“Aku mandi dulu. Kamu sudah mandi?” tanya Avelline seraya menghela napas kecil, mengusir semua pikiran yang berkecamuk.
“Sudah, tapi kalau kamu mau mandi bareng. Boleh,” ujarnya dengan nada menggoda.
“Eldiro!” seru Avelline sambil mencubit pinggang pria itu dengan gemas.
Eldiro tertawa pelan, suara tawanya begitu hangat. “Aku tunggu di bawah,” ucapnya sambil kembali mengecup kening Avelline sebelum keluar membawa piring makanan.
Begitu pintu kamar tertutup. Avelline terdiam, dia menoleh ke arah jam dinding, sudah pukul tujuh pagi. Terlalu pagi untuk semua perasaan yang mengaduk dadanya.
Avelline berdiri dan berjalan ke kamar mandi, dia menatap bayangannya sendiri di cermin. Wajahnya nampak berbeda, ada cahaya baru di matanya, bercampur dengan kelelahan dan kegelisahan.
“Apa aku sebenarnya wanita yang hina?” gumamnya lirih.
Pertanyaan itu menampar pikirannya sendiri. Apakah di dalam dirinya tersembunyi jiwa perempuan jalang? Sehingga dia bisa begitu saja menyerahkan diri pada pria lain? Dan astaga ... dia bahkan menikmati penyatuan itu semalam.
Atau ... justru ini adalah bentuk pengorbanan paling bodoh yang pernah dia lakukan?
Tangannya bergetar saat membuka kran shower. Air dingin langsung membasahi tubuhnya, membuatnya terhenyak. Dia memejamkan mata, berharap air itu bisa menghapus rasa bersalah yang mengendap di dadanya.
Namun, pikiran buruk justru bermunculan satu persatu. Bagaimana jika ibu mertuanya tahu? Ibu yang begitu baik, yang selalu memperlakukannya seperti anak kandung.
Bagaimana jika orang tuanya juga tahu? Bagaimana wajah yang akan dia pasang di hadapan mereka, mereka pasti tahunya dia masih berstatus istri Zaven, kata talak itu hanya diucapkan di depannya, tak ada saksi dan ... semua pun tahu secara negara dia masih istri sahnya.
Lalu ... Kaivan. Anaknya.
Apa yang akan terjadi jika suatu hari Kaivan dewasa dan mengetahui bahwa ibunya pernah, “dibeli” oleh orang lain?
Air terus mengalir, namun kepala Avelline terasa semakin berat. Dia menggigit bibirnya, menahan isak yang hampir keluar.
Setidaknya, pikirnya getir. Orang yang pertama itu adalah Eldiro. Orang yang dia kagumi. Orang yang memperlakukannya dengan lembut. Bagaimana jika bukan dia? Bagaimana jika Zaven memilih orang lain yang lebih kejam?
Tubuh Avelline merinding. Dia mematikan shower dan menyeka tubuhnya dengan cepat. tak ingin berlama-lama dalam pikiran itu. dia keluar dari kamar mandi dan mengenakan kaus milik Eldiro yang dipinjamkannya. Kaus itu longgar di tubuhnya, jatuh menutupi sebagian pahanya. Dia memadukan dengan celana kerja yang dia kenakan kemarin.
Dia sengaja tidak membawa baju ganti, dia tak ingin terlihat seperti perempuan yang sudah merencanakan semuanya.
Saat Avelline turun ke dapur, pemandangan yang menyambutnya membuatnya terpaku. Eldiro berdiri di depan meja dapur. Sedang menuang jus jeruk ke dalam gelas tinggi.
Meja makan sudah tertata rapi, dua piring mie goreng, dan tissue yang dilipat rapi.
Eldiro menoleh dan tersenyum begitu melihat Avelline.
“Sini dong, sayang,” panggilnya menggoda. Nada suaranya manja, hampir seperti anak kecil memanggil sesuatu yang disayanginya. Avelline tersenyum tipis dan melangkah mendekat. Eldiro menarikkan kursi untuknya, mempersilakan Avelline duduk.
Perlakuan itu membuat d**a Avelline justru terasa perih. Selama lima tahun menikah, Zaven nyaris tak pernah melakukan hal sesedehana ini.
“Hmmm boleh enggak aku ambil gambar kita?” tanya Eldiro tiba-tiba.
“Boleh, tapi jangan diunggah kemana-mana,” ucapnya sedikit terkejut.
“Iya janji,” ucapnya. Eldiro duduk di samping Avelline dan menariknya ke pangkuan. Beberapa foto diambil dengan ekspresi canggung, senyum tipis, lalu tawa kecil yang tidak disengaja. Setelah itu mereka makan sambil sedikit berbincang tentang beberapa hal sekitar kantor.
Namun, secara tiba-tiba suara pintu depan terbuka. Avelline terperanjat, dia pikir hanya akan ada mereka berdua sepagi ini.
Dia pun langsung menoleh ke arah celah dapur menuju pintu depan. Sosok seorang pria setengah baya pun masuk, langkahnya mantap. Tubuhnya tinggi, wajahnya tampak keras dan tatapannya langsung mengarah ke dapur.
“Papah!” ujar Eldiro kaget.
Jantung Avelline nyaris berhenti berdetak. Pria itu ayah Eldiro, menatap mereka berdua dengan sorot mata yang sulit diartikan. Tampak curiga dan juga marah, dia menatap Avelline, rambutnya masih sedikit basah, mengenakan kaos putranya. Duduk di kursi meja makan seperti seorang yang tinggal lama di sana.
Dalam sekejap Avelline diliputi rasa tak enak hati. Dia merasa badai seperti menerpanya dengan mendadak.
Ayah Eldiro melengos, rahangnya mengeras. Eldiro tahu betul sikap itu. Ayahnya sedang marah. Namun kemarahan itu dipendam dan justru lebih berbahaya, karena sikap dinginnya yang menusuk.
Seharusnya Eldiro tidak bermain api. Ayahnya sudah berulang kali mengingatkan, bahwa beberapa bulan lagi dia akan menikah. Semua sudah diatur, disiapkan bahkan tanggal dan tempat resepsi sudah dibicarakan dengan keluarga besar.
Dan sekarang, pagi-pagi sekali dia mendapati anaknya itu tengah sarapan dengan wanita asing yang jelas bukan calon menantunya.
Ayah Eldiro melangkah mendekat, langkahnya terlihat berat seolah dia mengalami tekanan tersendiri. Wajah Avelline seketika memucat, dia duduk kaku dengan punggung menegang. Dengan sisa keberanian yang dia kumpulkan, Avelline mencoba tersenyum meski dia tahu senyumnya pasti tampak konyol sekarang.
“P-pagi, Om,” sapa Avelline pelan.
Ayah Eldiro hanya berdehem keras, sengaja seolah ingin menunjukkan ketidaksukaannya. Tatapan matanya memindai Avelline dari ujung rambut sampai ujung kaki, seolah menilai tanpa satu kata pun terucap.
Di sisi Avelline, Eldiro justru terlihat santai. Dia mengulurkan tangan dan mengusap kepala Avelline dengan gerakan yang terlalu intim untuk situasi sepagi ini. Gerakan itu seperti menunjukkan bahwa wanita itu sedang bersamanya.
Dan sikap Eldiro itu justru semakin membuat sorot mata ayahnya mengeras.
“Papa sudah sarapan?” tanya Eldiro dengan nada basa basi, “mau makan bareng?”
Ayahnya tersenyum miring, senyum yang begitu sinis.
“Papa sudah cukup kenyang!” ujarnya tegas, dengan penekanan pada kata terakhir.
Tatapannya kembali mengarah ke Avelline, membuat jantung wanita itu berdegup semakin kencang. Tanpa berkata apa-apa lagi, pria itu berbalik dan melangkah menuju kamar utama yang letaknya tak jauh dari ruang tamu. Pintu kamar tertutup dengan suara yang dibanting keras.
Avelline mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan, dia menatap Eldiro dengan tatapan serba salah.
“Dasar orang tua! Sudah dibilang jangan pulang. Masih aja pulang, pagi-pagi lagi,” dengus Eldiro sambil mengerucutkan bibirnya sebal.
Ucapan itu terdengar kekanak-kanan, membuat Avelline terkekeh kecil meski hatinya masih menyisakan debaran yang tidak normal.
Eldiro menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Dia menatap Avelline dengan senyum tipis.
“Mungkin Zaven pernah cerita ke kamu soal pernikahan aku yang sebentar lagi?” tanyanya.
Avelline mengangguk pelan. Zaven memang pernah menyebutkannya sekilas. Saat itu Avelline tidak terlalu memikirkan. Apalagi setelah semalam mendengar pengakuan cinta Eldiro, dia sempat berpikir mungkin pernikahan itu tak akan terjadi.
“Papa dan mama menjodohkanku dengan Winora, dia sahabatku sejak kecil. Rumah kami bersebelahan, selalu satu sekolah, satu kelas. Hingga aku kuliah di Jakarta tapi dia tetap di Kalimantan.”
Avelline mendengarkan dengan seksama, “lalu kamu menerima perjodohannya begitu saja?” tanyanya lirih.
Eldiro tersenyum pahit, “apa aku punya pilihan lain? Apalagi waktu itu aku patah hati sama kamu.”
Avelline memajukan bibir, membuat Eldiro terkekeh kecil. Namun tawa itu cepat meredup.
“Aku sudah dijodohkan sejak sepuluh tahun lalu, waktu aku SMA. Orang tua Winora meninggal karena kecelakaan. Dan ada satu hal yang membuat orang tuaku merasa bertanggung jawab, jadi mereka sepakat bahwa kelak kami akan menikah.”
Avelline tercekat, sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar.
“Aku selalu menunda juga menolaknya,” sambung Eldiro, “sampai akhirnya aku benar-benar lelah dan saat itu aku juga patah hati karena kamu. Kupikir mungkin ini jalan hidupku. Usia kami juga sudah cukup matang,” ungkapnya.
Mata cokelat Eldiro tampak menerawang, ada kesedihan yang jelas tergambar di sana.
“Kamu sayang sama dia?” tanya Avelline dengan suara yang hampir tak terdengar.
“Aku menyayanginya karena kami tumbuh bersama. Tapi aku tetap mencintai kamu. Kalau disuruh memilih ... ya aku pilih kamu,” ucap Eldiro seraya mengenggam tangan Avelline.
“Sayangnya aku bukan pilihan yang seharusnya,” tutur Avelline seraya tersenyum getir.
Eldiro tertawa pelan, lalu mengecup kepala Avelline dengan lembut. Mereka menyelesaikan sarapan dalam diam. larut akan pikiran masing-masing, bagi Eldiro tentu saja Avelline bukan pilihan, karena dia sudah menikah dengan lelaki b******k yang tega menjualnya pada temannya sendiri.
Avelline pun tak mau menceritakan pada Eldiro bahwa dia sudah ditalak oleh Zaven kemarin, dia tak mau Eldiro membatalkan pertunangan itu dan menunggunya. Dia merasa Eldiro berhak dapat wanita yang jauh lebih baik darinya. Bukan seorang yang kelak akan menjadi ... janda.
Tak lama kemudian Eldiro mengantar Avelline ke rumah sakit tempat ibu mertuanya dirawat. Ayah Eldiro sama sekali tidak keluar kamar, seolah menegaskan kekecewaannya.
***
Lorong rumah sakit terasa sepi, belum jam besuk saat ini. Udara dingin berbau antiseptik memenui indera Avelline. Dari kejauhan dia melihat Zaven duduk di kursi depan kamar rawat.
Wajah pria itu tampak cemas, bahunya turun seolah menanggung beban besar. Avelline melangkah mendekat. Eldiro hanya terdiam menatap Avelline yang menghampirinya.
“Ibu ... bagaimana keadaannya?” tanya Avelline. Zaven memberanikan diri menatap Avelline, melihat dari ujung kepala hingga kaki, dia bisa melihat kaos yang dipakai Avelline. Dia tahu itu pasti milik Eldiro. Dia tahu apa yang telah terjadi. Ada kemarahan yang tertahan di wajahnya, juga rasa bersalah yang tak kalah besar.
“Ibu sudah sembuh, ajaib kan?” ujarnya dengan suara yang datar.
Dia kemudian tersenyum getir, “karena mulut sialku. Aku sudah mengorbankan kamu dan ibu di saat yang sama,” rutuknya.
Avelline hanya terdiam. “Sekarang Adi lagi urus administrasi pulang,” ucap Zaven.
“Aku boleh masuk?” tanya Avelline.
Zaven mengangguk. Di dalam kamar, suasana terasa tenang. Ibu mertuanya duduk di ranjang. Tampak jauh lebih segar dibanding kemarin. Selang infus sudah dilepas, wajahnya cerah seolah tidak pernah berada di ambang maut.
“Bu ... maaf ya, semalam ... ,” ucap Avelline, suaranya bergetar dan dia tak sanggup melanjutkan. Ibu mertuanya justru tersenyum lembut.
“Enggak apa-apa, kamu pasti capek habis lembur kerja,” ucapnya pelan.
Saat itu pertahanan Avelline runtuh. Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya jatuh dengan deras membasahi wajahnya. Iibu mertuanya bangkit perlahan, mengusap bahu Avelline dengan penuh kasih sayang, “ada apa? Kenapa kamu menangis?”
Avelline menggeleng. Tak mampu berkata apa-apa. Dia merasa kotor, berdosa. Bahkan menatap wajah wanita sebaik ini saja membuat dadanya sesak oleh rasa malu. Dan di sana lah Avelline menyadari, bahwa dosa terbesarnya bukan hanya pada pernikahannya, melainkan pada kepercayaan seorang ibu yang mencintainya sepenuh hati!
***