," balas Rida. Ia buru-buru memakai helm pertanda ia sudah siap cabut bahkan sebelum motornya selesai dipanasi dengan sempurna.
"Tunggu, Rida. Ini ada rambutan, aku baru saja memetiknya," ucap Yanto seraya mengulurkan tangan melewati pagar.
Rida bergeming. Ia menggeleng dan berucap terima kasih. "Lain kali saja. Biar itu untuk teman-teman kakak."
Teman-teman Yanto menonton perbuatan Yanto sembari makan rambutan rapiah. Siapa sih yang tahan menghadapi godaan rambutan rapiah yang manisnya luar biasa. Rida juga sebenarnya tidak tahan, tapi ia bisa apa selain menolak.
Seorang wanita cantik berambut panjang ikut mendekat ke arah pagar, namanya Miya. Pembawaannya tenang, dan senyumnya juga manis.
"Siapa gadis itu, Yanto?" tanyanya.
"Dia Rida, yang tadi kuceritakan," ucap Yanto tanpa menoleh ke arah Miya.
"Jangan pergi dulu,” teriak Yanto pada Rida. “Apa kamu sudah sarapan?" tanyanya khawatir.
"Aku akan sarapan di kampus," jawab Rida. Ia mengangkat penahan sepeda dan bersiap menjalankan motornya.
"Ini bawalah untuk dimakan dengan teman-temanmu," desak Yanto. Masih di pinggir pagar.
"Sudahlah, sepertinya ia tidak mau," ucap Miya.
Rida pura-pura tidak mendengar dan bergegas memacu kendaraannya hingga gerbang lalu menghentikan kendaraannya sejenak guna membuka gerbang. Ia baru saja akan menutup gerbang sampai Yanto mengancamnya.
"Rida ... jika kamu tidak membawanya sekarang maka aku akan membawakannya ke kampusmu!" seru Yanto lantang.
Degh!
Rida langsung menoleh ke arah Yanto dengan terkejut. Ia tentu tidak mengharapkan kehadiran Yanto di kampusnya.
"Tunggu di sana. Aku akan menghampirimu," ucap Yanto riang. Ia berlari lewat pintu gerbang guna menghampiri Rida.
***
Teman-teman Yanto hanya bisa melongo melihat kelakuan Yanto. Padahal selama di kantor, Yanto terkenal sangat kaku dan dingin kepada gadis-gadis. Pun kepada nasabah, senyumannya hanya sebatas senyum profesional yang terlatih. Bagaimana bisa pemuda itu menjadi sehangat ini?
"Aduh, tetap saja anak itu," keluh Bu Basiroh yang tahu-tahu muncul di antara teman-teman putranya. "Masa ia membiarkan teman-temannya yang jarang berkunjung hanya untuk menyapa bocah yang rumahnya saja tidak pindah," ucapnya.
"Anu, Tante. Sebenarnya siapa sih gadis itu?" tanya Miya.
"Hanya tetangga biasa. Kalian sampai repot-repot datang ke sini untuk melayat padahal bukan keluarga kami yang meninggal."
"Habis bagaimana Tante, aku, em ... maksudnya, kami sangat khawatir saat Yanto tiba-tiba mengambil cuti 3 hari padahal biasanya ia tak pernah absen sekalipun. Pun ia tak pernah mengajukan cuti mendadak seperti itu," terang Miya panjang lebar. Sesekali matanya masih mengawasi Yanto dan Rida.
"Apa Yanto menyukai gadis itu?" celutuk seorang teman pria yang lain, penasaran. Semua yang ada di sana juga ikut menatap Bu Basiroh menunggu jawaban.
"Tidak mungkin!" sanggah Bu Basiroh cepat. "Yanto hanya kasihan pada gadis itu. Ya, mau bagaimana lagi gadis itu sangat sial. Yatim piatu dari lahir. Sekarang setelah kakeknya meninggal, ia jadi sebatang kara."
"Kasihan sekali gadis itu," ucap Maya dengan mimik empati yang sopan. Mimik khas yang terlatih guna menangani berbagai macam tipe nasabah.
"Aih, kamu sudah cantik perhatian pula," puji Bu Basiroh.
"Aduh, Tante. Miya jadi malu."
"Apa kamu tidak punya kenalan gadis sebaik dan secantik kamu."
"Untuk siapa, Tante?" tanya wanita yang duduk paling dekat dengan Bu Basiroh.
"Ya untuk Yanto, untuk siapa lagi."
Yang lain menyahut. "Kenapa tidak dengan Miya saja. Miya juga masih jomblo.”
Sudah menjadi rahasia umum jika Miya naksir Yanto. Hanya saja Yanto terlalu cuek dan mengabaikan Miya. Entah kenapa, padahal semua orang sudah mengakui bahwa Miya sangat cantik. Bahkan banyak manajer dan yang lebih tinggi lagi tingkatannya ikut mengejar cinta Miya, tapi Miya tetap kokoh mengejar Yanto. Sepertinya keputusan Miya datang ke rumah Yanto akan membuatnya selangkah lebih dekat dengan impiannya.
"Aish, kalian ini bicara apa," ucap Miya malu-malu.
Namun, tidak dengan Bu Basiroh. Wajahnya langsung berbinar senang. "Sungguh?" ucapnya minta ketegasan. "Kenapa tidak bilang. Aduh, bagaimana ini, kalian cocok sekali."
Sejenak mereka melupakan Yanto yang tengah menemui Rida di depan gerbang rumah.
"Kenapa tidak membalas pesanku?" tanya Yanto. Senyumnya terkembang, hangat seperti mentari yang bersinar pagi ini.
Hati Rida meleleh hanya dengan memandangnya.
"Pesan?" Rida balik bertanya, berpura-pura tidak tahu menahu padahal sejatinya ia memang mengabaikan pesan itu.
"Ya!" sahut Yanto dengan senyum yang masih tersungging. "Coba lihat sekarang!" pintanya.
"Anu, aku harus segera berangkat sekarang," tolak Rida.
"Hm, hari ini tanggal merah. Apa kamu sengaja menghindariku," tebak Yanto to the point.
Degh!
Aksa Rida berkedip cepat, gugup. Ia sama sekali lupa dengan tanggal merah. Tidak hanya lupa, ia bahkan tidak melihat tanggal dengan benar beberapa hari ini. Namun, tunggu dulu … kalau hari ini tanggal merah, artinya semalam Kak Yanto juga membohonginya.
"Kenapa menghindariku?" desak Yanto. Ia merunduk di depan wajah Rida. Posisinya persis di atas kemudi motor. Seolah menahan gadis itu untuk kabur.
Rida menelan ludah karena Yanto begitu dekat. Namun, ia buru-buru membuang muka agar tidak terus melihatnya.
"Aku harus pergi sekarang. Aku sudah janji menjemput teman," pamit Rida. Ia langsung menghidupkan motor dan memaksa Yanto menyingkir dari hadapannya.
Hanya dengan melihatnya saja Yanto langsung tahu jika Rida tengah berbohong, tapi untuk kali ini ia memilih untuk mengalah. "Ya sudah. Ini rambutan kesukaanmu. Makanlah dengan teman-temanmu."
Rida menerimanya tanpa banyak kata dan menyimpannya di cantolan motor.