Bab 2. Bertemu Kembali

1012 Words
Jika malam itu, Sonya tidak menjebaknya. Dia tidak akan seperti itu. Terjebak dalam situasi di mana dia sampai melewatkan malam panas dengan Elia. Bagas baru saja sampai di hotel. Dia langsung membaringkan tubuhnya di ranjang. Dia pijat keningnya yang tiba-tiba saja sakit. Tubuh dan pikirannya terasa lelah. "Sial! Bahkan milikku jadi bereaksi karena ingat wanita itu," umpat Bagas kesal. Setelah malam panas dengan Elia, Bagas memang tidak pernah lagi melakukan hubungan intim dengan wanita lain meski Sonya masih terus menggodanya. Dia tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya. Meskipun banyak teman seprofesinya yang bermain wanita. Tidak aneh rasanya jika seorang CEO di sebuah perusahaan bermain dengan wanita malam. Jika sudah tidak sanggup menahannya lagi, dia lebih memilih menuntaskan hasratnya sendiri. Dia tidak ingin memakai jasa wanita panggilan lagi. *** "Bun, Rara lapar," kata Rara. Dia mencoba membangunkan sang bunda. Sudah pukul tiga sore, Elia belum juga bangun dari tidurnya. Perutnya sudah melilit sejak tadi. Hingga akhirnya, Rara terpaksa membangunkan bundanya. "Bunda masih ngantuk! Ganggu saja sih kamu," sahut Elia ketus dengan mata masih terpejam. "Tapi, Rara lapar Bun. Ini udah jam tiga sore. Perut Rara udah melilit dari tadi," ungkap Rara sambil memegangi perutnya. Rara mulai merasa lemas. Sejak tadi dia menunggu sang bunda bangun. Namun, sampai sekarang, Elia belum juga bangun. “Bunda, ayo bangun!” Mendengar panggilan Rara lagi, Elia pun terpaksa membuka matanya. Dengan perasaan kesal, akhirnya dia beranjak turun dari ranjang. Dia langsung mengambil magic com untuk memasak nasi. Kemudian, menggoreng telur mata sapi dan juga nugget untuk Rara. "Ini Bunda sudah siapkan nugget sama telur mata sapi untuk kamu. Kamu tinggal tunggu nasi matang. Kalau sudah matang, kamu ambil saja ya sendiri! Bunda mau tidur lagi. Ingat, jangan ganggu Bunda lagi! Nanti bunda bangunnya jam lima sore. Sudah paham, 'kan?" Dia selalu bersikap sinis pada Rara. Jika sudah seperti itu, biasanya Rara hanya menganggukkan kepala sebagai tanda kalau dia mengerti ucapan sang bunda. Dia tidak berani protes. Setelah selesai menyiapkan makanan untuk Rara, Elia langsung masuk ke dalam kamarnya lagi untuk melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu. Rara hanya diam dan berusaha mengerti sikap sang bunda. Bundanya pasti masih mengantuk karena semalam tidak tidur dan malam ini harus bekerja kembali. "Jika ada ayah bersama kami. Bunda gak harus kerja malam lagi buat aku. Bunda bisa temani aku di rumah setiap malam. Aku jadi gak kesepian lagi. Ya Allah, aku mohon tolong pertemukan aku sama ayah aku! Aku mau punya ayah …." Doa Rara dengan air mata yang begitu saja jatuh membasahi kedua pipinya. *** Sejak tadi Bagas terlihat gelisah. Bolak-balik melihat jam di ponselnya. Dia tidak bisa tidur nyenyak. Sampai akhirnya, jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Saat ini Bagas sudah sampai di tempat prostitusi, tempat dia bertemu dulu dengan Elia untuk pertama kalinya. Matanya terus memandang, satu persatu wanita malam yang datang. Sampai akhirnya, dia melihat wajah wanita yang ingin ditemuinya. Jantungnya tiba-tiba berpacu cepat karena dia dulu pernah menjadi laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Dia meninggalkan Elia yang saat itu masih terlelap setelah merenggut keperawanannya. Sontak mata Elia membulat sempurna. Dia sangat terkejut saat Bagas menarik tangannya. Ada getaran tersendiri yang dirasakan saat ada kontak fisik lagi dengan Bagas. Netra mereka sejenak bertemu. Saling diam, termangu tanpa suara. Sampai akhirnya, Elia memilih memalingkan wajahnya. Tampak sekali kebencian di wajah wanita itu. Hatinya kembali terasa sakit saat mengingat apa yang Bagas lakukan padanya dulu. Namun, dia berusaha menutupinya. Waktu delapan tahun, tidak mengubah Elia. Elia masih terlihat cantik dan seksi seperti pertama kali Bagas bertemu. Dia jadi teringat saat pertama kali dirinya menjamah tubuh Elia, merenggut keperawanan Elia yang dia beli. Dengan cepat Bagas menarik tangan Elia dan membawa wanita itu masuk ke dalam mobilnya. "Maaf, Anda siapa, ya? Apa Anda sudah bertemu Mami Starla, berani membawa saya ke mobil Anda? Jika Anda menginginkan saya, Anda harus menemuinya dulu," ucap Elia. Dia berpura-pura telah melupakan Bagas. "Aku laki-laki yang sudah mengambil keperawananmu delapan tahun lalu. Apa kamu gak ingat aku karena terlalu banyak pelanggan yang kamu layani?" Sakit rasanya hati Elia mendengar ucapan Bagas. Namun, akhirnya dia sadar, kalau dia memang seorang wanita malam. Pantas jika Bagas berkata demikian. "Ya, Anda benar! Saya memang sudah melupakan Anda. Sudah ratusan laki-laki yang memakai jasa saya. Bukankah urusan kita sudah selesai? Anda sudah mendapatkan hak Anda dari bayaran yang Anda berikan dulu. Terus … untuk apa Anda menemui saya lagi? Saya harus bekerja dan gak ada waktu buat membahas hal yang gak penting. Kecuali, kalau Anda membayar saya lagi dengan bayaran yang fantastis. Saya pastikan, Anda akan menjadi pelanggan prioritas saya,” jawab Elia ketus. Tidak ada cinta untuk laki-laki di hadapannya. Seperti apa yang Bagas lakukan padanya dulu. Elia harus sadar kalau dia hanyalah wanita malam yang butuh uang. Melayani laki-laki yang sudah membayarnya itu adalah pekerjaannya saat ini. "Baiklah, aku akan membayarmu 100 juta buat malam ini! Aku akan membayarnya ke mami kamu," ucap Bagas saat Elia hendak turun membuka pintu mobil Bagas. Elia tidak berkutik. Tawaran yang diberikan Bagas terbilang cukup fantastis. Dia tidak mungkin menolaknya. Mami Starla pun pasti tidak akan melewatkan tawaran tersebut. Dia sudah berjanji dalam hati untuk merahasiakan dari Bagas. Kalau malam panas waktu itu sudah memberikannya seorang anak perempuan. Jika Bagas minta melayaninya lagi, dia akan meminta Bagas memakai pengaman. Dia tidak ingin kejadian dulu sampai terulang lagi. Di lain sisi, tekad Bagas sudah bulat untuk mencari tahu tentang kejadian malam itu. Dia berjalan mengikuti Elia. Ini kedua kalinya dia menginjakkan kakinya di tempat prostitusi saat mereka bertemu dulu. Bagas merasa tidak nyaman karena para wanita malam di sana mencoba menggodanya. Mereka terpesona dengan ketampanan dan kegagahan Bagas. "Kamu bisa melakukan transaksi dengan Mami Starla di sana. Setelah itu, barulah kamu bisa membawa saya dari tempat ini!" kata Elia tegas. Sikapnya sangat berbeda kepada para tamunya yang lain. Dia bersikap dingin hanya saat berhadapan dengan Bagas. Namun, hal itu tak menyurutkan niat Bagas sedikit pun. Demi menjawab rasa penasarannya, dia harus menghadapi dinginnya sikap Elia. "Aku gak akan terkecoh sama sikap kamu. Pokoknya, aku harus membuatmu jujur soal anak itu,” batin Bagas dalam hati. Entah kenapa, keyakinannya begitu kuat soal Rara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD