[POV Khusna]
Malam menjelang, bulan yang hampir bulat sempurna nampak bersinar teduh. Bintang gemintang berkelipan diatas sana menambah indah hamparan langit yang Maha luas.
Celoteh derit jangkrik membelah keheningan malam menemani semilir angin menghantarkan titik embun. Dedaunan dan tumbuhan lainnya terlihat serempak menelangkupkan diri menyambut tidur malamnya hingga esok menjelang.
Aku sedang duduk sendiri di teras rumah kos memandangi rimbunnya tanaman toga yang disusun rapi oleh bapak kos pada sebuah papan panjang bertingkat mirip sebuah tangga.
"Beneran deh, aku naksir sama tuh cewek. Aku banget deh tipenya", mengalir lamunan yang dalam, kurasakan gejolak asmara yang menyelimuti jiwa.
Eh lho, kenapa aku pakai bahasa Indonesia? Kenapa tidak pakai dialek suroboyoan seperti saat bersama trio geblek?. Yah karena aku adalah orang Tasikmalaya. Tapi sayangnya bahasa Sunda sudah jarang kupakai sejak menginjakkan kaki pertama kali di kota pahlawan ini. Disini minim sekali kutemukan lawan bicara yang sama-sama sunda, kecuali dengan Ujang yang jualan bubur ayam di Raya Menur, atau juga beberapa teman kuliah yang memang merantau sepertiku. Alhasil, bahasa Indonesialah yang kini sering kupakai, disamping dialek suroboyoan yang hanya seperlunya kugunakan saat berbicara dengan penduduk setempat ataupun dengan teman-teman lokal.
"Aku jadi kayak bocah tolol... Boro-boro lihat tanaman toga di rumah kos, duduk di teras aja baru kali ini rasanya. Janggal banget deh melihat seorang Khusna Dwipa Mahendra yang gaul dan banyak tingkah, eh tiba-tiba bengong kayak sapi ompong.. Hadeuhh. Hajarr Hajar.. Kau mencuri hati.. Hatikuu", aku tersenyum sendiri merasakan gelora api cinta yang kian berkobar. Bibirku bergoyang tipis melantunkan perlahan lagu .. Stop! Kau mencuri hatiku.. hatiku..
Bipp bip.. Bipp bipp..
Aku tersentak dalam lamunan ketika hp ku yang ada di saku celana tiba-tiba bergetar.
"Haisst.. Siapa sih ini?? Gangguin orang lagi ngelamun aja!", ku ambil hp sembari bersungut.
"Hai cowok...!", sederet nomer hp tak dikenal telah mengirim sebuah pesan melalui w******p. Kubiarkan saja tanpa membalas chat tersebut, toh juga bukan nomer yang kukenal ini.
Kembali ku pandangi dedaunan di taman kecil bapak kos yang sungguh beragam seperti tomat, jeruk nipis, daun sirih, serai, binahong, dll. Tanaman itu memiliki berbagai manfaat untuk kesehatan. Contohnya tomat, ia memiliki kandungan yang sangat baik untuk kebutuhan akan vitamin C dan A. Jeruk nipis, memiliki kandungan vitamin C yang ampuh dalam membantu memperbaiki peradangan yaitu radang tenggorokan, batuk, sariawan, dsb. Daun sirih dan binahong memiliki khasiat tinggi sebagai antibiotik alami dalam kasus luka dan perdarahan. Serai bersama jahe dan beberapa tumbuhan lain mampu memberikan efek aromatherapy, membantu kelancaran pernafasan, meningkatkan stamina tubuh, dsb.
Bipp bip.. Bipp bip..
Nomer yang tak dikenal tadi kembali menghubungi via wa dan menuliskan "Halo" karena merasa tak mendapatkan respon dariku.
"Kok ga dibls mas?", kembali nomer tersebut mengirim pesan setelah tulisan Halo-nya pun tetap kuabaikan.
"Hei..mas. inget nama Hajar ga nih? yang kemarin kamu ngintipin kakaknya pas lagi bercinta?", spontan aku langsung mengkerutkan kening begitu membaca kata 'Hajar' dan 'Ngintipin'.
"Siapa sih ini?, langsung aja to d'point gitu lho ga usah muter-muter ngomongnya!", chat kukirim balik kepada nomer misterius.
"Ih kok sewot sih??. Iya iya aku ngaku. Ini Hajar mas!. Masih inget kan??", pemilik nomer misteri yang ternyata Hajar akhirnya membuka kartu.
Glekk..!
Lidahku tercekat. Sungguh diluar perkiraan jika seorang Hajar idola hati ternyata menghubungiku. Jadi linglung rasanya, tak tahu harus membalas kalimat apa lagi. Tapi jauh di lubuk hati tersirat satu ekspetasi yang begitu besar pada kehadiran sosok Hajar dalam perjalananku, pada masa depanku.
"Yee..kok malah meneng mas?, keturon ta???. Ih.. Nom-noman ngganteng mosok isih jam wolu wes tebal rek?", (Yee..kok diem mas?, ketiduran ya???. Ih masa pemuda ganteng jam 8 malem udah ngantuk?) notifikasi baru muncul di layar hpku sebelum aku sempat menuliskan balasan pada chat Hajar sebelumnya.
Degg..
Hati ini bergejolak tatkala k****a chat Hajar yang terakhir dan terhenti pada kata 'ganteng'. Akankah ini sebuah signal bahwa perasaanku tak bertepuh sebelah tangan?. Ataukah ia hanya abang-abang lambe (basa-basi) ?
***