Misterius | Bab 5

1087 Words
Aurora berdiri lama di depan gerbang kampus. Tempat ini masih sama persis seperti empat tahun lalu, tapi anehnya terasa berbeda buat dia. Mungkin karena dia sudah melihat masa depan dan tahu betapa banyak hal yang berubah. Terlalu banyak. Ia menarik napas panjang lalu masuk. Baru beberapa langkah, suara cempreng yang sangat ia kenal meledak dari samping. “Roraaa! Eh sumpah itu lo kan?” Ara lari sambil nyodorin HP kayak lagi ngejar idolanya sendiri. Rambutnya diikat asal, kausnya kebesaran, tapi wajahnya cerah banget. Di belakangnya, Lena jalan santai, tangan masuk kantong celana, ekspresinya datar tapi matanya jelas ngelirik Aurora dengan cepat. Sedikit lebih cepat daripada biasanya. Aurora nyengir. “Masih pagi udah rese ya lo, Ra.” Ara nyengir lebar dan langsung melingkarin tangan di lengan Aurora. “Gue kira lo sakit. Kemarin gue ke rumah lo tapi kata Kak Luna lo habis jatoh dari sepeda. Lo tuh udah jarang naik sepeda, ngapa tiba-tiba naik sepeda gitu?" Aurora tersenyum sinis. “Lebay lo.” Lena berhenti tepat di depan mereka. “Lo nggak apa-apa?” tanyanya singkat, tapi pandangannya hati-hati. Aurora mengangguk. “Gue baik-baik aja.” Padahal kenyataannya, Aurora masih memiliki banyak kebingungan di kepalanya. Di masa depan Ara menghilang tiba-tiba tanpa jejak. Semua orang bilang dia cuti kuliah, tapi nyatanya… Ara nggak pernah balik. Tidak ada kabar. Tidak ada kontak. Tidak ada penjelasan. Aurora bahkan nggak tahu apa yang terjadi sama sahabatnya itu. Sementara Lena… Lena berubah total. Jadi ketua UKM basket yang ambisius, terjerat masalah internal di BEM sampai kelelahan, hingga akhirnya jadi mahasiswa abadi. Stress berat, jauh, dingin, lalu hubungan mereka putus begitu saja. Dan sekarang, mereka berdua berdiri tepat di depan Aurora. Masih utuh. Masih belum renggang. Aurora menunduk sebentar karena matanya panas. Ara langsung menyenggol. “Eh lo mau nangis? Woy jangan drama pagi-pagi.” Aurora buru-buru ketawa. “Nggak lah. Gue cuma… kangen aja.” Ara memelototkan mata. “Kangen? Kita ketemu tiap hari juga.” “Yaudah, gue kangen vibe kampusnya.” Aurora mengalihkan cepat. Mereka jalan bareng masuk gedung. Ara heboh cerita tentang dosen killer yang tiba-tiba jadi mellow. Lena sesekali nyeletuk dengan komentar pendek, bikin Ara ngomel balik. Aurora cuma ketawa. Suara tawa mereka membuat dadanya menghangat sekaligus ngilu. Di tengah obrolan, Lena tiba-tiba berhenti. “Ror, gue mau nanya sesuatu.” Aurora menoleh. “Apa?” Lena buka galeri HP dan menunjukkan foto. “Lo kenal cowok ini?” Aurora membeku. Di foto itu ada seorang cowok berdiri di depan rumah Aurora. Pake jaket hitam, topi nutupin sebagian wajah, posturnya tinggi. Cara berdiri, bahunya, siluet tubuhnya… amat sangat mirip Samuel. Ia merasa bahwa sosok laki-laki itu sangat persis dengan postur badan Kak Sam-nya. Ara mendekat. “Ih gila, serem amat. Kayak cowok stalker.” Lena mengangguk. “Gue ketemu tadi pagi jam enam pas lagi joging keliling kompleks. Dia berdiri lumayan lama. Gue sempet negur dia tapi setelah itu, dia langsung kabur.” Lena menatap Aurora dengan pandangan menyelidik. "Lo beneran nggak kena masalah sama salah satu cowo yang pernah nembak lo?" Aurora dengan buru-buru menggeleng. “Nggak! Gue nggak pernah interaksi sama mereka sekalipun.” Ara menatap Aurora tajam, curiga. “Lo yakin?” “Yakin,” jawab Aurora cepat agar kedua temannya yakin dengannya. Lena tudak berbicara apa-apa lagi, tapi sorot matanya berubah. Ada sesuatu yang diam-diam ia perhatikan dari tadi. Aurora pura-pura diam dan tidak tau, tapi raut wajahnya menunjukkan kalau ada sesuatu yang wanita itu sedang pikirkan. Dan benar, satu-satunya yang ada dipikiran Aurora hanya Samuel Kalau dia beneran Kak Sam, dia nggak mungkin bertingkah pengecut dengan lari pas Lena manggil, tapi kalau bukan kak Sam, terus siapa? Dan kenapa Aurora merasa mereka mirip banget? Aurora meremas tali tas ranselnya, ini bukan kebetulan. Wanita itu menghabiskan waktu di kampusnya dengan memikirkan perkataan Lena pagi tadi. Padahal ia rindu dengan suasana pembelajaran kampus, melukis, dan meneliti setiap karya yang dipamerkan. Hingga tanpa sadar, hari berlalu begitu saja. Aurora pulang dengan langkah pelan. Kepalanya penuh bayangan-bayangan masa depan: Ara yang hilang, Lena yang berubah, Samuel yang tiba-tiba muncul kembali setelah bertahun-tahun… dan cowok misterius di foto itu. Ia sampai di depan pagar rumah, memutar kunci grendel. “Rora.” Aurora kaget sampai melonjak sedikit. Ia cepat menoleh. Samuel berdiri di samping mobil tetangga. Tanpa topi, tanpa masker. Rambutnya sedikit berantakan. Nafasnya naik turun, seolah habis lari dari jauh. Matanya tajam, dengan menampilkan netra kekhawatiran di dalam sana. “Kak Sam, kamu ngapain? aku kaget banget kamu tiba-tiba muncul gitu,” Aurora mendekat sambil memegang dadanya. “aku kira maling.” Samuel tidak tertawa seperti biasanya. Ia malah mendekat. “aku nyariin kamu seharian.” suaranya serak, seperti habis nahan banyak hal. “kamu nggak apa-apa kan?” Aurora mengerutkan kening. “aku baik-baik aja kak, kak Sam kenapa keliatan panik gitu?” Samuel menatap Aurora lama, sangat lama. Seakan memastikan bahwa Aurora benar-benar berdiri di depannya. “Kak Sam,” Aurora menegur pelan. “Ngomong dong. Ada apa?” Samuel menelan ludah. “Tadi pagi… ada orang di depan rumah lo.” Aurora terpaku. “Ada apa sama orang itu?” tanya Aurora pelan, suara kecil. Samuel mendekat sedikit lagi. “Rora, dengerin aku baik-baik. Kamu jangan percaya siapa pun yang ada di rumah kamu sekarang.” Aurora merasakan bulu kuduknya naik. “Maksud Kak Sam apa? Aku nggak ngerti kak” bisiknya dengan suara yang mulai bergetar panik. Samuel menggeleng pelan, wajahnya tegang. “Aku nggak bisa jelasin sekarang. Tapi tolong, hati-hati. Jangan ceroboh kayak biasanya.” Nafas Aurora tercegat. Ia kebingungan setengah mati. Dugaannya salah, laki-laki itu bukan Kak Sam. Wanita itu pun berpikir dengan keras, ia mencoba mengingat setiap detail yang ada di kehidupan lamanya. Dan kejadian ini, belum terjadi sama sekali. Hingga suara Luna dari dalam rumah memecah kebingungan di antara mereka. “Rora! Masuk ke rumah sekarang! Inget, kamu tuh udah mau tunangan." Suara dingin yang menusuk. Pandangan Aurora kini beralih menatap sang kakak sambil menyelidik khawatir. Di kehidupan lamanya, ia mati konyol di tangan sang kakak dan tunangannya sendiri. Apa mungkin Luna mempercepat pergerakannya? Karena berapa kali pun Aurora mengingat, semua alur dari kehidupan lamanya sudah berbalik arah dan sudah tidak terjadi lagi hal yang sama. Bagaimana kalau di kehidupan barunya, ia malah mati lebih cepat? “Kabarin aku kalau ada apa-apa Ra, jangan sembunyiin apa pun dari aku." Samuel kembali berbisik agar percakapan keduanya tidak terdengar oleh Luna yang berdiri di depan pintu. Dalam pergerakan kecilnya, Samuel menyelipkan gulungan kertas kecil ke genggaman Aurora tanpa disadari oleh Luna. “Aku bakal lindungin kamu Ra, apapun yang terjadi."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD