6. Jatuh Suka

1689 Words
Avelline keluar dari kamar mandi dengan langkah pelan. Uap hangat masih mengepul dari balik pintu kamar mandi yang dia tutup perlahan, meninggalkan aroma sabun yang lembut bercampur dengan udara malam yang dingin dari pendingin ruangan. Rambutnya masih sedikit lembap, ujung-ujungnya meneteskan air yang jatuh ke lantai marmer berwarna putih. Dia mengenakan kemeja putih berukuran besar, bahkan terlalu besar untuk tubuhnya. Baju yang sudah disiapkan Eldiro untuknya. Kemeja itu tipis, sedikit menerawang ketika cahaya lampu kamar menyentuhnya. Panjangnya hanya sampai pertengahan paha, menyingkap kaki jenjang yagn selama ini lebih sering tersembunyi di balik rok kerja atau celana panjang formal. Avelline menggulung lengan kemeja itu sampai siku, dia terlihat begitu cantik dan segar dengan pakaian itu, kulitnya tampak lebih putih. Dia melangkah ke tengah kamar, menatap sekeliling. Kamar Eldiro cukup luas. Jauh lebih besar dari kamar di rumahnya sendiri. Ranjang berukuran besar dengan seprai gelap mendominasi ruangan. Lemari besar berdiri di salah satu sudut, pintunya tertutup rapi. Sebuah meja kerja dengan laptop terbuka, namun layar mati berada tak jauh dari jendela dengan tirai tebal berwarna abu-abu gelap yang menutup rapat pandangan ke luar. Di atas ranjang, Eldiro berbaring setengah duduk, bersandar pada headboard ranjang, ponselnya diletakkan di atas nakas dengan layar menghadap ke bawah seolah tak ingin mendapat gangguan dari dunia luar, malam ini. Tatapan Eldiro langsung tertuju pada Avelline begitu dia keluar. Tidak ada kata yang terucap. Tatapan itu cukup lama dan dalam, membuat Avelline tanpa sadar menahan napas. Tatapan itu bukan tatapan liar atau penuh nafsu seperti yang dia takutkan sejak awal. Melainkan tatapan yang sarat emosi. Ada kekaguman, juga kerinduan di tatapan dalam itu. Eldiro seolah tersadar dari kekagumannya, dia menepuk kasur di sampingnya. Sebuah isyarat sederhana memanggil Avelline untuk berada di sisinya. Avelline ragu sesaat, lalu melangkah mendekat dan duduk di tepi ranjang. Kasur itu cukup empuk, terlalu empuk malah hingga membuat tubuhnya sedikit terbenam. Mereka duduk berdampingan, seolah tak ada jarak di antara mereka, namun tidak ada sentuhan yang terjadi. Keduanya seperti bergulat dengan pikiran masing-masing, begitu sunyi. Eldiro kemudian mengulurkan tangannya, menyentuh rambut Avelline yang terikat longgar, dengan gerakan perlahan dia melepaskan ikatan rambut itu. Hingga membuat rambut panjang Avelline terurai jatuh ke bahunya. Sebagian menyentuh d**a Eldiro. Eldiro menyibakkan rambut itu dengan lembut, seolah takut menyakitinya. Bibirnya mendekat, mengecup pelan bagian samping kepala Avelline, lalu telinganya. Sentuhan itu membuat tubuh Avelline menegang, bukan karena takut, namun ada rasa yang begitu rumit untuk dijelaskan. Tangan Avelline meremas ujung seprai, jantungnya berdetak terlalu cepat. Eldiro menyentuh lengannya, mengusap perlahan naik dan turun, sangat lembut. Sentuhannya hangat dan penuh kehati-hatian, seolah ingin memastikan bahwa Avelline benar-benar ada di sana, bukan sekedar bayangan atau khayalannya sendiri. Napas Avelline mulai tidak teratur. Ada bagian dalam dirinya yang merespon sentuhan itu. Bagian yang selama ini dia kubur dalam-dalam di balik peran seorang istri, ibu dan perempuan yang seharusnya mampu menjaga dirinya sendiri. Namun, tepat ketika Avelline mulai larut akan hasratnya, Eldiro justru menghentikan sentuhannya. Begitu saja. Tangannya menjauh, bibirnya mundur dan kehangatan itu pun menghilang, menyisakan Avelline yang termangu, bingung dan dia ditinggalkan di tengah perasaannya sendiri, di tengah hasratnya yang mulai melambung karena sentuhan dari Eldiro yang memberi gelenyar di titik sensitif tubuhnya. Eldiro tersenyum tipis, namun penuh arti. “Sebentar ya,” ucapnya dengan senyum menggoda, “aku mandi dulu. Gerah.” Avelline sedikit mengerucutkan bibirnya saat Eldiro mengacak rambutnya pelan seolah berhasil menjahilinya. Dia kemudian berjalan perlahan menuju kamar mandi. Pintu tertutup, lalu suara kran shower terdengar tak lama kemudian. Avelline menjatuhkan tubuhnya ke kasur, menatap langit-langit kamar. Dadanya naik turun, pikirannya berkecamuk, dia tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Dia tahu betapa salahnya semua ini. Namun, mengapa tubuhnya merasa begitu tenang? Mengapa hatinya tidak memberontak sekeras yang dia kira? Bahkan sepuluh menit menunggu terasa seperti satu jam baginya. Apakah dia benar-benar mendambakan sentuhan dari pria itu? Ketika Eldiro akhirnya keluar dari kamar mandi, Avelline sudah memejamkan mata. Napasnya teratur, seolah tertidur. Namun Eldiro tahu dia tidak benar-benar terlelap. Eldiro mendengus kecil, lalu mendekat. Dia naik ke ranjang dengan hati-hati, berbaring di belakang Avelline dan memeluknya dari belakang. Pelukan itu tidak menekan atau menuntut. Begitu lembut dan seolah dipenuhi dengan perasaan yang dalam. Avelline membuka matanya perlahan. Eldiro membalikkan tubuhnya dengan lembut hingga membuat mereka saling berhadapan. Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Avelline bisa mencium aroma sabun dari tubuh Eldiro, wangi yang maskulin dan begitu menenangkan. Tangannya menyentuh rambut Avelline dan membelainya perlahan. “Malam ini, aku cuma mau minta satu hal.” Avelline menatapnya lekat, menunggu kata-kata dari Eldiro selanjutnya. “Jangan pernah berpikir kamu melakukan ini karena kamu di bayar, dan jangan pernah berpikir bahwa kamu w************n,” ucap Eldiro dengan suara yang bergetar halus, menyuarakan isi hati terdalamnya. Avelline masih terdiam, menatap wajah pria tampan itu yang berjarak sangat dekat dengan wajahnya. “Aku melakukan ini karena aku cinta sama kamu. Bukan karena aku membeli kamu,” ucap Eldiro jujur membuat Avelline membalalakkan matanya. “Sejak kapan?” tanya Avelline nyaris berbisik, ucapan cinta itu menghantam jantung Avelline lebih keras dari sebelumnya, tak pernah menyangka Eldiro akan mengungkapkan perasaannya malam ini. “Sejak pertama aku lihat kamu di lobi. Bahkan sebelum aku tahu kamu istrinya Zaven,” jawabnya tanpa ada keraguan sedikit pun. Avelline terdiam dadanya terasa sesak, “kok bisa?” tanyanya dengan suara gemetar. “Aku juga enggak tahu,” ucap Eldiro seraya tersenyum pahit, “mungkin karena cara kamu berdiri waktu itu. mungkin karena senyum kamu yang terlihat ceria saat menyapa resepsionis, waktu itu aku inget kita pernah ketemu di lobi beberapa detik saling terdiam dan saat itu aku pastiin kalau aku jatuh cinta sama kamu, love at first sigh,” ucapnya sambil mengecup kening Avelline. “Meskipun saat itu kamu tahu aku sudah menikah?” tanya Avelline, sorot mata Eldiro meredup seakan dadanya sesak oleh perasaan yang menekan ulu hatinya. “Saat itu aku belum tahu kamu istrinya Zaven, dan aku mulai cari tahu, dan hasilnya aku patah hati saat tahu kenyataannya.” Eldiro tertunduk lesu, dia mengendurkan pegangannya ke bahu Avelline, namun tak disangkanya Avelline malah merapatkan pelukannya Avelline mengulurkan tangan dan memeluk Eldiro lebih erat. Untuk pertama kalinya malam itu, dia yang mengambil inisiatif. Dia mengecup pipi Eldiro, rahangnya tegas dan wajahnya yang tampan dengan cara yang tidak berlebihan. Avelline tak hentinya mengagumi sosok pria di hadapannya. Eldiro mengetatkan kembali pegangannya. Mereka berciuman, bibir Indah Eldiro mengecup bibir ranum Avelline dan menelusup ke dalamnya mencari sesuatu yang hangat dan menggairahkan, ciuman tersebut semakin panas. Avelline jelas mulai mendambakan belaian dari lelaki dihadapannya. Ciuman Eldiro turun ke leher jenjang Avelline, lenguhan kecil terdengar dari sudur bibirnya dan semakin turun hingga pusat tubuh Avelline dan dia menggelinjang akan sentuhan-sentuhan lembut Eldiro di tubuhnya. Semakin terhanyut. Tatkala Eldiro menindihnya dan melesakkan miliknya. Gelombang demi gelombang kenikmatan terpancar dari desahan suara mereka berdua membawanya terbang ke langit tertinggi. Avelline sadar apa yang dilakukannya sangat salah, namun dia yang hanyut akan perasaannya yang membuatnya yakin bahwa dia pun mungkin memiliki rasa yang sama dengan pria bermata cokelat itu. Dia juga tidak mau ibu mertua yang disayanginya harus mengalami nasib buruk karena sumpah anaknya itu yang mengorbankan menantunya. Kata ‘Sewa,’ yang digaungkan Zaven tentu saja merujuk pada hal ini, pada dosa besar yang menjerumuskan mereka. "i love you," ucap Eldiro mengecup mata Avelline di ujung percumbuannya yang indah dengan wanita yang dicintainya itu. Avelline memejamkan mata dan membalik tubuhnya, sehingga Eldiro memeluknya dari belakang dan air mata Avelline menetes, dia menangis diam-diam dan menyembunyikan tangisannya. Merasa telah mengkhianati pernikahan sucinya meski dia tahu ini kesalahan Zaven. Dan meski dia tahu pagi tadi bahkan pria itu sudah menalaknya. Yang itu artinya dia tidak melanggar ikatan pernikahan yang suci. Namun, malam ini dia juga tahu bahwa dia melakukannya bukan karena uang dan justru itulah yang bagian yang paling menyakitkan *** Matahari pagi menyelinap dari balik ventilasi di atas jendela kamar Eldiro. Tirai putih yang menghalangi jendela itu sedikit terbuka tertiup oleh angin. Cahaya matahari pagi itu menerpa wajah Avelline. Membangunkannya dari tidur yang tak sepenuhnya lelap. Kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terb uka. Dan saat kesadarannya kembali utuh, tubuhnya terasa lemas. Bukan hanya karena lelah fisik, melainkan juga lelah oleh beban perasan yang bertumpuk sejak semalam. Dia menarik napas panjang. Kenangan malam tadi datang seperti gelombang yang tak diduga. Cara Eldiro memandangnya, sentuhan yang penuh kepemilikan dan kehangatan. Kata-kata yang masih menggema jelas di kepalanya. Eldiro seperti singa kelaparan, begitu penuh energi dan tak pernah kehabisan daya. Namun yang paling menyita pemikiran Avelline bukanlah kelelahan tubuhnya, melainkan pikirannya yang tidak berhenti mempertanyakan apa yang telah dia lakukan? Avelline menggeser tubuhnya sedikit, seprai lembut bergeser karena pergerakannya. Dia mencium aroma wangi yang asing namun menenangkan. Aroma makanan ... perutnya yang kosong langsung bereaksi, bergejolak pelan, Ketika Avelline membuka mata sepenuhnya, dia mendapati Eldiro duduk di tepi ranjang. Pria itu sudah mengenakan kaus sederhana berwarna gelap dan celana pendek. Rambutnya masih sedikit basah seolah baru saja mandi. Di tangannya ada piring berisi makanan yang masih mengepul, menunjukkan bahwa makanan itu baru saja dimasak. Tatapan Eldiro tertuju padanya, tatapan yang berbeda dari malam tadi. Tidak dipenuhi dengan gairah, tatapan itu lembut dan penuh kasih sayang seolah Avelline adalah seseorang yang sangat berharga dalam hidupnya. “Selamat pagi, Sayang,” sapa Eldiro pelan. Dia membungkuk dan mengecup kening Avelline dengan penuh kelembutan. Avelline terdiam sesaat, jantungnya berdenyut pelan. Sentuhan sederhana itu terasa lebih dalam dan lebih intim dibanding apa pun yang terjadi semalam. “Pagi, kamu bawa apa?” ucap Avelline dengan suara serak khas orang bangun tidur. Pandangan Avelline beralih ke piring di tangan Eldiro. Asap tipis masih terlihat di atasnya. “Aku cuma bisa bikin mie goreng, kita sarapan bareng ya,” jawab Eldiro sambil tersenyum kecil. Dia membantu Avelline duduk, menyandarkan bantal di punggungnya agar lebih nyaman. Tangan Eldiro mengusap kepala Avelline dengan gerakan lembut, menyingkirkan rambut yang jatuh menutupi wajahnya. Dan di saat itu, dia menyadari bahwa dia sudah menyukai Eldiro, mungkin juga jatuh pada cinta pria itu. Apakah dia salah? Jika dia jatuh cinta begitu cepat pada pria yang sudah tidur bersamanya? Yang memperlakukannya lembut dan sangat baik, tidak seperti seorang yang memanfaatkan tubuhnya karena telah membelinya? Apakah dia salah jika ... dia menginginkan pria ini? Setelah apa yang terjadi? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD