18. Bucin sekonyong-konyong koder

610 Words
[POV DANA] Udara dingin terasa menusuk tulang. Suara kokok ayam jantan bersahutan di kejauhan menandakan pagi akan segera hadir menyapa penduduk Surabaya dan sekitarnya. Aku terjaga dari tidurku diatas sofa ruang tamu Dona. Kulihat pintu kamar Dona masih tertutup rapat. Kulirik Putri yang sengaja kubuka pintu kamarnya juga masih terlihat mendengkur halus. Kulihat jam dinding masih menunjukkan pukul 04.30 pagi. Kesadaran seutuhnya telah kembali datang mengisi terumbu otak. Keningku berkernyit memikirkan hal janggal yang terjadi tadi malam. Sepertinya Dona telah memberikan suatu obat tertentu yang akhirnya membuatku hilang akal dan tak terkendali. Ehmm.. Aku baru ingat, kemungkinan besar Dona membubuhkan sesuatu pada es jeruk yang kuminum. Tumbuh satu penyesalan dalam d**a. Meski belum terjadi persatuan tubuh, tapi aku telah mencumbui Dona, bahkan memandang tubuh polosnya. "Duh Gusti (Yaa Allah), apa yang telah kuperbuat.." sesalku dalam hati. Merasa yakin bahwa Dona telah pulih dari nafsu jahanamnya, perlahan kubuka kunci pintu kamar dimana Dona berada di dalamnya. Kulihat dia duduk terpekur bersandar di ranjang. Tubuhnya tertutup selimut hingga ke leher. Namun dari wajahnya sudah nampak ketenangan, berbeda dengan tadi malam. "Aku moleh (aku pulang)," ucapku singkat dan segera berbalik badan. "Lho Dan kok kesusu?", (Lho Dan kok buru-buru?) Dona tersenyum terpaksa. Ada rona kehilangan disana, berpadu dengan rasa bersalah, dan terselip sebuah tatapan dendam kepadaku. Aku tak ambil pusing. Sudah kacau hidupku sejak tadi malam. Berulang kali melintas bayangan wajah Nada yang kuharapkan dapat menjadi kekasih hati. Penyesalanku kini meradang. Aku benci pada keluguanku yang serta merta tunduk akan bujuk rayu Dona. Aku juga benci dengan tipu muslihat wanita yang sudah kuanggap kakak sendiri bagiku. "Aku moleh sik..!" (Aku pulang dulu) kuulangi ucapan bernada kekecewaan. Dona hanya diam memandang tanpa berani menahan. *** Diam, Diam aku disini memandang jalang, Menelanjangi golek karang, Mencumbui ombak menerjang, Linang. Hening, Pening, Luapan gundah. Entah mengapa? Aku bingung dengan alam pikirku sendiri, Sunyi. *** Aku tidak langsung pulang. Saat ini aku sedang duduk ditepian pantai Kenjeran. Membiarkan telapak kakiku menjejak karang. Merasakan desir air laut yang menyucup lembut mata kaki. Dalam diam, kupandang nanar bukit dikejauhan. Sungguh kejadian bersama Dona telah menjadi satu pukulan telak bagi perjalanan hidupku. Bukan aku sok suci, tapi aku hanya menuruti nurani. Mencari cinta dengan hati. Bukan sekedar mereguk nafsu lalu pergi. Aku hanya ingin menjadi pria yang baik setidaknya bagi diriku sendiri. Ooh Nada..belum nembak kok aku sudah bucin sekonyong-konyong koder gini sih. Sebaliknya, aku sangat benci atas perlakuan Dona. Bagiku, Dona hanya menggunakan aku sebagai alat pemuas nafsu semata. Persetan jika ia berkata cinta. Karena bagiku, cinta adalah ketulusan. Aku harus segera melangkah lagi. *** Kring.. kringg.. Handphoneku berdering, muncul nama Indro disana. "Halo, No. Koen nandi? (kamu dimana?)" terdengar suara Indra diseberang sana. "Aku lagi onok perlu, Ndro" jawabku asal. "Ojok ngawor koen ndeng (jangan ngawur kamu). Si Dewi adikmu telepon terus ke aku dan Khusna sejak tadi malam, dia nyariin kamu. Barusan dia bilang kalau kamu semalam tidak pulang!" balas Indra menyudutkan. Aku hanya bisa menghela napas berat. Wajah-wajah sahabatku juga adikku silih berganti melintas di pikiran. Rasa bersalah kembali menyeruak. Tapi aku hanya mampu diam dan tak tahu harus berbuat apa. "Woy c*uk, jawaben talah! (woy nyet, jawab dong). Jangan diam aja kamu." Imbuh Indra mengagetkanku. "Aa..aaku lagi ada sedikit masalah dengan temanku. Tapi sudah beres kok. Ini aku akan segera balik.." ucapku terbata. Lidahku kelu untuk mampu berucap lebih panjang lagi. "Koen yakin gapopo?. Perlu aku dan Kasino kesana membantu?" kejar Indra masih bernada khawatir. "Ga Ndro. Santai ae.. aku tak moleh saiki (aku akan segera pulang sekarang)" jawabku singkat. Tanpa menunggu balasan dari Indra, segera kuputus sambungan telepon. Bergegas kunyalakan mesin motor Prima kesayanganku dan meliuk lincah membelah ramainya jalanan ibukota Jawa Timur. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD