lancang

1134 Words
Mendapatimu sudah masuk secara diam-diam ke dalam kamar, wanita itu terperanjat bukan main dan dan langsung mundur sambil menutup kedua tangan ke mulutnya. "Ah, Mbak, a-anu ...." "Jalang licik, apa kamu merasa sudah menjadi menjadi anggota Persit hanya dengan mencoba baju itu, atau ... kau tak sabar ingin segera menjadi nyonya?" Kuhidupkan ponsel, tatih rekaman video dan kuletakkan di atas bufet kamar. "Kenapa kau menghentikan aksimu berlenggak lenggok di depan kaca, ayo lanjutkan," ujarku sambil menghampirinya sedang dia mundur teratur dengan sedikit gemetar. "A-aku hanya penasaran ingin mencoba Mbak," ujarnya pelan hampir tidak terdengar, "a-aku akan melepasnya." Ia berusaha membuka kancing baju itu. "Tidak usah! kau memang p*****r jalang yang sangat ambisius, sudah merebut suamiku kini kau ingin merebut pakaian dan rumahku," geramku sementara video terus berjalan merekam kami. " Sungguh Mbak, a-aku hanya ...." Belum selesai dia melanjutkan kata-katanya aku sudah menyerang rambutnya dan menjambaknya dengan keras sehingga posisi kepalanya mendongak. Rambut yang gelombang dan panjangnya sebahu itu aku pelintir lalu kusentak dengan satu gerakan keras, hingga dia jatuh dalam posisi terlentang sedang rambutnya masih di tanganku, tentu saja posisi demikian itu sangat menyakitkan. "Auww ...." Dia menjerit tapi posisi kamar dan lokasi Mas Yadi agak jauh sehingga sulit didengar. Kuputar badan sehingga posisiku duduk di atasnya sedang tangan kananku masih mencengkeram rambutnya bahkan lebih kuat. Wanita itu meronta berusaha mencakarku, namun dengan keras kutinju wajahnya berkali-kali, bibirnya, hidungnya, serta matanya. Bugh ... bugh .... "Kau menggunakan mulut ini, untuk merayu suamiku? hah?!" Bugh .... "Aduh ... Auhh .... Ia menjerit namun suaranya lemah. Ia meronta dan berusaha membalasku namun kucekal lengannya dan kuputar sehingga dia berteriak keras. "Lepaskan aduuuh ....." "Tangan lancang ini yang telah memeluk suamiku dan memakai pakaianku," ujarku sambil membalikkan badannya dengan keras. Sendi tangannya berbunyi 'krek' Sedang wanita itu melolong sejadi-jadinya. "Tanganku ... Mas Yadi ...." Dia berusaha menendangku dan itu terkena di pahaku. Kutendang juga perutnya mengenai ulu hati, hingga ia nyaris tak sanggup bangkit dari posisinya. Kuhampiri dia dan kuinjak lehernya, dia gelagapan dan nampak kesulitan bernapas, kutekan kakiku sementara kedua tangannya berusaha mengangkat betis ini. "Pelakor jahannam, aku akan mencongkel biji matamu sehingga kau akan ingat hukuman ini selamanya." Aku membuka laci dan mencari tang, aku berniat untuk mencabut kuku-kuku tangannya. Aku mungkin kehilangan kendali, tapi biarlah kulampiaskan sakit hati, semakin cepat aku bertindak semakin banyak waktu yang akan kumanfaatkan untuk menghajarnya, sedang laki laki bodoh di halaman belakang masih belum menyadari pertengkaran kami. Rupanya selagi aku bangkit wanita itu berdiri dan menghampiriku lalu mencekikku dengan lengannya. Aku terseret dalam posisi mundur dan dia melakukannya dengan sekuat tenaga. "Aku juga tidak lemah, Mbak, kalo aku mati, maka mbak juga harus mati," ujarnya sinis. Aku geram dengan keberaniannya, maka kugigit tangannya sebisaku hingga dia terkejut dan cekikannya terlepas. Kutinju keningnya hingga ia nyaris terjatuh, namun belumlah dia terjatuh, aku sudah menarik kerah pakaiannya dan mendorong ke jendela hingga sebagian tubuhnya condong ke sana. "Mas Yadi ... tolong ...." "Hahaha, kenapa minta tolong, kamu ingin dibela," ujarku menertawainya. "Mas Yadi ...." Wajahnya ketakutan, fondasi rumah ini cukup tinggi jadi jika ia terjatuh, kepalanya akan terbentuk ke fondasi batu dan meluncur ke bawah saya, di mana batuan koral tajam menunggunya. Tok ... Tok. "Kartika apa yang terjadi?" "To-tolong, Mas." Plak! Kutampar dia dengan tanganku yang satunya sedang kedua tangannya miliknya mencengkeram tanganku yang sedang mendorongnya. Brak! Pintu di dobrak dan Mas Yadi masuk dan langsung terperangah melihat adegan di dalam kamar. "Hei, apa-apaan ini?!" Ini berlari dan langsung melepaskan Kartika dari tanganku. Wanita yang kucekik barusan itu terbatuk-batuk lemas dan memeluk suamiku. "Aku sedang memberinya pengalaman baru punya madu," jawabku santai. "Kamu benar-benar keterlaluan Sakinah!" desisnya sambil membenahi rambut istrinya yang berantakan, sedang wanita itu terlihat gelagapan dan pura-pura kehabisan nafas di pelukan Mas Yadi. Anj*ng! "Berpura-puralah terus dan tetaplah mencari muka dengan Mas Yadi karena kamu tidak punya cara lain menundukkannya selain bersikap murahan dan sok lemah," ujarku sambil menunjukk wajahnya. "Jaga mulutmu!" Mas Yadi sangat sewot istrinya dikatai demikian. "Berani sekali kamu mengajak si jalang ini ke rumah kami, kamu tidak khawatir satu teriakan dariku bisa membuat semua orang di kompleks ini datang, atau ... karena ini malam kamu merasa semua aksimu tidak akan diketahui siapa-siapa, Mas?" "Aku mengajaknya atau tidak itu bukan masalahmu," bentak Mas Yadi. "Lihatlah betapa percaya dirinya pela**r itu menggunakan pakaianku." Aku menggeram kesal sambil berkacak pinggang. Mas Yadi yang menatap penampilan istri barunya itu seketika terlihat malu kepadaku. "Luar biasa Pak Dandim, wanita yang kau pilih adalah wanita yang sangat sempurna," ucapku sarkas "Meski dia salah, tak sepantasnya kamu memukulnya seperti ini, aku bisa menuntutmu ke kantor polisi." Hahaha, alangkah lemasnya mulut itu! "Jadi kau ini menambah masalah diatas masalah? belumlah selesai urusan denganku, kau juga akan menambah masalah baru yang justru akan membuatmu semakin dipermalukan, ayo kalo begitu," tantangku. Mas Yadi diam saja tanpa menjawab sepatah katapun, di hanya menyuruh Kartika untuk mengganti pakaiannya. "Ganti pakaianmu dan ayo pergi," perintahnya pada wanita bertubuh ramping itu. Dengan langkah merayap dan wajah takut-takut, serta gestur tubuh gemetar dia menunduk dan memungut pakaiannya sembari mengawasiku kalau-kalau aku akan menyergapnya sekali lagi. "Aku akan mengajak Kartika pergi," gumam Mas Yadi pelan. Sekali lagi gelagatnya terlihat sangat malu. "Pergilah, dan ya, tunggu, aku punya rekaman kejadian ini, aku yakin ini akan viral." "Coba saya aku akan mengakhirimu dan membuatmu kehilangan segalanya, bahkan anak-anak. Coba saja kau melakukannya." "Aku tak takut gertakanmu, Mas, aku telah mengenalmu dan semua tingkah lakumu, jadi aku tidak gentar!" "Akhirnya aku bisa tahu sifat aslimu setelah menikahi Kartika, kau memang ular!" "Apa, Kartika ular? Hahhaha ....". Aku pura pura mengejeknya dan dia langsung menendang pintu dengan keras. "Aku peringatkan sekali lagi, jika terjadi sesuatu padaku besok, maka aku akan membalas dendam padamu, Sakinah." "Kau pasti akan dipecat, Mas.", "Jangan mudah percaya diri, aku punya orang yang akan membantuku! Sedang kamu hanya wanita lemah yang tidak punya koneksi!" ujarnya menghina. "Baik, aku akan lihat koneksi siapa yang kuat, tapi sebelumnya jauhkan wanita itu sekarang juga sebelum aku panggil semua tetangga dan kabar kawinku yang kedua akan merebak dengan cepat, pergi!". Ia hanya mendelik lalu keluar dari kamar kami, sesaat kemudian dia kembali lagi lalu mengambil koper kecil di atas lemari dan membukanya, lantas mengisi semua pakaian kerja dan bebepara pakaian sehari-hari. Aku hanya menatap dalam diam, tidak melarang atau mencegah, aku akan menuruti apa yang menjadi keinginannnya. "Lebih baik aku pergi agar aku tenang." "Aku juga akan lebih tenang lagi," jawabku sengit. "Ingat sakinah, kau masih menumpang hidup denganku," desisnya sambil membuka laci dan memasukkan semua koleksi jam tangan mahal miliknya. "Aku segera kau segera mengajukan gugatan perceraian aku tak tahan denganmu," lanjutnya. "Kau tahu sendiri, tak perlu kujelaskan bahwa perceraian tentara sangat tidak mudah, apalagi aku bukan wanita nakal yang patut dipersalahkan," jawabku tersenyum jahat. "Aku kewalahan denganmu, sakinah." "Siapa suruh kau menikah!" Aku membalikkan badan, enggan menatap kepergiannya. Masa bodoh!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD