Bab 6. Taubatnya Kupu-kupu Malam

1021 Words
"Berarti, Rara tidak akan kesepian lagi. Bisa tidur sama bunda dan ayah," kata Rara mengungkap perasaan bahagianya. "Iya. Tapi, sekarang belum bisa. Ayah dan bunda belum sah, belum bisa tidur bersama," jelas Bagas memberi pengertian. "Sebentar saja, please! Sampai Rara tidur. Rara ingin tidur bareng sama ayah dan bunda," ucap Rara memohon. Demi membahagiakan hati Rara, akhirnya Elia dan Bagas sepakat tidur bersama sampai Rara tertidur. Setelah itu, barulah Elia akan kembali ke kamarnya. Suasana saat itu begitu menghangat. Keinginan Rara untuk bisa tidur dengan kedua orang tuanya, akhirnya terwujud. Perlahan mata Bagas pun ikut mengantuk. Tidak lama kemudian, dia pun akhirnya tertidur nyenyak. Rara dan Bagas kini sudah tertidur nyenyak. Setelah Rara dan Bagas tertidur nyenyak, Elia beranjak turun secara perlahan. Kemudian pindah ke kamarnya. Namun sebelumnya, dia sempat menatap wajah Bagas dan Rara secara bergantian. "Wajah kalian benar-benar mirip. Makasih ya Allah. Engkau telah mengabulkan doa anakku, meskipun aku hanyalah wanita hina. Akhirnya, anakku bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga, dan memiliki seorang ayah. Apa mungkin, ini jalan darimu untuk aku bertaubat? Terbebas dari kubangan lumpur." Elia pergi meninggalkan kamar Rara. Tiba-tiba saja dia tergerak hatinya untuk sholat malam. Ini pertama kalinya dia sholat, setelah menjadi wanita malam. Dulu, Elia wanita yang baik. Dia bersikap lemah lembut, dan tidak pernah meninggalkan sholat. Namun, ibu tirinya menghancurkan hidupnya. Dia dipaksa bekerja sebagai kupu-kupu malam, untuk membiayai kehidupannya. Ditambah lagi, dirinya harus membesarkan Rara seorang diri. "Ya Allah, ampuni semua dosa-dosaku selama ini! Terima kasih sudah memberikan aku calon suami dan ayah yang baik untuk anakku. Selama ini aku sangat berdosa. Aku janji akan berhenti dari kemaksiatan, dan membuka lembaran baru menjadi pribadi yang lebih baik. Aamiin Ya Rabbal Alamin." Elia meneteskan air matanya di dalam sujudnya. Semakin lama, dia semakin sedih. Air matanya kini mengalir deras, dan dia menangis sampai sesenggukan. Dia menyesali semua yang dia perbuat, dan berniat untuk hijrah. Ada keinginan dia untuk memakai hijab. Bagas terbangun dari tidurnya, karena mendengar ada orang yang menangis. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk melihatnya. Dia beranjak turun dari ranjang, dan berjalan keluar. "Siapa yang menangis ya?" gumam Bagas. Sampai akhirnya, Bagas melihat Elia yang sedang menggunakan mukena berada di kamarnya. Dia memilih mendiamkannya, tidak ingin mengganggu Elia. Menunggu Elia sampai selesai dahulu. "Sudah sholatnya? Wajah kamu semakin cantik, saat menggunakan mukena," puji Bagas membuat Elia tersentak kaget. Dia langsung menengok ke belakang, dan terlihat Bagas yang tersenyum manis. Elia merasa malu, karena tertangkap basah dengan Bagas baru selesai sholat. Wajahnya terlihat memerah. "Kok kamu sudah bangun?" tanya Elia sambil merapikan mukena dan sajadahnya. "Dengar suara kamu nangis. Aku kira siapa yang nangis. Ternyata, kamu," jawab Bagas. "Oh, maaf. Aku sudah mengganggu tidur kamu," ucap Elia kepada Bagas. Bagas meminta Elia duduk di sebelahnya. Dengan perasaan ragu, akhirnya dia duduk di sebelah Bagas. Bagas langsung meraih tangan Elia. Kini posisi mereka sangat dekat, netra mereka saling bertemu. "Makasih ya sudah hadir di hidup aku. Kita buka lembaran baru ya! Aku janji tidak akan membuat kamu terjatuh lagi ke dalam kubangan lumpur. Besok kita persiapkan untuk pernikahan kita, seperti baju pengantin kita, perhiasan untuk mahar, dan barang-barang seserahan. Aku ingin kamu membeli semua yang kamu inginkan." Bagas berkata. "Aku ingin minta dicarikan penghulu dulu sama orang kepercayaan aku di sini. Setelah menikah, kita langsung ke Yogyakarta. Jika ada waktu lenggang, baru kita berangkat bulan madu. Kamu sabar dulu ya!" Bagas menjelaskan kepada Elia, dan Elia mengiyakan. "Aku masih tidak percaya. Semua terasa begitu mimpi. Ternyata, Allah masih memberikan kesempatan kepadaku mendapatkan laki-laki yang tulus mencintaiku, dan mengangkat aku dari lembah yang kotor. Semoga rasa cintanya kepadaku dan Rara tak pernah berubah," kata Elia dalam hati. Mereka memutuskan untuk tidak tidur. Sembari menunggu waktunya sholat subuh. Elia ingin memasak, membuat sarapan untuk mereka. Bagas tersenyum, kala melihat wanita cantik yang kini sibuk memasak di dapur. Alangkah terkejutnya Elia, saat Bagas datang menghampirinya. Dia langsung melingkarkan tangannya dari belakang, dan meletakkan dagunya di pundaknya. Hembusan nafasnya begitu terasa. Membuat jantung Elia berdegup kencang. "Ternyata, kamu bukan hanya cantik saja. Kamu juga pintar memasak. Tak salah aku memilih pendamping hidup. I love you. Sebentar lagi kita sah sebagai pasangan suami istri," bisiknya. Elia merasa gugup. Mungkin, ini pertama kalinya dia merasakan jatuh cinta. Selama ini, tidak ada satu orang pun laki-laki yang mampu menggetarkan hatinya. Mereka hanya membutuhkan tubuh dan kepuasan darinya saja. "Ya sudah, sana dulu! Nanti masakan aku gosong. Biar aku cepat selesai memasaknya," pinta Elia, untuk menghindari rasa gugupnya. Dia tidak ingin Bagas tahu. Akhirnya, Bagas melepaskan pelukannya. Dia duduk di meja makan yang letaknya di dekat dapur. Di sana dia bebas melihat wanita yang mampu membuatnya jatuh cinta. Selama ini Elia memang kerap stok bahan makanan di kulkas. Namun, jika dia sedang malas. Dia hanya membuatkan Rara telur, mie instant, dan juga nugget. Makanan sudah selesai dibuat. Pagi ini Elia membuat ayam goreng, sambel, dan juga sayur sop. Elia tersenyum, kala melihat Bagas makan begitu lahap. "Masakan kamu sangat enak. Apalagi sambelnya. Kamu benar-benar pintar memasak," puji Bagas di sela-sela mereka makan. "Alhamdulillah kalau kamu suka. Tapi, aku tidak setiap hari masak sih. Selama ini Rara lebih sering makan nugget, telor, dan mie instant. Kadang, kalau aku lagi malas banget. Aku belikan saja dia bakso, mie ayam, atau fried chicken," sahut Elia. "Nanti, setelah kita menikah. Aku ingin setiap hari makan masakan kamu. Aku ingin kamu fokus sama aku dan Rara. Aku tidak ingin kamu bekerja apapun," seru Bagas. Setelah menikah, Bagas akan membelikan Elia dan Rara rumah. Dia pun akan tinggal bersama mereka, meninggalkan rumah orang tuanya. Bagas ingin hidup mandiri. Dia tidak ingin Elia nantinya tertekan, jika mereka tinggal di rumah orang tuanya. "Aku ingin membahagiakan kamu dan Rara," ucap Bagas lagi. Rara terbangun, dan tidak melihat sang ayah. Hingga akhirnya dia langsung mencari keberadaan sang ayah. "Sudah bangun?" tanya Bagas lembut kepada sang anak. Rara duduk di sebelah sang ayah, dan memeluknya. "Aku kira ayah pergi meninggalkan aku," ungkap Rara. "Kamu tidak perlu khawatir! Ayah tidak akan pernah meninggalkan kamu dan bunda lagi. Hari ini ayah ingin mengajak kamu dan bunda ke Mall. Ayah ingin membelikan kamu mainan, mengajak ke arena mainan, dan membelikan makanan yang kamu suka," ucap Bagas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD