"Apapun yang telah dilakukan ibuku, itu tidak ada kaitannya denganku, Pak." "Hmm, begitu ya, kamu ini naif atau pura pura bodoh sih?" bisiknya dengan tatapan penuh makna. Dadaku makin berdebar, takut dan tidak tahu harus apa pada situasi ini. Cemas dia akan terus mengancamku, akhirnya kuputuskan saja untuk menjauh. "Maaf, aku masuk dulu, selamat bermain lagi, Pak," ucapku sambil memaksakan senyum. "Kau takut ya, heran sekali bisa ada wanita yang takut padaku, padahal biasanya, wanita akan terpesona," ungkapnya sambil mengangkat kerah bajunya. "Bagaimana pun saya akan mengingat perjumpaan kita," jawabku sambil menjauh. "Aku pernah dengar kabar bahwa anak Nyonya Sakinah sangat cantik, dia bisa dijadikan alat negosiasi yang bagus alih-alih menikahkan dia dengan seorang preman," ungkap

