19. Pertemuan

843 Words
"Aku wes taunan dadi koncomu Non, aku apal bendinanmu" (Aku sudah bertahun-tahun jadi temanmu Neng, aku sangat hafal tabiatmu) Hajar masih juga tak mau meluruhkan penasaran yang ia rasakan. "Mbelgedes!, guayamu sok dekat sok kenal.. Kemeruh." (Omong kosong!, gayamu sok dekat sok kenal.. Sotoy) Satu jitakanku pelan mendarat di tempurung kepala Hajar. Murungnya aku hari ini membuat Hajar curiga. sebenarnya bukan murung, tapi lebih pada gugup dan kaget. hati dag-dig-dug setelah menerima w******p dari seseorang. *** [POV NADA] Tak ada awan bergulung di atas sana. Hamparan permadani biru langit terpampang bersih tanpa coretan remang mega. d******i terik matahari laksana singa mengaum gagah berwibawa bertengger di kanvas Maha luas. Jarum jam baru saja meninggalkan posisi tegak berhimpitan. Aku menutup laptop putih diatas meja kerja dan beranjak membuka notifikasi w******p yang muncul. "Aku nang ngarep rodok ngulon sithik, goncengan ae yo. Aku nggowo helm loro" (Aku sudah didepan agak ke barat sedikit, boncengan aja ya. Sudah kubawakan helm) Dana mengirim pesan dan langsung kujawab singkat mengiyakan. "Hai.. Naik sini!" Dana menyapa ramah mempersilahkan aku naik di boncengan motor prima nya. Aku tak mampu menjawab sepatah katapun saking gugupnya. Hanya gerakanku yang muncul terlihat salting. Sedikit senyumanku semoga bisa menggantikan kalimat yang seharusnya kuucapkan. Yah, siang ini aku ada janji bertemu dengan Dana. Pria penjual gorengan yang sempat bertukar nomer handphone denganku. Seorang pria yang tiba-tiba melantunkan lagu cinta di dalam kafe hanya untukku. Seorang pria yang tanpa permisi tiba-tiba menggedor perasaanku. Namun untuk melangkah jauh bersamanya, aku masih bimbang. Super duper bimbang tepatnya. Banyak jalan terjal yang harus kami lalui untuk bisa bersatu. Ah sudahlah, aku tak mau berpikir sejauh itu dulu. Secara pribadi pun aku juga masih tahap penjajakan. Ya memang benar pria ini sedikit mengusik kegersangan hatiku. Tapi itu tak cukup untuk bisa membuat harapan cintaku berlabuh dalam hatinya. Sekali lagi aku masih mencerna semua ini. Tadi pagi mendadak aku menerima pesan w******p dari Dana dan dengan upaya yang sedikit memaksa mengajakku untuk sekedar makan siang sebagai upaya permintaan maafnya atas teatrikal lagu cinta Dana yang sempat membuatku lumayan sebal. Aku termasuk pemalu. Disaksikan seluruh pengunjung kafe hanya gara-gara lagu romantis Dana sudah membuatku malu bukan kepayang. Aku tipe orang yang tidak suka dibuat malu didepan umum. Meski aksi Dana bisa dibilang sangat hebat dan romantis, tapi rasa maluku mengalahkan semuanya. Aku akui bahwa Dana cukup menyita perhatianku yang biasanya cenderung cuek pada kaum Adam. Tapi entahlah, aku belum cukup yakin pada keyakinanku sendiri. "Maem nang ndi iki? (Makan dimana ini?)" Dana sedikit berteriak melawan gemuruh angin yang menerpa wajah kami saat motor mulai melaju di perjalanan meninggalkan jalan Veteran tempat dimana aku menyewa ruko untuk bekerja. "Sakkarep.." (terserah) kujawab singkat karena aku tak tahu harus menjawab apalagi. Dana berinisiatif membelokkan motornya menikung ke arah kiri saat bertemu dengan perempatan Siola. Sepanjang perjalanan aku hanya diam membisu. Lidahku begitu kelu, otakku berasa buntu, tak ada ide obrolan apapun yang muncul di benak. Dana mengurangi kecepatan motornya saat melintasi kantor Ibu Risma, Walikota Surabaya kemudian berbelok ke arah kiri. Beberapa saat kemudian motor berhenti tepat di tikungan samping kantor Satpol PP. Oh rupanya Dana mengajakku untuk makan di Mie Pangsit Kotamadya yang terkenal itu. Nasib beruntung sedang berpihak pada kami. Lapak pangsit yang biasanya penuh sesak oleh para pegawai pemkot yang istirahat, terlihat agak lengang. Kemungkinan ada rapat atau sejenisnya yang membuat mereka tak bisa menikmati jam istirahat sebagaimana biasanya. Dana memilih kursi terjauh dan terpojok untuk lebih mendapatkan privasi. Mie pangsit dengan extra baso plus es jeruk menjadi pilihan siang itu. "Sehat Nada?" Dana membuka pembicaraan untuk mencairkan suasana yang masih terlihat kaku. "Lumayan hemm" aku memilih jawaban yang paling sesuai sembari kuiringi dengan sebuah senyuman semanis mungkin. Maksud hatiku juga ingin mengakrabkan diri, namun tak tahu apa yang harus kulakukan. "Ehmm.. Nada. Sepurane kapan hari lek nggae awakmu nesu" (Ehmm.. Nada. Maaf kejadian waktu itu jika membuatmu tersinggung) aku sedikit terkejut dengan kalimat dari Dana tersebut. Namun cepat kututupi. Karena jujur, aku tak pernah merasa marah sedikitpun terkait kejadian yang dibahas oleh Dana. "Iyo mas, aku ngerti lek sampean mesti ga enak kabeh karo aku. Tapi aku ga nesu kok. Cuman yo mungkin rodok kaget ae. Isin rek ditontok wong akeh!" (Iya mas, aku memahami jika kamu merasa serba salah. Tapi aku ga marah kok. Hanya kaget saja. Malu dilihat orang banyak!) aku berusaha menjelaskan sebisa mungkin agar Dana tidak terlalu merasa bersalah. "Tapi aku isih oleh dadi koncomu kan?, Isih oleh pedekate dan ngejar awakmu kan?" (Tapi aku masih boleh jadi temanmu kan?, masih diperbolehkan untuk PDKT dan mengejar kamu kan?) Dana mengernyitkan kening menandakan ia sedang serius berbicara. "Lek konco yo jelas oleh mas. Khusus ngejar aku, ehmm.. Cobaen ae. Berusahalah lebih keras. Ancen saiki aku durung isok, tapi aku isok berubah tergantung yopo usahae pean ngrebut atiku" (Kalau pertemanan ya tentu saja boleh. Khusus ngejar aku., ehmm.. Coba aja. Berusahalah lebih keras. Memang saat ini aku belum bisa, tapi aku bisa berubah tergantung gimana usahamu merebut hatiku) Cara tanggap yang lugas dan tanpa basa-basi sudah menjadi Kebiasaanku saat bekerja maupun beraktifitas lainnya, tak terkecuali saat menyikapi pertanyaan Dana. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD