8. Penasaran

1527 Words
(Episode ini bernuansa dewasa 21++, silahkan skip jika tidak berkenan atau masih dibawah umur) Ketiganya pun terpana dengan mulut menganga lebar... Jendela nako tersebut ternyata adalah jendela dari sebuah ruangan kamar dengan ukuran yang cukup luas. Layaknya sebuah kamar hotel first class lengkap dengan bed kingsize, kamar mandi dalam, AC, dan segala kelengkapan komplit yang akan memanjakan pemilik ruangan untuk betah tinggal di dalamnya. Yang sangat mencengangkan bagi Dana dkk bukanlah perlengkapan kamar yang serba wah tersebut, melainkan adalah yang terjadi di atas ranjang berukuran besar tersebut. Nampak sepasang insan sedang memadu kasih. Bermesraan saling meluapkan gelegak hasrat satu sama lain. Belaian, candaan, dan cumbuan silih berganti mewarnai moment indah mereka. Tawa, pekik, desah, dan rintih terlepas dari bibir yang sedang mereguk manisnya madu cinta. Seorang gadis molek dan cantik sedang berdiri pasrah dalam balutan lingerie tipis berwarna hitam gelap. Pakaian itu jelas takkan mampu menutup sempurna tubuh sang gadis Gadis itu belum terlalu tua, mungkin hanya selisih 2 tahunan diatas Hajar. Wajahnya pun tidak jauh beda dengan Hajar yang secantik barbie. Bahkan bisa dibilang mereka 11-12 memiliki kemiripan yang cukup mencolok. Yang sedikit membedakan hanyalah postur dan kesintalan dari si gadis nampak berukuran sedikit lebih daripada Hajar. "Cuook, asli.. Uayu temen rekk. Seksi pisan. Sopo iku jehh?", (Anjrit, asli... Cantik banget yah. Seksi juga. Siapa sih dia bro?) bisik Indra ke telinga Khusna yang serta merta dibalas sikutan maut di rusuk Indra hingga ia meringis kesakitan. "Heh.. Menengo talahh!", (Heh.. Tutup mulutmu!) Khusna mendelik sadis ke arah Indra yang masih meringis. "*su.. Ojok nemen-nemen lek nyikut cuk!, iso ambrol dodoku! Aduhh..", (*njing.. Jangan kenceng-kenceng siku mu itu, bisa hancur dadaku! Aduhh..) Indra mengelus kesakitan rusuknya. Gadis yang tengah berdiri seksi di tepi kasur tersebut nampak meronta dan mendesis menerima perlakuan kekasihnya. Sesekali pria yang memeluk di hadapan sang gadis menyambar bibir kekasihnya itu hingga terdengar kecipak suara ciuman bibir yang panas. "Ehmm mas.. Ssstt ah", desah sang gadis seksi menggetarkan gendang telinga trio DKI yang masih terus mengintip tanpa disadari oleh empunya kamar. Perlahan dan pasti si pria menuntun gadis cantik tersebut melepaskan lingerie yang menutup dadanya. Mak jendull..(Ctuing) Terlompatlah dua Fujiyama dengan memukau. Sang pria beruntung dengan buas langsung mencaplok sambil tangannya asyik piknik ke belahan lainnya. "Ahmm... Ahhh", gadis itu menggeliat molek menikmati getaran-getaran halus dari titik rangsang di sekujur tubuhnya yang terasa meletup-letup menghantar impuls gairah. "Opo iku Kas??.. Eh eh.. Ngimpi opoo aku wingi..??!", (Apaan tuh Kas??.. Eh eh.. Mimpi apa aku semalam..??!) Indra kembali bersuara demi mendapati pemandangan menakjubkan terhampar di hadapannya. "Koen pingin konangan ta?, menengo po'o rekkk!", ( Kamu ingin ketangkap basah kah?, diamlahh kawan!) lagi-lagi Khusna mendelik memperingatkan Indra agar tidak mengacaukan pengintipan berhadiah. Kini mbak cantik telah terlihat polos tanpa penutup apapun. Tubuhnya yang putih ditunjang kebersihan dalam merawatnya membuat tubuh yang polos tersebut terlihat sangat indah bersinar. Kembali mas beruntung itu mendekati pujaan hatinya dan menghamburkan lumatan dahsyat di bibir tipis yang ada dihadapannya. Segala upaya ia lakukan mengikuti getar hati. Sang cantik hanya bisa pasrah menerima setiap perlakuan tanpa ada penolakan, karena nyatanya ia pun menginginkan hal tersebut. "Wkkwk.. Cilik tibakno pentungan e.. Hehe!", (wkkwk.. Ternyata pentungannya kecil hehe) reflek Indra kembali berulah tanpa bisa menahan diri begitu melihat serdadu yang ukurannya sangat biasa. "Eh su.. Muliho kono!, nggateli koen iku, Rame ae!", (Eh *njing.. Pulang sana! Payah kau, berisik mulu!) Khusna sekali lagi berbisik galak. Indra menyadari keteledorannya dan segera mengunci mulut rapat-rapat. "Hayoo... lagi lapooo peno cak!??", (Hayoo.. lagi ngapain kamu mas!??) gedubrakk...spontan ketiga pemuda melompat ke tempat duduk gazebo saat mendengar suara bentakan di belakang mereka. "Ehh Hajar.. Sudah lama disini??", basa-basi Dana untuk menutupi rasa malunya. Rasanya seperti tersambar petir saat mendadak Hajar memergokinya. "Yahh.. 2 menitan lah", balas Hajar sinis sembari berkacak pinggang. "Duhh.. Mateng koenn. Sampek ngamuk, rugi olehku masak. Iso-iso malah tekan Nada.. Juurr ajur", (Duhh.. Mati aku. Kalau sampai dia marah, bisa rugi nih masakanku. Bisa-bisa juga diceritakan ke Nada.. Hancurrr) gumam Dana dalam hati menyalahkan dirinya sendiri yang kurang kontrol. "Salahmu juga, No. Ngapain ngajak-ngajak kita ngintip!", bisik Kasino bergidik takut. Keringatnya udah se jagung-jagung. "Gundulmu..resiko bersama iki ndes", bisik Dana tak mau kalah. "Hadoh, hancur harga diri dan martabatku", Indro menimpali namun dibalas jitakan dan jeweran oleh Dana dan Khusna. "Gayamu, Ndro. Sok iyes koen iki. Hangklek!", cibir Dana terhadap Indro sekaligus frustasi menerima tatapan Hajar yang semakin menakutkan. "Ampun mbak yo.. pliss ampun", Indro menjatuhkan lututnya ke rerumputan. Kakinya sudah bergetar tak mampu menopang berat badan. "Hihihi.. Ojok ngompol mas!. Guyonn. Aku ga ngamuk kok. Santai ae", (Hihihi.. Jangan ngompol mas!. Becanda doang. Aku ga ngamuk kok. Santai aja) tiba-tiba Hajar tersenyum cekikian yang malah membuat ketiga pria m***m menjadi bingung. "Hehee ojok mengkeret ngunu talah.. Hahaha", (Hehee jangan ketakutan gitu dong.. Hahaha) imbuh Hajar lagi dengan tawa riang. "Yang sampean intip iku mbakku, jenenge mbak Najar. Umure 3 tahun diatasku. De'e jek buru rabi sebulan wingi. Isih seneng-seneng e nganu mas, jadi harap maklum. Aku kadang yo ngintip kok hehe. Lha salahe dewe, mereka ga lihat waktu dan sikon.. Asal ah-uh thok ae", (Yang kamu lihat itu kakakku. Namanya kak Najar. Umurnya 3 tahun diatasku. Dia baru aja nikah sebulan ini. Masih seneng-senengnya temanten baru tuh, jadi ya harap maklum. Aku kadang juga ngintip hehe. Nah salah sendiri, ga bisa liat waktu dan keadaan.. Asal sruduk aja) Hajar mendekati Dana dan teman-temannya sembari bercerita perihal kakaknya. "Oh iyo lali.. Kenalno iki konco-koncoku mbak..", (Oh iya lupa... Kenalkan ini teman-temanku mbak..) Dana mengalihkan pembicaraan agar ia tidak terus menerus merasa kikuk setelah ketahuan mengintip kegiatan asyik masyuk sepasang sejoli yang ternyata adalah kakaknya Hajar. "Iki Indro, trus iki Kasino...", (Ini Indro, dan ini Kasino..) Dana menunjukkan satu persatu sahabatnya. Terlihat mereka saling berjabat tangan, dan yang paling lama bersalaman include saling tatapan mata adalah Khusna. Mencurigakan.. "Gusti Pengerann.. Ualus temen tangane. Aduh mripate iku.. Esem e iku.. Nggarai atine tambah dag-dig-dug plas. Uayu temen ancen arek siji iki!", (Yaa Allah.. Halus banget tangannya. Aduh matanya.. senyumnya.. Bikin hatiku semakin bergetar. Emang cantik banget nih bidadari!) batin Khusna yang sepertinya mendapat respon positif dari Hajar. Terbukti tatapan Khusna yang sangat dalam ke arah Hajar dibalas dengan tatapan serupa olehnya. "Waduhh mirip grup warkop yang udah almarhum itu ya nama-namanya hihi, jangan-jangan mas Dana dipanggilnya Dono yaa??", komentar Hajar pada nama Indro dan Kasino yang memang jelas-jelas menjiplak. "Hanjrit.. Almarhum jare..!", (Busyet.. Almarhum katanya..!) bisik Indro ke telinga Dana yang ternyata terdengar oleh Hajar dan disambut dengan senyum geli Hajar yang malah terlihat manis sekali. "Mok jeneng celukan mbak, gae seru-seruan ae hehe", (Hanya nama panggilan mbak, buat seru-seruan aja hehe) balas Dana dengan tatapan gimanaaa gitu ke arah Hajar yang alhasil mendapatkan hadiah jitakan ringan dari Khusna yang merasa cemburu. Sebaliknya Hajar, hanya melihat jitakan itu sebuah bentuk keakraban saja. "Eh mas Dana.. Dimasukkan aja ke ruang tamu barangnya", Hajar memberikan instruksi setelah teringat kembali pada tujuan utama Dana datang kesana. Hari itu Hajar yang imut semakin terlihat bersinar dalam balutan kaos putih ketat yang menyuguhkan padat dan bulatnya tonjolan bukit d**a dipadu dengan celana jeans belel berwarna orange juice. Meski bukitnya tak sebesar Nada ataupun kakaknya yang bernama lengkap Najar Rina Mahadewi, namun bulatannya sungguh ideal, tegak, dan pas banget. Rasanya terlihat segar sekali. Dengan cekatan tanpa menunggu kedua kalinya, Dana dibantu dua sahabatnya segera mengangkat t***k-bengek di mobil menuju ruang tamu. 2-3 kali bolak-balik beres deh. Tapi ada satu yang tidak beres, yaitu solah polah Khusna yang lain daripada biasanya. Setiap mengangkat makanan melintasi Hajar, ia seperti terhipnosis menoleh ke arah Hajar tiada henti. Hajarpun demikian, asyik beradu mata dengan Khusna tanpa kata-kata. Beberapa kali Kasino hampir jatuh tersandung kakinya sendiri akibat dari matanya yang tak bisa diajak kerja serius. "Uwis mbak. Mari kabeh. Total e kabeh 720 ewu. Tapi engkok lek wis mari ojok lali dibalekno rek panci-panciku!", (Sudah mbak. Beres semua. Totalnya 720 ribu. Tapi nanti kalau abis makai jangan lupa dibalikin lho panci-panciku!) ucap Dana setelah angkatan terakhir sukses ia letakkan. "Iyo beres, mene tak telp lek kate mbalekno panci. Iki duwik e, susuk e pe'en ae mas. Eh iyo mas Dan, engkok aku esemesi nomer hape koncoe pean sing jenenge Kasino yo.. Tapi rahasia lho.. ", (Iya beres, besok saya hubungi kalau mau balikin panci. Ini uangnya, kembaliannya bawa aja mas. Eh iya mas Dan, nanti aku smsin nomer ho temanmu yang namanya Kasino itu ya.. Tapi rahasia lho..) bisik Hajar memiringkan wajahnya ke arah telinga Dana. Wangi tubuh Hajar yang hanya berjarak sekian senti dari Dana sungguh begitu melenakan. Aroma nan penuh sensualitas pekat.. "Aku juga mintol ya mbak", lanjut Dana mempertahankan posisi saling berdekatan dengan Hajar. "Opo mas?", Hajar penasaran. "Yang tadi aku ketahuan ngintip nganu, jangan dilaporin ke Nada yo. Pliss...", wajah Dana menghiba. Hajar terkekeh melihatnya. "Okrik..rebes mas hihi (iya..beres mas)", jawab Hajar dengan masih tergelak. "Udah dong bisik-bisiknya. Pakai acara deket-deketan lagi..hmmm", Kusna muncul di air keruh haha. "Yaelah sebentar doang. Kenapa, Kas? Cemburu?", ledek Dana. Spontan Kusna jadi salah tingkah. ------- Maaf jika ditemukan kata yang kurang sopan dalam percakapan seperti nama hewan, dll. Begitulah karakter dialek suroboyoan yang bagi sebagian orang terdengar kasar dan ceplas-ceplos. Cerita semakin panjang dan berliku. Kisah indah, pelik, maupun rumit akan silih berganti memberi dinamika tersendiri. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD