12. Muntahan cerita pedih

1152 Words
[POV AUTHOR] Tol arah Sidoarjo dan sekitarnya terlihat lengang. Sesekali terlihat truk angkutan berat berjalan merambat tak kuasa untuk laju lebih cepat karena bebannya yang begitu padat. Dibahu jalan setiap sekian menit sekali melintas mobil patroli memantau keadaan keamanan tol. Cuaca nampaknya kurang begitu bersahabat. Mendung bergelayut siap memuntahkan cairan pembasuh persada, seakan ingin menghapuskan kegersangan maupun debu-debu dosa dengan air langit, mensucikan bumi dari bercak tangan-tangan kotor pelukis hitam dunia. Brio putih bernopol L 1144 R yang melaju santuy dengan kecepatan 60Km/jam terlihat melintasi jalan tol menjauhi kota Surabaya. Perlahan tetes air hujan mulai membasahi mobil tersebut. Diluar perkiraan, ada satu kendala yang memaksa mobil itu harus menepi. Wiper mobil secara mendadak tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. "Aduh.. Onok-onok ae rekkk", (Aduh.. Ada-ada aja deh) dengan sedikit sebal Khusna menepikan mobilnya menapaki areal rerumputan di sisi luar bahu jalan tol. "Iki mesti goro-goro uwong sing masang alarm central lock wingi. Koyoke nyenggol kabel utowo sekring e wiper. Wah lek udan ngene, ga wani mlaku mobil e Jar!", (Ini pasti gara-gara orang yang memasang alarm central lock kemarin. Kayaknya sih nyenggol kabel atau sikringnya wiper. Wah kalau hujan gini, mobilnya tidak berani jalan Jar!) kesebalan Khusna semakin menjadi-jadi saat mengingat pekerjaan orang bengkel modifikasi yang kurang beres. Hajar yang sedang diajak bicara hanya bisa melirik ke wajah Khusna tanpa bisa berucap apa-apa. Dia hanya seorang wanita, bukan pula montir, jadi tak ada yang bisa ia ucapkan saat mendengar keluhan si empunya mobil. Dibalik sisi kelambu jiwanya terbesit sedikit kekhawatiran mengalami keterkatungan di tempat sepi, dalam pekatnya malam, bersama seorang yang baru dikenal kurang dari sebulan. Namun sisi lain jiwanya menyangkal. Keyakinan diri terhadap sosok Khusna tidak dapat terkebiri begitu saja. Ketukan hati mampu merasakan bahwa pria yang sedang gundah disampingnya bukanlah pria kaleng rombeng. Hajar merasa tak mungkin salah pada intuisinya. Ia akhirnya memilih tenang bersandar di bangku mobil menanti segala kemungkinan yang akan terjadi. "Turuo sik Jar karo ngenteni udan. Ketoke suthup ngunu motomu!", (Tidur aja dulu Jar sambil nunggu hujan reda. kayaknya matamu tinggal 5watt gitu!) Khusna menunjukkan perhatian pada Hajar yang beberapa kali terlihat menguap. Hajar hanya membalas usulan Khusna dengan senyum. Entah apalah artinya senyum itu. "Ehmm.. Mas. Sepurane yo ngrepoti sampean goro-goro Hajar ga gelem moleh", (Ehmm.. Mas. Maaf merepotkan kamu gara-gara Hajar ga mau pulang) wajah Hajar tertunduk. Khusna tak menjawabnya. Mereka akhirnya terdiam dalam lamunan masing-masing. "Mas, ehmm.. Bapak Ibuk e sampean isih lengkap?, sayang ga sampean mbarek wong tuo?", (Mas, ehmm.. Bapak Ibumu masih lengkap? Sayang gak kamu kepada mereka?) suara Hajar yang bening seperti penyiar radio EBS FM Surabaya memecah lamunan Khusna yang terlihat sedang mencermati tetes air hujan pada kaca depan mobilnya. Khusna terkaget seketika, dahinya berkerut. Diantara kebeningan suara Hajar, terselip getaran halus seperti ia sedang menahan sesuatu yang begitu menekan jiwa. "Lho.. Kok mak bedunduk mbahas ortu iki opo maksud e?", (Lho... Kok mendadak bahas orang tua ini apa maksudnya? ) Khusna tak menjawab. Ia malah berinisiatif bertanya balik karena merasa janggal dengan isi pertanyaan Hajar. "Hikss. Hiks... ", tanpa disangka tiba-tiba Hajar menangis sesenggukan. "Lho lho.. Kok malah nangis Jar, awakmu iki kenek opo?", (Lho lho.. Kok jadi nangis Jar, ada apa sih?) Khusna bingung dengan perubahan Hajar yang dengan mendadak menjadi seperti itu. "Aku iling Bapak mas.. Hikss hiks..", (Aku inget Bapak mas.. Hikss hiks) Hajar melanjutkan tangisannya. "Lha mau tak sarano moleh ga gelem. Papa Mama mu lek nggoleki yo'opo!?", (Lha tadi aku saranin pulang ga mau, kalau Papa mamamu nyariin gimana!?) Khusna merasa serba salah. "Lho guduk Papa, tapi Bapak.. Mas!", (Lho bukan Papa, tapi Bapak.. Mas!) ucapan Hajar semakin membuat Khusna bingung. "Maksudnya?", tanya Khusna dengan dipenuhi kebingungan. "Begini lho mas.. Bapak dan Ibuku sudah cerai sejak aku SMA. Waktu itu mbak Najar masih awal kuliah. Ibu merasa cemburu sosial karena Bapak lebih perhatian ke Nenek dan saudara-saudara Bapak. Ibu merasa dicuekin oleh Bapak. Tak disangka, permasalahan kecil tersebut mampu menghantar Ibu untuk mengajukan tuntutan cerai dengan tuduhan ditelantarkan. Padahal kenyataannya tidak seburuk itu. Saat dipersidangan, tak perlu panjang lebar tuntutan langsung diterima Bapak tanpa pembelaan apapun. Hanya satu kalimat yang Bapak ucapkan kepada Ibu sebelum pergi, 'Kau belum pernah merasakan saat nanti tua tanpa perhatian dari anak-anakmu, dan kau belum pernah merasakan saat kesusahan tanpa uluran tangan dari siapapun'. Bapak pergi meninggalkan persidangan dengan sebuah senyuman", Hajar menceritakan detail masalah yang ia hadapi. "Bapak pergi dengan meninggalkan perusahaan yang sebelumnya dikelola berdua dengan Ibu. Bapak memilih untuk tidak membawa harta saat palu perceraian telah diketok. Setelah itu, bapak melanjutkan hidup dengan tinggal di rumah Nenek sambil berjualan bakso di depan rumah", Hajar melanjutkan ceritanya dengan sesenggukan. "Tak lama kemudian Ibu berkenalan dengan Papa yang sekarang. Papa menyarankan agar aku dan mbak Najar merubah panggilan menjadi Papa Mama dengan alasan untuk membuka lembaran baru. Orangnya baik kepada kami dan tak pernah kasar. Perusahaan yang dijalankan Ibu juga dibantu oleh Papa hingga sekarang. Namun yang berubah adalah Ibu, beliau lebih perhatian kepada anak bawaannya Papa. Namanya Andre, sekarang SMA kelas 3. Bahkan bisa dibilang sejak saat itu aku dan mbak Najar hidup sendiri di rumah kami. Ibu atau tepatnya sekarang disebut Mama, hanya sibuk mengurus perusahaan; Papa; dan dik Andre. Hari-hari kami berdua terasa sepi tanpa ada lagi belaian sayang Ibu. Hingga untuk urusan nikahnya mbak Najarpun hanya kami rembuk berdua dan sendiri tanpa ada kepedulian Ibu. Hanya Bapak yang selalu mensupport dan mendampingi kami meski tak tinggal serumah lagi", Hajar menutup ceritanya dengan derai airmata. Isak tangis nan pilu begitu menyayat hati Khusna. "Sabar ya Hajar.. Jalan tak selamanya mulus. Jalan bergelombang, terjal, berliku, dan berlobang akan selalu kita temui dimanapun. Tapi kita tak bisa mundur. Bagaimanapun kondisi jalan yang ada, kita tetap harus melaluinya. Karena didepan sana ada harapan dan cita-cita menanti!", Khusna mencoba menghibur Hajar sembari memeluk Hajar demi memberi ketenangan dan rasa nyaman. "Molai mbak Najar nikah, aku ngeroso dewean mas. Biasane saling menguatkan. Sak iki, aku mok klutak-klutik nang omah dewe ga duwe konco. Mbak Najar duwe tugas enyar sebagai istri..", (Sejak mbak Najar nikah, aku merasa sendirian mas. Biasanya kami saling menguatkan. Sekarang, aku ngapa-ngapain dirumah tanpa teman. Mbak Najar punya kewajiban baru sebagai istri..) tangis Hajar kian pecah dalam pelukan erat Khusna beriring gemuruh hujan diluar sana. "Lho kan onok dik andre nang omah kan!??", (Lho kan ada dik andre dirumah kan!??) Tangan Khusna mengelus lembut lengan atas Hajar seperti seorang bapak yang sedang meredam tangis anaknya. "Papa wes tuku omah maneh nang daerah Galaxy, dik andre yo nang kono. Cuman kadang-kadang mereka tidur omah Dharmahusada, iku ae juarang poll!", (Papa sudah beli rumah lagi di daerah galaxy, dik andre ya ikut disana. Hanya kadang mereka tidur rumah dharmahusada, itupun sangat jarang!) Hajar menimpali ucapan Khusna dengan nada tidak suka atas perlakuan yang ia terima dari keluarganya. "Mas...", lanjut Hajar. "Apa..?", Khusna menqtap teduh wajah cantik yang ada dipelukannya. Gemuruh suara air hujan yang membentur body mobil diluar sana terdengar ritmik mengiringi muntahan cerita pedih dari seorang Hajar. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD