11. Menyusuri jalan cinta

507 Words
[POV KHUSNA] "Critone dowo mas. Engkok ae tak critani. Intine, aku iki anak ga kopen!", (Ceritanya panjang mas. Nantilah aku ceritain. Intinya, aku ini anak tak terurus!) ungkap Hajar dalam kecemberutannya. Dahiku mengkerut mencermati kalimat Hajar, namun tak lagi kulanjutkan aksi petuah karena melihat Hajar yang menjadi tak nyaman. Ku hela nafas dalam diam menunggu reaksi Hajar selanjutnya. *** Aku beriring bersama Hajar menuju mobil setelah sebelumnya 'melunasi' tunggakan kopi jahe and friends. Kugamitkan lengan ke pinggang rampingnya dan tak ada sinyal penolakan. Yes.. lampu hijau. Oh indahnya.. Malam itu Hajar nampak masih berpakaian kerja. Terusan blouse selutut dengan bentuk tangan tanpa lengan alias 'you can see' berwarna hitam dengan motif grafir mirip batik. Untuk menutupi terbukanya ketiak dan lingkaran leher yang cukup rendah, ia gunakan cardigan warna cream panjang hingga dibawah lutut. Sungguh terlihat elegan. Jam digital yang muncul di layar monitor mobil menunjukkan pukul 22.45. Kupacu santai Brio dengan kecepatan rendah menyusuri jalan Gub. Suryo, melewati gedung Grahadi dimana Gubernur berkantor. Sampai disimpang pemuda kuputar haluan menuju arah Taman Prestasi di sisi sungai ketabang. Nampak beberapa pasang muda-mudi asyik masyuk bermesraan di remang taman tersebut. Ada pula beberapa dari mereka yang telah sampai pada tahap cium dan raba. Kucolek lengan Hajar sembari menunjuk sepasang muda-mudi yang berpangku-pangkuan disamping mushola taman. Kami terkekeh berdua melihatnya. Setiap orang punya pandangan dan pendapat berbeda dalam menyikapi segala hal. Bagiku pribadi, terlalu murahan jika seorang bidadari yang kucintai harus menikmati cara b******u di tempat terbuka semacam itu. Terlebih lagi dengan tempat duduk ala kadarnya plus suasana yang jauh dari kata romantis. Seorang pria harus mampu menjadi pengayom, pelindung, tempat bersandar, penopang tumbuhnya rasa aman dan nyaman pasangannya. Namun sekali lagi, ini hanya pendapatku pribadi. Semua bebas memilih jalannya masing-masing. Kuhentikan mobil sejenak di sisi jalan taman tersebut. "Bermesraan kok di tempat terbuka begitu sih", celoteh Hajar mengamati dari balik kaca mobil. "Selera orang beda-beda", jawabku diplomatis. "Yah setidaknya cari dong tempat yang lebih nyaman dan tertutup", lanjut Hajar. "Dibawah jembatan? hehe", tanggapku asal. "Ga. Didalem ketek aja anget hmm..", sedikit sewot Hajar menanggapi gurauanku. Aku hanya bisa tersenyum memandang keteduhan wajahnya. Paras ayu, putih kulitnya, lembut suaranya, sungguh benar-benar aku ter-anu kepadanya. Duhh.. Perlahan mobil kembali berjalan melewati meninggalkan taman prestasi, menikung kiri melewati Flamengo menuju perempatan Siola. Kami mengobrol santai menikmati perjalanan. Belum ada obrolan curhat seperti apa yang dimaksudkan Hajar tadi. Mobil terus ku arahkan menuju Bubutan kemudian menikung ke kiri menyusuri jalan Tembaan. Sekian menit berlalu terlihat di depan sana papan penunjuk arah tol pasar loak Dupak. Tanpa ragu-ragu kuarahkan Brio putih bernopol L 1144 R menaiki tanjakan tol. Mendekati gerbang tol pengambilan tiket, kupilih jalur kosong paling pinggir dengan papan penunjuk arah Malang. Seketika Hajar menoleh kepadaku dengan menyimpan tanda tanya yang tergambar pada raut wajah cantiknya. "Lho kok Malang?, kate nang ndi iki mas?", (Lho kok Malang, mau kemana ini mas?" Hajar akhirnya menyampaikan tanda tanya yang ia simpan. Aku hanya tersenyum penuh arti. Tak lama kemudian kupegang tangan kanan Hajar yang ada dipangkuannya dan kugenggam sembari kubisikkan cepat ke telinganya, "Tretes !". ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD