Bab 7. Perasaan Takut yang Tumpul

1267 Words
"Baiklah aku pergi dulu," pamit Rida. Kali ini ia benar-benar bersiap pergi. "Sudah bawa jas hujan belum? Menurut prakiraan cuaca, hari ini akan turun hujan. Kamu tidak boleh sakit. Kamu tahu kan, kakak akan kembali ke kota untuk bekerja jadi tidak bisa menjagamu. Makanya kamu tidak boleh sakit." "Aku tahu. Terima kasih sudah memperingatkan. Aku pergi dulu," pamit Rida. Tanpa menunggu balasan dari Yanto, ia langsung meluncur ke jalanan. Sedari kecil, Yanto memang selalu baik pada Rida sehingga membuat Rida beranggapan bahwa semua perhatian itu adalah wajar. Namun semua anggapan Rida sirna setelah mendengar pengakuan Yanto semalam. Sekarang Rida sadar bahwa perhatian seorang pria akan selalu mempunyai arti yang berbeda selama mereka bukan keluarga. Hari masih pagi. Rida meluncur dengan nyaman di jalanan sehingga ia dengan cepat sampai di kampus. Tentu saja sendirian karena ia hanya berdalih tentang menjemput teman. Rida menghirup napas dalam-dalam, memenuhi seluruh paru-parunya dengan aroma kampus yang khas. Setelah seminggu tidak kuliah rasanya ia sangat merindukan suasana kampus seolah ia tidak kuliah selama sebulan. Tak bisa dibayangkan bagaimana rasanya jika ia sudah lulus. Apa yang akan dilakukannya nanti? Pasti akan sangat bosan. Rida melenggang pelan memasuki kompleks kampus, tapi terlebih dahulu ia melangkahkan kakinya ke warteg ujung jalan. Ia harus mengisi perutnya yang sudah menjerit. Ia tipe orang yang sarapan pagi, kalau telat maka maghnya bisa kambuh. Tak banyak mahasiswa yang ada di kampus karena seperti kata Yanto, hari ini adalah tanggal merah. Hm, bisa-bisanya semalam Kak Yanto berbohong padanya dengan dalih hendak kerja pagi-pagi supaya bisa menontonnya tidur lewat video call. *** Nun jauh di sana Yanto harus berurusan dengan ibunya, segera setelah perbincangannya dengan Rida. "Kenapa tidak bilang kalau kamu punya teman wanita secantik dan sebaik Miya. Tahu begitu Ibu tak perlu sibuk mencarikanmu calon," bisik Bu Basiroh. Ia menyongsong Yanto di pintu pagar, segera setelah Yanto menemui Rida. "Ibu bicara apa, sih! Jangan mulai lagi, deh!" "Habisnya kamu mengurusi si Rida terus. Ibu ingin kamu segera menikah. Jangan menempel dengan gadis itu terus menerus. Nanti kamu ketularan sial." "Ibu! Kenapa bicara begitu!" ucap Yanto kesal. "Apa ibu tidak kasihan sama Rida?" "Nah itu adalah perasaanmu yang sesungguhnya akan Rida, rasa kasihan!" ucap Bu Basiroh dengan nada menohok. "Eh!" "Kamu sama Miya saja, ibu demen sama dia," ucap Bu Basiroh sembari melenggang pergi. "Ibu ...!" Yanto kembali kepada teman-temannya dengan sedikit gondok. Dalam hati ia bertanya-tanya kenapa ibunya sangat menentang hubungannya dengan Rida. *** Rida mengirim pesan di grup yang satu kelompok bimbingan dengannya. Siapa tahu ada yang bisa menemaninya mengerjakan tugas di gazebo fakultas. Musa langsung gercep mengirim pesan bahwa ia akan datang ke kampus menemani Rida. Sejurus kemudian tak hanya Musa yang datang. Malahan sebagian besar teman-teman Rida datang. Tentu saja Rida terharu dengan kedatangan sebagian besar teman-temannya. Secara ia sangat paham betapa malasnya anak-anak bergerak di pagi hari, apalagi itu tanggal merah. "Kalian datang," ucap Rida terharu. Sebagian besar teman-teman perempuan Rida memeluk Rida untuk sekedar membagi kehangatan dan rasa nyaman. Siapa pun bisa melihat betapa tebalnya pelupuk mata gadis itu, bahkan matanya masih merah pertanda ia belum lama menangis. "Apa aku tertinggal banyak?" tanya Rida. "Tidak, juga" jawab Sisil. "Musa malah sengaja belum revisi karena menunggumu," lanjutnya. Pipi tambun Sisil mengembang saat ia mengulas senyum saat mengatakan itu. Kendati hubungan Musa dan Rida hanya teman biasa, tapi ia sampai rela menunda bimbingan demi menunggu Rida. Sungguh pertemanan yang manis. "Jangan ngomong aneh-aneh!" sahut Musa. "Kalau aku terlalu berniat kalian tidak akan punya peluang. Haha ..." "Ngarang lu, ah!" sahut yang lain. Tawa renyah anak-anak menyambut gurauan Musa. Rida sampai ikut tertawa. Omongan Musa memang ada benarnya karena ia termasuk mahasiswa yang mumpuni. Otaknya encer juga pemikirannya luas. Dia merupakan salah satu kesayangan dosen. Jadi, jika ia berniat, ia pasti telah melampaui semuanya. Sayangnya ia sibuk merintis usaha online jadi fokusnya terpecah untuk beberapa hal. Namun, kali ini jelas-jelas ia mengalah bukan karena sibuk berbisnis melainkan murni untuk menemani Rida. Rida memandang teman-temannya dengan perasaan hangat. Semua kesedihan langsung sirna dengan senyuman mereka. "Oia, sesekali mari adakan acara di rumahku," celutuk Rida. Anak-anak yang sudah fokus dengan laptopnya memandang Rida dengan terkejut. "Sepertinya menarik," ujar Musa. "Kalian juga bisa menginap," lanjut Rida. "Ya, itu pasti akan sangat menyenangkan. Apa kamu menerima anak lelaki untuk menginap?" tanya Musa. "Apa kamu mau aku digeruduk warga?" Rida balik bertanya. Sarkas. "Ya, tidak sih! Hehe …. Tolong sering-seringlah menginap, girls!" himbau Musa pada teman-teman perempuannya. “Ya, menginaplah,” ujar Rida menimpali. "Baiklah, akan aku usahakan," jawab Sisil. "Sejujurnya aku terpikir untuk ngekos agar tidak sering sendirian, tapi rumahku bakal kosong. Pilihannya hanya ngekos atau menjadikan rumahku kos-kosan. Tapi, rasanya aku ikhlas menjadikannya kos-kosan," terang Rida sendu. Seorang teman Rida merangkul Rida dan berjanji, "kami janji, kami akan sering-sering datang. Mulai sekarang mari sesekali mengerjakan tugas di rumahmu." "Sungguh?" tanya Rida. Aksanya berbinar. Semua teman-teman Rida mengangguk. Sepertinya tidak ada salahnya saling menghabiskan waktu bersama sebelum lulus. Hitung-hitung menemani Rida. Tentu saja Rida sangat senang mendengar janji itu. Soalnya Rida mulai parno sendirian. Karena jujur saja, ia mulai merasa ada seseorang, bukan ... mungkin itu sesosok. Entah bagaimana menceritakannya, rasanya seperti ada sosok yang membuntutinya. Namun, setiap ia menoleh sosok itu tidak ada. Sebenarnya keberadaan sosok itu sudah ada sejak lama, tapi semenjak tinggal sendirian perasaan diikuti menjadi sedikit lebih kentara, dan hal itu membuatnya takut. Setelah berbincang-bincang sebentar mereka kembali fokus mengerjakan revisi. Sesekali ada yang minta bantuan menyelesaikan perhitungan, ada yang meminjam referensi untuk mengisi bagian yang kurang, dan juga saling mengoreksi. Itulah saat Rida kembali merasakan sosok itu. Mimik wajahnya langsung berubah dan rasa takut perlahan merayap di sanubari. Meski ia tengah berada di antara banyak orang, tapi hatinya dipenuhi perasaan takut yang tak bisa dijelaskan. Musa yang menyadari adanya keanehan langsung bertanya, "Ada apa, Rida?" Rida menggigit bibirnya sembari menggeleng. Tak mungkin ia menceritakan perasaan absurd nan aneh itu pada Musa. Bisa-bisa ia menjadi bahan tertawaan. Ia lantas memfokuskan diri dengan berkas revisi dan mengabaikan perasaan aneh dalam hatinya. *** Sosok itu tidak berhenti mengikuti Rida meski Rida telah sampai di rumah. "Aish, kenapa aku ini," ucap Rida cemas. Ia segera masuk ke dalam rumah. Karena ketakutan, ia menyalakan semua lampu yang ada di rumah kendati hari masih siang. Ia juga menyetel radio dengan suara nyaring agar rumahnya tidak sunyi. Untungnya, sosok yang tampak tak kasat itu tidak mengikuti sampai ke dalam rumah, dan hanya mondar mandir di jalanan. Sebenarnya sosok apa itu? batin Rida. Ia mencoba mengintip sosok samar itu dari balik jendela. “Apakah sosok samar itu hantu?” bisiknya takut. Urusan hantu bukanlah hal baru bagi Rida, sedari kecil ia sudah sering melihat berbagai macam penampakan. Namun, dulu dia tidak setakut ini karena masih ada kakek. Jika sendirian seperti ini, orang pemberani pun pasti merasakan takut juga. Sewaktu dulu, jika Rida merasa takut, sang kakek akan memegang kepalanya dan meniupi ubun-ubunnya dengan bacaan doa-doa yang khusuk. Sayangnya, kini Rida tidak bisa lagi melakukan itu karena sang kakek telah tiada. Rasanya menyakitkan saat menyadari jika kali ini ia harus bergantung pada dirinya sendiri. Mencoba segala cara agar bisa bertahan hidup. Mencoba melawan rasa takut yang tumpul. Ketakutan yang tak jelas bersumber dari apa. Karena tak mungkin lagi bisa fokus mengerjakan tugas, Rida lantas membuat makanan sembari mendengarkan musik. Ia ingin mengenyahkan pikiran yang tidak-tidak mengenai sosok apa yang menunggunya di luar rumah. Ia berharap apapun sosok itu, semoga saja sosok itu tidak akan pernah masuk ke rumah karena itu akan menakutinya. Segera setelah menyibukkan diri di dapur, Rida langsung tenggelam oleh keasyikannya mengolah makanan. Malam ini Rida ingin makan semur ikan kesukaannya. Mumpung tadi ia sempat membeli ikan nila di warung dekat rumah saat perjalanan pulang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD