*
Aku kembali ke rumah, ketika hari sudah mulai petang, anak-anak yang sedang duduk di ruang tv menikmati tayangan dari layar datar tersebut terlihat membalikkan badan ketika aku menutup pintu rumah.
"Mama, mama baru pulang ya?" tanya Siska padaku sambil berdiri dan menyambutku.
"Iya, sayang Mama buru pulang, capek banget," ujarku sambil menjatuhkan diri di sofa dekat mereka.
"Memangnya akhir-akhir ini Mama ngurusin apa sih? Mama kelihatan kurus dan mata Mama berkantung hitam, adakah hal yang serius yang sedang Mama pikirkan?" tanya si Kakak menimpali ucapan adiknya.
"Iya, ada hal serius, dan ini beneran serius."
"Apaan, Ma?" Si Adik lebih penasaran sekarang.
"Mama ingin bicara, tapi mama mohon kalian untuk mengendalikan diri agar hal ini bisa diselesaikan dengan kepala dingin," pintaku berhati-hati.
"Apa Ma? Ayo dong, kita bakal mati penasaran kalo gini," kata Siska tak sabar.
"Sebenarnya Papa diam-diam menikah lagi," kataku lirih.
"Apa?!" Kedua anakku terbelalak dan menyebut itu hampir bersamaan.
"Enggak, enggak, enggak mungkin, masa Papa tega ngelakuin itu, pada Mama dan kita, gak mungkin!" Siska menggeleng pelan.
"Tenang dulu, dek," kata Imelda menarik adiknya duduk di kursi.
"Ya, papa sudah nikah lagi," tegasku.
"Sama siapa, Ma? Kok kita gak pernah curiga atau tahu ya?" Imelda tak habis pikir.
"Sama Tante Kartika, wanita yang dulu pernah jadi tukang cuci di rumah lama kita, sebelum pindah ke rumah dinas ini," kataku.
"Ta-tapi ... yang benar aja, Ma? Wanita itu bukannya adalah teman Mama?"
"Bahkan Mama menganggapnya bagai saudara oleh rasa iba dan perhatian mama yabg berlebihan, lihat apa yang terjadi," ujarku sambil membuang napas.
"I-ini bukan hal yang bisa kuterima dengan mudah, Ma," desis Siska sambil menahan air mata. " Kita gak boleh percaya kalo gak ada bukti," ujarnya.
Kukeluarkan ponsel dari dalam tas dan memperlihatkan foto demi foto juga video, bahakn kutunjukkan juga bekas cakaran tangan Kartika di lenganku tempo hari ketika kami bergelut di kamar. Anakku terpana menatapnya, bahkan mendadak si Bungsu yang tadinya mellow seketika terlihat gusar.
"Iya, aku ingat, kemarin si Bibi sempat membuang pecahan perabot dari kamar Mama, jadi benar ya, Mama bergelut di kamar?" tanya Imelda.
"Iya, Nak."
"Ya Allah, Mama, pasti mama sangat sedih menanggungnya sendiri, maafkan kami ya A, yang kurang peka." Anak sulungku memang lebih dewasa dan bijak menagggapi kabar ini, sedang si bungsu menangis tak percaya.
"Siska, Imel, Mama tak mau banyak cerita tentang kejadian ini, mama hanya ingin tahu pendapat kalian saja, apa yang harus mama lakukan?"
Kedua anakku saling menatap dan menelan ludah, mereka terdiam dan menunduk. Aku tahu, begitu banyak pukulan dan rasa sakit yag diderakan Mas Yadi padaku, dan akuntak ceritakan pada mereka, aku tak mau merubah sudut pandang anak dengan lukaku, juga, aku tak mau terkesan mendoktrin akal mereka untuk membenci Papa mereka. Biarlah mereka berikan penilaian sendiri.
"Ini sudah berlangsung lama, kenapa Mama diam aja?"
"Mama hanya tak ingin mengganggu fokus kalian pada sekolah," balasku.
"Andai Mama beritahu, kami pasti bantu Mama,", ujar Imelda.
"Justru itu yang Mama takutkan, kalian masih muda, dan berhadapan dengan Papa akan berbahaya, apalagi jika kita menentang keinginannya."
"Jadi lebam di wajah Mama juga bekas papa? Bukan karena mama kejedot pintu seperti kata mama kemarin?" cecar si bungsu.
"Iya," jawabku sambil mengangguk.
"Astaghfirullah, Papa." Kedua anakku mengelus d**a mereka tanda syok.
"Terus, sekarang Papa di mana?"
"Di tahanan kodim," jawabku.
"Di penjara?!" si bungsu membulatkan mata.
"Habis dia diperingatkan gak diindahkan, dan puncak kejadian hari ini ketika dia ketemuan di butik dengan calon istri barunya dan dia dikeroyok ibu-ibu di sana."
"Astaghfirullah, kok gitu amat ya, Ma?" si Kakak mengernyit sambil memijit keningnya.
"Kartika itu tinggal di mana?" Aku tahu arah pertanyaan si bungsu, raut wajahnya menegang dan kedua tangannya mencengkeram kuat, gesturnya mirip Mas Yadi ketika marah.
"Gak usah sayang, biar ini jadi urusan orang dewasa aja."
"Lho, kami juga udah besar, Ma, bentar lagi bisa bikin KTP, apa kita gak boleh juga turun tangan atas masalah keluarga kami?" sela si Bungsu.
"Mama tahu kamu marah, tapi jika kita memperkeruh suasana sekarang, justru kita tak akan diuntungkan," ujarku.
"Jadi ceritanya Mama mau main cantik? Apa coba yang bisa mama lakukan," tantang Siska sambil berkacak pinggang dan kesal.
"Pasti ada cara untuk membuat mereka jera," jawabku.
"Aku akan menuntut agar Papa dipecat saja," ujar Imelda.
"Kalo dipecat, otomatis kehidupan kalian berubah," balasku pelan.
"Ah, kepalang tanggung juga, Ma, Papa juga lagi dibutakan wanita itu, artinya peluang buat Mama rujuk akan sulit, kecuali jika atasan Papa menekan," ujar si Kakak.
"Entah apa yang terjadi sama, Papa, pasti setiap kali ada anggota yang masuk ke selnya, Papa akan dipukuli," gumam Siska menerawang.
"Itu sudah konsekwensinya, makanya, seharusnya Papa itu bijak, jangan karena udah berduit dan dihormati banyak orang, Papa jadi berbuat semaunya," kata Imel.
"Seharusnya kita bantu keluarga kita tetap utuh, Imel, tadinya aku memang mau ... tapi semua hal yang kita lakukan akan salah di mata Papa." Siska menghela napas pelan lalu menjatuhkan kepalanya di senderan kursi.
Asisten rumah tangga kami datang mendekat dan mempersilakan kami makan.
"Nyonya, Mbak Imel, Mbak, Siska, Makanannya udah siap, makan malam dulu," ujar si Bibi.
"Bibi aja yang makan deh, kami mendadak gak selera."
"Lho kok?" Aku terheran pada anakku.
"Seharusnya Mama membeditahu kami habis makan, bukan sebelumnya, jadi gini kan?" Si bungsu merutuk kesal.
"Iya deh, Mama minta maaf, tapi meski begitu kalian harus tetap makan," ujarku.
Kedua anakku hanya menerawang dengan tatapan lesu.
Lama kami duduk di ruang tamu dalam diam hingga tiba-tiba pintu rumah diketuk kasar, dan karena tersentak kaget kami bertiga sempat saling pandang dan akhirnya si Kakak berinisiatif membuka pintu.
"Mana ... mana Mama kamu?"
Seorang wanita berteriak dan merangsek ke ruang tamu, menabrak anak sulungku.
"Aih, kami pela**r? Apa lagi? Apa yang kamu cari?"
"Tanda tangan ini dan lepaskan Mas Yadi," ujarnya sambil melempar kertas yang entah kertas apa.
Aku memungutnya di meja lalu dengan membaca kop suratnya saja aku sudah mafhum kalo w***********g satu ini ingin aku menggugat cerai pada Papa kedua anakku.
"Oh, kamu ingin saya menggugat cerai suami sendiri?"
"Apa? Benaran Ma?" Kedua anakku menghambur dan merebut kertas itu dariku.
"Ini keputusan Mas Yadi untuk menceraikan kamu, Sakinah, jadi tanda tangan segera!" perintahnya tanpa sopan santun.
"Tikus kecil ini berani menggertakku?" geramku.
"Jika kamu berusaha sekuat tenaga untuk bertahan hidup, kau pikir apa yang sedang kulakukan sekarang, lagipula mas Yadi memilihku," jawabnya dengan angkuh.
"Hei, kau belum kapok kuhajar, hah?!". Aku mulai mendekatinya.
"Jangan Ma, bisa jadi dia bawa kamera tersembunyi atau perekam," bisik si Kakak sambil menahan lenganku.
"Kalo begitu kita telanjangi dia, suruh siapa mengantar nyawa ke mulut harimau," ujarku sambil tersenyum jahat.
"Kalo kau berani menyentuhku, aku akan teriak panggil tetangga dan menuntut kalian atas p**********n berat," ancamnya setengah mundur.
"Halah, bacot lu gede!" tiba-tiba si Bungsu maju dan langsung menyambar rambut wanita itu. Terjadi adegan tarik menarik rambut dan aku berusaha melerainya, aku khawatir Siska akan kesakitan.
"Lepaskan aku bocah tengil!" desis Kartika yang terdorong dan menabrak apa aja.
"Tidak akan, wanita iblis, berani sekali kau merebut papaku," jerit Siska mendesak tubuh Kartika ke bufet.
Kami berempat berjibaku untuk saling memisahkan, namun entah mengapa tiba-tiba Kartika mengambil sebuah vas bunga dan melayangkannya ke arah Siska, namun dengan cepat Imel mendorong adiknya sehingga dia terkena Vas bunga besar tersebut.
Prang!
Kami semua terkesiap, sepersekian detik aku terpana dan hal pertama yang kucemaskan ketika kesadaranku kembali adalah apakah pecahan itu mengenai kepala anakku atau tidak.
"Imel!" Kami bedua menghambur dan mencoba membangunkan Imel. Anakku kesakitan dan terhuyung-huyung ketika aku membangunkan dan mendudukkan di kursi.
"Kau keterlaluan, Kartika, beraninya kau melakukan itu kepada anakku," geramku sambil melirik kepada s*****a angin yang menggantung di dinding atau kepada pisau ML milik suamiku yang sedang terpajang di sebuah etalase khusus di ruang tamu rumah kami.
wanita yang ku ajak bicara itu hanya bergeming sambil menatap nanar kepada kami bertiga.
Si bungsu menangis berusaha menyadarkan kakaknya sedang seluruh lamat-lamat seolah tak kuasa membuka kelopak matanya.
"Kakak ... bangun ... Bibi," panggil anakku panik.
Aku dan Kartika bersitatap dengan sorot saling benci dan penuh dendam kesumat, kami saling melirik dan melirik pisau itu bergantian, hingga tanpa aba-aba lagi kami langsung bergerak ke arah yang sama.
Gubrak!
Tahan!