Bab 3. Ayo Kita Menikah!

1203 Words
Bagas sudah selesai melakukan transaksi dengan Mami Starla. Kini dia sudah berhak atas Elia. Bagas pun langsung membawa Elia meninggalkan tempat itu. Dia akan membawa Elia ke sebuah hotel–tempat dia menginap. Selama perjalanan menuju hotel, keduanya sama-sama diam, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hanya butuh waktu sekitar setengah jam, mobil dikendarai Bagas sudah tiba di parkiran hotel. Setelah memarkirkan mobilnya, mereka pun langsung masuk bersama ke dalam hotel. Elia mengira, Bagas sudah menikah. Meskipun dia tidak menemukan cincin di jari manis Bagas sejak tadi. "Saya ingin bersihkan tubuh saya dulu, sebelum kita bercinta,” ucap Elia kepada Bagas sesaat setelah masuk ke dalam kamar hotel. Mendengar ucapan Elia, Bagas sampai menelan saliva-nya kuat-kuat. Entah kenapa hasratnya terasa menyembur hingga mengusik ketenangannya. Mungkinkah dia akan melakukan malam panas lagi dengan Elia? Ada perasaan canggung yang dirasakan Elia, saat bersama Bagas. Tidak seperti saat bersama pelanggan lainnya. Namun, dia coba membuang perasaan itu. Dia akan berusaha bersikap profesional seperti yang dia lakukan kepada para pelanggannya. "Tunggu! Ada hal penting yang ingin aku bicarakan sama kamu, duduklah!" seru Bagas yang langsung menghentikan niat Elia yang ingin melangkah ke kamar mandi. Elia pun jadi merasa tegang dibuatnya. Detak jantungnya tiba-tiba berpacu dua kali lebih cepat dari biasanya. Dia takut kalau nantinya Bagas akan membahas soal Rara. Kini keduanya pun sudah duduk di sofa panjang yang memang tersedia di kamar itu. "Apa yang mau kamu katakan? Katakan saja sekarang! Biar saya bisa cepat memuaskan kamu," kata Elia tegas. Bagas masih diam. Pandangannya masih menatap penuh selidik. Coba mencari tahu jawaban dari rasa penasarannya lewat sorot mata Elia yang jelas terlihat gugup berhadapan dengannya. "Apa kamu hamil karena aku? Apa kita punya anak?" tanya Bagas to the point. Elia seketika mematung diam. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Ekspresi wajahnya pun langsung berubah menjadi tegang. Meskipun dia berusaha menutupinya, Bagas bisa melihat perubahan itu di wajah Elia. "Gaklah! Gak ada, mana mungkin wanita malam hamil anak pelanggannya," jawab Elia bohong. Dia sampai memalingkan wajah karena takut kebohongannya terbaca oleh Bagas. "Kamu gak bisa bohong dari aku! Wajah kamu itu gak bisa menutupi kebohongan kamu. Kamu pasti lagi menyembunyikannya dari aku, 'kan? Aku butuh kebenaran itu. Tolong, jangan bohongi aku!" Bagas lebih mendekatkan posisi duduk. Menatap lebih lekat netra mata Elia yang sesaat melihat wajah Bagas lagi. “Apa kamu tahu kalau aku sempat ketemu sama anak kecil yang wajahnya mirip denganku? Aku jadi ingat sama kamu. Dulu, saat melakukannya, sepertinya aku gak pakai pengaman. Jadi, bisa saja, benihku berkembang di rahimmu.” Mendengar perkataan Bagas, seketika membuat Elia jadi teringat cerita dari putrinya yang mengatakan kalau dia bertemu dengan seorang laki-laki yang wajahnya mirip dengannya. Rara juga mengatakan kalau ibu tukang nasi uduk tempat dia makan, mengira laki-laki itu adalah ayahnya. "Berarti, laki-laki yang dimaksud Rara tadi memang dia. Dia memang ayahnya." Elia bermonolog dalam hati. Masih merasa gugup meski coba ia tutupi dari Bagas. "Hei, kenapa kamu malah diam? Benar 'kan dugaanku? Kalau aku punya anak dari kamu," cecar Bagas yang kini masih menatap Elia dengan sorot mata lebih tajam dari semula. Baru kali ini dia benar-benar menatap lekat wajah Elia dan dia akui, Elia memang wanita yang cantik. Pantas saja dia bisa jadi primadona di rumah bordir Mami Stela. Bukannya menjawab, Elia justru duduk di pangkuan Bagas. Layaknya w*************a seperti biasanya. Bagas pun akhirnya mendesah saat Elia menciumi lehernya. Hingga akhirnya, dia menjadi semakin hanyut dalam permainan yang Elia mulai. Elia memang sengaja mengalihkan pembicaraan mereka agar Bagas tidak membahas masalah Rara lagi. Meskipun selama ini, dia selalu bersikap tidak baik kepada Rara. Elia tidak rela jika nantinya Bagas mengambil Rara darinya. Mereka pun akhirnya melewatkan malam panas lagi setelah delapan tahun tidak bertemu. b******u mesra, penuh gairah. Perlahan Bagas pun menurunkan resleting dress yang dikenakan Elia hingga tubuh polos wanita itu terlihat jelas di matanya. Hanya Elia, satu-satunya wanita yang dia sentuh selama ini. Kali ini, percintaan mereka sangat berbeda, Bagas melakukannya dalam keadaan sadar. Tanpa obat perangsang maupun mabuk karena pengaruh alkohol. Elia pun menikmati sentuhan lembut Bagas. Bagas menyentuhnya dengan penuh kelembutan, dia merasa dihargai. Tidak seperti saat bercinta dengan pelanggan lainnya. Elia pun tidak diam begitu saja, dia pun mulai membuka kancing kemeja yang dikenakan Bagas satu persatu dan juga membuka resleting celana yang dikenakan Bagas saat itu. "Aku ingin mengulang kisah kita dulu," bisik Bagas di telinga Elia, suaranya sudah terdengar berat. Elia hanya menganggukkan kepalanya. Entah mengapa, dia pun merindukannya. Bagas dengan gagah menggendong tubuh Elia ke ranjang tanpa melepaskan pagutannya. Tak ada rasa jijik yang Bagas rasakan meski tahu apa pekerjaan Elia. Bagas tampak begitu menikmati setiap sentuhan yang dilakukan Elia pada tubuhnya. Kamar hotel itu seakan menjadi saksi bisu pergulatan dua insan yang sempat terpisah selama bertahun-tahun. Sebagai laki-laki yang tidak memiliki pengalaman tentang wanita, tentu saja Bagas begitu tergila-gila dengan servis yang diberikan Elia. "Mana pengamanmu?" tanya Elia saat Bagas akan mulai mengarahkan miliknya. "Aku gak punya. Tadi aku gak beli karena aku memang gak ada niat melakukan ini lagi sama kamu," jawab Bagas. Sejenak dia harus menahan hasratnya. "Ya sudah, kalau begitu kita gak perlu melakukan ini. Setelah kejadian dulu, aku gak pernah mau bercinta dengan pelanggan tanpa pengaman. Aku hanya melakukan tanpa pengaman, hanya saat sama kamu dulu," tolak Elia. Hasratnya sudah menggebu-gebu. Miliknya pun sudah berdiri tegak. Dia terpaksa harus menuntaskannya, tidak ingin menghentikannya. Terpaksa dia harus memaksa Elia, untuk melakukannya. "Lepaskan aku! Aku gak mau kejadian dulu terulang lagi. Aku gak mau mengandung benih kamu lagi. Begitu tersiksanya aku mempertahankan anakmu," ucapnya. Tanpa sadar Elia membuka rahasia yang ditutupinya dari Bagas. Sontak hal itu membuat Bagas terkejut. Terjawab sudah pertanyaan dia tadi. "Apa!? Jadi benar, aku punya anak dari kamu? Kamu hamil anakku?" tanya Bagas memastikan. Dia menggoyangkan tubuh Elia yang tiba-tiba saja membeku. Elia hanya diam. Wajahnya berubah pucat. Lidahnya pun terasa kelu. Dia juga menguatkan diri agar tak menangis di depan Bagas meski hatinya terasa sakit karena mengingat kejadian dulu itu. "Aku mohon, jawab pertanyaanku! Bagaimanapun, dia anakku. Jangan tutupi dariku! Aku adalah ayah biologis anak itu," cecar Bagas lebih menuntut. Pria itu merasa kesal karena Elia masih saja menutupinya. Bukannya menjawab, Elia justru malah beranjak turun dari ranjang. Berniat pergi meninggalkan Bagas. "Apa sebenarnya yang jadi alasan kamu menutupinya dariku? Ok, aku dulu salah. Aku meninggalkan kamu begitu saja saat kamu masih tidur. Aku minta maaf karena telah menyakiti hatimu dan membuat kamu berjuang sendiri mempertahankan anak itu.” Perkataan itu sukses membuat Elia terdiam. “Bagaimana ini? Kenapa aku bisa keceplosan mengatakannya?” batin Elia kesal karena tanpa sadar membuka rahasianya sendiri. “Aku memang seorang pecundang yang dulu pernah lari dari kenyataan. Pasti rasanya begitu berat buat kamu karena harus melewati semua itu tanpa aku. Sekarang, aku sudah sadar. Jadi, tolong maafin aku dan pertemukan aku sama anak kita." Terlihat sekali penyesalan di wajah Bagas. Dia menyadari kesalahannya dan berniat memperbaikinya. Meskipun dia tahu pasti akan banyak rintangan yang harus dilewatinya nanti. Elia masih diam. Sama sekali tak menjawab semua perkataan Bagas. Wanita itu benar-benar tak percaya dengan permohonan Bagas yang terdengar begitu tulus. Hatinya seakan melemah. Ingin memaafkan. Namun, luka akan masa lalu seolah menahan bibirnya untuk berucap. "Ayo kita nikah!" Ucapan Bagas sukses membuat mata Elia membulat sempurna. Sejenak dia tertegun melihat wajah tampan laki-laki di hadapannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD