Bab 4. Keinginan Yang Kuat

1079 Words
"Kamu gila? Kamu itu sama aku bagai langit dan bumi. Lagipula, aku tidak ingin menjadi istri kedua. Lebih baik aku menjadi wanita malam, daripada harus berbagi suami," sahut Elia ketus. Bagas menarik tangan Elia, dan membawa Elia ke dalam dekapannya. Netra mereka saling bertemu. Jantung Elia berpacu lebih cepat. Mungkinkah dia jatuh cinta dengan sosok Laki-laki yang telah porak-poranda perasaannya? "Siapa bilang, aku akan menjadikan kamu istri kedua? Memangnya, aku ada tampang sudah menikah? Kamu tahu tidak? Kamu itu yang mengambil keperjakaanku, dan aku bercinta hanya denganmu," ucap Bagas. Elia terlihat tersipu malu, wajahnya memerah. Jika demikian, berarti dia beruntung. Namun, hal itu hanya sebentar. Nyatanya Elia kembali pada pendiriannya. "Sayangnya, aku tidak percaya! Aku rasa, kamu cukup berpengalaman di ranjang. Aku pun yakin, kalau orang tua kamu tidak akan mau memiliki menantu seorang wanita malam. Jika kamu ingin bertanggung jawab pada anak kita, kamu cukup beri dia nafkah setiap bulannya. Aku ingin hidup bebas, tidak ingin menikah," jawab Elia, dia masih saja bersikeras menolak ajakan Bagas untuk menikah. "Sepertinya, aku harus sedikit keras pada wanita keras kepala seperti kamu," kata Bagas sambil memainkan alisnya. Dia tersenyum licik. Dia tahu, apa yang harus dia lakukan untuk membuat Elia jatuh ke pelukannya lagi. Elia tampak panik, saat Bagas menggendongnya. Dia mencoba memberontak, dan meminta Bagas menurunkannya. Namun, Bagas tidak mempedulikan ucapannya. "Aku ingin membuat adik untuk si kakak. Agar kamu tidak bisa terlepas lagi dari aku," goda Bagas. Dia juga mengerlingkan matanya saat menurunkan Elia di ranjang. "Aku ini wanita malam. Aku harus bekerja setiap malamnya. Mami Starla akan marah kepadaku, jika aku hamil kembali. Aku pun tidak ingin hamil lagi, aku tidak ingin tersiksa untuk kedua kalinya," jelasnya. Berharap Bagas akan mengurungkan niatnya. Wajahnya terlihat memelas. Bukannya menghentikannya, Bagas justru semakin menggila. Dia langsung mencium bibir Elia dan mengungkungnya. Tidak peduli dengan Elia yang terus memberontak. "Aku akan membayar pinalti kepada Mami Starla, dan menikahi kamu. Kamu tidak usah bekerja lagi, karena aku yang akan menafkahi kamu dan anak kita. Aku tidak ingin, tubuh kamu di nikmati lagi dengan Laki-laki lain. Kamu miliki aku untuk selamanya." Besok, Bagas akan mencari penghulu yang bisa menikahkan dia dengan Elia. Untuk sementara waktu, mereka akan menikah secara siri sembari mengurus pernikahan yang sesungguhnya. Nantinya secara perlahan, Bagas akan bicara kepada orang tuanya. Terutama sang mama. Tidak mungkin, dia terus menerus menutupi pernikahannya dengan Elia dari sang mama. Elia merasa bingung, karena Bagas tidak melanjutkannya. Dia justru berbaring di sebelah Elia. Tangannya kini menggenggam tangan Elia erat. Bagas menatap wajah Elia lekat. "Menikahlah denganku! Aku ingin, anak kita memiliki orang tua yang utuh. Izinkan aku menebus kesalahan aku dulu, dengan menikahi kamu, dan menjadi ayah dan suami yang baik untuk kamu dan juga anak kita. Kita menikah secara siri dulu, yang penting kita sah dulu secara agama sembari aku mengurus surat-surat. Aku juga ingin menemui orang tua kamu. Dulu, aku hanya mengenal mami kamu saja. Saat aku membeli keperawanan kamu." Bagas berkata dengan tulus. "Aku wanita hina. Sudah puluhan bahkan ratusan laki-laki yang memakai jasaku. Setelah kamu membeli keperawananku, aku berlanjut menjadi wanita malam. Bukan waktu yang sebentar. Sudah delapan tahun aku menjadi wanita malam. Aku tidak pantas untuk kamu. Kenapa selama ini kamu tidak menikah saja dengan wanita lain? Untuk masalah Rara, kamu tetap bisa dekat dengannya. Aku tidak akan melarang kamu." Elia menjelaskan kepada Bagas. "Jadi, anak kita namanya Rara ya? Ehm, nama yang bagus. Apa benar, anak kecil yang aku ceritakan tadi itu anakku?" tanya Bagas memastikan, dan Elia akhirnya mengiyakan ucapan Bagas. Bagas memeluk tubuh Elia, membuat Elia tidak berkutik. Ada kehangatan yang Elia rasakan. Rasanya sangat berbeda, saat berpelukan dengan Laki-laki lain. "Aku yakin, kalau Allah memiliki rencana untuk menyatukan kita. Jika tidak, pasti sudah lama aku menikah dengan wanita lain. Bahkan, apa yang aku lakukan dulu kepadamu itu karena aku tidak ingin menikah dengan wanita pilihan mamaku. Aku tidak ingin terikat dengannya." "Allah justru mempertemukan kita, meskipun dalam situasi yang salah. Bukan itu saja. Pada akhirnya aku menemukan calon istriku selingkuh dengan Laki-laki lain. Mungkin, kamu memang jodoh aku. Makanya, dia membiarkan anak kita terlahir ke dunia," sahut Bagas. Elia tampak terdiam. Dia menjadi teringat, saat dia dulu berusaha melenyapkan Rara. Pada akhirnya, Allah membuat Rara terlahir ke dunia, dan dia dipertemukan Bagas kembali. "Pasti, kamu tidak percaya 'kan? Terserah kamu, mau percaya sama aku atau tidak. Selama ini pun aku kerap kepikiran kamu," timpal Bagas lagi. "Aku takut, kalau orang tua kamu tidak setuju dengan pernikahan kita, dan akhirnya kamu pergi meninggalkan aku. Aku tidak ingin sakit hati," ungkap Elia. "Kita lalui bersama! Aku akan tetap pertahankan kamu. Aku yakin, kalau kamu sebenarnya wanita yang baik. Hanya saja keadaan yang membuat kamu seperti ini," kata Bagas dengan mantap. "Kata siapa aku wanita baik-baik? Aku ibu yang jahat, selalu membuat Rara sedih. Pasti dia merasa, kalau aku tidak pernah menginginkan kehadirannya. Sebenarnya, aku pun tidak mengerti dengan diriku sendiri. Selama ini aku berjuang pertahankan dia, dan membanting tulang agar dia mendapatkan kehidupan yang layak. Meskipun dia lahir tanpa seorang ayah. Namun, disaat aku mengingat perbuatan kamu di mana aku harus berjuang sendiri. Aku akan berubah menjadi sosok yang jahat. Bisa dikatakan, seperti tempat pelampiasan rasa kecewaku," sahut Elia. Dia menjadi sedih, akan perbuatan dia selama ini kepada Rara. Padahal dalam hal ini, Rara tidaklah salah. Seorang anak tidak bisa memilih, dari rahim siapa dia dilahirkan. Walaupun karena sebuah kesalahan yang diperbuat orang tuanya. "Aku paham psikologis kamu. Kamu hidup penuh tekanan. Pastinya tidak mudah menjadi kamu. Di mana kamu harus tetap menjadi wanita malam, dan mempertahankan anak kita. Tolong beri aku kesempatan untuk menggantikan momen-momen, disaat kamu harus berjuang sendiri! Kini kamu tidak sendiri lagi. Tinggalkan pekerjaan kamu, dan aku hanya ingin kamu sayangi anak kita!" "Setelah kita menikah, kamu ikut aku ke Yogyakarta. Aku akan memberikan kamu sebuah rumah dan juga Rara. Aku akan membawa kamu dan juga Rara, bertemu orang tua aku. Aku tidak ingin menutupi kalian dari orang tuaku. Mamaku pasti senang, kalau dia tahu kalau aku akhirnya menikah, dan memiliki anak. Selama ini dia mengkhawatirkan aku. Dia mengira aku memiliki kelainan seksual, pencinta sesama jenis." Bagas terus meyakinkan Elia. "Kamu yakin akan melakukan ini?" Elia masih merasa ragu. Semua seakan seperti mimpi. Entah sebuah mimpi indah ataukah buruk untuknya. Bagas tersenyum, sambil membelai lembut wajah Elia. Diakhiri kecupan di pucuk kepala dan kening Elia, membuat Elia tidak mampu berkata-kata lagi. "Aku yakin, kalau kamu adalah jodoh untuk aku. Kita hadapi semuanya bersama, demi Rara anak kita!" Ucap Bagas dan akhirnya Elia menganggukkan kepalanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD