Tentu saja mendengar kata-kataku dia langsung syok dan membeliak nanar menatap sorot mataku. "Kamu sungguh wanita jahat ... aku membencimu, Sakinah," desisnya. "Bahkan di lubang paling kecil pun aku akan menemukan bukti , tenang saja, aku adalah orang yang gigih, Mas," ujarku sambil tersenyum puas. Sesaat kemudian dia terlihat meringis memegangi dadanya dan mengadu dengan nada lirih. "Ah, ad-aduh ...." Dia mulai gelisah kesakitan. "Kenapa? kamu syok dan tidak bisa menerima kenyataan sekarang?" "Pe-pergi kamu dari sini," ucapnya terengah-engah. Kelihatannya ia kesakitan, terbukti wajahnya memerah dan mulai berkeringat deras. Tarikan napasnya cepat, dan terlihat sulit mengais udara. "Akh-akh-ah," dia kelojotan dan tubuhnya menegang, lalu ambruk ke tempat tidur. "Baiklah, aku perg

