“Silahkan duduk.” Johannes mendudukkan tubuhnya di sofa yang ada di dalam ruangannya. Ada banyak pertanyaan di dalam benak Johannes saat ini. Tentu saja tentang kedatangan Jenar ke kantornya tanpa pemberitahuan dulu. Jenar sudah mendudukkan tubuhnya di sofa tunggal. “Sekarang katakan tentang niat kamu datang ke kantor saya. Apa yang ingin kamu katakan pada saya soal Malik? Bukankah Malik pulang kampung untuk menemuimu?” “Iya, Tuan. Mas Malik memang pulang untuk menemui saya. Tapi saya datang kesini justru ingin memberitahu Tuan tentang kepulangan Mas Malik itu.” Johannes mengernyitkan dahinya. Ia masih belum paham dengan maksud dari ucapan Jenar itu. “Apa maksud kamu?” “Tuan, saya mewakili Mas Malik ingin meminta maaf kepada Tuan. Selama ini Mas Malik sudah merahasiakan identitas se

