5. Semua Demi Waktu

1881 Words
Hari itu Avelline bekerja dengan perasaan yang tak menentu. Namun, dia tetap harus masuk karena deadline akhir bulan, dunia seolah tak pernah berhenti hanya karena hatinya sedang remuk. Akhir bulan selalu menjadi masa paling sibuk baginya. Rekapitulasi keuangan perusahaan harus selesai tepat waktu, atau seluruh sistem akan kacau, jika laporan tertunda, audit bermasalah lalu nama baik perusahaan akan dipertaruhkan. Dan seperti biasa, Avelline lah yang memikul tanggung jawab itu. Ibu mertuanya sudah dirawat, kondisinya memang tidak separah pagi tadi namun dokter masih mendalami penyakit medis yang mungkin terjadi, berbagai cek akan dilakukan bertahap. Dia duduk seorang diri di ruang pertemuan lantai tiga kantor Zaven. Ruangan itu sunyi, hanya suara pendingin udara, klik mouse dan ketikan keyboard sesekali. Di hadapannya layar laptop menampilkan angka-angka yang saling bertumpuk, grafik dan tabel yang membutuhkan fokus penuh. Di sampingnya sebuah memo kecil penuh coretan pulpen, berisi catatan koreksi terhampar seperti sesuatu yang begitu penting yang tak boleh hilang. Namun, sefokus apa pun dia menatap layar, pikirannya tak sepenuhnya berada di sana. Avelline mngembuskan napas berat, untuk kesekian kalinya. Dadanya terasa sesak, seolah udara di ruangan itu tak cukup untuk memenuhi rongga paru-parunya. Tangannya sempat terhenti di atas mouse, lalu dia menyandarkan punggung ke kursi, memejamkan mata sejenak. Jam di dinding berdetak pelan. Dia meliriknya. Sudah pukul dua siang. Masih ada waktu lima jam lagi. Lima jam sebelum pukul tujuh malam, waktu yang terasa seperti vonis baginya. Malam ini dia akan pergi bersama Eldiro. Zaven sudah mengatakan pada Eldiro bahwa hari inilah waktunya. Avelline menelan salivanya dengan kesulitan. Seketika perutnya terasa melilit. Bukan karena lapar, melainkan oleh kecemasan yang tak bisa dia tepis. Entah Eldiro akan membawanya ke mana? Entah seperti apa malam itu yang akan berlangsung. Yang dia tahu hanya satu hal, malam ini bukan hanya malam untuk dirinya sendiri. Pikiran-pikiran buruk mulai bermunculan tanpa dia bisa cegah. Bagaimana jika Eldiro sebenarnya bukan pria baik seperti yang dia bayangkan selama ini? Bagaimana jika dia membawanya ke sebuah klub malam? Bagaimana jika Eldiro memandangnya sebagai barang? Dia dikerubungi pria asing, ditertawakan dan diperlakukan seperti perempuan murahan? Avelline menggeleng cepat, seolah bisa mengusir bayangan mengerikan itu. “Jangan mikir yang aneh-aneh,” gumamnya lirih pada diri sendiri. Namun, tubuhnya justru merespons sebaliknya. Kulitnya meremang, dia memeluk lengannya sendiri yang tiba-tiba seperti disergap hawa dingin. Dia mencoba memberi perlindungan yang tak benar-benar dia rasakan. Ketukan pintu tiba-tiba terdengar. Avelline terlonjak kecil. Jantunngya berdetak lebih cepat karena dia memikirkan hal buruk sejak tadi. Dia menoleh ke arah pintu, menarik napas dalam-dalam sebelum bersuara. “masuk,” ucapnya. Pintu terbuka, menampilkan seorang pria muda berseragam office boy. Di tangannya sebuah nampan berisi kotak makanan dengan logo restoran ayam cepat saji yang snagat dikenalnya, lengkap dengan segelas jus alpukat berwarna hijau lembut. Avelline mengernyitkan kening melihatnya. “Ini Bu, makanannya,” ujar staf itu sopan seraya meletakkan nampan di atas meja. Avelline menatap makanan itu, lalu menoleh ke arah pria tersebut dengan ekspresi bingung. “Mas, sepertinya salah orang, saya enggak pesan makanan.” Office boy itu tersenyum kecil. “Enggak salah, Bu. Ini dari pak Eldiro, katanya untuk ibu.” Nama itu terdengar seperti dengungan lebah membuat telinga Avelline berdenging. Eldiro. Jantungnya kembali berdegup kencang, dia mengerjapkan mata beberapa kali, lalu akhirnya mengangguk pelan, “oh … ya, terima kasih, Mas.” Staf itu pamit keluar, meninggalkan Avelline bersama makanan dan pikirannya yang semakin kacau. Avelline menatap kotak nasi itu lama. Sejenak dia ragu untuk membukanya. Ada rasa kesal yang tiba-tiba muncul. Kesal karena Eldiro bertindak seolah-olah memiliki kendali atas dirinya. Mengirim makanan, memilihkan minuman kesukannya, tanpa berbicara dulu padanya. Dia membuka kotak makanan itu perlahan. Aroma ayam goreng hangat langsung menyergap indra penciumannya. Perutnya yang sejak pagi tak diisi apa-apa langsung bereaksi dengan bunyi lirih. Di balik penutup kotak nasi, ada selembar sticky note kuning. Avelline mengambilnya. Tulisan tangan yang rapi namun tegas tertera di sana. “Dimakan ya. Kamu harus fit untuk malam nanti. Regards, Eldiro.” Avelline mendengus pelan. Bibirnya maju beberapa senti. Antara kesal dan tak tahu harus bereaksi bagaimana. Ada sesuatu dalam kalimat itu yang membuatnya merasa … kecil. Seolah dia hanyalah seorang yang harus dijaga kondisinya demi kepentingan orang lain. Dia menutup kembali kotak nasi itu, berniat mengabaikannya. Namun aroma ayam goreng itu terlalu menggoda. Perutnya kembali berontak, kali ini lebih keras. “Cuma makan,” gumamnya lirih, “enggak ada hubungannya sama apa pun.” Akhirnya dia membuka kembali kotak itu, menyuap nasi dan ayam goreng perlahan. Rasanya lezat, hangat, gurih dan entah mengapa membuat matanya terasa panas. Avellin emakan sambil menatap kosong ke arah dinding. Setiap suapan terasa seperti pengkhianatan kecil terhadap dirinya sendiri, namun tubuhnya membutuhkannya. Dia harus kuat, dia tak boleh tumbang sebelum malam itu datang, atau ibunya … ibu mertuanya akan terus sakit. Jus alpukatnya pun diminum perlahan, rasanya manis dan lembut persis seperti yang dia suka. Lagi-lagi fakta bahwa Eldiro tahu minuman kesukaannya ini membuatnya merasakan hal yang aneh, antara tersentuh sekaligus terancam. Setelah makan, Avelline kembali ke laptopnya. Dia memaksakan fokus. Angka-angka kembali dia periksa satu persatu, kesalahan kecil tak boleh terjadi hari ini. Setidaknya di tengah hidupnya yang kacau, pekerjaannya harus tetap sempurna. Namun, sesekali matanya kembali melirik jam. Pukul tiga. Pukul empat. Waktu bergerak cepat. Setiap menit berlalu membawanya semakin dekat pada malam yang tak dia inginkan, namun harus dia hadapi. Dia mengenggam mouse erat, seolah itu satu-satunya pegangan yang masih dia miliki. Dalam hati, Avelline berdia pelan, bukan agar malam itu dibatalkan, dia tahu itu hal yang mustahil. Melainkan agar dia cukup kuat untuk melewatinya, dan tetap pulang sebagai dirinya sendiri. *** Waktu di layar ponsel Eldiro telah menunjukkan pukul 7:30. Lobi kantor yang tadi masih cukup ramai kini hampir lengang. Lampu-lampu masih menyala terang, memantulkan bayangan dingin di lantai marmer. Suara langkah kaki petugas keamanan sesekali terdengar, disusul bunyi pintu kaca yang terbuka lalu tertutup kembali. Namun, satu sosok masih berdiri di sana. Eldiro menyandarkan punggungnya ke dinding dekat pintu masuk, kedua tangannya terlipat di d**a. Wajahnya yang biasanya tenang, kini menunjukkan gurat tak sabar. Rahangnya mengeras, alisnya sedikit berkerut. Dia menatap jam tangannya untuk kesekian kali. Setengah jam. Setengah jam dia menunggu Avelline di lobi ini, tanpa pesan, tanpa kabar. Dia tidak mencoba menghubunginya. Bukan karena tak bisa, melainkan karena sejak awal memang begitu kesepakatannya. Zaven menjadi perantara. Dan entah mengapa, memikirkan nama Zaven di tengah situasi seperti ini justru menimbulkan rasa aneh di d**a Eldiro. Bukan puas. Bukan juga menang. Lebih mirip … getir. Bagaimana mungkin seorang suami bisa menempatkan istrinya dalam posisi seperti ini? Pertanyaan itu sempat melintas, namun segera ditepis. Ini bukan waktunya untuk merenung. Eldiro menarik napas dalam, lalu mengembuskannya pelan. “Kalau sampai sepuluh menit lagi belum keluar juga … ,” gumamnya lirih. Dia melirik ke arah lift. Akhirnya, dengan langkah tegas, Eldiro berjalan mendekat dan menekan tombol naik. Menunggu lift terbuka, membawa serta perasaan jengkel yang bercampur dengan sesuatu yang sulit dia sebut. Namun begitu pintu lift kembali terbuka di lantai dasar, sebelum dia sempat naik, langkah Eldiro terhenti. Seorang wanita melangkah keluar dari lift yang berseberangan. Untuk sesaat, waktu seakan berhenti. Avelline berdiri di sana, mengenakan gaun sederhana berwarna krem pucat yang membalut tubuhnya dengan pas. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, jatuh rapi melewati bahu. Wajahnya tampak lelah, namun justru itu yang membuatnya terlihat nyata, bukan sekadar cantik, melainkan rapuh dan manusiawi. Mata Eldiro terpaku. Ada sesuatu yang berbeda dari Avelline malam ini. Bukan hanya penampilannya, tetapi juga aura yang mengelilinginya. Seolah dia sedang berjalan menuju takdir yang tak dia pilih sendiri. “Kok lama banget?” tanya Eldiro, suaranya terdengar datar, namun jelas mengandung ketidaksabaran. Avelline mendongak, menatap Eldiro dengan sorot mata yang menyimpan banyak hal. Dia mencemberut kecil. “Akhir bulan itu memang sibuk. Apalagi besok libur,” sahutnya ketus, jelas tak mau kalah. Alih-alih tersinggung, Eldiro justru tersenyum kecil. Senyum yang samar, namun tulus. Setidaknya Avelline masih berbicara apa adanya, bukan dengan nada formal penuh jarak seperti yang dia khawatirkan. Tanpa banyak bicara, Eldiro meraih tangan Avelline dan menggandengnya keluar dari lobi. “Ish! Apa-apaan sih?” protes Avelline pelan sambil berusaha menarik tangannya. “Nanti banyak yang lihat!” Eldiro berhenti mendadak. Dia membalikkan tubuh, membuat Avelline nyaris menabraknya. Pria itu menunduk, memangkas jarak di antara mereka. Terlalu dekat. Napas Eldiro yang hangat menyentuh wajah Avelline, membuat jantungnya berdegup tak karuan. “Kamu harus ingat satu hal, Nona Avelline,” ucap Eldiro rendah, sorot matanya tajam dan mengintimidasi. “Malam ini … kamu milik aku.” Kata-kata itu menghantam Avelline tanpa ampun. Dia terdiam, bibirnya terkatup rapat. Tak ada bantahan yang keluar. Hanya langkah kaki yang kembali bergerak, kali ini menuju halaman depan kantor. Motor sport berwarna merah menyala terparkir di sana, mencolok di antara kendaraan lain yang hanya tersisa sedikit. Eldiro mengenakan helmnya, lalu menoleh ke belakang saat Avelline naik dan duduk dengan ragu. Sebelum mesin dinyalakan, tangan Eldiro menarik tangan Avelline dan melingkarkannya di pinggangnya. Genggamannya kuat, posesif. Avelline menelan ludah, namun tak melawan. Motor melaju, membelah jalanan kota yang mulai lengang. Lampu-lampu jalan berpendar, menciptakan bayangan panjang di aspal. Eldiro mengendarai motornya dengan kecepatan yang stabil, terlalu stabil, bahkan cenderung lambat untuk motor sebesar itu. Setelah hampir satu jam, Avelline akhirnya bertanya, suaranya hampir tenggelam oleh angin malam. “Kita mau ke mana?” “Ke rumah aku,” jawab Eldiro singkat, disertai senyum kecil yang tak bisa dilihat Avelline. “Kamu tinggal sama siapa aja di sana?” “Sama papa. Tapi tenang aja, papa lagi ke luar kota. Besok baru pulang,” jawab Eldiro, nada suaranya mengandung sesuatu yang membuat pipi Avelline memanas. “Terus … ibu kamu?” “Mama sama adik aku tinggal di Kalimantan. Mereka enggak mau ikut ke Jakarta.” “Oh.” Avelline mengangguk pelan. Tak ada lagi yang dia katakan. Rasa kantuk mulai menyerang, semilir angin membuat kelopak matanya terasa berat. Dia menyandarkan dahinya ke punggung Eldiro, tanpa sadar mencari keseimbangan. Akhirnya, motor berhenti di depan sebuah rumah besar berdinding putih. Taman kecil di depannya tertata rapi, lampu taman menyala lembut. Rumah itu terlihat sunyi, terlalu sunyi untuk ukuran sebesar itu. Sayang sekali, pikir Avelline. Eldiro membuka pintu, menyalakan lampu ruang tamu. Cahaya menerangi ruangan yang luas namun terasa kosong. Furniturenya modern, tertata rapi, namun nyaris tak ada sentuhan personal. Avelline duduk di sofa tanpa diminta, matanya menyapu sekeliling ruangan. Tak lama, Eldiro sudah berdiri di hadapannya. Kedua tangannya bertumpu di sandaran sofa, mengurung Avelline. Dia menunduk, wajahnya semakin dekat. Avelline refleks mundur, namun tubuhnya justru terjepit. Jantungnya berdetak kencang. Eldiro mendekatkan bibirnya dan mengecup bibir Avelline, singkat namun intens. Avelline membeku. Tubuhnya kaku, pikirannya kacau. Beberapa detik kemudian, Eldiro menarik diri. Wajah Avelline memerah, napasnya sedikit terengah. Ada rasa asing yang bergejolak di dadanya, antara tertarik dan takut. “Kamu mau duduk-duduk di sini,” ujar Eldiro lirih, “atau kita langsung ke kamar?” Avelline berdiri mendadak dan mendorong tubuh Eldiro. Dorongannya tak kuat, namun cukup menunjukkan batas. “Di mana kamar mandinya?” tanyanya cepat. “Aku gerah. Mau mandi.” Eldiro terkekeh kecil. “Oh? Jadi kamu mau main di kamar mandi?” “Eldiro!” seru Avelline putus asa. Wajahnya benar-benar merah sekarang. Dia tahu ini bukan pertama kalinya dia berada dalam situasi intim, namun entah mengapa kali ini terasa berbeda. Lebih menekan. Lebih membingungkan. Dan di tengah rumah sunyi itu, Avelline sadar, malam ini baru saja dimulai, dan dia belum tahu bagaimana akhirnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD