Bau harum semerbak memenuhi dapur membangkitkan nafsu makan, tapi Rida tidak berniat makan sekarang karena ia lebih suka makan setelah mandi. Rasanya akan lebih nikmat jika menyantap sesuatu yang hangat dengan tubuh yang segar setelah mandi.
Setelah mandi, Rida kembali mengintip sosok yang samar-samar tadi siang. Apakah sosok itu masih ada di sana? Semoga saja tidak, harapnya.
Meski berharap tidak, nyatanya sosok itu tetap ada mondar mandir di jalanan depan rumah. Rida hanya bisa pasrah.
"Ya sudah, lupakan," gumam Rida. “Apapun sosok itu, terserah dia mau ngapain. Asal sosok itu tidak mengganggunya tidak masalah.”
Rida lantas makan malam sembari menonton film Korea yang baru saja rilis. Setidaknya ia bisa punya penghiburan menemani rasa sepinya. Hingga sebuah panggilan membuyarkan konsentrasinya. Rida lantas meletakkan sendok dan meraih ponsel yang tergeletak di tepi meja makan.
Layar ponsel menyala menampilkan foto profil Yanto. Rupanya Yanto melakukan panggilan video. Rida ragu sejenak untuk mengangkat telepon itu. Ia akan ngomong apa jika sudah mengangkatnya? Pasti canggung karena ia sudah tahu perasaan Yanto padanya sekarang. Tapi, bagaimana, ya. Ia juga tak ingin makan sendirian.
"Aish, sudahlah. Cukup diangkat saja sisanya akan ia pikirkan sembari ngobrol."
Rida lantas mengusap layar dan wajah Yanto langsung muncul di layar.
"Apa kabar? kamu lagi apa?" sapa Yanto sumringah.
"Kabarku baik. Aku lagi makan, nih," jawab Rida. Ia menyudahi film Korea yang tengah ditontonnya dan fokus pada panggilan video sembari menghabiskan makan malamnya.
"Senang mendengarnya. Makan yang lahap, ya," ujar Yanto sungguh-sungguh.
"Kakak sendiri lagi apa?"
"Lagi nelpon kamu ...."
"Heh, kalau itu juga aku tahu," sahut Rida merasa konyol. Namun kekonyolan itu adalah salah satu kelebihan Yanto. Yanto selalu bisa mencairkan suasana hingga Rida pasti lupa waktu jika sudah keasyikan teleponan dengannya.
"Oia setelah lulus, apa rencanamu selanjutnya?"
"Tidak ada!" jawab Rida cepat.
"Kamu terlalu cepat menjawabnya," protes Yanto. "Pikirkankan secara mendalam."
"Hm, apa ya ...." Rida berpikir sejenak. Tiba-tiba wasiat kakeknya melintas di otaknya. "Sepertinya aku akan menikah," lanjutnya.
"Kamu? menikah?”
“He’em,” jawab Rida tanpa merasa bersalah.
Jantung Yanto terpacu dengan cepat begitu mendengar rencana masa depan Rida. “Kamu mau menikah? Menikah dengan siapa? memangnya kamu punya pacar?" tanya Yanto beruntun.
“Ada, deh …!” jawab Rida setengah bergurau.
Meski Rida mengucapkannya dengan nada bercanda tak urung Yanto sangat terkejut dengan jawaban yang dilontarkan gadis itu. Apa Rida benar sudah punya pacar tanpa sepengetahuannya? Siapa pria yang tidak diketahuinya itu? Apa Rida begitu putus asa karena sendirian hingga memutuskan menikah muda?
Yanto bimbang sejenak. Apakah ia harus menyatakan perasaannya sekarang? atau tidak? Mungkin saja Rida sudah punya pacar. Bagaimana jika Rida benar dipinang orang lain?
Pikiran Yanto jadi tidak tenang. Ia pikir Rida akan mengajar seperti anak-anak lulusan jurusan pendidikan. Namun, menikah? itu sama sekali belum terbersit dalam pikiran Yanto. Aduh, ia harus bagaimana sekarang? Ada keheningan sejenak akibat Yanto yang terlalu larut pada pemikirannya.
Tak terasa Rida telah menyelesaikan makanannya dan membereskan bekas makanannya sekalian mencuci piring. Ia meninggalkan ponselnya yang masih menyala di atas meja.
"Rida, apa kamu punya pacar sekarang?" tanya Yanto sekali lagi. Ia butuh ketegasan.
"Tidak," jawab Rida dari kejauhan.
"Ah." Ekspresi kelegaan lolos dari mimik wajah Yanto.
Rida muncul di depan layar beberapa saat kemudian dengan segelas air putih hingga ia melewatkan ekspresi Yanto.
"Apa kamu sangat ingin menikah?" tanya Yanto.
"Entahlah, tapi aku sepertinya akan menikah dalam setahun ini."
"Tidak bisakah kamu menungguku?"
"Apa?" Rida berkedip cepat. Hatinya berdegup kencang. Apa Kak Yanto akan menyatakan perasaannya sekarang?
"Hm, bukan apa-apa,” jawab Yanto gugup.
“Ah ….” Rida lega. Jika Yanto menyatakan perasaannya sekarang, ia tak tahu harus menjawab apa. Syukurlah.
“Pokoknya kamu harus lapor pada kakak jika kamu mau menikah. Aku akan membantumu menyelidiki orang seperti apa calon suamimu nanti. Ia harus lolos penilaianku sebelum menikahimu," ucap Yanto setelah menimbang-nimbang dalam hati.
Meski ia memutuskan tidak menyatakan perasaannya sekarang, tapi tetap ada rasa sesal tertinggal di lubuk hati karena belum bisa jujur pada perasaannya.
"Hm, baiklah," balas Rida. Sejujurnya Rida sempat terkejut dengan jawaban Yanto. Ia pikir Yanto akan langsung melarangnya menikah dengan alasan macam-macam. Terlebih Yanto telah menyatakan cinta diam-diam padanya. Jika benar ia harus melapor ketika hendak menikah, rasa-rasanya siapapun calon yang akan dikenalkan Rida nanti, pasti tak akan lolos screening Yanto karena alasan tidak jelas.
Ah, sudahlah, batin Rida. Lagi pula calonnya sudah ditentukan. Orang dengan ciri-ciri khusus yang akan naik gunung bersamanya.
"Tapi, sebelum itu aku akan naik gunung," ujar Rida mengakui. Sepertinya Kak Yanto berhak mengetahuinya.
Namun, respon Yanto benar-benar di luar dugaan. "Apa! Kamu? Mau naik gunung? astaga, Rida! jangan melakukan hal yang aneh-aneh!"
"Apa, sih? cuma naik gunung, doang, kok! Lagipula aku bukan anak-anak," ungkap Rida sebal.
"Rida, kamu itu tidak pernah naik gunung. Ingat, kakek bahkan melarangmu pulang malam, tapi sekarang kamu malah mau menginap di gunung. Aduh, pokoknya jangan. Percaya sama kakak." Yanto telah beralih ke mode ceramah sekarang.
"Lagian aku naik gunung karena perintah kakek, kok," ucap Rida membela diri.
"Maksudnya?"
Aksa Rida berkedip cepat, gelagapan. Ia telah dipesan Bulek Bas untuk tidak mengungkapkannya pada Yanto. Bisa-bisanya ia keceplosan.
"Bukan apa-apa. Aku hanya ingin mencoba sesuatu yang lain yang belum pernah aku lakukan sebelumnya."
"Ya, sudah. Hubungi kakak jika kamu berniat naik gunung. Biar kakak yang menemanimu."
Rida menggeleng. "Tak perlu, Kak."
"Tak perlu bagaimana? aku tidak akan mengizinkanmu naik gunung jika hanya dengan teman. Aku tidak bisa mempercayakanmu pada teman. Pokoknya tidak bisa!"
"Hm."
Yanto telah menampilkan sikap posesif dan keras kepala khas seorang kakak, tapi Rida juga tak pernah melihat ada seorang kakak yang terlalu posesif seperti Yanto. Itu hanya dilakukan oleh pria yang menyukai gadisnya. Dan, ya, itulah yang dilakukan Yanto saat ini.
"Gunung mana itu?"
"Gunung Kendil."
"Gunung Kendil? Hm, apa yang kamu maksud adalah Gunung yang ada di pesisir utara Pulau Jawa?" tanya Yanto memastikan.
"Mungkin ...," jawab Rida tak yakin. Jujur saja ia belum melakukan riset sama sekali.
"Hm, kamu ini bagaimana. Sebelum kamu memutuskan naik gunung, kamu harus melakukan riset dan memastikan kamu tahu dengan pasti seluk beluk dan segala informasi yang terkait. Aduh bagaimana aku tidak khawatir ... please, wait a moment, aku akan googling sebentar."
Rida menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Ia benar-benar malu . Pokoknya setelah skripsinya selesai ia akan menemui komunitas pendaki di kampus untuk mempelajari pendakian.
Sepertinya Yanto telah mendapatkan informasi dari google. Ia memindai cepat dan berujar, "oh, sepertinya Gunung Kendil memang terkenal di kalangan pendaki pemula karena tidak terlalu tinggi, jalurnya cukup landai, dan tidak terlalu menanjak. Sepertinya tidak terlalu mengkhawatirkan. Aku sedikit lega."
"Oke, kan?"
"Oke, sih! asal naik bersamaku!"
Rida meringis. Ia mulai khawatir menyalahi janjinya pada Bulek Bas jika terlibat dengan Yanto lebih jauh lagi. Jadi, segera setelah membahas tentang gunung, Rida menyudahi panggilan dengan Yanto.
Beruntung Rida melihat pesan Musa yang menanyakan tentang buku referensi miliknya yang mungkin terbawa Rida. Ia dengan cepat menelepon Musa agar Yanto tidak bisa meneleponnya kembali. Setidaknya untuk saat ini Rida punya alasan menghindari panggilan Yanto, Untuk esok, ia akan memikirkannya lagi.
"Apa bukunya ada padamu?" tanya Musa begitu ia mengangkat telepon dari Rida. Tumben sekali Rida mendadak menelepon. Biasanya gadis itu lebih suka mengirim pesan daripada panggilan telepon.
"Tidak!" jawab Rida cepat.
"Oh, ya sudah. Maaf mengganggumu. Aku akan tanya anak-anak yang lain."
"Jangan ditutup teleponnya," pinta Rida cepat.
"Ada apa?" tanya Musa keheranan. Namun, begitu teringat bahwa Rida sekarang seorang diri, ia langsung bertanya dengan nada khawatir.
"Apa terjadi sesuatu di rumah? apa kamu sedang ketakutan? Apa kamu melihat sesuatu yang mencurigakan? apa perlu aku mengutus seseorang untuk menemanimu? Sisil misalnya."
"Tidak, tidak perlu!"
"Lantas ada apa?" tanya Musa sekali lagi. "Jangan menakutiku. Katakan sejujurnya, aku akan segera ke sana membawa bantuan."
"Bukan-bukan! Ini bukan yang seperti itu," ucap Rida tak nyaman karena Musa jadi membuat kesimpulan sendiri. "Apa aku mengganggumu?" tanya Rida. "Apa kamu sibuk sekarang?"