Pagi sekali aku mendapat kabar bahwa Ibu atasan sangat kesal, dan dia memanggilku,
"Kenapa? apakah karena aku tidak berkunsultasi dengannya dan langsung ke Pangdam sehingga dia dan suaminya kesal?
Aku yakin Bapak Pangdam telah menegur mereka, dan mereka kesal karena di pertanyakan tanggung jawabnya pada bawahan?" batinku berfikir
Dia menelepon membuatku cukup gugup untuk menggeser tombol hijau dan menjawab. Beliau tumben tidak seramah biasanya, intonasinya terdengar dingin dan seram.
"Halo, assalamualaikum, Ibu," sapaku perlahan.
"Walaikum salam."
"Apa kabar Ibu?"
"Saya baik, saya ingin tanya sesuatu sama Adik, tapi saya akan menunggu adik datang ke rumah saja," ujarnya.
"Ya, Bu, izin untuk bisa menemui Ibu besok ya," pintaku.
"Saya saya tunggu pukul sembilan pagi."
*
Baru saja kututup ponsel tiba tiba mobil Pajero milik Mas Yadi berhenti di depan rumah. Mesin dimatikan dan pria yang kini kubenci itu masuk ke dalam rumah.
"Senang kan? aku harus disudutkan karena video yang kamu kirimkan, aku juga akan menemui polisi militer siang ini, entah apa yang akan terjadi ... jika aku dipecat otomatis yang sengsara bukan aku saja, tapi juga kalian!" Ia mendengkus sebal, mendelik padaku, kemudian menjatuhkan diri di sofa.
Aku tak menanggapi apapun dari keluhannya, biar saja ia menikmati konsekuensi perbuatannya sendiri.
"Kenapa diam, kamu pasti senang kan?"
"Bosan, diajak bertengkar Mas, aku hanya mau duduk dan menonton saja," jawabku.
"Aku geram dengan tindakanmu." Ucapannya pelan tapi sangat tegas,
"Kecerobohannu telah menimbulkan kehebohan di lingkup Korem dan Kodim, mereka menegur dan memperingatkan bahwa tak seharusnya masalah ini terjadi. Pantaskah seorang wanita datang jauh-jauh menemui pangdam untuk mengeluhkan suaminya menikah lagi?"
"Aku tidak punya cara lain," jawabku.
"Kami semua ditegur, bahkan ditampar! Karena tak mampu menjaga keamanan dan situasi kondusif di lingkungan rumah tangga kami, yang kena getahnya bukan cuma aku tapi Danrem dan Istrinya, kamu puas bikin keributan begitu, justru yang dibenci itu kamu. Karena kamu tidak bisa sabar!"
"Oh, ya, benar saja isu bahwa lingkungan kerja kalian yang nota bene sangat ketat hanya tulisan kertas saja, di mana anggota nakal yang memiliki kinerja bagus masih dilindungi ... hmmm," gumamku
"Jaga mulutmu, kau bisa dihukum! lagipula, iya, harusnya kamu sabar, segala sesuatu ada prosesnya, ini hanya sebentar, Sakinah," ujarnya sambil mengacak rambut
"Hahaha, jika suami yang salah, istri disuruh sabar, kalo istri yang nakal, tanpa ampun langsung ditendang," gumamku sambil tersenyum getir.
"Jangan keterlaluan bicaramu, orang akan mendengarnya, sekarang pergi dan cabut laporanmu!" Perintahnya.
"Enak saja, aku tidak mau mempermainkan hukum, aku telah menggugatmu ke atasanmu, dan biarlah proses berjalan," jawabku tenang.
"Ini akan menghancurkan kita semua, Sakinah, kenapa kamu tidak bisa bersabar sedikit?" Ia membeliak frustasi ke arahku.
"Sabar ... sabar ... sabar selalu itu tuntutanmu, kesabaranku habis, Mas, maaf aku lelah, dengan permainanmu, dulu aku mengabaikan rumor engkau selalu mencari hiburan di klub-klub, karena aku tidak mau melihat keburukan suami sendiri, tapi sekarang, mataku terbuka! Aku harus mengubahnya!"
"Kamu gila, Sakinah!" Ia bangkit dan menuju kamar lalu membanting pintu.
"Hei, apa yang kamu lakukan! Bukankah semua pakaianmu sudah kau ambil dan bawa ke rumah di jalang itu?"
"Pakaian masih di mobil kau bisa menurunkannya kalo kau mau," jawabnya dari dalam sana.
"Hah?!" Aku mendecak dan bingung maunya pria ini apa sih?
Aku terlampau sibuk untuk mengurusi tiap gerak geriknya, bisnisku, anak-anakku, juga kegiatan organisasi juga menyita perhatian dan menguras energiku.
Keberadaan Mas Yadi di rumah membuatku bingung, apakah dia memutuskan untuk pulang, atau hanya mencari sesuatu.
Segera kususul sebelum dia menemukan surat-surat aset dan menyelinapkannya secara sembunyi-sembunyi.
Ketika kubuka pintu kudapati dia sudah tertidur, terbaring dalam posisi telungkup dan kepala menghadap ke pintu, seperti biasa sepatu di kakinya selalu lupa dia lepaskan. Dan sebagai istri yang mencintai aku selalu melakukan itu. Namun sekarang, maaf, terserah dia saja, aku lelah.
"Hei, Mas pulanglah ke rumah istrimu, aku tak suka kau di sini selama kau belum bercerai dengannya." Aku mengguncang bahunya namun dia hanya menggumam dan membalikkan badan.
"Aku lelah, ngantuk."
"Kamu gak tidur semalam?"
Tidak ada jawaban, dan dipuncak semua kegeraman ini kenapa rasa iba selalu tampil tanpa alasan, aku menggerutu dan kesal.
Aku benci tapi bagaimana pun tak mudah membuat cinta di hati seratus persen jadi benci. Selalu ada sisi rindu ditengarai kenangan indah tentang manisnya perjuangan dan cinta hari hari yang telah lalu, ah, kenapa?
Kuhampiri dan kutarik sepatunya, meski dengan gerakan kasar, Mas Yadi tetap bergeming dan kini malah mendengkur.
"Sekali kau sayang, sekali kau bentak, sekali kau pukul, dan sekali kau datangi. Apa aku bagimu, Mas?" Aku membatin sambil mengusap air mata.
Pigura pernikahan masih tergantung dengan gambar dua orang yang pernah saling mencintai dan mengikat janji sehidup semati.
Ah ... Kenapa?
**
Keesokan hari,
Suamiku sudah bersiap pergi kerja, anak-anak gembira mendapati ayahnya di rumah, dan mereka bisa bermanja-manja walau hanya momen sarapan bersama.
Aku juga sudah rapi mengenakan setelan blazer biru dengan model peplum dan rok span, serta high heel sebagai pelengkap, aku berencana akan menemui Ibu Danrem di antar Ajudan Mas Yadi sebentar lagi.
"Papa dan Mama udah rapi dan keren, apakah kalian punya tujuan yang sama?" tanya di Bungsu.
"Beda lokasi tapi tujuannya sama," jawab Mas Yadi sambil memakan roti.
"Kita pergi bareng om Hendra dan Papa akan naik mobil sendirian," ujarku pada kedua putri kami.
"Gak mau, kami maunya sama Papa, Ma," jawab Imel sambil melirik adiknya, seperti biasa di bungsu selalu bersemangat bilang iya.
"Tuh kan, mereka akan selalu mengikuti dan tergantung padaku, Papanya," ujar Mas Yadi menyeringai dan terlihat mengejekku.
Aku hanya memutar bola mata lalu mengesap teh manis di hadapanku.
"Aku harap kamu bisa menjaga hati mereka, Mas, mereka menganggapmu sebagai panutan."
"Tentu, yang punya hidup terarah dan karir gemilang di sini hanya aku, kalo kamu kan swasta," ujarnya sambil tertawa.
"Ih, papa, bisnis Mama sukses juga Lho,". sanggah di Bungsu.
"Artinya tanpa uang Papa pun kalian bisa hidup mewah dan bahagia," jawab Mas Yadi sambil tertawa.
"Tapi tetap aja, the first love on my life tetap Papa, jadi aku menyayangi kalian berdua," ujar Siska sambil bangkit memeluk Mas Yadi dan diriku bergantian.
"Aku ingin kita tetap seperti ini, damai dan harmonis," ujar Imelda. "Aku ingin papa tetap bersama mama hingga maut memisahkan," lanjutnya.
"Insya Allah Nak," ujarku tersenyum tipis lalu menyentuh punggung tangannya.
"Kalo kalian sudah selesai saya tunggu di mobil ya," ujarku sambil bangkit dan menuju pintu utama.
"Mama ... Kok Mama gak cium gangan Papa, mama lupa kebiasaan yang selalu kita lakukan selama bertahun-tahun?" Si bungsu cemberut tapi aksennya lucu.
"Ah, iya tentu saja, sayang, bukankah hanya istri dan anaknya saya yang berhak mencium tangannya?" Aku mendekat dan mengulurkan tangan, pria itu ragu namun tak urung mengulurkan tangan.
"Aku berharap semoga ini bukan 'salim' yang terakhir, Mas," bisikku sambil menekan jemari tangannya dengan kuat lalu melangkah pergi.
"Tergantung kamu,", gumamnnya lirih.
**
Aku sampai di depan rumah asri dengan d******i warna hijau khas rumah dinas militer.
Kuketik pintu dan seorang asisten membukanya untukku.
"Selamat pagi, Mbak, Ibu Danrem ada?" tanyaku ramah pada Asisten rumah tangga yang sudah setengah baya itu.
"Oh, ada Bu, monggo, silakan masuk," ujarnya dengan dialek yang medok.
"Mohon dipanggil, katakan bahwa Ibu Dandim sudah datang untuk menemui beliau," kataku sambil mengambil tempat untuk duduk."
"Baik, Bu, saya panggil dulu, ya." Asisten itu masuk dan lima menit kemudian Ibu Yunita Herman Istri Komandan Resort kami keluar dan langsung menghampiri.
Begitu pun aku yang langsung bangun dan menyambut kedatangannya.
"Silakan duduk," ujarnya ramah.
"Iya, Bu." Aku kemudian duduk di sebelah kirinya.
"Begini, saya dapat komplain dari suami dan atasannya bahwa ada kejadian dilingkup kerja organisasi yang masih saya tangani, kalo boleh tahu, apa itu, Dik."
"Ijin bercerita Ibu," ujarku dengan tatapan penuh harap
"Silakan, saya siap mendengar dan memang itu bagian dari tanggung jawab saya juga."
"Begini ...."
Kuceritakan semuanya satu per satu masalah yang kuhadapai, dengan runut dan sedetail-detailnya sedang Ibu Yunita mendengarkan dengan seksama, hingga semuanya tuntas. Tak lupa kuperlihatakan adegan video pertengkaran kami, serta photo bukti pernikahan mereka.
"Baiklah, saya sudah mengerti, saya akan teruskan bukti yang adik kirim kepada saya, ke suami untuk diproses."
"Terima kasih sekali, Ibu, saya sangat berharap semoga keluhan saya ini ditanggapi dan suami saya bisa diberi peringatan bahkan ganjaran atas tindakannnya."
"Saya dengar suami adik sedang diinterogasi di Korem, saya akan teruskan ini pada suami dan kita tunggu apa yang akan terjadi."
"Terima kasih Ibu, jika begitu, saya izin kembali dulu," pamitku dengan sopan.
"Ya, silakan, hati-hati ya, tetap sabar dan bersikap elegan, Ingat, Adik adalah istri sah yang diakui hukum dan negara jadi Adik tidak perlu gentar."
"Terima kasih, Bu, Assalamualaikum."
Mobil yang kendarai kopral Hendra meluncur meninggalkan rumah ibu Danrem.
Semoga ada tindakan di Korem sana, semoga saja ....