Perjodohan | Bab 6

1035 Words
Aroma masakan Mamah memenuhi ruang makan. Ia selalu merindukan suasana ini di kehidupan lamanya, tapi seharusnya momen ini hangat, ada rasa nyaman di dalamnya. Tapi malam itu, meja panjang keluarga Yunandhra terasa seperti ruang sidang. Aurora duduk dengan punggung tegak, tangannya menggenggam ujung rok. Detak jantungnya berdentum keras, sedikit gugup karena sudah merencanakan pemberontakan sedari tadi. Om Leon duduk di ujung meja. Wajahnya tenang seperti biasa, tapi ada sesuatu di balik sorot matanya. Rencana, ambisi, tekanan. Di sebelah kanan, Luna makan pelan sambil beberapa kali melirik Aurora. Ada kegelisahan di matanya yang hanya bisa ditangkap oleh adiknya. "Ada yang harus Papah sampein," kata Papah pelan, tapi tegas. Dan benar saja, makam malam kali ini menjadi ajang perbincangan hangat tentang sikapnya kemarin di depan Darren. Aurora langsung berhenti mengaduk nasinya. Mulai merasa jenuh dengan makanan yang sudah lama ia rindukan. Mamah menoleh. "Iya, tadi Mamah juga mau bilang. Ini penting buat keluarga." Aurora memutar bola mata kecil. Tentu. Selalu tentang keluarga. Sudut bibirnya naik mendecih sinis. Papah melipat tangan di meja. Menatapnya dengan tajam. "Aurora, ini soal rencana pertunangan kamu." Aurora mencengkram erat roknya, menahan hingga sang papah menyelesaikan ucapannya. "Papah sudah bicara dengan om Januarius. Semua lancar. Mereka bilang tahun depan adalah waktu yang tepat." Aurora menatap Papahnya tanpa berkedip, jidatnya sudah mengkerut dari tadi. "Papah gak nanya dulu aku maunya apa?" Terdengar suara hembusan nafas kasar dari sana, mulia mengintimidasi agar Aurora tidak perlu banyak protes Hingga Mamah Gina sadar dan mulai bersuara lembut. "Aurora, jangan ngomong gitu dong, ini keputusan yang baik loh. Untuk masa depan kamu dan keluarga." " Keluarga yang mana Mah?" Ujarnya datar yang membuat semua orang di meja makan kebingungan. Tidak pernah Aurora seperti ini sebelumnya. "Aku bukan barang Pah, cuman karena aku bukan kak Luna yang bisa dibanggain, bukan berarti aku siap dijadiin alat." Aurora menatap Papahnya tajam, suaranya rendah tapi dingin. "Aku gak mau dijodohin." Suara Aurora yang penuh penekanan itu membuat Luna langsung duduk tegak. "Rora, pelan-pelan ngomongnya, yang sopan sama Papah." Aurora menoleh pada kakaknya. "Kak, lo jangan ikut campur dulu." Sorot mata Luna melebar, tapi dia gak membalas. Sementara Om leon hanya menarik napas, menahan marah. "Aurora, kamu tau keluarga kita kerja sama dengan keluarga Januarius sejak lama. Hubungan ini penting. Kamu cuma diminta berperan di bagian yang paling ringan." Aurora tertawa pendek, sinis. "Paling ringan? Disuruh nikah itu ringan, Pah?" Mamah ikut bersuara, suaranya lembut tapi terdengar seperti tekanan halus. "Mamah sama Papah cuma mau yang terbaik. Luna punya jalan hidupnya sendiri. Dia udah di siapin buat nerusin perusahaan. Kamu kan gak mau masuk dunia itu sayang, jadi kamu bisa bantu dengan caranya kamu." Aurora menatap sang kakak, tapi Luna hanya diam. Seolah memang seharusnya begitu. Dan itu menusuk Aurora lebih dalam dari semua ucapan malam itu. Jadi semua sudah diatur, semua sudah dibagi. Dan Aurora cuma kebagian jadi alat pengikat kerja sama. Aurora bersandar ke kursi, matanya berair tapi bukan karena sedih. Dia menahan amarah yang sebentar lagi meledak. "Papah mau bilang kalau aku gak sepenting Kak Luna gitu?" Papah menggeleng cepat. "Bukan gitu maksud Papah." "Loh terus apa maksudnya?" Suara Aurora mulai bergetar Luna yang tadi memilih diam akhirnya buka suara. "Rora, lo jangan nyerang dulu. Dengerin dulu dong. Gue juga baru tau soal ini, oke? Tapi lo gak bisa ngomong seenaknya gitu ke Papah." Tapi hal itu malah membuat Aurora menatap kakaknya tajam. "Gue cuma ngomong apa yang gue rasain." "Kamu berlebihan rora," kata Papah, suaranya mulai penuh dengan penekanan juga tajam. "Kamu gak pernah kayak begini sebelumnya. Kamu itu anak yang penurut." Aurora berdiri. Kursinya bergeser keras ke belakang. "Ya itu masalahnya, Pah. Di kehidupan aku yang lama, aku emang terlalu penurut." Sementara sang mamah mulai tersentak kaget dengan perubahan putrinya. "Aurora, kamu ngomong apa sih?" Aurora menatap mereka semua satu per satu, dan untuk pertama kalinya dia tidak menunduk, tidak menahan diri, tidak pura-pura. "Aku gak mau nikah. Aku gak mau dijodohin. Aku gak mau jadi alat buat ngejaga bisnis keluarga. Kalau Papah tetep maksa, aku bakal nolak terus." Papahnya mulai berdiri, menahan emosi. "Aurora, kamu jangan bikin masalah seperti ini. Kamu itu anak Papah. Kamu harus ngerti posisi kamu." Aurora menghadapi Papah dari jarak kurang dari satu meter. "Aku ngerti posisi aku. Justru itu kenapa aku nolak. Aku gak mau hidup aku ditentukan tanpa nanya pendapat aku dulu." Luna berdiri juga, panik karena takut sang Papah tambah emosi. "Rora, lo udah ngomong kelewatan." Ujarnya dingin dan mengode adiknya untuk diam. Aurora menatap Luna dengan wajah sinis yang bercampur kesadaran dingin. "Lo tau gak Kak? Lo selalu dipilih. Lo selalu jadi pusat. Lo selalu jadi alasan gue harus ngalah. Gue suka kok kakak gue. Tapi gue capek jadi bayangannya." Luna membuka mulut, tapi gak ada kata yang keluar. Melihat itu Aurora kembali mendecih sinis. "Gak usah bertindak seolah dukung pertunangan ini, sebenarnya Lo kan yang mau Darren buat diri lo sendiri?!" Ujar Aurora dalam satu tarikan nafas. Suara gebrakan meja terdengar, "berhenti bikin opini yang nggak-nggak Rora! Gue udah cukup sabar yah sama kejadian kemarin!" Tapi Aurora tidak peduli, dia berbalik menatap aang Papah meminta jawaban. "Kalau emang mau perjodohan ini kenapa bukan kak Luna aja Pah? Dia yang mau nikah sama Darren, aku nggak!" "Gue yang dipilih jadi penerus perusahaan papah, lo nggak!" Luna bersuara dengan dingin yang sontak memperlihatkan kenyataan kepada Aurora. Papah akhirnya melontarkan kalimat yang menusuk. "Rora, berhenti ngomong kayak bukan kamu, kamu nggak biasanya kayak gini." Aurora balas dengan suara mantap. "Mungkin akhirnya, aku udah bisa jadi diri Rora sendiri, Pah." Ruangan mendadak sunyi. Suasana semakin dingin, bahkan tanpa perlu di pakai kan pendingin ruangan. Aurora mengambil napas panjang. Ia sadar kalau ia masih dipengaruhi oleh dendamnya di masa lalu. “Rora mau masuk kamar dulu buat pikirin keputusan Papah, sebelum itu, nggak ada perjodohan sama sekali.” Dia berbalik dan meninggalkan meja makan. Mamah mencoba memanggil namanya, tapi Aurora tidak menoleh. Langkahnya menggema di sepanjang tangga menuju kamarnya itu. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia berjalan dengan kepala tegak, bukan menunduk. Aurora masuk ke kamarnya, menutup pintu, tapi kali tanpa membanting. Dia duduk di lantai, memegangi d**a yang rasanya panas sekali. Dalam kepalanya, dia bisa melihat bayangan masa depan. Bagaimana semuanya hancur, bagaimana pernikahan paksa itu merusak semuanya, bagaimana dia kehilangan dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD