17. Bertahan

693 Words
[POV DANA] Dengan sisa kesadaran yang kumiliki, aku berusaha untuk berdiri dan mencoba untuk melangkah ke pintu kamar tanpa mengindahkan panggilan manja Dona. Namun Dona mengejar langkahku. Pelukan tubuh mulusnya yang menempel erat di bagian belakang tubuhku kembali mendesirkan gairah setan yang mati-matian kutepis. Bongkahan pejal itu menyendul lembut tepian lenganku. "Hentikan, mbak!" sergahku padanya, namun ia seperti tak menggubris sedikitpun apa yang kuucapkan. Ia justru seperti paham bahwa aku akan kembali bertekuk lutut saat gelegak nafsuku kembali meningkat. Lamat-lamat kuingat apa yang kutenggak tadi sebelum terjadi semua ini. Yah benar, es jeruk itu. Sudah barang tentu Dona telah mencampurkan sesuatu ke dalam minuman untuk mendongkrak libido. Ia telah memberikan obat perangsang untuk memperangkapku. Lain di muka, lain di belakang. Penilaianku terhadap Dona ternyata selama ini salah. Ia tak ubahnya seperti wanita licik kegatelan yang rela berbuat apa saja untuk memenuhi keinginannya. Kasihan Putri dirawat seorang wanita b***t seperti Dona. "Dann, jangan pergi. Konconi aku (temani aku)," lirih suara Dona ditelingaku. Aku masih tak bergeming, atau tepatnya berusaha menahan diri untuk tidak melakukan tanggapan atas aksi Dona. Aku takut terjadi sesuatu yang tak pernah sedikitpun kubayangkan sebelumnya. Aku ingin menjadi pemuda normal yang jatuh cinta dan bermalam pertama dengan pasangan yang kuinginkan kelak. Bukan American style seperti ini. "Mundur kamu, mbak!. Jangan paksa aku berbuat kasar nang sampean (ke kamu)." Bentakku menepis belaian Dona yang semakin intens. "Apa kamu ga mau, Dan? Hahh?. Ga kepengen merasakan yang enak ini??" Dona terus saja merayu. Mungkin tak ada pria manapun yang tak tergiur tatkala mendapat suguhan nikmat semolek tubuh Dona di depan mata. Terlebih pengaruh obat perangsang memiliki andil besar untuk membuat semakin tergiur. Pun juga aku, pemuda polos yang belum pernah merasakan sekalipun berasyik masyuk. Sungguh ini membuat panas dingin sekujur tubuh. "Sudahlah.. plis mbak ojo koyo ngene (tolong mbak jangan seperti ini). Aku menghormati sampean (kamu). Tolong jangan memanfaatkan kedekatan kita untuk memuaskan nafsu sampean.." suaraku bergetar diantara syahwat dan amarah. Tubuhku menginginkannya, namun jiwaku menyelisihinya. Crupp. Tanpa aba-aba, Dona cepat berputar posisi dan mencium bibirku lagi. Aku terhenyak dan tersentak. "Mundur kubilang. Mundurr!!" bentakku panik. "Dann..." Dona menatap dengan hiba namun penuh gairah terpendam. Kupejamkan mata, bukan aku munafik, tapi aku harus kuat menghadapi hal buruk yang akan menimpa. Aku teringat adik dirumah yang masih butuh dukungan materi untuk sekolahnya. Aku juga teringat bagaimana Ibu dan Bapak yang membanting tulang di Jakarta sana demi kami. Aku tak boleh menyerahkan hidupku pada bisikan setan. "Jangan begini mbak. Tolong.." lirihku ikut menghiba. "Aku tahu mbak Dona butuh. Dan aku tak munafik bahwa aku juga pria normal yang menginginkannya. Tapi ini salah mbak. Kita tak pernah saling mencintai. Kita tak ada dalam satu ikatan cinta. Ingatlah Putri. Dia anakmu, sedikit banyak dia akan mewarisi sifatmu. Apakah kamu ingin kelak Putri menjadi wanita binal seperti ini??" imbuhku. "Tt..ta..tapi Dann," Dona tercekat. Ia dihinggapi kebimbangan setelah mendengar ucapanku. "Aku pastikan hubungan pertemanan kita akan berakhir jika mbak tetap seperti ini. Aku tersinggung mbak. Sampean mencederai keakraban kita!" aku terus saja menggempur pendirian Dona. "Dann.. sstt.. sudah ya. Besok biarlah terjadi besok. Yang penting kita nikmati dulu malam ini," Dona ini batu sepertinya. Keras kepala dan ngeyelan banget sih. Ia kembali melangkah beranjak memelukku. "Stop.. berhenti disitu!" kubentak lagi Dona. Akal jernihku semakin tumpul rasanya. Dalam kondisi yang sangat genting, secepat kilat aku berlari kearah pintu. Dalam gerakan cepat kubuka kunci, kuambil dan kemudian menutup kembali pintu tersebut. Dengan kasar anak kunci kuputar untuk mengurung Dona didalam sana. "Dann.. apa yang kamu lakukan?!" Dona berteriak nyaring sambil menggedor pintu. "Tutup mulutmu!. Kamu ingin Putri terbangun dan melihat semua ini hahh?" teriakku tak kalah nyaring. "Berhentilah dan tidurlah. Renungkan kesalahanmu itu!" lanjutku lagi. Setelah suara Dona sudah tak terdengar kembali, aku melangkah dan terduduk di sofa ruang tamu. Kutenangkan diri dan berpikir langkah yang harus kuambil setelah ini. Mengingat Putri sedang tidur sendiri, dan kondisi Dona yang seperti orang kesurupan, akhirnya aku memilih untuk bertahan di rumah itu hingga pagi menjelang. Setidaknya aku bisa menemani Putri sambil menunggu waktu agar Dona kembali stabil. Ini sungguh pengalaman langka yang mengejutkan untukku. Aku bersyukur belum terjadi tahap intercourse bersama Dona tadi. Aku takut, semoga tak terulang lagi kejadian seperti ini. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD