putar balik

929 Words
Aku mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh namun di ujung persimpangan jalan menuju kota, aku menghentikan dan langsung memutar arah kembali ke lokasi acara pernikahan Mas Yadi. Ada rasa geram dan sebal yang menyeruak namun aku harus segera bertindak. Syiiit .... Mobik kurem mendadak dan aku langsung turun lagi dengan wajah dan penampilan yang tak lagi kupedulikan, tamu yang tersisa langsung kaget melihatku kembali. "Nah, ada apa lagi," gumam mereka. "Mas Yadi ... Mas Yadi ...." Aku berteriak, meski beberapa orang kampung mencegahku membuat keributan lebih jauh. "Mbak, sebaiknya Mbak jangan bikin keributan di kampung saya," ujar seorang pria yang berpakaian batik, dengan tubuh tinggi dan rahang tegas. Dia terlihat serius dengan ucapannya. Plak! Kutampar juga mulutnya hingga ia terkejut dan nyaris membalasku andai orang-orang gak memeganginya. "Ketua RT mana yang begitu sembarangan melangsungkan akad nikah warganya tanpa mencari tahu dulu latar belakang dan status si calon pengantin, kamu disogok berapa?!" teriakku dengan mata membeliak, wajahku panas seolan diletakkan bara api menyala. "Jangan kurang ajar ... Saya bisa lapor polisi!" "Lapor saja, saya ingin tahu laporan siapa yang diproses, kau tahu saya siapa, saya adalah ketua Persit di kota saya, dan kamu berani menikahkan suami saya yang jelas-jelas aturan pada pekerjaannya dia dilarang poligami, kamu mau saya laporkan juga? Hah!" Ketua RT itu langsung memundurkan diri. "Mas Yadi ... Mas Yadi ....." Pria yang kupanggil langsung bergegas keluar dan menemuiku. "Mana kartu kredit dan debit milikku?" "Lho itu kan kartuku?!" balasnya ragu. "Aku tak mau mengancammu, jadi mohon kembalikan dengan baik sekarang juga." Aku mengulurkan tangan. "Hei, kau sudah mengambil segalanya." Ia menolak. Lantas kubuka sepatu hak tinggi milikku lalu tanpa aba-aba lagi kulempar ke arah wajahnya, namun karena dia mengelak sepatu tersebut melayang mengenai jendela kaca dan tentu saja, Prang! pecah berkeping-keping. "Suamiku ...." Wanita jalang itu menjerit panik seolah hanya dia yang bersuamikan Mas Yadi. "Oh, jadi kau mengkhawatirkan suamimu, cepat sekali kau berani menyebutnya suamimu, tidak khawatirkah kalo-kalo suamimu hanya akan jadi suami satu malam saja." "Diam Sakinah, aku akan memukul mulutmu," ujar Mas Yadi yang siap memukulku. "Oh, kamu tidak ingat hukuman, tidak ingat rasa bogem mentah dan dinginnya penjara akibat pelanggaran yang kau lakukan? Atau haruskah aku melaporkan ini pada atasanmu sehingga kau dipecat dari korps-mu?" "Tutup mulutmu!" "Serahkan padaku atau sekarang juga aku akan meluncur ke Markas Komando Militer tempatmu bekerja dan akan kulaporkan kau atas tindak perzinahan?" "Diam, baik akan kukembalikan!" Dia mengeluarkan dompet dan secepat kilat kusambar dompet itu. Kuambil KTP miliknya dari dalam sana lalu keperlihatkan pada semua orang. "Lihat statusnya, dia suami orang, bukan duda atau lajang, dia suamiku! dan kau RT laknat dan semua aparat desa di sini akan aku laporkan ke pihak berwenang atas tuduhan pembiaran dan mendukung perzinahan." "Mereka 'kan menikah," sanggah RT yang kutampar tadi. "Nikah demi menghalalkan perzinahan mereka, lagipula aku tidak memberinya izin." "Sakinah, kau kasar sekali," geram Mas Yadi. "Kenapa memangnya? kau mau menghajarku?" Ibu-ibu yang punya suami di sini tak akan membiarkanmu, karena mereka bia membayangkan sakitnya dipoligami tanpa alasan, benar Ibu-ibu?" Mereka Emak-emak bergamis degan emas bergantung tebal di d**a dan tangan mereka, semua mengangguk dan mengangkat tangannya setuju. "Ini ambil KTPmu!" ujarku sambil melempar benda itu. "Dompetku?" "Di sini ada kartu anggota dan atm bank, aku tak akan membiarkanmu menyalah-gunakannya." "Kau keterlaluan ...." Dia maju dan terjadilah aksi tarik menarik dompet yang disaksikan banyak orang. Wanita jalang yang masih memakai kebaya dan konde itu berusaha menengahi dan mencegah aksi kami, namun ia terdorong olehku hingga terjerembab, dan dompet berhasil berpindah kembali ke tangan Mas Suryadi. Dia mengantongi dan segera membangunkan gundiknya. "Ayo Bangun Kartika," ajaknya setengah memeluk tubuh Kartika dan membuatku makin meradang tidak kepalang. "Baik, kau menolak, tapi kau tidak tahu jika aku bisa memblokir kartu itu," desisku. "Lakukan saja kalo kau punya cara.," tantangnya sambil berkacak pinggang yang membuatku langsung tertawa jahat. "Aku punya data dan berkas bank milikmu, aku juga mengendalikan transaksi akunmu dengan mobile banking, aku bisa menguncinya sekarang juga dan uang yang ada didalamnya akan pindah ke rekeningku, bodoh!" "Beraninya kamu ...," ujarnya ingin melayangkan tinju, namun diurungkannya, "aku akui kau pintar sakinah, karena itu, pergilah." Nada bicaranya melemah. "Tidak kau suruh pun, aku juga tidak tahan berada di sini! Menjijikkan kamun semua! dan kau pelakor laknat, mulai hari ini orang akan menertawai dan memandangmu sinis karena kau mencuri suami orang lain." "Pergilah, Sakinah!" usir Mas Yadi. "Baik, aku pergi, tapi besok tunggu surat pemanggilanmu, aku tak akan tinggal diam sebelum kau ditangani Oditurat di pengadilan militer." Aku melangkahkan kaki menyibak kasar kerumunan tetangga dan hadirin yang ingin tahu dan penasaran detail kejadian. Sebenarnya jiwaku gentar membuat kegaduhan di dusun orang, tapi seolah dipaku semua hadirin hanya terhenyak dengan kejadian cepat itu. Sedang aku, tak mampu kukendalikan emosi yang membara di d**a ini. Aku kesal, aku kecewa, aku marah, dan yang lebih membuatku marah adalah reaksi anak anak jika tahu ayah mereka menikah dengan tetangga miskin yag selalu mereka perhatikan anaknya. Wanita jalang itu, dia memang cantik meski usianya sudah tiga puluh lima, entah bagaimana ia menjerat suamiku? apakah dia memanfaatkan air mata dan keadaan lemahnya sebagai daya tarik atau bagaimana? Sejak kapan mereka berhubungan dan sudah sejauh apa? Aku harus menyelidiki semua itu. Kemudian aku bertanya-tanya dalam hati, kurangku apa? Aku juga cantik dan bertubuh indah sepertinya, aku juga sering olahraga dan perawatan. Anal-anak kuurus dengan baik juga. Apakah aroma rumput baru lebih menggugah dari pada rumput di kandang sendiri yang halal Apakah main sembunyi-sembunyi lebih nikmat karena memacu adrenalin dari pada mendatangi istri yang menunggu dengan setia? Kurang ajar! Tunggu esok aku akan melaporkan perbuatannya, dia harus memilih menceraikan Kartika atau kehilangan pekerjaannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD