"Mana buku nikah?" tanyanya ketika aku sedang mengatur piring sarapan di meja. "Buat apa, Mas?" " Aku lupa kemarin, setelah pernikahan, belum sempat menyerahkan lagi ke Sumda Polres." Aku mengernyit tidak mengerti apa yang dia katakan sehingga hanya memberikan ekspresi heran. "Untuk apa?" "Untuk didaftarkan secara resmi agar menjadi anggota Bhayangkari, Sayang. Kau tidak tertarik?" godanya. "Tertarik, antusias malah," jawabku sambil tertawa. "Kupikir kau sudah bosan jadi Ibu-Ibu yang sibuk berorganisasi, apalagi tunjangannya hanya sepuluh persen," gumamnya mengerling manja. "Ish ...." Aku menarik sudut bibir dan mencubit lengannya. "Sakinah ... terima kasih ya, sudah jadi istriku, terima kasih mau menemaniku meski gajiku tidak sebanyak ...." Ia menggenggam tanganku sedang aku

