bertengkar di mobil

1426 Words
"Turunkan aku di tepi jalan saja, Mas," pinta Kartika kepada Mas Yadi. "Aku nggak mau turunkan kamu di sembarangan tempat, setelah Hendra mengantarkan kami, kamu bisa diantar pulang," kata Mas Yadi sambil menggenggam tangannya. Kira-kira jika wanita lain ada di posisiku, menatap suami mereka duduk dekat dan berpegangan tangan, apa yang akan terjadi. "Enak aja, nggak bisa Mas, si Om harus menjemput anak-anak ke sekolahnya," balasku menyela percakapan Mas Yadi. "Kamu terus menerus menyela, Sakinah," ucap Mas Yadi sewot. "Apa kalian saja yang boleh bicara dan aku tidak boleh?!" balasku sengit membuat ajudan kami hanya menggelengkan kepala saja. "Bukan begitu Sakinah, kamu sudah tahu aku tidak mungkin membawa Kartika ke markas." "Kenapa? Mas takut? Mas khawatir akan ditampar oleh Komandan, sebegitu pengecutkah?" Aku sinis dan tertawa. "Entah kenapa mulutmu begitu kasar, Sakinah." ia menunjukkan wajah tak suka. "Ya ampun, kamu mengomentari kata-kataku sementara aksimu yang memalukan itu, kau tunjukkan dengan terang-terangan?!" "Itu buka urusanmu!" "Jelas urusanku, kau suamiku, jangan bodoh kamu, Mas, kamu membela wanita yang baru kau kenal." "Aku memutuskan memilihnya jadi istri karena aku merasa yakin," jawabnya. "Lalu aku? Kau meragukanku? Setelah 17 tahun kau meragukanku, aku ingin lihat berapa tahun kau bertahan dengan gembel itu." "Jangan menantangku, kau bisa kutinggalkan," ujarnya berteriak. "Cukup, Pak, Bu, kita sudah dekat, dan saya mohon, supaya kalian berhenti saling meneriaki," ujar Hendra memberi nasihat. "Wanita itu yang harus diam!" "Kita lihat, siapa yang menang di dalam sana Mas, aku ingin tahu, kau bisa bertahan seperti apa melindungi wanita itu," gumamku. "Diam kamu!" dia meninju jok depan di mana aku duduk sedang aku hanya tertawa. *. Mobil berhenti di lobby utama, Mas Yadi bersiap turun setelah menyuruh Kartika menunggu di mobil saja. "Kartika, kamu di sini saja, jangan menyusul nanti jadi masalah," kata Mas Yadi, sambil keluar dari mobil. "Ayo, Bu, Anda juga dipanggil," ajak Hendra yang membuka pintu dan mempersilakan aku turun. "Kartika, kau bisa lihat kan? bedanya aku dan dirimu? Jadi katakan, seberapa unggul kamu untuk merebut posisiku?" kataku sambil tertawa sedang wanita munafik itu wajahnya menjadi merah padam karena tersinggung. "Jangan sombong, kau bisa kehilangan segalanya," desisnya. "Wanita yang dulu, mengiba belas kasih kini merebut suamiku, kau pikir akan bahagia setelahnya?' Aku melenggang pergi menyusul Mas Yadi yang sudah lebih dulu masuk ke ruangan tempat komandan menunggu. Sesampainya di sana aku hanya bisa terpana melihat apa yang terjadi, wajah sang Danrem terlihat amat murka, dia menampar wajah Mas Yadi dengan sangat keras. Plak! "Jadi sungguh, semuanya yang terjadi ini?!" teriaknya. "Enggak, pak, Ini hanya ...." Gubrak! dia menendang meja lantas melayangkan bogem mentah ke wajah suamiku hingga tersungkur. "Jangan bohong!" desis Pak komandan, "Beraninya kamu, dengan pakaian seragam itu menemani wanita lain ke butik, lalu disergap banyak orang, dan dikeroyok, memalukan!" Pak Danrem sangat murka hingga meninju meja dengan cengkeraman tangan sendiri. "Maafkan saya, Pak ....." "Maaf, katamu?" Bugh! Satu bogem lagi di mulutnya dan bibir Mas Yadi langsung berdarah. Suamiku lalu menyeka darah dari mulutnya dengan tangan. "Benar, kamu hanya nikah siri atau masih pacaran?" tanya komandan itu lagi. "Nikah, Pak." "Buat apa nikah lagi." "Buat membina keluarga baru! Maaf, Pak!" Plak! "Beraninya kamu mencoreng noda di-korps kita, lagipula seperti apa wanita yang sudah menggodamu dan merenggut akal sehatmu itu?!" teriak komandan. "Ijin menjawab, Pak, Wanita itu ada di mobil," ujarku segera. "Di markas ini?!" pak Danrem membeliak dan wajahnya sangat angker melebih wajah Mayjen Haryoto. "I-iya Pak," cicitku takut. "Keterlaluan." Brak! Satu tendangan lagi dan Mas Yadi terhuyung-huyung mendapat hantaman di dadanya dari komandan. Bibirnya juga berdarah serta wajahnya benjol dan lebam, Mas Yadi terkapar dan kesulitan untuk bangkit. "Dan kamu ...." Kali ini pria seram itu mengarahkan matanya padaku. "Iy-iya , Pak," jawabku gemetar dan pria itu mulai mendekatiku. "Nyali kamu cukup besar hingga langsung 'melompati pagar' ke Markas Kodam, kamu tidak Konsul dulu dengan sayabatau istri saya, beraninya kamu!" sungutnya. "Maafkan saya, saya merasa putus asa, saya kesana agar proses, Mas Yadi berjalan cepat maafkan saya, Pak," ungkapku pelan. "Berjalan cepat apanya? kami juga butuh waktu untuk memeriksa dan menyidik, kami juga harus berkoordinasi dengan atasan dan oditur, kamu pikir semuanya bisa diputuskan dalam satu hari?" "Siap, maafkan saya, Pak Komandan." "Petugas! Tolong bawa Letkol Suryadi ke sel, dan Anda bisa pulang ke rumah, sembari menunggu persidangan," perintahnya. "Siap, Komandan," jawabku. "Oh ya ...." Dia menahan langkahku, " mana wanita yang katanya istri kedua, Suryadi?" "Ada di depan, di mobil." "Bawakan dia padaku?" ujarnya dengan dingin. Baiklah, akan aku panggilkan si jalang, sehingga aku bisa pulang dan tidak perlu semobil dengannya. "Komandan ingin menemuimu," kataku ketika membuka pintu mobil dan menyuruhnya keluar Wanita bodoh yang ada di depanku itu tersenyum lalu membenahi blazernya dan turun dengan penuh percaya diri. "Kamu mungkin berpikir aku akan dimarahi, tapi kita lihat saja ... mungkin takdir berbalik dan berubah seketika, komandan itu bisa jadi malah akan menikahkanku dengan Mas Yadi." Dia berkata dengan santai. "Silakan bermimpi," jawabku sambil tertawa sedang ia melenggang dengan langkah pelan karena tingginya sepatu yang dia gunakan, cara jalannya terseok-seok, tampak sekali bagaimana ia berusaha keras untuk meniru gayaku. Ah, aku penasaran, kenapa aku tidak menguping saja, tidak perlu dari depan karena banyak tugas yang mengawal, sebaiknya aku lewat tembok belakang. Kucari bagian belakang ruangan, Kupanjat dinding setinggi setengah meter lalu mencoba mencuri tahu apa yang mereka bahas di balik jendela kaca ini. "Bagaimana, apa benar kamu istri kedua?" Komandan itu mengitari Kartika sedang wanita itu nampak ketakutan. "I-iya Pak," jawabnya. "Saya tidak bisa melepas Yadi, karena apa yang dia lakukan adalah pelanggaran, saya dengar kamu tidak punya rumah di kota ini pindah dari satu kos ke kos lain tanpa arah, kamu mau saya bantu?" Kartika langsung mendongak dan menggangguk pelan mendapat tawaran dari pria yang berpangkat itu. "Kamu bisa ikut pulang ke rumah saya, berhari-hari sementara menunggu yadi, kebetulan istri saya tidak ada sedang di luar kota dan saya pun penasaran seperti apa kamu melayani Suryadi," ujarnya dengan tangan yang ia letakkan di bahu Kartika lalu perlahan sentuhan turun hingga ke punggung dan selesai, ia berlalu dengan wajah penuh dengan aura jahat sembari menyeringai. "Ti-dak usah, sa-saya akan menunggu suami saya di mana saja, Pak," cicitnya pelan dan terlihat sekali raut ketakutan. "Saya bisa berikan dia ganjarang yang mudah, bisa berupa yang penjara beberapa hari, penangguhan kenaikan pangkat atau diturunkan jabatannya tanpa harus dipecat. Tapi semua tergantung kamu," bisiknya pelan membuat raut maduku pucat pasi tak karuan. Ia mundur, menjauh dari Danrem. "Kenapa? takut? jadi pencuri suami dan dikeroyok orang kamu gak takut," ejek Bapak itu. "Maafkan saya ...." Kartika menunduk sambil meneteskan air mata. "Maaf, kenapa? Kamu gak salah apa-apa sama saya, salah kamu pada istri Dandim itu, kamu harus minta ampun sama dia," cecar Bapak itu kasar. "I-iya, Maaf Pak." Kartika mundur dengan takut. Tentu, baik aku maupun Kartika sangat terkejut dengan apa yang diucapkan Bapak itu barusan, boleh-boleh saja dia memberi sanksi dan hukuman pada suami kami, atau meski Kartika, w***********g, haruskah dia bersikap melecehkan seperti itu? Meski tidak ada orang lain di sana, dan hanya mereka berdua saja. Beberapa saat kemudian pria dengan tubuh tinggi besar dan mengenakan Baret hijau, serta sepatu kokoh yang menggetarkan lantai mendekat lalu mencengkeram dagu Kartika, hingga wanita itu terlihat gelagapan. "Wanita-wanita sepertimu ini yang jadi racun dan mencoreng noda di kesatuan kami, gara-gara kamu, saya di marahi atasan dan dipermalukan di rapat, enyah kamu! enyah dari hidup semua orang," teriaknya sambil mendorong Kartika hingga terhempas dan jatuh. "Saya tidak bermaksud mengganggu Bapak," ujarnya gugup dengan mata berderai. "Kamu gak mikir, dan asal jalin hubungan aja dengan sembarang orang, apa yang kamu lakukan ini, adalah bola panas yang menggelinding dan menghanguskan semuanya, kamu mundur dari bawahan saya atau saya tahan kamu?!" "Iya, Pak ..." Wanita itu menangis dalam posisi terduduk tak berdaya di lantai. "Dan ya, secantik apa kamu, kalo kamu hanya jadi perusak kamu akan dibenci seluruh dunia, ucapan saya yang tadi jangan kamu ambil hati, saya.hanya mengujimu!" Dengan berakhirnya kalimat kemarahan Pak danrem, pintu ruangan di buka dan anggota masuk, mengambil wanita itu. Akupun segera turun dari persembunyian di tembok belakang dan merasa sudah cukup dengan apa yang kulihat saja. Kembali ke depan dan berpapasan lagi dengan komandan angker itu. "Saya izin, pulang ya, Pak," ujarku pada Pak Danrem di depan ruangannya ketika dia hendak pergi. "Ibu belum pulang dari tadi?" tanyanya dengan nada tegas. "Ta-tadi saya numpang ke kamar kecil, Pak." "Baik, silakan pulang dan tunggu perkembangan suami Ibu di rumah." "Siap, Pak." Mobil meluncur mengantarku dari markas itu, aku agak khawatir namun aku tepis karena tidak ada artinya aku menyimpan cemas. Kartika akan pulang juga dan Mas Yadi akan menjalani hukuman sementara hingga sidang militer digelar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD