Aurora menutup pintu kamarnya dengan kasar. Perasaannya masih panas setelah makan malam barusan. Perjodohan, pertunangan, semua orang di meja makan berbicara seolah hidupnya hanya papan catur untuk dijadikan strategi bisnis.
Dia menghempaskan tubuh ke kasur, memandang langit-langit dengan napas berat.
"Apa sih, ini semua..." gumamnya sambil menutup wajah dengan kedua tangan.
Tapi sebelum ia sempat menenangkan diri, sesuatu membuat tengkuknya merinding. Ada bayangan bergerak di jendela. Sangat pelan, sangat tertahan. Seperti seseorang sedang memastikan sudut pandang terbaik untuk mengawasi.
Aurora langsung lari bersandar rapat ke tembok agar pergerakannya tidak terlihat. Detak jantungnya mulai berpacu kencang, nafasnya mulai tidak teratur.
"Jangan bercanda, please..." bisiknya.
Aurora memberanikan diri menengok ke luar jendela. Bayangan itu masih ada. Seseorang berdiri di luar, menjaga jarak tapi jelas sedang mengawasi kamarnya.
Aurora panik, meraih saklar lampu dan langsung mematikannya. Kamarnya tenggelam dalam kegelapan.
Ingatan akan kematiannya di masa lalu kembali membayangi, Aurora ketakutan setengah mati hingga hanya ada satu nama dalam kepalanya.
'Kak Sam'
Ia menyadari keberadaan kertas yang diberikan oleh Samuel sore tadi, berisikan nomor-nomor telepon yang dapat dihubungi olehnya.
Ia meraih ponsel dengan tangan gemetar, menekan tombol-tombol angka yang ada di layar sesuai dengan ingatannya sore tadi
Tapi tepat ketika jempolnya menyentuh tombol call, pintu kamarnya diketuk.
Tok. Tok. Tok.
Aurora langsung menahan napas. Pintu dibuka perlahan tanpa menunggu jawabannya. Di ambang pintu berdiri sosok Luna.
Wajah manis, senyum lembut, tapi mata dingin yang tidak pernah bisa menipu Aurora.
"Loh, Rora... kok gelap banget? Lo lagi apa sih?" tanya Luna sambil melangkah masuk seolah kamar itu miliknya.
Aurora menyembunyikan ponselnya di balik selimut. "Nggak lagi apa-apa. Lo mau apa?" Luna mendekat.
"Suasana di meja makan tadi kerasa berat banget, ya. Lo pasti kaget soal rencana pertunangan itu."
"Lo pikir?" jawab Aurora ketus.
Luna menghembuskan nafasnya pelan. "Rora, stop over reaktif deh. Ini demi keluarga kita, tau. Lo kan bukan pewaris perusahaan. Lo bebas, lo nggak harus hidup seserius gue. Bahkan jurusan kuliah lo aja bebas buat tentuin, beda sama gue. Jadi Papah cuman minta tolong sama lo, karena kalau keluarga mau bikin hubungan makin kuat yah itu lewat kamu dan Darren, dan itu hal wajar kok." Aurora mengangkat alis.
"Wajar? Lo serius, Lun? Lo bilang gue yang harus jadi tumbal supaya lo bisa tetap jadi pewaris kesayangan papah?"
Senyum Luna menegang sepersekian detik, sebelum ia cepat menutupinya dengan ekspresi prihatin palsu.
"Kok ngomongnya gitu sih? Lo tuh gampang salah paham banget sumpah..."
" Gue yang salah paham atau lo yang selama ini pura-pura nggak denger?" Aurora menatap Luna tajam.
Di kehidupan lamanya, ia tidak pernah berani menantang tatapan itu. Sekarang tidak lagi.
Luna duduk di pinggir kasur, terlalu dekat.
"Rora, gue cuma mau bantu lo buat ngerti kondisi Papah. Lo kan yang dari tadi kelihatan nggak suka sama ide tunangan itu. Padahal Darren udah sebaik itu sama lo."
Aurora tertawa pendek. "Baik? Lo yakin?"
"Ya iyalah. Dia perhatian banget sama lo. Gue lihat kok kemarin dia keliatan khawatir pas lo pergi sama cowok itu... siapa namanya? Samuel?"
Aurora menyipitkan mata. "Gak usah bawa-bawa kak Sam, dia nggak ada hubungannya sama lo!"
Luna meletakkan tangan di atas tangan Aurora.
"Rora, please. Gue, papah, mamah, semuanya tuh sayang sama lo. Semua orang di keluaga ini itu udah berkorban. Lo harus ngerti kalau perjodohan itu buat masa depan kita. Papah butuh lo supaya hubungan sama keluarga Darren stabil."
Aurora menarik tangannya. "Atau lebih tepatnya, karena papah nggak mau lo yang dijodohin."
Luna terdiam. "Jangan ngomong gitu."
"Tapi itu fakta. Lo pewaris perusahaan. Lo yang diincer keluarga Darren. Tapi karena papah sayang banget sama lo, jadinya gue yang didorong ke sana."
Tatapan Luna berubah. Senyumnya menghilang, berganti sesuatu yang lebih gelap. "Lo iri, ya sama gue?" pertanyaan itu keluar sangat lembut, tapi menusuk.
Aurora tertawa dingin. "Gue? Iri sama lo? Nggak, Lun. Gue cuma heran. Selama ini gue pikir lo kakak paling baik di dunia. Ternyata lo cuma... takut."
"Takut apa?"
"Takut masa depan lo berubah kalau keluarga Darren lebih milih lo daripada gue."
Luna menggigit bibir, sesuatu mulai retak di balik topengnya. "Rora, lo bener-bener jago ngomong sembarangan."
"Kenapa? Gue cuma bilang apa yang gue liat." Luna bangkit, berjalan mendekati meja rias Aurora lalu memandangi bayangan dirinya di cermin.
"Lo tuh terlalu banyak dipengaruhi orang luar. Apalagi cowok yang tadi itu. Samuel. Lo baru ketemu lagi sama dia, kan? Dan sekarang, lo tiba-tiba jadi gampang curiga."
Aurora kembali mencengkram ujung roknya, seketika dia kembali mengingat bayangan dari luar jendela. "Dia nggak ada hubungannya sama ini."
"Oh iya?" Luna menatap Aurora melalui pantulan cermin.
"Kamu nelfon dia barusan, ya?"
Aurora tercekat. " Gak usah sok tau! Emang lo tau dari mana?"
"Tebakan. Dan dari reaksi kamu... sepertinya benar."
Nada Luna manis, tapi matanya seperti mengupas kulit Aurora sampai habis.
"Lun, jangan ikut campur deh. Gue capek."
"Kalo gitu, lo harus dengerin gue! Rencana pertunangan itu penting. Lo harus kerja sama, Rora. Demi keluarga kita!"
Aurora berdiri. " Lun, lo tau nggak? Dari tadi gue denger lo ngomong, tapi semua yang keluar dari mulut lo tuh cuma satu hal dan itu adalah lo sebenarnya takut kan kehilangan posisi lo di keluarga ini!" Luna menatap Aurora dengan sorot yang tidak lagi bisa disamarkan.
"Jangan sok tau."
Aurora maju satu langkah. "Gue cuma ngomong jujur. Dan lo tau apa yang paling lucu? Dari tadi lo bela Darren mati-matian. Padahal yang sebenarnya kebelet mau nikah sama dia itu lo, bukan gue."
Luna terdiam, wajahnya pucat.
"Loh, kok diem? Gue salah?"
Perkataan Aurora sontak membuat saudari kembarnya itu menggertakkan gigi. "Aurora, jangan bikin masalah. Lo tuh selalu seenaknya, ya. Dari dulu lo selalu pikir dunia harus ngertiin lo terus. Padahal lo cuma anak manja yang egois."
Aurora tertawa pendek. "Kalau gue manja dan egois, itu karena gue yang paling sering dimanfaatin, Lun. Dan gue baru sadar sekarang."
Luna menahan napas, jelas marah tapi menahan agar tidak meledak.
Aurora melanjutkan dengan suara lebih rendah. "Lagian... lo yakin nggak ada yang lo sembunyiin dari gue?"
Luna menegang. "Maksud lo apa lagi hah?" Aurora mendekat dan menatapnya tanpa berkedip.
Tapi sebelum Aurora sempat menjawab, sesuatu terjadi. Ponselnya bergetar keras di atas selimut.
Nomor yang tadi dia hubungi sebelum kedatangan Luna muncul memenuhi layar.
Aurora dan Luna sama-sama melirik ke arah yang sama, sontak Luna langsung terpaku di tempat.
"Kok dia nelpon kamu malam-malam gini?"
Aurora menatap Luna dengan senyum sinis. "Loh, kenapa? Lo takut?"
Luna mendekat, mau meraih ponsel itu. "Nggak usah lo angkat! Jangan biarin dia makin ngaruhin lo!"
Tapi aurora lebih cepat, dia dengan cekatan mengambil ponselnya dari atas kasur. "Loh, lo siapa? Kenapa tiba-tiba ngatur gue?"
"Karena gue kakak lo!" teriak Luna.
"Cuman karena lo lahir duluan, bukan berarti gue harus jadi pion lo terus menerus!" Aurora menekan tombol jawab sambil menatap Luna tanpa takut.
"Halo, Sam?"
Suara Samuel terdengar tegas tapi panik dari seberang. "Rora, kamu di kamar? Jangan buka jendela. Jangan percaya siapa pun yang ada di rumah kamu malam ini."
Aurora membeku. Luna menatapnya tajam, seolah tahu panggilan itu akan memperkeruh semuanya.
Aurora menatap kakaknya lama.
"Tuh, Lun. Bahkan Sam lebih jujur daripada lo."
Luna mengepalkan tangan. "Aurora, kamu nggak ngerti apa yang kamu lakuin..."
Aurora menutup telepon pelan dan berdiri tegak, menatap Luna tanpa gentar.
"Lo boleh terus main peran sebagai anak kesayangan. Tapi gue nggak bakal diam lagi."
Dan untuk pertama kalinya, Luna tidak punya satu kata pun untuk membalas.