Rara bersorak gembira. Dia terlihat bahagia. Akhirnya, semua keinginan dia selama ini terkabul. Dia dapat merasakan indahnya memiliki keluarga.
Rara terlihat begitu senang, sarapan ditemani oleh Bagas. Sedangkan Elia memilih untuk mandi, meninggalkan Rara bersama Bagas.
"Habis Bunda selesai mandi, nanti Rara mandi ya! Kita harus siap-siap untuk berangkat. Hari ini kita akan mendatangi banyak tempat," Kata Bagas kepada sang anak.
Mereka sudah dalam perjalanan. Rencananya, pernikahan mereka akan diadakan di sebuah Villa di kawasan Puncak Bogor. Sang asisten sudah menyiapkan semuanya.
Tiba-tiba saja ponsel Bagas berdering.
"Sayang, tolong ambilkan ponselku di saku celana," pinta Bagas kepada Elia.
Dia kesulitan mengambil sendiri, karena dirinya fokus menyetir mobil. Wajah Elia berubah pucat dan jantungnya berpacu cepat.
"Siapa Sayang, yang menghubungi aku?" tanya Bagas, karena saat itu Elia justru bengong.
"Ehm, mama kamu," jawab Elia lirih.
"Oh, mama? Ya sudah sini aku angkat. Kamu dan Rara diam dulu ya jangan bicara! Maaf, aku belum bisa bicara sekarang padanya, tentang kalian. Aku ingin memperkenalkan kalian secara langsung kepada orang tuaku. Namun, aku ingin kita menikah dulu. Aku harap kamu mengerti," Kata Bagas dan Elia menganggukkan kepalanya.
Ada perasaan cemas di hatinya. Dia takut, kalau calon ibu mertuanya nantinya tidak menerima kehadiran dirinya dan juga Rara di hidup Bagas.
"Tidak perlu cemas! Aku yakin, mama akan menerima kalian. Karena baginya, yang terpenting aku bahagia. Ya sudah, aku angkat dulu! Aku tidak ingin mamaku khawatir," seru Bagas. Dia tahu, kalau wajah Elia terlihat cemas.
Bagas langsung menghubungi mamanya balik. Elia dan Rara hanya bisa mendengar percakapan Bagas dengan mamanya.
"Ya Allah, apa mungkin nantinya kedua orang tua Bagas akan menerima kehadiran aku dan Rara? Aku serahkan takdirku kepadamu. Jika memang aku tidak pantas bahagia, tolong bahagiakan Rara! Paling tidak, mereka menerima Rara." Elia berdoa dalam hati.
Bagas terpaksa harus membohongi mamanya, kalau dia masih belum bisa kembali ke Yogyakarta. Dia mengatakan, kalau pekerjaan dia di Jakarta belum selesai.
Setelah mengakhiri panggilan telepon dengan sang mama, Bagas melirik ke arah Elia yang tampak terdiam. Ingin rasanya Elia membatalkan pernikahannya dengan Bagas. Tapi, dia tidak tega dengan Rara. Bagas pun memilih mendiamkan Elia. Dia tidak ingin membahasnya di depan Rara.
Mereka sudah sampai di tempat tujuan pertama. Mengingat pernikahannya akan diadakan sore ini juga, mereka memutuskan membeli kebaya dan juga jas yang sudah tersedia stoknya. Mereka tidak memiliki waktu untuk membuatnya. Dia juga sudah memesan MUA, untuk merias wajah Elia.
Setelah tujuan pertama selesai, mereka melanjutkan ke tujuan kedua yaitu mendatangi toko perhiasan. Bagas membeli cincin untuk pernikahan mereka, dan juga kalung serta gelang untuk Elia.
Ingin sekali Bagas menenangkan hati calon istrinya, memeluk mendekap hangat tubuh calon istrinya. Dia yakin, kalau Elia sekarang merasa gelisah. Tapi, dia tidak mungkin melakukannya di depan Rara. Dia harus cari waktu yang tepat, untuk bisa berbicara berdua pada Elia.
"Sekarang, saatnya kamu belanja semua yang kamu inginkan!" Ucap Bagas. Namun, Elia justru menolaknya. Dia sedang tidak butuh apapun. Lagipula, dia tidak ingin dicap sebagai wanita matre oleh Bagas.
"Tapi, aku ingin membelikan kamu, sebagai seserahan di pernikahan kita nanti. Ayolah, belanja, jangan menolak!" Cecar Bagas. Hingga akhirnya Elia menurutinya. Dia pun hanya membeli seperlunya saja.
Ternyata, sejak tadi ada seseorang yang terus memperhatikan gerak-gerik mereka. Melihat kedekatan Bagas dengan Elia dan juga Rara.
"Siapa ya wanita dan anak itu? Mengapa wajah anak itu mirip dengan Bagas? Setahu aku, Bagas belum menikah sampai sekarang. Apa selama ini Bagas menjalin hubungan dengan seorang janda? Tapi, mengapa anak itu mirip dengan Bagas?"
Hingga akhirnya Sonya menghampiri Bagas, untuk memastikan.
"Bagas? Sonya?" Keduanya mengucap bersamaan.
Elia menunduk malu. Dia merasa tidak pantas bersanding bersama Bagas. Terlebih saat dirinya berhadapan dengan Sonya. Terlihat sekali, kalau Sonya wanita berkelas.
Setelah sekian lama terpisah. Hari ini Bagas dan Sonya dipertemukan kembali.
"Apa kabar?" tanya Sonya sembari melirik sinis ke arah Elia. Dia juga sempat memperhatikan Elia dari atas hingga bawah.
"Seperti yang kamu lihat. Kabarku baik," jawab Bagas singkat. Dia enggan tidak bertanya balik, tentang kabar Sonya yang sekarang.
Dia pun memilih untuk pamit pergi, tanpa memperkenalkan Elia dan juga Rara kepada Sonya.
"Bagas ...," panggil Sonya.
Bagas menghentikan langkahnya, dan menengok ke belakang. Begitu juga Elia dan Rara, yang berada di sampingnya.
"Ada apa lagi? Waktuku tidak banyak. Aku harus segera pergi," sahut Bagas.
"Maafkan aku!"
"Lupakan saja! Aku pun sudah melupakannya," jawab Bagas ketus.
"Ta--tapi, Gas."
"Tidak ada tapi-tapi. Hubungan kita sudah selesai sejak lama. Dan sekarang, aku sudah memiliki kehidupan baru. Wanita yang berada di sebelah aku, istriku, dan ini anakku," jelas Bagas.
"Gas, dengarkan aku dulu!"
Sonya mengejar Bagas, dan kini berdiri di hadapan mereka.
"Mau bicara apalagi? Kita sudah tidak ada urusan lagi. Jangan ganggu hidup aku lagi!" Bagas berkata ketus.
"Sejak kapan kamu menjalin hubungan dengannya? Apa kamu selingkuh, saat menjalin hubungan denganku? Mengapa anak itu sudah besar?" Seru Sonya.
"Sejak kamu memasukkan obat perangsang ke minuman aku. Hingga akhirnya, malam itu aku memperkosa wanita ini, dan anak ini terlahir ke dunia. Ingatlah, Allah itu tidak tidur! Niat hati, kamu ingin menjebak aku. Aku justru menemukan cintaku. Menemukan wanita yang pantas untukku," sarkas Bagas.
"Ayo, Sayang, kita pergi!" Bagas menarik tangan Elia dan juga Rara.
"b******k!" Umpat Sonya. Dia juga mengepalkan tangannya. Dia merasa tidak terhina.
Sonya hanya bisa menatap kepergian laki-laki yang masih dia cintai bersama wanita lain.
"Aku harus mencari tahu tentang wanita itu. Apa benar wanita itu istrinya? Ah, tidak. Aku tidak rela dia dimiliki wanita lain," ucap Sonya. Dia menyesali perbuatannya dulu, hingga Bagas mengakhiri hubungan dengannya. Andai dia tidak selingkuh, saat ini dia pasti sudah bersama Bagas.
Sonya langsung menghubungi maminya, menanyakan kehidupan Bagas sekarang ini.
"Mami tidak tahu, Na. Setelah maminya Bagas tahu, kamu selingkuh dari anaknya. Hubungan mami sama mamanya Bagas, menjadi terputus. Tapi, nanti coba mami cari tahu dulu ya ke yang lainnya," jawab sang mami.
Mereka baru saja sampai di rumah Elia. Bagas memarkirkan mobilnya terlebih dahulu. Setelah itu, barulah dia menyusul Elia dan Rara yang sudah masuk lebih dulu ke dalam rumah. Selama dalam perjalanan, baik Elia maupun Bagas memilih untuk tidak membahas masalah Sonya. Tanpa Bagas menjelaskannya padanya, Elia sudah tahu kalau Sonya adalah mantan tunangan Bagas.
"Kita harus langsung siap-siap. Sebelum jam 15.00, kita harus sudah sampai di sana. Akad nikah kita akan dilaksanakan pukul 16.00. Kita harus melakukan persiapan terlebih dahulu," kata Bagas kepada Elia.
"Sepertinya, aku harus bicara sekarang. Sebelum semuanya terlambat." batin Elia.
Bagas terkejut, kala mendengar Elia mengajak dia berbicara empat mata. Dia mengajak Bagas mengobrol di luar.
"Kamu di rumah saja ya! Tolong kasih waktu bunda sama ayah, untuk berbicara berdua! Ada hal penting yang harus Bunda bicarakan sama Ayah. Perbincangan orang dewasa. Kamu tidak perlu tahu." Elia mencoba memberi pengertian, dan Rara sebagai anak yang baik tentu saja mengerti.
"Pasti dia ingin membahas tentang Sonya," ucap Bagas dalam hati.