"Tidak, aku tidak sibuk. Tapi, sebelum itu ... tolong jelaskan ada apa? Kenapa kamu tumben meneleponku. Aku yakin sedang terjadi sesuatu sekarang."
Rida menghela napas panjang. Haruskah ia menceritakan kekhawatirannya? Musa cukup jeli bertanya padanya. Pun sepertinya Musa tidak akan berhenti sampai Rida memberi jawaban yang memuaskan.
Rida segera membereskan meja makan, menjinjing laptop lalu pindah ke kamar. Setelah meletakkan laptop di atas meja, ia naik ke atas ranjang, menghadap ponsel, dan melanjutkan pembicaraan.
"Aku sedang tidak ingin menerima telepon dari seseorang. Kebetulan kamu mengirim pesan, jadi aku meneleponmu," terang Rida.
"Oh, Kak Yanto," tebak Musa.
"Ah!"
Rida merasa terkhianati. Bahkan Musa bisa menebak tanpa perlu bersusah payah. Apa begitu kentara sekali perasaan Yanto padanya? kenapa selama ini ia tak sadar. Meski tebakan Musa benar, tapi Rida tak mengiyakan maupun menyanggahnya.
"Kenapa menghindarinya? Bukankah Kak Yanto menyukaimu."
"Bisa kita membahas yang lain?" Rida tak nyaman membahas Yanto karena ia tak tahu harus bersikap apa terhadap perasaan itu.
"Haha ... baiklah-baiklah." Musa curiga sepertinya Rida mengetahui perasaan Kak Yanto padanya. Apa baru-baru ini Kak Yanto menyatakan perasaannya pada Rida? Bisa iya bisa tidak. Entahlah hanya mereka dan Tuhan yang tahu.
"Btw, apa kamu menghubungiku hanya karena telepon dari Kak Yanto saja? tidak ada yang lain yang mengganggumu, kan?" tanya Musa memastikan.
"…."
Rida sejenak terdiam. Ia ingin menceritakan soal sosok yang ada di jalanan depan rumahnya, tapi ia juga tak mau dibilang aneh karena percaya akan hantu dan sosok tak kasat mata. Akhirnya, "ya, tak ada yang lain," pungkasnya.
"Kamu di rumah sendirian, kah, sekarang?"
"Ya, begitulah."
"Tolong berhati-hati. Pastikan semua terkunci, baik pintu maupun jendela. Tutup semua lubang yang sekiranya bisa dimasuki orang."
"Ya, aku akan memastikannya sekali lagi."
"Oia, sesekali kamu juga harus mengajak orang menginap di rumahmu. Aku jadi khawatir karena kamu sendirian. Pantas saja Kak Yanto meneleponmu, ia pasti khawatir padamu."
"Aku baik-baik saja," ungkap Rida. Ia tak ingin mendapat perhatian yang berlebihan dari Kak Yanto karena ia tahu perasaan Kak Yanto padanya lebih dari sekedar kasih sayang biasa. Ia khawatir tidak bisa membalas perasaan itu. Rida tak ingin hubungan persaudaraan mereka berubah. Lagi pula hubungan percintaan mereka sama sekali tidak akan bisa berjalan karena ia sudah punya calon dari antah berantah yang ditentukan sang kakek.
“Ya, aku juga berharap kamu baik-baik saja. Baik keselamatanmu maupun perasaan hatimu.”
"Uhm, thanks. Mungkin aku harus memikirkan cara agar rumahku jadi ramai biar gak kesepian," gumam Rida.
"Itu juga bagus. Kamu bisa membuka les misalnya ... Ya, supaya banyak anak-anak yang datang ke rumah," ujar Musa mengusulkan.
"Itu ide yang bagus! Mumpung aku juga tak ada kegiatan."
"Yep, benar. Tinggal revisi doang mah gampang."
"Haha ... Kamu ini terlalu menggampangkan. Oia, besok bareng, ya. Aku belum pernah ke rumah Bu Susi."
"Beres!"
Bu Susi adalah dosen pembimbing mereka. Karena suatu alasan, dalam minggu ini, beliau hanya menerima bimbingan di rumahnya.
"Baiklah, besok kita ketemu di kampus," ujar Rida.
"Aku membawa mobil. Apa tidak sebaiknya aku menyusulmu ke rumah biar lebih hemat?"
"Jangan! aku tidak ingin jadi pergunjingan tetangga karena keluar dengan pria."
"Hm, ya sudah kalau begitu. Sampai jumpa di kampus. Oia, kamu masih mau ditemani?”
"Gak usah. Paling Kak Yanto juga sudah menyerah."
"Baiklah. Kalau begitu, aku mau cari makan malam. Ya, sudah. Selamat malam, Rida."
"Eh, tunggu sebentar," ucap Rida buru-buru. Ia tiba-tiba terpikirkan tentang naik gunung. Ia hendak bertanya info tentang komunitas pendaki di kampus mereka.
"Ada apa?"
"Apakah kamu mengenal seseorang dari komunitas pendaki yang ada di kampus kita?"
"Klub pendaki? Ada, sih! Tapi untuk apa?"
"Ah, ya. Aku mau tanya-tanya."
"Kau mau mendaki?"
"Begitulah. Sebagai hadiah kelulusan."
"Oh, aku mengerti. Aku mengenal seseorang bernama Edi, tapi aku sudah lama tidak menghubunginya."
"Kamu punya nomornya?"
"Tidak, tapi aku punya akun instapict miliknya. Nanti aku kirimkan padamu. Sepertinya ia masih menggunakan akun itu. Kemarin aku sempat lihat dia masih memperbaharui foto galerinya."
"Oh, baguslah. Nanti kirimkan padaku, ya!"
"Siap!"
"Bye!"
Setelah berbincang-bincang dengan Musa, Rida segera memfokuskan diri mempelajari ulang revisi yang akan ia setorkan besok. Cukup lama ia melakukan itu hingga ia puas dengan hasil pengerjaannya.
"Hoam ...." Rida menguap pertanda ia mulai mengantuk, tapi ia belum akan tidur karena ia harus berselancar di dunia maya. Ia lantas menutup tab tugas kuliahnya lalu berpindah ke kolom browser, ia harus mulai mencari tahu mengenai Gunung Kendil. Gunung yang nanti akan didakinya.
Rasanya gunung itu tidak sefamilier Gunung Arjuno, Gunung Lawu, Gunung Bromo, Gunung Semeru, dll. Dimanakah sebenarnya Gunung Kendil berada?
Sewaktu mencari di pencarian Google, ternyata cukup banyak pilihan gunung-gunung yang bernama Kendil. Kebanyakan Gunung Kendil yang ada memang sangat cocok untuk pemula. Kalau tidak ingat bahwa Sang Kakek mengatakan jika Gunung kendil yang dimaksud ada di pesisir Pulau Jawa, Rida juga pasti salah sangka mengenai keberadaan Gunung Kendil yang beredar di Internet.
Pencarian Rida berujung pada sebuah tempat di sebuah kecamatan yang ada pantai utara Pulau Jawa. Tepatnya di Desa Daun.
"Gunung yang tidak terlalu populer," gumam Rida saat membaca deskripsi. Bagaimana tidak, gunung itu tidak terlalu tinggi, cukup landai, dan membutuhkan banyak waktu untuk sampai ke puncak. Sangat tidak menantang, tampak membosankan, dan memakan waktu.
Aish, memangnya ada apa di gunung itu? Jangan bilang jodohku tengah menanti di atas sana? pikir Rida konyol.
Apapun yang menanti di gunung itu, setidaknya berdasarkan dari foto-foto yang ada, pemandangan dari puncak Gunung Kendil sangatlah indah. Melihat pemandangan itu saja sudah menentramkan hati. Bagaimana yang lain biar takdir yang menentukan.
Setelah puas mencaritahu tentang Gunung Kendil, Rida teringat jika ia harus menghubungi Edi.
Berbekal akun instapict yang dikirim Musa, Rida mulai mencari tahu mengenai Edi. Begitu ia membuka akun Instapict milik Edi, Aksanya langsung dimanjakan dengan galeri yang berisi foto pemandangan dari ketinggian.
Beberapa foto diantaranya menggambarkan hamparan hijau yang luas seluas cakrawala, langit yang jernih membiru, lengkap dengan bukit-bukit yang membentang di kejauhan. Sangat indah.
Beberapa foto yang lain menampilkan pemandangan puncak gunung yang tinggi menjulang. Tak hanya satu foto, tapi banyak sekali foto gunung. Ia surprise dengan banyaknya gunung yang sudah didaki Edi.
Ada beberapa foto seseorang, yang diduga Rida sebagai Edi, tengah berfoto dengan papan penanda puncak ketinggian.
Orang itu berperawakan tinggi, kurus dengan hidung yang mbangir. Rambutnya lebat dan senyumnya menyenangkan. Dilihat dari perawakannya tampaknya Edi cukup ramah. Ia jadi tidak sabar untuk berkenalan dengannya.
Rida mengirim chat. Memperkenalkan diri dan menyampaikan maksudnya. Semoga saja Edi dapat menghubunginya kembali, secepatnya.
***
Keesokan harinya. Saat waktu yang dijanjikan telah tiba. Rida dan Musa berangkat bersama ke rumah Bu Susi mengendarai mobil. Dalam perjalanan mereka membahas tema-tema ringan juga rencana masa depan yang akan mereka tempuh setelah lulus nanti.
"Kalau aku, aku akan kuliah lagi S2. Seperti yang kamu tahu, aku mengajukan aplikasi beasiswa ke luar negeri," ujar Musa.
"Hm, begitu ya. Baguslah! Aku dengan tulus mendoakan kesuksesanmu."
"Amin ... Amin .... sebenarnya sedikit berat karena usaha online-ku semakin berkembang. Ya, mau bagaimana lagi. Kapan lagi aku dapat penawaran untuk ini.”
“Iya juga. Mumpung sudah lolos. Pokoknya harus fokus dan terus semangat.”
“Siap! Lantas bagaimana denganmu?" Musa balik bertanya.
"Aku sejujurnya ingin melanjutkan pendidikan, tapi aku masih ingin slow down dulu. Lagipula aku harus menikah!"
"Eh? Apa maksudmu dengan menikah? Kamu dijodohkan?" tanya Musa terkejut.
"Ya, semacam itu," ungkap Rida. Musa adalah salah satu pribadi yang tidak ingin Rida bohongi. Jadi, meski tidak bercerita terus terang, ia juga tidak bisa sepenuhnya berbohong pada Musa.
"Astaga, aku tidak menyangka kamu akan menikah secepat ini. Hehehe ...."
"Anak perempuan kan biasanya memang menikah lebih cepat dari anak lelaki," cetus Rida.
"Iya, ya ... Baiklah. Jika memang itu perjodohan, saranku jangan terlalu terfokus dengan perjodohannya, tapi fokuslah pada jodoh itu sendiri. Sosok yang harus kamu nikahi haruslah sosok yang berkenan di hatimu. Setidaknya, ia harus orang yang bertanggungjawab. Ingatlah, memilih pasangan hidup itu seperti memilih masa depan."
"Oho! terima kasih atas sarannya. Kamu memang teman ter-the best. Tahu banget kalau aku newbie dalam menjalin hubungan."
"Yap, kamu bisa mengandalkanku. Aku akan membuka ruang konsultasi gratis hanya untukmu."
"Wkwk ... baiklah."