Meluncur diantar ajudan Mas Yadi kembali dari rumah Ibu Danrem, kabarnya Mad Yadi sedang interogasi jadi kurasa hari ini dia tidak akan pulang.
Mobil berjalan di lajur kiri dengan mulus, sedang aku menyandar di jok belakang sambil menerawang, hingga mobil kami berhenti di perempatan karena lampu merah.
Suasana kota di siang hari sangat ramai, bunyi klakson kendaraan yang menumpuk di belakangku menyentakkan lamunan, hingga kusadari di sebelah kiri ada butik khusus yang menjual baju pegantin dengan display gaun gaun cantik yang indah dipandang.
"Kelak jika Imel atau Siska menikah, aku akan mengajak mereka kemari untuk mengepas baju pengantin," gumamku dalam hati sambil tersenyum kecil.
Namun baru saja bergumam demikian, tiba tiba aku melihat si jalang, ya Kartika!
Dia mengenakan blazer warna ungu dan rok yang membuatnya terlihat bagai Nyonya, sebuah topi bundar dengan pita menghias di kepala dan sepatu heels yang kutaksir dari brand ternama ia kenakan melengkapi penampilannya.
"Astaghfirullah, dia bukan saja merebut suamiku, tapi juga menjiplak gayaku. Tampaknya ia berusaha keras untuk menyetarakan diri sebagai istri Mas Yadi, harus kusebut apa wanita v****r satu ini? kurang ajar!" Aku kesal hingga kusuruh Kopral Hendra untuk menepikan mobil.
"Tunggu saya di sini, ya," ujarku.
Dengan langkah hati-hati aku mengikuti jejak Kartika dan masuk ke dalam butik. sembari pura pura melihat-lihat gaun, aku memindai apa yang sedang dilakukan si Jalang di sini, namun dia tak kelihatan. Nampaknya di masuk ke ruangan fitting bagian dalam, sehingga aku pun harus menyusul.
Baru saja sampai di ambang pintu, kulihat si gembel yang pernah mengemis beras padaku itu sedang berjalan ke arah cermin dan mengenakan sebuah gaun model putri duyung dengan ekor yang panjang. Senyumnya bahagia, dan kulihat sesekali ia menyeka air mata di sudut matanya.
Ketika konsultan gaun membuka tirai alangkah terkejutnya diri ini, karena Mas Yadi sedang duduk santai di sofa dan memperhatikan gundiknya sedang mengepas gaun dengan tatapan kagum sekaligus nakal.
"Kamu cantik, Sayang," ujarnya.
"Iya, Mas, aku bahagia sekali, makasih ya, Mas. Aku gak nyangka kamulah orangnya yang mewujudkan pernikahan impian untukku," balasnya.
Tak lama kemudian Mas Yadi maju, dan memeluk wanita itu lalu mendaratkan sebuah kecupan mesra, "Selamat ya," katanya dengan penuh cinta.
Tungkaiku sampai gemetar dengan pemandangan di depan, dadaku panas, emosiku perlahan memuncak dan menggelegak, bahkan saking gak tertahan air mataku meluncur, aku murka! tampaknya sikap Mas Yadi sungguh menguji kesabaran dan emosiku.
Tunggu, aku memang akan melabraknya, namun biarkan mereka menikmati momen romantisnya.
"Kalian terlihat amat cocok," ujar wanita berseragam hitam dengan ikat pinggang merah sambil tersenyum.
"Terima kasih, Mbak, sudah membantu memilihkan gaun untuk calon istriku," katanya pada sang penjual.
"Sama-sama. Apakah selanjutnya saya bisa memilihkan cadar pengantin untuk calon istri Anda, Pak?"
"Tentu, silakan, bawakan cadar terbaik untuk wanitaku," jawabnya dengan penuh semangat.
Cih, wanitanya? Menjijikkan! lalu aku apa baginya, sampah?
"Mbak, lagi ngapain?" Seseorang menepuk bahuku, dari belakang dan membuatku tersentak.
"Ga lagi apa-apa," jawabku sambil tersenyum.
Tak lama kemudian asisten toko membawakan cadar dan Mas Yadi sendiri yang memakaikan tiaranya, dengan penuh cinta di puncak kepala si pelakor.
"Dasar tua Bangka! dia tak ingat apa yang akan terjadi pada anaknya, atau apa komentar dan penilaian orang pada tingkahnya?" Dadaku kian bergemuruh dan aku tak tahan lagi.
"Suamiku ...." Aku memanggilnya dengan lantang.
Tentu saja panggilanku membuat semua orang menoleh pada Kartika dan Mas Yadi.
"Apa yang kamu lakukan di sini? bukannya kamu harus memenuhi panggilan atasan?" tanyaku sambil tersenyum dan tetap berusaha menahan diri.
"Dalam situasi genting ini, sempat-sempatnya kamu menyiapkan pernikahan padahal hukuman dan tuntutan sudah menunggu di markasmu," lanjutku dengan santai, tentu saja orang yang mendengarnya lantas mendekat dan memusatkan perhatian kepada kami.
"Masa sih tentara bisa beristri dua," gumam seseorang di belakangku.
"Apakah mereka mau nikah diam-diam, ih suaminya kegatalan," seru Ibu yang lain.
"Memangnya dia itu pelakor ya, Mbak?" tanya seorang ibu kepadaku.
"Dia bukan saja merebut suamiku, tapi juga mencuri masa depan anakku, dan ... seperti inilah aku tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali bertahan demi masa depan anak-anak," jawabku sambil menyeka air mata.
Tentu saja aku sedang berpura-pura, mungkin playing victim adalah kesempatan yang bagus untuk membuat wanita itu dipermalukan di tempat ini.
"Wah kurang ajar, kamu!" dengan seorang ibu sambil menunjuk-nunjuk wajah Kartika.
"Duh, ada pelakor di sini, enggak tahu malu banget ya," timpal yang lain.
Tentu, raut wajah Kartika berubah menjadi pucat, Mas Yadi juga gugup karena sebagian pengunjung yang lain mengeluarkan ponsel dan memphoto adegan menarik ini.
Kali ini mereka akan viral di sosmed,video yang dibagikan akan menjadi bola api panas yang akan melahap reputasi dan karir Mas Yadi.
"Tenang kalian semua, ini bukan urusan kalian," ujar Mas Yadi sambil berusaha melindungi Kartika.
"Eh Bapak, Bapak demam ya, jelas-jelas istri bapak sangat cantik dibandingkan wanita yang sedang Bapak peluk itu, istri Bapak mirip Rika Rachim kok di samakan dengan kuntilanak," ujar seorang Ibu yang tadinya sedang memilihkan pakaian pengantin untuk anaknya, dan kini dia sewot dengan sikap suamiku.
Kupikir semua wanita di dunia ini tidak ada yang akan menyukai isu orang ketiga. mempermalukan pelakor adalah bentuk solidaritas yang unik di antara wanita, dan itu terjadi di semua tempat.
"Jaga ucapan Ibu, ya ...." Ucap Mas yadi sambil menunjuk wanita itu.
"Kenapa? Bapak mau laporkan saya, atau mau tangkap saya langsung?!" Wanita terlihat berkacak pinggang dan sangat murka melebihi kemurkaanku.
"Laki-laki tidak tahu diri kamu ya, tega-teganya kamu fitting baju pengantin dan istri kamu melihat semuanya," timpal yang lain dengan nada tinggi.
"Ini bukan urusan kalian, ya," balas Mas Yadi yang kemudian meraih tangan Kartika dan mengajaknya pergi.
"Heh, mau kemana?" Ibu-ibu menghadang Mas Yadi dan simpanannya.
"Kamu itu seharusnya mengantar istrimu, bukan wanita lain, kamu mau kami viralkan sekarang?" ancam Ibu tadi sambil mengangkat hp.
"Berani sekali ...." Mas Yadi menggeram.
"Lihat kasihan istrinya, hanya berlinang air mata," ujar Ibu lain yang menatapku kuyu di pojokan padahal aku tetap bersandiwara.
"Iya, huuuuhh ... gemas," seorang wanita menarik rambut Kartika, yang lain pun ikut maju dan mencubit.
Mas Yadi tentu gelagapan dengan situasi demikian, ia meraih ponsel di kantong celananya untuk menghubungi ajudan dan menyuruhnya datang, di antara aksi tarik menarik, keroyokan dan kerusuhan yang sulit dihindarkan itu, aku tertawa jahat di dalam hati.
"Sudah cukup semuanya ...." suara Mas Yadi timbul tenggelam, untungnya aksi memukul ramai-ramai itu, tersebut tidak merusak apapun di dalam toko karena tempatnya luas dan pakaian di pajang di pinggir, di dalam etalase.
Tak lama Hendra masuk dan berusaha mengeluarkan Kartika dari sana. Mas Yadi bergerak cepat sementara Ibu-ibu mengejar dan menyorakinya.
"Ada pelakor ... huuuuh ada pelakor," sorak mereka hingga jarak mereka agak berjauhan.
Kususul dengan langkah santai, setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih pada kaum ibu-ibu yang emosi, aku juga mengucapkan 'maaf' pada pegawai butik yang kelabakan dengan aksi yang hampir merusak segalanya.
"Maafkan saya, ya, ini bentuk permintaan maaf saya," kuserahkan amplop putih berisi uang pada asisten toko lalu segera menyusul Mas Yadi.
Mereka masuk ke mobil yang kutumpangi ke rumah ibu Danrem tadi dengan panik dan buru-buru.
"Antarkan saya pulang," ujar Mas Yadi di jok belakang, wajah wanita di sampingnya itu berdarah dan lebam oleh pukulan dan cakaran.
"Tidak bisa! saya pun harus pulang," selaku yang langsung duduk di jok depan.
"Kamu keterlaluan, kamu ingin saya dibunuh massa?"
"Mereka gak ramai kok, Mas, hanya belasan orang," jawabku santai.
"Ayo meluncur, ibu-ibu itu mulai mendekat lagi," kata Mas Yadi panik.
"Mas ... aku takut," cicit si jalang sambil mencengkeram lengan suamiku.
Aku tertawa sinis melihatnya, untuk sedih rasanya hati ini sudah terlalu kebas, air mataku juga kering harus menelan pahit kecemburuan, dan segalanya tidak tersisa lagi. Bahkan yag tersisa di lubuk hati terdalam hanya kebencian saja.
"Oh, ya Pak, Bapak dan Ibu dipanggil sekarang juga, ke markas?" Mobil perlahan bergerak ke arah lokasi yang dimaksud.
"Apa?! kami semua?! Tidak mungkin!" teriak Mas Yadi.
"Kenapa? Kamu gak berani Mas?!" Aku menatapnya dari kaca depan sambil tertawa.
"Beraninya kamu ... Ini pasti karena ulahmu memprovokasi banyak orang sehingga kejadian ini langsung ramai dalam waktu sepuluh menit," cecar Mas Yadi geram.
"Aku takut, Mas," ratap Kartika bersembunyi di balik bahu Mas Yadi.
"Kita harus berangkat, Pak, Komandan menunggu di Kodim," seru ajudan Hendra.
"Ya sudah, jalanlah!" Mas Yadi tidak punya pilihan sekarang.
Tampak dari raut wajah suamiku bahwa kiamatnya sudah dekat, aku akan merayakannya sekarang, di perjalanan ini.