Chapter 24 - Misi Licik

1586 Words
“Dengan ini diberikan pengumuman, bahwa untuk sementara hingga batas waktu yang belum bisa ditentukan, pengambilan kayu di Hutan As dihentikan. Demi meredam polemik di masyarakat. Kami harap semua dapat mengerti. Sebagai tanggung jawab kami kepada masyarakat, kami akan melakukan penanaman pohon. Semua bumi kita Santara masih bisa baik-baik saja untuk dihuni anak cucu di masa depan. Terima kasih.” Sebuah hasil yang diumumkan tepat di hari senin yang terang akibat sinar matahari. Dan hasil ini menggemparkan semua orang. Termasuk pria tua bangga bernama Mandala Augustiano. Ya, Mandala adalah dalang dibalik runyamnya misi yang dilakukan oleh tim militer dibawah pimpinan Dimas Anggara.  Sesuai dugaan, saat mereka sedang menikmati secangkir kopi, sebuah mobil tiba di markas mereka. Mobil yang membawa Dimas dari tempat yang cukup jauh. “Bagaimana? Bagaimana kalian melakukan ini?” “Komandan, cobalah tenang. Kami semua punya rencana yang kebetulan berhasil.” “Tidak mungkin. Ketua Mandala bisa marah karena kalian.” “Kami siap menerima resikonya, komandan!”seru Anoda tegas. Dia tidak ingin melihat Embun kecewa. Perempuan itu sudah melakukan banyak hal untuk tim ini. Bahkan ketika sahabatnya sendiri mati di medan perang, dia masih bisa berjuang. Sikap komandan tidak bisa disalahkan juga. Dia memiliki tanggung jawab yang besar. Apalagi Mandala termasuk orang dengan jabatan yang tinggi  di tempat itu. Dia punya kuasa yang melampaui batas. “Baiklah. Terserah kalian. Bukannya saya tidak suka, tapi kalian harus bersiap menghadapi Ketua Mandala.” “Siap komandan!” “Kerja bagus! Misi akan berakhir besok. Dan jika benar kalian berhasil, maka Kerajaan Jawa menunggu kita. Untuk hari ini, terima kasih.” “Siap komandan!” Kepergian Dimas membuat mereka bersorak-sorai. Ini seperti perayaan sesuatu yang penting. Semua orang bergembira. Mereka memesan bir dan makanan. Ingin menghabiskan malam ini dengan kebahagiaan. Kapan lagi bisa menghabiskan waktu dengan seperti ini? Embun ikut berbahagia. Tapi dia masih terus memikirkan cara masuk Indonesia. Sedangkan Langit tetap menjalani semuanya sesuai dengan arus. Terlebih, tidak perlu ada yang tahu seberapa inginnya dia masuk Kerajaan Kalimantan. Bir itu sangat memabukkan. Membuat semua orang larut dalam bayang-bayang yang tidak masuk diakal. Dan biasanya, bir bisa membuat orang bicara seenaknya. Tanpa memperdulikan apapun. “Teman-teman, mari saling bercerita. Aku ingin tahu cerita kalian.”ucap Anoda dalam bayang-bayang kemabukan. Bir yang dibeli itu tak seenak Tequila. Tapi tetap saja, Anoda menyukainya. Minuman yang menghanyutkan manusia pada imajinasi yang luar biasa. “Mulai dari dirimu dulu, Anoda. Bagaimana kau bisa sebengis itu pada orang lain?” “Baiklah. Dimulai dari aku, Anoda Laksamana Ksatria.”ucap Anoda memperkenalkan diri dengan kegagahannya. “Aku lahir di Kerajaan Sumatera dengan status seorang putra panglima. Aku tak pernah dipaksa untuk menjadi seorang anggota militer. Aku hanya ingin jadi seperti ayah. Seorang pria yang berjuang demi Santara. Aku ingin namaku harum untuk dikenang nantinya. Dan yang terutama, aku berharap bisa mencintai kekasihku meski kita harus pergi ke Kerajaan Jawa.” “Biella, perempuan yang cantik.”ucap Embun sambil tertawa. Wajahnya memerah akibat minuman penikmat surga dunia itu.  “Benar sekali. Begitulah aku, tidak ada yang menarik bukan?” “Menarik, pantas saja kau bengis. Mungkin turunan dari ayahmu.”ucap salah satu di antara mereka sambil tertawa. “Diam saja kau. Selanjutnya, giliran kalian.” Samudera mengajukan diri tanpa disuruh. Anoda mempersilahkannya. Dengan tegukan yang menghangatkan, dia memulai kisahnya. “Aku Samudera Alia. Penyuka sastra dan mahir menulis. Bakat terpendam yang selama ini kusembunyikan. Berbanding terbalik dengan Anoda, aku benci pada ayahku. Aku sangat membencinya sampai membuatku ingin membalas semua perbuatannya.”ucap Samudera dengan mata tajam. Dia terlihat sedih dan kosong. Seakan semua senyuman dan tawanya selama ini adalah topeng dibalik sebuah kehampaan.  “Aku, aku cuma benalu yang menyengsarakan. Aku terlalu lemah sampai tak bisa membela diri. Tapi sekarang, aku beruntung ada disini. Terima kasih ya.”ucapnya sambil tertawa hebat.  “Oke, simpan saja terima kasihmu. Terima kasih itu tak bisa membuat uang di dompet kami bertambah.”ucap seseorang membuat tawa. “Aku, aku!”seru Embun dengan tawa khasnya. “Aku, Embun Deangkasa. Ya, kuberi tahu nama asliku kepada kalian. Anggap itu sebagai prestasi karena itu rahasia. Aku, aku ingin kembali ke Indonesia. Argh, kalian pasti tidak terlalu paham ya. Walau aku seorang penyintas, aku tidak akan berhenti begitu saja. Aku ingin kembali untuk bicara pada ibuku. Bawa aku dalam doa kalian ya.” Semua tampak hening mendengar penuturan Embun. Bisa saja mereka ingat, tapi banyak juga yang akan lupa dengan pembicaraan ini. Semua meneguk minuman itu dengan bersemangat. Semua juga tahu betapa Embun mengalami kesedihan selama ini. Dia terlalu banyak beban dan ambisi. Beberapa orang pernah memergokinya menangis sendirian. Dan tak jarang, dia juga merenung sendirian. Seperti orang yang sedikit gila. Mereka bersikap bodo amat dan pura-pura tidak tahu.  Tadinya mereka biasa saja sampai melihat perjuangan Embun yang luar biasa untuk tim ini. Mereka jadi kasihan dan merasa iba.  “Baik-baik. Lupakan masalah itu. Siapa lagi yang ingin bicara?” Langit mengangkat tangannya. Matanya terlihat berbinar dan sumringah. “Perkenalkan, aku Langit Bebiru. Aku begitu beruntung sampai di keluarga Aires yang begitu baik. Aku punya mimpi yang sama seperti Embun. Bedanya, aku terlalu jahat membiarkan Awan mati. Jika harus berkorban, aku rela mati demi menggantikan Awan. Tapi kematian itu tak bisa dielak bukan? Argh, sudahlah.” “Argh, kenapa sih cerita kalian tidak ada mutunya? Jangan bicara hal-hal yang sedih seperti itu. Ayolah, kita bisa menikmati hari ini dengan tawa.”’ Semua dibuai alkohol yang nikmat itu. Tapi tidak dengan Samudera Alia. Dia masih sadar meski sudah meneguk tiga gelas bir. Dia ahlinya minum-minuman keras. Dan lagi, dia terbiasa hidup susah di masa lalu. Hidup yang penuh dengan perjuangan untuk bisa lepas dari maut dan hidup yang sia-sia. Dia merenungi semua cerita teman-temannya. Termasuk cerita Embun dan Langit. Samudera baru sadar kalau mereka punya tujuan yang  sama. Ingin mengetahui tentang Indonesia. Mereka tak cukup kaya untuk bisa tahu. Ditambah lagi, Samudera mengetahui beberapa hal tentang dunia yang ada di luar sana. Resiko besar jika seorang penyintas ingin  kembali ke tempat asalnya. Resiko paling parah adalah mati sia-sia di ruang mesin waktu.  “Mereka terlalu berani!”gumam Samudera dengan segelas bir di tangannya. Seketika muncul rasa untuk menyepelekan mereka. Siapa juga yang tidak sepele pada sikap tidak masuk akal itu? “Tunggu dulu, jika orang lain mungkin tepat untuk disepelekan. Tapi dia seorang Embun.”gumamnya lagi. “Apa mungkin dia punya cara sendiri?” Pertanyaan itu menghantui Samudera semalam suntuk. Sampai dia tidak bisa tidur. Jika ditinjau ke masa lalu, Samudera sangat beruntung masuk tim ini. mereka punya alasan kuat untuk melewati setiap misi. Bukan sekedar menginginkan nama baik seperti Anoda. Dia mengingat Hujan dan kakak perempuannya. Dunia ini semakin tidak adil saja. Dia tidak bisa lupa dengan masa lalu yang penat itu. Ketika dia harus meninggalkan orang-orang yang dia kasihi. Hanya demi kepuasan seseorang yang liciknya melebihi rubah. *** Mandala tampak marah. Tapi dia gak punya kuasa. Semua karena surat yang pernah diberikan Samudera Alia. Bagaimana bisa pria itu punya akses yang luar biasa? Jika dia berani macam-macam, hidupnya akan benar-benar berakhir buruk. Itu semua sudah bisa diprediksi. Disaat yang sama, Dimas Anggara tidak paham dengan tingkah Mandala. Padahal tempo hari dia sangat menggebu-gebu untuk menghabisi anak buahnya. Sekarang, dia seperti anak anjing yang sedang menurut pada perintah tuannya. “Terima kasih untuk kontribusi kalian. Saya sebagai pihak Kerajaan Sulawesi sangat bangga pada pencapaian ini. Termasuk pada tim dari X. bagaimana bisa kalian melancarkan teknik untuk memperbaiki masa depan?” Mereka semua terlihat bangga mendengarnya. Terutama Anoda yang kini membusungkan dadanya. Seakan dia yang paling berjasa. Padahal sebenarnya tidak.  “Bagaimana bisa ada ide menanam hutan kembali? Wah, saya saja tidak menemukan ide yang seperti itu. Kedepannya, pihak kerajaan akan memberi bantuan bibit untuk ditanam di hutan-hutan yang ditebang. Saya bangga pada kalian.” Ucapan itu membuat tim X jadi pusat perhatian. Mereka menguasai panggung popularitas. Diantara semua tim, mereka yang paling diperhatikan. Apalagi kehadiran Embun yang membuat semua orang bertanya-tanya. Bagaimana bisa seorang perempuan sampai di tahap ini? Mereka berjalan bersama dengan sumringah di wajahnya. Kekhawatiran yang mereka terima di awal berubah menjadi kebanggaan yang tak terkira. Berbeda dengan semuanya, Anoda tampak sedih.  “Ada apa denganmu?”tanya Langit penasaran. “Cinta itu menyakitkan, Langit. Jangan coba-coba jatuh cinta.” “Astaga, kenapa lagi sih?” “Aku harus meninggalkan Biella disini. Padahal cintaku sebesar ini, tapi kenapa takdir malah memisahkan kami.”balas Anoda dengan kata yang terlalu puitis. “Kau saja yang bodoh. Kau sudah tahu kita pasti akan pergi dari tempat ini. Kau malah menyempatkan diri untuk jatuh cinta.” “Jatuh cinta itu seringan tidak disengaja.” “Hmm, tapi kali ini kau yang sengaja. Jelas sekali kau berkorban banyak sampai mengajak Embun bertemu dengannya. Itu butuh usaha.” “Aku tahu. Tapi kau malah membuatku sedih. Kau tidak memiliki hati.” “Terserahlah.”balas Langit cuek. Dia mempercepat langkahnya. Ya, seakan dia tidak punya hati. Mereka berencana untuk menikmati hari terakhir dengan makan ayam di restoran yang dekat dengan tempat tinggalnya. Saat mereka hendak keluar gerbang, seorang perempuan menunggu. Perempuan cantik dengan rambut digerai. Dia tersenyum tipis. Dia adalah Biella, kekasih yang akan Anoda tinggalkan untuk sementara.  Mereka memberikan waktu untuk temannya itu. “Begitulah kalau tidak memiliki pertimbangan. Bodoh sekali dia.”ucap Langit tak berperasaan. “Kau tidak paham karena tak pernah jatuh cinta.”komentar Embun kesal. “Memangnya kau pernah?” “Pernah.”jawab Embun singkat. Dia berlari mendekati teman-temannya. Merangkul Samudera yang kini melihat ke arahnya. Mereka tertawa bersama. Pemandangan yang mengusik perasaan Langit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD