“Katakan, Lik! Kenapa kamu diam!” teriak Johannes dengan rahang mengetat. Amarah sepertinya sudah menguasai diri Johannes saat ini. Bagaimana bisa pria yang dipercayainya untuk menjaga putrinya justru malah membohonginya seperti ini. “Maafkan saya, Tuan. Saya dan Non Luna saling mencintai, Tuan. Saya...” Sekali lagi. Suara tamparan keras kembali menggema di ruangan itu. Sekali lagi pipi kiri Malik mendapatkan rasa sakit yang sama seperti tadi. “Berani kamu bilang seperti itu di depan saya, Lik! Cinta! Apa kamu sadar dengan apa yang baru saja kamu katakan, hah!” “Saya sadar dengan apa yang saya katakan Tuan. Saya memang sangat mencintai Non Luna. Begitu juga dengan Non Luna.” Malik tak akan pernah mundur lagi. Semua sudah terkuak. Ia akan tetap memperjuangkan cintanya kepada Luna ap

