16. Es jeruk

584 Words
Konten pada episode ini bernuansa 21++. Bagi yang belum cukup umur atau tidak berkenan, silahkan dilewati menuju episode berikutnya. [POV DANA] Kembali ke ruang tamu, kuatur pisang goreng buatanku pada piring dan kulanjutkan menikmati es sirup jeruk yang terlihat segar menggoda. "Huikk.. Masokk iki. Pas ngelak kemringet nang embong trus ketemu es seger ngene.." (Wah.. cocok nih. Pas kehausan dan keringetan dijalan eh ketemu es yang segar gini..) gumamku menikmati es setenggak demi setenggak membasahi kerongkongan yang dilanda kekeringan. 10 menit berlalu.. 15 menit berjalan.. Dona belum juga muncul. Mata ini tiba-tiba sudah berasa berat dan mengantuk. Kepalaku sepertinya begitu ringan melayang. Pandangan mata terasa pudar dan semakin pudar. Kenapa aku seperti ini?, mirip orang mabuk saja. Dan yang lebih parah, gairah syahwatku tiba-tiba terasa begitu melonjak. Jantung berdegup kencang seirama dengan kedutan batang roket yang lambat laun kian mengeras. Aku sedikit bergidik dengan perubahan yang kualami. Merasa tak kuat menyangga kepala ini, kurebahkan tubuhku di atas sofa panjang. Suhu tubuhku meningkat drastis. Kudengar Dona membuka pintu samping rumah menuju ke teras dan mendorong motorku masuk ke garasi. Tubuhku yang terasa melayang sangat enggan melangkah membantu Dona memasukkan motorku. Kubiarkan saja Dona melakukan itu, toh juga untuk keamanan motor juga pikirku. Antara sadar dan tidak kurasakan sesuatu yang basah menempel di bibirku. Kupaksakan mata ini terbuka dan kudapati Dona dengan posisi duduk disamping sofa tengah mencium mesra bibirku. Tak ada upaya penolakan dariku, sebaliknya hawa panas tubuh seperti menuntun agar aku menikmati perlakuan Dona tersebut. Seperti terhipnosis kuikuti tarikan tangan Dona yang menuntun menuju kearah kamar didepan ruang tamu. Aku hanya manut (nurut) seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Dalam kamar yang remang dan wangi terdudukku di atas kasur empuk. Sebentar kemudian nampak Dona melenggok striptis meliukkan gerakan gemulai sensual. Pinggulnya turun naik bergoyang, tangannya meremas kedua bukit ranumnya yang masih tertutup nightdress lingerie transparan berwarna pink muda. Dalam sekejap nafsu birahi dalam dadaku memuncak. Jantung terasa semakin berdegup kencang. Rasa melayang di kepala berangsur-angsur menghilang digantikan naiknya libido yang membuncah. Kesadaranku benar-benar telah pulih. Namun kesadaran tersebut seperti terenggut paksa oleh rasa ingin b******u yang mendesak-desak. Pikiran jernihku sudah tak berfungsi lagi. Yang tersisa hanya gejolak gairah. Satu meter di depanku terlihat Dona semakin melenggok panas. Tanpa pikir panjang langsung ku sambar tubuh janda muda yang sangat sensual itu. Kucium bibirnya dengan begitu buas. Dona menggimbangi dengan belaian mesra di tengkuk dan punggungku. "Ehmm Dana.. Puasin aku.." Dona melenguh pelan di sela kuluman bibir kami. Demi mendengar lenguhan binal tersebut aku semakin brutal. Tanganku bergerak cepat meremas buah ranum yang membusung menantang dibalik lingerie. "He'emm Dan bener gitu.. Sst..terusno", (He'emm Dan benar gitu.. Sst..teruskan) Dona bertambah blingsatan saat kupagut lehernya sembari terus saja tanpa menghentikan aksi tangan. Dona menuntunku untuk berdiri tegak. Dengan mesra ia buka kaos oblong warna putih yang kupakai. Garis-garis datar tanpa lemak membentuk indah d**a dan perutku. Six pack ala penjual gorengan hehe. Guratan yang keras dan kokoh dipenampang dadaku ternyata membuat Dona sangat bernafsu. Direbahkannya wajah serta pipi untuk bersandar di dadaku. Tangannya menyusuri setiap lekuk didada dan perutku dengan perlahan dan lembut. Mulut dan lidahnya pun turut membantu dengan mencium serta menjilat kulit dadaku membuat aliran darah terasa berdesir. Sinyal kesadaran diri sesekali terasa menyentil hasrat untuk menyudahi itu semua. Namun suhu panas yang berdesir disepanjang aliran darah seperti memaksa untuk terus menerus berenang di kolam syahwat. Aku terkatung-katung diantara perseteruan hasrat. Meski prosentase kesadaran hanya tersisa cukup kecil, namun ia berusaha untuk mampu menampik birahi. Alhasil kepalaku yang dibuat pening. Ohh.. apa yang harus kulakukan sekarang?!. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD