Bab 10. Sosok yang Terus Mengikuti

1319 Words
Kendaraan mereka melambat setelah memasuki sebuah kawasan perumahan. "Apakah rumahnya ada di sekitar sini?" tanya Rida. "Ya, jalan pelangi nomer 12," sahut Musa. Sebelum kendaraan benar-benar berhenti, aksa Rida seolah terpaku sejenak pada satu titik di depan sana. Wajahnya langsung pias saat melihat sosok yang familiar tak kasat mata tengah menunggu di depan rumah yang akan mereka tuju. Degh! Jantung Rida seolah berhenti berdetak. Hatinya langsung diliputi kecemasan saat melihat sosok yang lagi-lagi menguntitnya. Tuhan, apalagi ini! Musa tak melihat ekspresi kekhawatiran Rida karena ia sibuk memarkirkan mobil. Setelah menemukan tempat yang sesuai ia lantas mematikan mesin kendaraan dan mengajak Rida turun. "Ayo, kita sudah hampir telat tinggal 5 menit." Bu Susi sangat membenci orang yang tidak tepat waktu. Baginya, kedisiplinan adalah yang utama. "Hm, iya. Baiklah," jawab Rida setengah menggumam. Ia lantas membenahi barang bawaannya dan keluar dari mobil. Rida berjalan di belakang Musa dengan merunduk seolah tengah bersembunyi. Itulah saat Musa sadar ada yang aneh dari Rida. "Ada apa? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Musa. "Kamu tidak perlu takut dengan Bu Susi. Kita hanya akan melakukan bimbingan biasa, bukan sedang ujian," lanjutnya mencoba menenangkan. Rida tak kuasa menjawab hanya mengangguk. Ia sudah ketakutan dengan sosok itu karena semakin ia mendekat ke rumah Bu Susi makin dekat pula dengan sosok itu. Seolah sosok itu memang tengah menunggu di sana jauh sebelum ia memutuskan datang. Tak seperti biasanya, kali ini Rida bisa melihat sosok itu dengan jelas. Sosok itu berwujud seorang pemuda, wajahnya tenang nyaris tanpa ekspresi. Kulitnya putih pucat dengan mata yang hanya fokus pada satu tempat. Tubuhnya berdiri diam di sana, tampak kaku persis sebuah patung. Potongan rambut dan dandanannya persis seperti pemuda tempo dulu. Aroma dedaunan segar tercium saat mereka mendekat ke arahnya. Sosok itu mendadak mundur beberapa langkah saat mereka mendekat. Tak hanya itu, sosok tersebut bahkan membungkuk ke arah Rida, yang mana malah membuat gadis itu semakin ketakutan. Namun, bukan itu bagian terhorornya. Saat mereka hanya berjarak satu meter, Rida dengan jelas mendengar sosok itu menyapanya. "Genduk Rida ...." Genduk adalah sapaan untuk gadis yang belum menikah di beberapa daerah di Pulau Jawa. Keringat dingin membasahi tubuh Rida tatkala sosok itu menyapanya. Suaranya halus menelisik pendengaran dan membawa aura dingin. Ia bergidik ngeri dan buru-buru merunduk seraya semakin mendekat ke arah Musa. Untung saja ia berangkat bareng Musa dan tidak sendirian. Kalau tidak, mungkin ia akan pingsan di tempat jika mengalami ini. Untungnya lagi, Bu Susi kebetulan tengah berada di halaman menunggu mereka sehingga mereka tak perlu menunggu di luar pagar. "Kalian tiba ... masuklah," sambut Bu Susi ramah seraya membukakan pintu pagar. Rida buru-buru masuk dengan cepat mendahului Musa. Ia menyalami Bu Susi tanpa menoleh ke belakang. Kentara sekali ia ketakutan. Bu Susi tampak menyadari ketakutan Rida karena ia langsung merangkul Rida dan meminta Musa menutup pintu pagar. Bu Susi sudah mendengar mengenai musibah yang menimpa keluarga Rida. Tak disangka sepertinya Rida belum siap memulai bimbingan. Mau bagaimana lagi, jika Rida tidak menyelesaikannya dalam periode ini maka ia tidak akan bisa mengaplikasikan wisuda sesuai rencana. Dan itu pasti membuatnya semakin sedih. "Kau tak apa? Tubuhmu menggigil," tanya Bu Susi. "Ya, aku baik-baik saja," jawab Rida sembari mengusahakan senyum lemah yang malah membuat wajahnya terlihat mengerikan karena senyum palsu itu. "Ibu sudah mendengar tentang musibah yang menimpa keluargamu. Ibu turut berduka," papar Bu Susi. Tampaknya Bu Susi salah paham mengartikan ketakutan Rida. "Hm terima kasih," balas Rida setengah menggumam. Bu Susi hanya tidak tahu bahwa ketakutan Rida kali ini bukan karena belum siap bimbingan atau karena masih dalam kondisi berduka. Kali ini ia ketakutan karena sosok tak kasat mata yang terus mengikutinya kemanapun ia pergi. Bu Susi mengarahkan mereka ke ruangan kerja yang berhadapan langsung dengan pemandangan taman belakang yang indah. Rida dan Musa langsung berdecak kagum. Siapapun akan betah jika bekerja di ruangan dengan pemandangan seasri ini. "Ruangan yang bagus, Bu," puji Musa. Bu Susi tersenyum. Ia juga menyukai ruangan ini. Saat banyak pekerjaan yang harus dikerjakan terkadang ia juga merasa sedikit tertekan, tapi begitu melihat pemandangan asri di balik jendela, moodnya langsung naik. Lingkungan yang bagus juga salah satu kunci kelancaran sebuah pekerjaan. Pantas saja perusahaan dan kantor instansi rata-rata mempunyai taman dengan pemandangan yang indah. Namun, bukan karena mempunyai taman yang indah yang jadi alasan Bu Susi mengundang muridnya bimbingan ke rumah. Beliau mengundang muridnya ke rumah karena ia akan kedatangan ayahnya dari kampung sore ini. Bu Susi ingin menyambut kedatangan ayahnya yang jarang-jarang datang dengan menyiapkan makanan kesukaan sang ayah. Makanya ia mengadakan bimbingan di rumah agar punya banyak waktu untuk mempersiapkan itu. Meski alasan kali ini cukup childish dan sangat egois bagi seorang dosen, tapi Bu Susi tidak bisa mengabaikan kerinduannya pada sang ayah sehingga mau tak mau para mahasiswanyalah yang harus mengalah. Bu Susi menyajikan teh hangat sebelum memulai bimbingannya. Sejenak Rida melupakan tentang siapa sosok itu dan fokus pada bimbingan. Bu Susi juga begitu fokus dan perhatian. Ia bergantian mengoreksi dan memberi petunjuk masing-masing pekerjaan Musa dan Rida. Hingga sebuah ketukan di pintu mengagetkan mereka. "Tok tok!" Rida yang tengah fokus sampai terlonjak karena kaget. "Masuk," ucap Bu Susi tanpa menoleh. Beliau masih fokus mengoreksi lembar kerja Rida. Cklek ... Pintu terbuka. Otomatis semua yang ada di ruangan menoleh ke arah pintu. Tampak berdiri di sana seorang kakek sepuh yang masih tampak bugar tengah tersenyum. Usianya mungkin sudah menginjak kepala 7. "Ayah!" seru Bu Susi dengan nada antusias. Ia langsung menyongsong sang ayah dan berpelukan hangat. Mereka saling mengecup pipi dan melepas rindu. Rida dan Musa saling berpandangan. Tak pernah terbersit dalam pikiran mereka bisa melihat Bu Susi bertingkah seperti ini. Sepertinya semua anak akan bertingkah kekanak-kanakan tak peduli berapapun usia mereka. Pun bagi orang tua, anak tetaplah anak tak peduli berapapun usia mereka. Bagi orang tua, anak adalah sosok yang paling mereka cintai lebih dari dirinya sendiri. "Kapan ayah tiba? Kenapa Ayah tidak memberitahu kalau datang pagi. Susi kira Ayah datang sore." "Perjalanan sangat lancar jadi ayah tiba lebih cepat. Apa ini cucuku?" tanya Ayah Bu Susi memandang Rida dan Musa yang masih duduk terbengong-bengong di kursi masing-masing. Rida menggeleng. Ia dan Musa lantas bangkit dari duduknya dan menyalami Ayah Bu Susi sembari memperkenalkan diri. "Saya Rida, Kek. Murid Bu Susi," terang Rida. "Salam kenal, Kek. Saya Musa. Murid Bu Susi juga," ucap Musa melanjuti ucapan Rida. "Oh, salam kenal juga. Panggil saya Mbah Kung," ucap Mbah Kung seraya menepuk bahu Musa. "Apa kalian datang ramai-ramai?" "Tidak, Mbah Kung," jawab Musa. "Kami hanya datang berdua saja," terangnya. Rida hanya diam menelan ludah, ia was-was mewanti-wanti ucapan Mbah Kung selanjutnya. "Lalu yang di luar itu siapa? Apa teman kalian juga? Kenapa tidak diajak masuk sekalian?" Degh! Wajah Rida memucat. "Siapa?" tanya Bu Susi. "Kami hanya berdua," Musa kembali menegaskan. "Pasti Ayah salah lihat. Mereka hanya datang berdua. Ya, sudah. Ayah istirahat saja dahulu biar Susi menyelesaikan ini. Sudah hampir selesai," lanjut Bu Susi. Detik selanjutnya Rida sama sekali tidak fokus. Untung tidak banyak penjelasan yang tersisa sehingga mereka bisa menyelesaikannya dengan cepat. Milik Musa juga demikian. Tak banyak revisi yang berarti sehingga Bu Susi pun menyudahi bimbingan kali ini. Pikiran Rida berkecamuk. Apa itu berarti Mbah Kung juga bisa melihat sosok yang menguntitnya? Apa ia berterus terang saja pada Mbah Kung? Siapa tahu Mbah Kung mungkin bisa membantunya. Semua pikiran-pikiran tersebut melayang-layang membuatnya tidak tenang. Sampai tibalah waktu Rida dan Musa lantas berpamitan. Dengan sopan mereka berucap terimakasih dan berpamitan seperti pada umumnya. Namun, saat giliran mereka berpamitan pada Mbah Kung, Beliau malah berujar, "Nak Rida, Mbah Kung mau berbicara sebentar denganmu." "Eh!" Bu Susi tentu saja terkejut. Ada perlu apa antara sang ayah dengan Rida? Ayahnya kan baru pertama kali ini bertemu Rida. Kenapa sang ayah seolah punya sesuatu yang sangat urgen yang harus disampaikan pada Rida. Rida yang sudah mengharapkan akan hal ini dengan cepat mengangguk. Ia berharap Mbah Kung bisa memberitahu mengenai sosok apa gerangan yang ada di sana. Dan apa yang diinginkan sosok itu padanya. Semoga saja ada kejelasan, doanya dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD