Bab 5. Aku Ayah Kamu

1000 Words
Selama menjadi wanita malam, Elia selalu menggunakan pengaman. Dia tidak ingin sampai tertular penyakit mematikan. Meskipun dia bersikap cuek pada Rara. Di dalam lubuk hatinya terdalam, dia selalu berpikir bagaimana kehidupan Rara nanti. Kalau dirinya meninggal. Mami tiri Elia sudah meninggal tiga tahun lalu, karena mengidap penyakit gagal ginjal. Meskipun dia selalu jahat pada Elia, Elia tetap bersikap baik membiayai penyakitnya sampai bertahun-tahun. Namun akhirnya, takdir berkata lain. Kini saatnya dia meraih kebahagiaan. Tidak perlu lagi menjadi wanita malam. Memiliki seorang suami yang mencintai dia dengan tulus. "Terima kasih sudah mau menerima aku apa adanya," ucap Elia kepada Bagas. "Pintaku hanya ingin kamu setia padaku, dan menjadi ibu yang baik untuk Anak-anak kita nanti. Aku yakin, kalau kamu adalah ibu yang baik. Hanya saja keadaan yang membuat kamu bersikap keras kepadanya," sahut Bagas. Mereka memutuskan untuk pulang. Elia akan membawa Bagas menemui Rara. Sudah saatnya dia mengungkap kepada Rara, siapa ayahnya. Membuktikan kepadanya, kalau dia memang memiliki seorang ayah. Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah. Namun, Bagas mengajak Elia mampir dulu ke restoran ayam kriuk untuk mereka nanti makan di rumah. "Pasti Rara senang, melihat aku pulang lebih awal, dan bahkan aku membawa kejutan untuknya. Impiannya selama ini memiliki seorang ayah, dan bisa berkumpul di rumah dengan kedua orang tuanya akhirnya terkabul. Selama ini, aku selalu meninggalkan dia sendiri di rumah. Sebenarnya sih, aku tidak tega. Tapi, ya mau gimana lagi? Kalau aku tidak bekerja, aku tidak bisa membiayai kehidupan kami berdua, dan sekolahnya. Aku pun selama ini tidak pernah terpikir untuk menikah, karena aku takut suamiku nanti tidak menerima kehadiran Rara. Aku sayang dia, meskipun aku selama ini kerap bersikap kasar padanya," ungkap Elia. "Iya. Setelah ini, jangan seperti itu lagi ya! Kasihan dia, dia tidak salah dalam hal ini. Kini saatnya kita membahagiakan dia. Setelah kita sah menikah, aku pun ingin memberikan adik untuk Rara. Aku merindukan kamu." Bagas berkata kepada Elia, membuat Elia menelan salivanya. Padahal ini bukanlah sebuah hal yang tabu untuk didengar. Namun, Elia merasakan hal berbeda. Seperti seorang perawan, yang hendak melakukan malam pertama. Merasa malu-malu kucing. Mobil yang membawa mereka sudah sampai di sebuah restoran ayam kriuk. Bagas memesan makanan secara drive thru, karena dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan anaknya. Saat itu jam menunjukkan pukul 23.30. Mereka sudah sampai di rumah Elia. Bagas memarkirkan mobilnya terlebih dahulu, sedangkan Elia turun lebih dulu. "Assalamualaikum. Ra. Ra, ini bunda. Buka ya pintunya!" Elia memanggil sang anak sambil mengetuk pintu rumah secara perlahan. Perlahan Rara membuka matanya, dia tampak bingung. Dia terlihat mengucek-ngucek matanya. Nyawanya masih belum sepenuhnya menyatu. "Aku seperti mendengar suara bunda? Ah, tapi tidak mungkin bunda sudah pulang jam segini. Aku pasti salah, Sudah ah, aku mau tidur lagi." Rara bermonolog. Baru saja dia hendak menutup matanya, dia mendengar sang bunda memanggilnya kembali. "Bunda?" Ucapnya. Dia melihat terlebih dahulu, dari balik tirai dalam rumah. Tak ingin membuat sang bunda lama menunggu, Rara langsung beranjak turun dari ranjang, dan membuka pintu rumah. "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Rara menjawab salam sang bunda. "Lama banget sih Ra, buka pintunya." protes sang bunda, saat Rara mencium tangannya. "Maaf, Bun, tadi aku kira aku mimpi. Selama ini bunda tidak pernah pulang cepat, kalau lagi kerja. Tadi aku sudah bangun. Namun, aku berpikir kalau aku hanya mimpi. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk tidur lagi. Untungnya bunda panggil aku lagi. Baru deh aku keluar memastikannya," jelas Rara. Rara terkejut, saat melihat laki-laki yang sempat bertemu dia tadi pagi datang bersama sang bunda, dan lebih terkejutnya lagi yaitu saat Bagas memeluknya. Rara sempat terdiam, tampak bingung. "Kamu memang anak ayah, Ra. Maafin ayah ya, karena selama ini sudah membuat kamu merasa tidak memiliki ayah, dan membuat bunda harus berjuang sendiri membesarkan kamu. Ayah janji, tidak akan melakukan itu lagi," ucap Bagas diiringi isak tangis. Bagas tampak meneteskan air matanya. Dia begitu menyesal, karena tidak mencari tahu sejak dulu. "Ayah? Om ayah aku?" tanya Rara, untuk memastikannya. "Iya, dia adalah ayah kandung kamu. Ayah kamu masih hidup. Hanya saja bunda baru bertemu dengannya sekarang. Maaf, kamu terlahir dari sebuah kesalahan yang kami perbuat. Bunda dan ayah sudah sepakat akan menikah, agar kamu memiliki orang tua yang lengkap," jelas Elia kepada sang anak. Air mata Rara menetes satu persatu. Rara masih melongo tidak percaya. Rasanya, seperti sebuah mimpi, yang menjadi kenyataan. "Aku punya ayah. Aku tidak akan lagi disebut anak haram, yang tidak memiliki ayah," ucap Rara terdengar lirih. "Alhamdulillah ya Allah, Rara senang banget. Akhirnya doa Rara selama ini terkabul. Terima kasih ya Allah. Akhirnya, aku punya ayah seperti teman-teman aku lainnya. Selama ini aku terus berdoa, agar bisa bertemu dengan ayah, dan bunda tidak bekerja lagi setiap malamnya. Bunda tidak perlu banting tulang lagi, untuk aku," ungkap Rara. Bagas ikut sedih. Dia dapat merasakan, seperti apa perasaan anaknya selama ini. Hidup tanpa dirinya. Dia salut kepada Elia, yang tetap mempertahankan anaknya. Meskipun dia harus bekerja sebagai wanita malam. "Iya, kamu benar. Bunda tidak usah kerja lagi, karena sekarang ada ayah yang akan memberi nafkah untuk kalian berdua," ucap Bagas yang kini menatap ke arah Elia. Bagas menghampiri Elia, dan meraih tangannya. Suasana penuh haru. Di depan sang anak, Bagas mengungkap kesungguhannya untuk menikahi Elia. Sebenarnya Bagas dan Elia tidak ingin membawa sang anak dalam permasalahan mereka. Namun, tanpa mereka beritahu. Rara sudah memahaminya. Dia tidak pernah marah kepada kedua orang tuanya. Terutama kepada sang ayah, yang selama ini tidak peduli dengan kehadirannya. Dia justru senang, karena akhirnya sang bunda tidak harus bekerja lagi, berjuang membesarkan dia. "Kita akan selalu bersama. Ayah janji tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi. Besok, ayah dan bunda akan menikah secara agama sembari mengurus surat-surat untuk nikah secara resmi. Setelah itu, kalian ikut ayah ke Yogyakarta ya! Kita menetap di sana, kita buka lembaran baru. Ayah akan mempertemukan kamu dan bunda dengan orang tua ayah, nenek dan kakek kamu. Ayah yakin, pasti mereka senang karena ternyata mereka sudah memiliki cucu." Bagas berkata menjelaskan kepada Rara. Bagas langsung memeluk Elia dan Rara secara bersamaan. Senyuman melengkung di sudut bibir ketiganya, mereka tampak bahagia. Akhirnya, mereka bisa bersatu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD