4. Malam Kelam Karena Keputusan

1725 Words
Kalimat itu seperti petir yang menyambar. Zaven berdiri mendadak. Matanya beralih ke Avelline sejenak, lalu tanpa mengatakan apa pun, dia melangkah keluar rumah. Avelline cukup terkejut dengan Zaven yang justru beranjak pergi. “Mau ke mana, Yah?” tanyanya dengan wajah diliputi kecemasan. Namun Zaven tidak menjawab. Dia hanya menggeleng dan segera menyalakan motornya, melaju cepat membelah jalanan yang mulai sepi. Avelline berdiri terpaku di ambang pintu, memeluk Kaivan yang sudah menguap lebar. Ada sesuatu yang sangat salah. Dan dia tahu Zaven sedang menyembunyikan sesuatu yang besar. “Kai ngantuk? Kita bobo dulu ya,” ucap Avelline. Ibu mertuanya sudah tertidur dan tampak terlelap meski sesekali napasnya tersengal dan terdengar seperti orang yang mengorok, namun tidak wajar. Malam itu, Avelline dan Kaivan terpaksa menginap di rumah orang tua Zaven. Kaivan tertidur lebih cepat dari biasanya, mungkin karena kelelahan. Kamar itu masih sama seperti dulu, ranjang besar, lemari sederhana dan televisi kecil di sudut ruangan. Avelline membelai rambutnya lembut hingga napas bocah kecil itu terdengar teratur. Namun, Avelline sendiri justru tidak bisa tidur. Dia menatap langit-langit kamar, pikirannya berputar. Ada potongan-potongan kejadian yang terasa tidak saling terkait. Namun instingnya mengatakan semua ini ada hubungannya dengan Zaven yang berubah. Sikapnya yang murung dan tatapannya yang penuh beban. “Mas, apa yang kamu lakukan?” bisiknya lirih. Dia tertidur tanpa sadar. Sebuah belaian lembut membangungkannya. Avelline mengerjapkan mata dan mendapati Zaven duduk di sampingnya. Wajah pria itu terlihat lebih tua malam ini. Matanya sembab, penuh kesedihan. “Kamu kenapa?” tanya Avelline sambil menepis tangannya. Dia memang tidak menyukai sentuhan itu lagi. Bahkan alam bawah sadarnya selalu menolak. “Maafin aku Lin,” ucap Zaven lirih. Dia mengecup pucuk tangan Avelline pelan, penuh rasa bersalah. Suaranya tidak seperti biasanya. Tidak keras dan tidak emosional. “Untuk apa?” tanya Avelline seraya mengambil sikap waspada. “Ibu sakit karenaku ... karena sumpahku,” jawab Zaven. Avelline langsung bangkit dan duduk, rasa kantuknya lenyap seketika. Dia menatap wajah Zaven. “Ceritakan sekarang,” pintanya tegas. Bibir Zaven bergetar, matanya berkaca-kaca. “Aku ... aku menyewakan kamu, Lin.” Kalimat itu membuat dunia Avelline seperti berhenti berputar. “Ke teman ... beberapa puluh juta,” lanjut Zaven dengan suara nyaris tak terdengar, “dengan sumpah atas nama orang tuaku. Waktu itu aku mabuk dan ... dan kita habis bertengkar.” Avelline menutup mulutnya. Tubuhnya gemetar hebat, air mata langsung jatuh tanpa bisa ditahan. Rasa marah, jijik, kecewa dan hancur bercampur menjadi satu. “Zaven bersujud di kakinya.” “Aku salah Lin ... aku mohon ... .” “Kamu jahat!!!” jerit Avelline. Dia memukuli punggung Zaven, namun tenaganya seperti tersedot habis. Pukulan itu lemah, tidak menyakitkan namun cukup untuk meluapkan kehancurannya. “Aku enggak tahu temen aku bakal mau Lin. Dia transfer saat itu juga. Nyawa mama bergantung sama kamu,” ucap Zaven putus asa, “aku janji ... aku enggak akan ngekang kamu lagi. Aku bebasin kamu, tapi aku enggak bisa ninggalin kamu. Aku masih cinta.” Avelline tertawa pahit. “Siapa?” tanyanya lirih, “siapa teman kamu itu?” Zaven menunduk, “Eldiro.” Nama itu menghantam Avelline seperti tamparan keras. Dadanya terasa remuk. Eldiro, pria yang tersenyum padanya di lobby. Pria yang tatapannya terasa berbeda. Pantas saja. Avelline menekan dadanya yang terasa nyeri. Harga diri yang dia jaga seumur hidup, dijual begitu saja oleh suaminya. Dan malam itu, Avelline tahu, tidak ada lagi yang bisa kembali seperti semula. *** Pagi hari, masih sangat dini hingga ayam jantan pun belum berkokok, namun suasana rumah itu sudah terlihat dipenuhi kepanikan yang merobek keheningan rumah milik orang tua Zaven, ketika suara teriakan melengking memecah udara, mengguncang setiap sudut rumah. “Tolong!! Toloooonnngg!!” Itu suara ayah Zaven. Zaven yang sejak malam menemani ibunya tidur di ruang tamu langsung terbangun dengan jantung berdegup cepat. Matanya yang masih berat oleh kantuk mendadak terbuka lebar ketika melihat sesuatu yang membuat darahnya serasa berhenti mengalir. Ibunya! Darah mengalir dari mulut wanita tua itu, membasahi bantal dan sudut bibirnya. Matanya melotot, napasnya tersengal, tubuhnya kejang kecil seolah menahan rasa sakit yang tidak terucap. Ayah Zaven berdiri di sisi kasur itu dengan tangan gemetar, wajahnya pucat pasi, suaranya tercekat oleh kepanikan yang tidak bisa dia kendalikan. Zaven meloncat berdiri, lututnya hampir lemas. “Bu ... ibu,” panggilnya dengan suara bergetar. Tangannya gemetar saat mencoba menopang tubuh ibunya, “Ya Tuhan ... kenapa ini?” Avelline terbangun oleh suara ribut itu. Jantungnya berdegup kencang bahkan sebelum dia benar-benar tahu apa yang sedang terjadi. Dia berlari keluar kamar, rambutnya masih tergerai acak-acakan. Kaivan bahkan masih terlelap di ranjang. Semalaman dia memikirkan ucapan Zaven tentang dirinya yang disewakan pada Eldiro, tentang ucapan Adi yang berkata ibunya terkena sumpah. Lalu dia mulai menarik semua kesimpulan dan hatinya berkata dia harus melakukan sesuatu, namun dia tak mau melakukan hal yang sia-sia. Dia sudah sangat terluka dengan apa yang dilakukan Zaven mengenai harga dirinya. Begitu Avelline melihat kondisi ibu mertuanya, Avelline mmebekap mulutnya menahan jeritan. Darah! Banyak sekali hingga berceceran membasahi baju ibu mertuanya. Tanpa berpikir panjang, Avelline meraih tisu dari meja dan dengan cekatan mengusap darah yang terus mengalir dari mulut ibu mertuanya. Tangannya bergetar, namun gerakannya masih lugas. Matanya berkaca-kaca, tetapi nalurinya sebagai perempuan dewasa mengambil alih segalanya. “Tenang, Bu. tarik napas pelan-pelan,” ucap Avelline lirih meski suaranya terdengar bergetar hebat. Tatapan ibu mertuanya beralih perlahan ke arah Avelline. Mata itu terlihat sangat sendu, penuh sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Seperti penyesalan, kelelahan yang sudah terlalu lama ditahan. Bibirnya bergerak menggumamkan kata-kata yang tidak terdengar jelas. Avelline menggenggam tangan itu erat. Adi yang terbangun oleh keributan, langsung berlari keluar kamar. Wajahnya langsung berubah panik melihat kondisi ibunya. “Ya Tuhan!” desahnya. Tanpa menunggu perintah, Adi langsung berlari keluar, “aku siapin mobil!” teriaknya. Shina, istrinya keluar menyusul dengan wajah pucat dan mata membesar. Meski tengah hamil tua, dia memaksakan diri untuk bergerak cepat, mengambil tas dan baju ganti untuk ibu mertuanya dengan tangan gemetar. Zaven, Avelline dan ayahnya mengangkat tubuh wanita tua itu perlahan. Tubuh itu terasa sangat ringan, terlalu ringan untuk seseorang yang selama ini dikenal kuat dan tegar. Tubuh yang kini rapuh seakan tinggal menunggu waktu. Ibu Zaven terus menggumam, napasnya berat dan tersendat. Darah masih keluar meski tidak sederas tadi. Ayah Zaven masuk lebih dulu ke dalam mobil, duduk di kursi belakang sambil menyangga kepala istrinya. Adi bersiap dibalik kemudi. Zaven membantu mengangkat tubuh ibunya ke dalam mobil dengan hati-hati bersama Avelline. Ketika semuanya hampir siap, Zaven berbalik dan mendapati Avelline berdiri terpaku beberapa langkah di belakangnya. “Mas, bawa motor aja ya, ikutin dari belakang, takut ada yang perlu diambil nanti,” ujar Adi. Zaven hanya mengangguk dan membiarkan mobil itu pergi lebih dulu. Zaven menatap wajah Avelline yang basah oleh air mata. Matanya menatap Zaven dengan sorot yang sulit dijelaskan, antara takut, pasrah dan sebuah keputusan besar yang perlahan terbentuk di dadanya. “Kenapa Lin?” tanya Zaven dengan suara serak. Avelline menarik napas dalam-dalam. Dadanya terasa nyeri seolah ada tangan yang mencengkram jantungnya erat-erat. Kata-kata itu keluar begitu saja dari bibirnya, bahkan sebelum pikirannya sempat menyusunnya dengan cepat. “Telepon Eldiro, Mas. Aku siap,” ucap Avelline pelan namun tegas. Zaven membeku, “apa?” suaranya nyaris tak terdengar. “Aku siap, lakukan sumpah kamu,” ulang Avelline, air mata jatuh membasah pipinya, “tapi aku minta satu hal dari kamu. Tolong talak aku dulu ... sebelum aku menyerahkan harga diriku.” Kata-kata itu menghantam Zaven lebih keras dari tamparan mana pun. Dia menatap Avelline tak percaya, dadanya bergetar hebat. “Lin ... aku—“ “—nyawa ibu lebih penting! Aku enggak mau ibu kenapa-kepana. Tapi aku juga sudah sangat kecewa sama kamu, Mas. Aku enggak yakin setelah itu, kita bisa menjalin hubungan lagi seperti biasa,” potong Avelline lirih. Dalam benaknya, Avelline sendiri tak sepenuhnya mengerti mengapa dia bisa mengucapkan kalimat itu? Bukankah dia sudah lelah? Apakah ini cara dia agar terlepas dari Zaven, terlebih dia sudah tidak mencintainya? Namun, dia yakin bukan hanya karena dia ingin berpisah dengan Zaven, karena tanpa mengorbankan harga dirinya pun dia sudah pasti akan menggungat cerai Zaven secepatnya. Namun, dia melakukan itu karena ibu mertuanya. Wanita yang selalu memperlakukannya seperti anak kandung. Yang menyuapinya ketika dia hamil Kaivan, yang memijat kakinya setiap malam, yang membelanya setiap kali Zaven dan Avelline bertengkar. Ibu yang begitu mendambakan cucu hingga menyambut Kaivan seperti anugerah terbesar dalam hidupnya. Avelline tak sanggup membayangkan kehilangan sosok itu. Zaven mengusap wajahnya kasar, air matanya akhirnya jatuh juga. Dia mengangguk pelan, lalu menunduk. “Maafin aku Lin ... mulai hari ini, aku menceraikan kamu ... kita sudah ... sudah bukan suami istri lagi sekarang,” gumamnya lirih. Lalu dia meninggalkan Avelline yang terisak. Dia mengambil sepeda motornya dan meninggalkan halaman rumah dengan perasaan yang kalut. Dalam hati masih ada sisa harapan tipis, semoga belum terlambat bagi ibunya. Meskipun bagi rumah tangganya ... dia sudah menyerah. Avelline berdiri terpaku di teras rumah, menatap motor Zaven yang semakin menjauh hingga menghilang di tikungan jalan. d**a Avelline naik turun cepat. Kakinya terasa lemas. Dia menoleh ke dalam rumah, Shina duduk di sofa ruang tamu, tubuhnya gemetar. Tangannya memegang perutnya yang besar. Wajah wanita hamil itu pucat, matanya kosong menatap lantai yang masih tersisa bekas darah ibu mertuanya. Avelline pun segera menghampirinya. “Kamu harus duduk yang benar, Na,” ucap Avelline lembut sambil mengusap bahu iparnya itu, “tenang, ya.” Shina menoleh, air matanya langsung tumpah. “Kak, kenapa ibu bisa begini?” isaknya dengan suara yang pecah. Avelline ikut duduk di sampingnya, merangkul bahu Shina dengan perlahan. Dia tahu betul betapa besar arti ibu mertuanya bagi Shina. Gadis yatim piatu itu menemukan sosok ibu yang sesungguhnya dalam diri wanita tua itu, sama seperti Avelline. “Ibu kuat,” ujar Avelline meyakinkan meski hatinya sendiri gemetar, bagaimana jika sumpah itu bukan penyebab sakitnya ibu mertuanya? “Ibu akan baik-baik saja, percaya sama kakak.” Shina mengangguk pelan, meski ketakutan masih jelas tergambar di wajahnya. Dia mengusap air matanya perlahan, mencoba mengatur napasnya demi bayi di dalam kandungannya. Di dalam rumah yang kini sunyi itu, Avelline duduk memeluk Shina, sementara pikirannya melayang jauh ke depan. Ke sesuatu yang tak pernah dia bayangkan akan dia hadapi. Harga diri. Pengorbanan. Dan, pilihan yang akan mengubah hidupnya selamanya. Di luar langit mulai terang, namun bagi Avelline, hari itu terasa lebih gelap dari malam mana pun yang pernah dia lewati! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD