Chapter 74

1251 Words

Perempuan paruh baya itu membawa sepiring roti dengan dua gelas kopi secara bersamaan. Dia berjalan menuju ke kursi yang ada di tengah lapangan luas. Matahari mulai mereda karena hari hampir sore. Dan ini adalah saat yang tepat untuk bersantai.  “Terima kasih, bu.”ujar perempuan itu sambil  membantu menaruhnya di atas meja.  “Aku sangat senang karena kau baik-baik saja. Ternyata gambaran tangan itu benar, semua akan gagal dengan takdir yang diberikan Dewa.” “Argh, aku juga tidak menyangka akhirnya akan begini. Walau semua orang mulai sinis padaku, tapi aku sangat lega. Mereka pasti berpikir kalau aku orang yang suka mengadu. Hidup sebagai seorang selir sangat tidak menyenangkan.” “Setidaknya, kau tak harus merasakan kekerasan lagi.” “Argh, sama saja bu. Mereka membicarakanku di belaka

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD