Siapa Tania

3408 Words
Pagi ini, cuaca terlihat sedikit tidak bersahabat. Awan hitam yang sangat tebal menutupi seluruh langit di ibukota Jakarta. Membuat udara di pagi hari semakin sejuk, dan membuat siapapun enggan untuk keluar dari bawah selimut. Begitupun dengan Azmi, gadis itu masih bersembunyi di balik selimut tebal dengan bantal guling yang berada di dalam pelukannya. Melihat jam yang tergantung di dinding kamar yang sudah menunjukkan pukul enam pagi, Azmi mengurungkan niatnya untuk kembali tidur. Azmi memilih bangkit, dan bersiap untuk berangkat bekerja. ia juga ingin menyiapkan sarapan untuk Andrean. Hampir satu jam bersiap, akhirnya Azmi selesai bersiap sekaligus membereskan kamarnya. Dengan langkah yang semangat, Azmi langsung menuju ke arah dapur untuk membantu bik Lastri mempersiapkan sarapan. Saat ia sampai di ambang pintu dapur, Azmi tersenyum melihat Andrean yang sedang memasak telur di dalam penggorengan. “Aku pikir abang belum bangun.” Azmi mendekati Andrean yang sedang fokus kepada masakannya. “Eh, Mi. Kamu sudah bangun?” Andrean menoleh ke arah Azmi sekilas, sebelum ia kembali fokus kepada masakannya. “Sudah dari tadi sih, bang. Tapi cuaca pagi ini membuatku sedikit malas untuk meninggalkan kasur.” “Kalau masih ingin berduaan dengan kasur, kenapa kamu sudah sampai disini? Nanti sarapan kamu bisa abang antar ke kamar kamu.” Andrean mengangkat telur dari penggorengan dan memindahkannya ke atas sebuah piring. Andrean mulai menata nasi goreng dan telur yang baru selesai ia masak. “Rencananya aku ingin membuatkan sarapan untuk abang . Tapi abang udah duluan memasak.” Azmi mengekor di belakang Andrean. “Terimakasih, sayang.” Andrean menarik satu kursi untuk Azmi. “ Duduklah.” “Seharusnya aku yang harus berterimakasih, abang. Abang sudah rela bangun pagi-pagi untuk membuatkan sarapan untukku.” “Abang berterimakasih, karena kamu sudah berniat untuk membuatkan abang sarapan. Itu sudah bisa membuat abang merasa sangat bahagia” Andrean menjawil hidung Azmi. “Ihhhh. Sakit, abang ....” Azmi mengerucutkan bibirnya. “Mmmm. Jangan cemberut sayang. Ayo sarapan dulu! Kalau kamu sudah kenyang, baru boleh cemberut.” Andrean memasukkan nasi goreng dan telur ke dalam piring kosong yang berada di depan Azmi. “Teimakasih, bang.” Mata Azmi berbinar melihat perlakuan manis Andrean terhadap dirinya. Karena ini adalah kali pertama ia diperlakukan manis oleh seorang pria. “Ayo kita sarapan. Setelah ini kita langsung kekantor, abang harus menggantikan bang Reno rapat pagi ini.” “Tania masih lama ya, bang, dirumah sakitnya?” “Nggak, Tania sudah mulai baikan. Nanti siang sudah bisa izinkan pulang, tapi Tania harus tetap di dampingi oleh salah satu perawat dari rumah sakit.” “Kenapa Tania tidak dirawat saja dulu bang? Sampai keadaanya benar-benar pulih.” "Keinginan bang Reno memang seperti itu, Mi. Tapi Tania tidak mau berlama-lama di rumah sakit. Kalau tidak dituruti, yang ada keadaannya akan semakin parah.” “Memangnya Tania sakit apa, Bang?” Tanya Azmi lagi. Di wajah Azmi sangat jelas terlihat guratan kekhawatiran. “Tania ada kelainan jantung, Mi. Kondisinya akan menurun jika suasana hati Tania memburuk. Itu sebabnya bang Reno selalu menuruti segala keinginan Tania.” “Kelainan jantung, Bang?” “Iya. Tapi kamu harus tau satu hal, Mi. Tania itu adalah anak yang sangat kuat, kasih sayang yang dicurahkan bang Reno untuknya, membuat Tania tumbuh menjadi anak yang sangat kuat.” “Abang benar. Aku sendiri salut melihat ketegaran dan semangat Tania." Selesai membahas Tania, Azmi melanjutkan sarapannya dalam diam. Setelah selesai sarapan, Azmi mengemasi seluruh peralatan sarapan mereka, dan langsung mencucinya. Andrean hanya tersenyum melihat Azmi yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Andrean semakin yakin, bahwa Azmi adalah wanita yang tepat untuk dijadikan istri. Saat gerimis mulai turun, Andrean dan Azmi sudah memulai perjalanan mereka menuju ke kantor. Sesekali Azmi mencuri pandang terhadap Andrean yang sedang fokus mengemudi. Azmi mengingat dari awal pertemuan mereka berdua. Hingga sarapan bersama, dan berangkat ke kantor juga bersama. ‘Aku menaruh harapan besar terhadap hubungan kita bang. Aku belum pernah merasa sebahagia ini. Apa lagi, semenjak aku kehilangan Ibu, dan aku tidak pernah tau dimana keberadaan Ayah ku.’ Azmi semakin yakin untuk melabuhkan cintanya kepada Andrean. Setengah jam perjalanan, Azmi dan Andrean akhirnya sampai di kantor. Azmi bersiap di kubikelnya, dan Andrean bersiap untuk menghadiri rapat. Semenjak Andrean memutuskan untuk membantu Reno di perusahaannya, pria itu selalu datang lebih pagi dari yang lainnya. Karena Andrean lebih suka menunggu, daripada ditunggu oleh orang lain. Setelah Andrean masuk ke dalam ruangannya, ia sengaja tidak menutup pintu agar bisa melihat Azmi yang sedang bekerja di kubikel miliknya. Lima menit berlalu, Ega dan Lina datang. Kedua gadis itu langsung memeluk Azmi secara bersamaan. Membuat Azmi merasa sangat bahagia, karena masih ada yang peduli terhadap dirinya. “Mi. Kami turut berdukacita ya. Atas meninggalnya ibu kamu. Dan maaf, kami tidak bisa datang untuk menemani kamu.” Lina dan Ega masih setia memeluk Azmi. “Terimakasih ya, Lin, Ga.” “Sama-sama.” Jawab Ega, dan Lina serentak. “Mi. Abang ke ruang rapat dulu. Nanti kalau ada yang mencari abang, suruh orang itu untuk menunggu di ruangan abang.” Andrean berjalan mendekati ketiga gadis itu. Ega dan Lina termangu mendengar Andrean memanggil dirinya dengan sebutan Abang. Hingga kedua gadis itu saling menyiku satu sama lain. “Baik, bang.” Jawab Azmi singkat, dan kembali fokus pada pekerjaannya. “Lina, tolong kamu periksa laporan ini ya, dan kamu cocokan dengan laporan rapat Kemarin!" Andrean menyodorkan sebuah map kepada Lina. Bukannya menerima, gadis itu malah tersenyum tidak jelas karena ia membayangkan Azmi menikah dengan Andrean. “Lin.” Ega menyiku tangan Lina. “Apa?” Jawab Lina sinis. “Tu.” Ega menunjuk Andrean dengan dagunya. “Ah Iya, Pak. Terimakasih.” Jawab Lina asal, sambil menerima map dari tangan Andrean. Andrean hanya menggelengkan kepalanya, dan meninggalkan ketiga gadis tersebut. “Apanya yang terimakasih, Lin?” tanya Ega. “Kamu diminta pak Andrean untuk mencocokkan laporan yang berada disini, dengan laporan rapat kemarin.” Azmi menambahkan. “Ooo. Astaga ..., berarti aku salah dengar dong tadi. Aduhh malunya aku, Mi, Ga.” Lina menutup wajahnya dengan map yang ada di tangannya. “Kamu mikirin apa sih, Lin? Sampai pak Andrean yang berbicara tepat di hadapanmu, masih tidak kamu perhatikan.” Sungut Ega. “Aku memikirkan kamu, Mi.” Lina memukulkan map itu kelengan Azmi. “Aku?” Azmi menunjuk dirinya sendiri. “Iya.” Jawab Lina singkat. "Memangnya aku …,” “Dimana Andrean.” Ucapan Azmi terhenti mendengar suara nyaring dari seorang wanita, yang sangat ia kenali. Dan wanita itu telah berdiri dengan angkuhnya di hadapan mereka bertiga. “Alena.” gumam Azmi. “Kamu karyawan baru ya disini?'’ Alena menunjuk ke arah Azmi. “Iya, Buk. Namanya Azmi Zalina. Azmi baru masuk dua hari yang lalu, buk.” Jawab Ega. “Novega Karmila, saya tidak berbicara kepada kamu!” Ketus Alena. “Dimana Andrean?” sambungnya lagi. “Pak Andrean sedang ada rapat, buk. Silahkan …,” Alena mengangkat tangannya, agar Ega tidak melanjutkan perkataannya. “Terimakasih. Tolong minta OB untuk mengantarkan Jus apel untuk saya, saya tunggu di ruangan Pak Andrean.” Alena berjalan dengan angkuh meninggalkan Ega, Lina, dan Azmi. Alena masuk kedalam ruangan Andrean, dan membanting pintu ruangan tersebut. Ega, dan Lina menggelengkan kepalanya. Sedangkan Azmi, memegang dadanya sendiri. Karena terkejut melihat sikap yang ditunjukkan oleh Alena. Alena yang ia kenal dulu, sangat berbeda dengan Alena yang sekarang. Lina dan Ega kembali ke kubikelnya masing-masing. Mereka berdua tidak ingin mendapatkan masalah dari Alena, jika melihat mereka masih berkumpul di jam kerja. Sedangkan Azmi, ia segera menghubungi pantry untuk meminta pesanan Alena. Sebelum masuk jam makan siang, Andrean telah menyelesaikan rapat. Ia juga mendapat kabar, Reno dan Tania sedang diperjalanan menuju ke kantor. Gadis kecil itu sudah sangat merindukan sosok Azmi, dan ingin meminta Azmi menemani ia dan Reno untuk makan siang. Andrean ingin mengajak Azmi keluar dari kantor sebelum Tania dan Reno datang untuk menjemput Azmi. Ia tidak ingin Azmi ikut dengan Reno dan Tania. Karena Andrean yakin, Tania pasti masih berusaha untuk meminta Azmi menjadi ibunya. “Mi kamu bersiap ya ... Kita akan makan siang di luar kantor! Tidak ada bantahan.” Ucap Andrean, sebelum pria itu masuk ke dalam ruangannya. Andrean menghembuskan nafasnya kasar, saat ia melihat Alena yang telah duduk manis di dalam ruangannya. “Bisa kamu keluar Lena! Andrean membuka pintu ruangannya lebar-lebar. “Aku ingin mengajak kamu makan siang, mas.” Alena berdiri, dan menghampiri Andrean. “Aku sudah ada janji dengan Azmi, Len. Kamu pergilah dengan bang Reno dan Tania! Mereka sudah berada di perjalanan. Temanilah anak dan suamimu makan siang.” Andrean masuk, dan meletakkan semua laporan hasil rapat yang ada di tangannya. Sebelum Alena kembali masuk untuk menemuinya, Andrean sudah kembali keluar. Ia mengabaikan Alena dan memilih menuju ke kubikel Azmi. “Ayo, sayang. Kamu bisa menyelesaikannya nanti.” Andrean mengulurkan tangannya kepada Azmi. “Tapi, bang?” “Tidak ada bantahan.’” Tegas Andrean. Dengan berat hati, Azmi meraih tangan Andrean dan menggenggamnya. Lina dan Ega terkikik kecil, sembari membentuk love dengan jari-jari mereka. Azmi menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua sahabatnya itu. Sedangkan Alena, wajahnya memerah karena menahan cemburu melihat perlakuan manis Andrean kepada Azmi. “Kamu mau kemana, mas?” Alena membentangkan tangannya untuk menghalangi langkah Andrean dan Azmi. “Aku ingin makan siang bersama kekasihku, Len. Kamu juga bisa makan siang bersama keluarga kecilmu. Tunggulah mereka sebentar lagi. Aku yakin Tania pasti bahagia makan siang bersama dengan mommynya.” “Sudah berapa kali aku katakan, mas. Aku tidak peduli dengan anak haram itu.” Upat Alena. “Alena!” Sergah Reno. Reno dan Tania berdiri di belakang Alena. Ucapan Alena membuat tangan Tania yang berada di dalam genggaman Reno terasa bergetar dan dingin. “Kenapa, mas? Kamu marah saat aku mengatakan dia anak haram? Bagiku dia memang anak haram mas! Aku tidak pernah menginginkan kehadirannya. Kamu lihat mas! Kamu lihat mata anak itu. Setiap aku melihat matanya, aku teringat akan wajah laki-laki yang telah menghancurkan kehidupan ku. Sampai matipun aku tidak akan pernah menganggapnya sebagai anakku." Alena meninggalkan ruangan tersebut. Semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut, terpaku mendengar umpatan dari mulut Alena. Tubuh Tania bergetar, carian merah yang kental langsung keluar dari hidung Tania. "Daddy." Lirih Tania. "Ya Allah, Tan." Azmi langsung berlutut di hadapan Tania. Azmi menghapus darah yang mengalir dari hidung Tania. "Kak. Tania mohon, jadilah Ibu Tania. Kakak dengar kan? Mommy tidak mau memiliki anak seperti Tania. Tania ingin memiliki seorang Ibu, sebelum Tania pergi." Lirih Tania, sebelum gadis kecil itu menutup kedua matanya. Reno langsung mengangkat tubuh mungil Tania dan membawa Tania kembali ke rumah sakit. Darah yang keluar dari hidung Tania tidak kunjung berhenti. Membuat Reno, berserta perawat dari rumah sakit semakin panik. Azmi terduduk di lantai, melihat keadaan Tania. Ia tidak mampu menahan air matanya, saat wajah gadis kecil itu kembali memintanya untuk menjadi sosok seorang Ibu. Sosok yang tidak pernah dimiliki oleh Tania. Andrean memeluk bahu Azmi, untuk menenangkan kekasihnya itu. Andrean juga turut merasa bersalah, karena keegoisannya untuk memiliki Azmi. Azmi dan Andrean segera menyusul Reno dan Tania. Bibir Azmi, tidak pernah diam, ia terus berdoa untuk keselamatan Tania. Begitu mereka sampai di rumah sakit, mereka berdua melihat Reno yang sedang gelisah di depan sebuah ruang ICU. Ayah satu anak itu, sesekali menatap gelisah ke arah ponsel yang ada di genggaman tangannya. “Bagaimana keadaan Tania, bang?” Andrean menepuk bahu Reno. “Tania membutuhkan transfusi darah, Yan. Darah abang tidak cocok dengan Tania.” Lirih Reno. “Dari tadi abang mencoba untuk menghubungi Alena. Tapi, hingga saat ini, tidak ada satupun panggilan abang yang diangkatnya.” “Abang tunggu disini. Aku tau dimana harus mencari wanita ular itu.” Andrean menepuk bahu Reno, dan kembali keluar dari rumah sakit. Azmi merasa iba melihat keadaan Reno. Pria itu terlihat terpukul melihat keadaan Tania. Reno menyandarkan tubuhnya ke tiang rumah sakit. perlahan tubuh kekar pria itu merosot dan terduduk di atas lantai. Wajah pria itu sudah basah dengan air mata. “Bapak jangan seperti ini. Tania pasti akan sangat sedih melihat bapak seperti ini. Bapak harus kuat.” Azmi ikut duduk di samping Reno, dan mengusap bahu pria itu. Azmi berharap, apa yang di lakukan ya bisa sedikit mengurangi kesedihan Reno. “Semua ini dosa aku, Mi. Jika seandainya dulu aku tidak mengikuti keegoisan ku untuk memiliki Alena, pasti Tania tidak merasakan ini semua, Mi. Gadis kecilku itu tidak pernah merasakan kebahagiaan, Mi. Yang ia rasakan hanyalah kesedihan. Gadis ku itu tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, bahkan Alena tidak pernah mau menyentuhnya sama sekali.” Reno memukul dadanya sendiri. Luka yang dirasakan oleh Reno bisa terlihat dengan jelas. Luka yang sangat besar, berasal dari rasa penyesalan karena kesalahan yang ia lakukan di masa lalu. “Tidak ada yang perlu disesali, Pak. Kita tidak akan pernah bisa mengulang masa lalu untuk memperbaiki ini semua. Kita hanya bisa memperbaiki masa depan, dengan cara menata kembali semuanya di masa sekarang. " Kamu tidak akan pernah bisa mengerti bagaimana perasaan aku, Mi. Aku harus melihat putri ku terlahir cacat, dan tumbuh tanpa kasih sayang seorang Ibu.” Reno meremas rambutnya sendiri, dan sesekali pria itu memukulkan kepalanya kepada tiang yang menjadi tempat ia bersandar. Azmi menarik nafasnya dalam-dalam, dan menghembuskan secara perlahan. Ia juga mengumpulkan seluruh keberanian yang ia miliki, sebelum ia membawa kepala Reno kedalam pelukannya. “Bapak harus kuat. Kalau bapak seperti ini, siapa yang akan memberikan semangat untuk Tania, Pak?” Azmi mencoba menenangkan perasaan Reno. Tidak ada kata yang terucap dari mulut Reno, pria itu seperti terhipnotis karena pelukan yang diberikan oleh Azmi. Rasa tenang dan nyaman, yang ia rasakan membuat hati Reno sedikit membaik. “Maaf pak! Apakah bapak sudah menemukan pendonor untuk putri bapak. Karena kantung darah yang sedang dipakai oleh putri bapak, tinggal sedikit. Kantung darah tersebut, harus segera diganti, pak.” Seorang suster keluar dari kamar rawat Tania, dan memberitahukan keadaan putri kecilnya itu. “Saya belum ....” “ini pendonornya, sus. Hisap seluruh darah yang ada pada tubuhnya.” Andrean menarik paksa tangan Alena, dan mendorong tubuh Alena kearah suster tersebut. “Ayo, Ibu.” Suster tersebut meraih tangan Alena. “Lepaskan saya!” Alena menepis tangan suster tersebut. “Tidak ada gunanya kalian semuanya mengambil darah di tubuhku. Karena darahku tidak sama dengan darah anak itu. “ Upat Alena. “Aku mohon, Alena. Bantu Tania satu kali ini saja. Aku akan mengabulkan seluruh permintaan kamu.” Reno bersujud di atas kaki Alena. “Bangun, mas. Tidak ada gunanya kamu Melakukan ini semua. Walaupun kalian semua mengambil seluruh darah yang ada di dalam tubuhku, aku tetap tidak akan bisa menyelamatkan dia.” Alena mengadahkan kepalanya. “Coba kamu minta Azmi yang melakukannya, aku yakin darah mereka sama.” Alena menunjuk Azmi. “Azmi?" Andrean membeo. “Tidak ada salahnya aku mencoba kan, bang.” Azmi menggoyang lengan Andrean. “Kamu benar. Kita berdua akan mencobanya.” Azmi dan Andrean mengikuti suster yang tadi. Mereka memeriksa darah mereka masing-masing. Setelah selesai, mereka berdua bernafas dengan lega karena Alena benar. Darah yang dimiliki oleh Azmi, cocok dengan darah Tania. Sehingga transfusi itu bisa dilakukan, dan Tania bisa mendapatkan tambahan darah untuknya. Andrean memapah tubuh lemah Azmi, dan membawa gadis itu duduk di kursi yang ada di depan ruang ICU. “Bagaimana, Yan?” “Cocok, bang. Dan darah Azmi bisa langsung ditransfusikan kepada Tania.” Andrean mengusap peluh di dahi Azmi. “Kita pulang ya, sayang. Kamu harus istirahat! Abang tidak ingin kamu sakit” Andrean berbisik tepat di telinga Azmi. “Tidak, bang, aku ingin tetap disini Setidaknya sampai keadaan Tania stabil.” “Baiklah. Kalau memang itu keinginan kamu.” Melihat kedekatan Azmi dan Andrean membuat d**a Alena terbakar dan bergemuruh. Hingga ia memutuskan untuk meninggalkan rumah sakit tersebut. “Urusan Tania sudah selesai ya sekarang. Aku harus kembali ke butik.” Ujar Alena. “Alena tunggu!” Reno meraih tangan Alena. “Bagaimana bisa, darahku dan darahmu tidak cocok dengan putri kita.” Reno mencengkram erat pergelangan tangan Alena. “Lepaskan aku, mas. Kau menyakiti aku.” Alena mencoba melepaskan genggaman tangan Reno “Aku tidak akan melepaskannya, kecuali kau menjawb pertanyaan ku.” Ketus Reno. “Baik-baik. Aku akan mengatakannya. Tania bukan anakmu, tapi dia adalah adiknya Azmi.” “Apa?” Reno melepaskan tangannya dari Alena. “Bagaimana mungkin Tania bukan anakku, dan Azmi adalah kakaknya Tania. Alena kamu jangan becanda.” Air mata Reno mengalir dengan deras di pipinya. “Apa maksudmu, Len?” Bibir Azmi bergetar, menahan tangis yang siap pecah kapan saja. “Aku tidak bercanda, mas. Tania itu anak kandung dari ayahnya Azmi. Lelaki tua b******k itu, telah memperkosa aku. Dan membuat aku hamil anak haram itu. Dan bukankah kau juga merasakan, saat kau melakukannya dengan ku, aku sudah tidak gadis lagi.” Alena menggigit bibir bawahnya sendiri. Untuk meredam rasa sakit yang terpendam di hatinya. “Saat aku mengetahui aku hamil, aku mencoba menggugurkannya, tetapi semua itu sia-sia. Dia tetap bertahan di dalam rahimku. Itu sebabnya, aku meminta mu menikahiku. Setidaknya dia tidak akan menjadi aib bagi diriku. Dan satu hal lagi, Tania seharusnya memang tidak pantas untuk dilahirkan, karena Ayah Azmi yang biadab itu, telah menikah dengan Maryam Ibu kandung ku. DAN KAU TAU AZMI, IBUMU MATI, KARENA DIA MELIHAT AYAHMU DAN IBUKU SEDANG BERSETUBUH DIDALAM RUMAH KALIAN.” Alena berteriak, dan meremas rambutnya sendiri. “Setelah kejadian itu....” “Cukup Alena cukup.” Lirih Azmi. Semua ucapan Alena membuat d**a Azmi terasa sakit. Ia merasakan sebuah bom yang sangat besar telah meledak di dalam tubuhnya. “Kau harus tau semuanya Azmi. Kau harus tau betapa bejatnya ayah mu itu. Dan kau tau, setelah Maryam tau, Ibumu meninggal karena kejadian itu. Maryam meninggalkan Ayah mu. Maryam membawa aku dan kau pergi sejauh mungkin. Dan kau tau Mi, panti asuhan itu adalah milik almarhum Ayah kandungku, disana tempat yang sangat aman untuk bersembunyi, karena Ayahmu tidak akan pernah menduga, jika Maryam tinggal disana. Dan kau ingat saat aku memutuskan untuk bekerja, Ayahmu menemukan ku, dan mengikuti aku. Saat dia menemukan keberadaan Maryam, Prayogo, Ayah mu mengajak Maryam untuk kembali kepadanya. Kau tau Mi? Wanita tua itu menolak, dan mengusir Ayahmu!” “Cukup Lena. Cukup.” Azmi menutup kedua telinganya. “Lanjutkan.” Perintah Reno. “Bang. Kita bisa membahas ini lain waktu.” Andrean mengusap bahu Azmi. “Aku ingin semua ini jelas, Yan. Aku ingin Alena terlepas dari masa lalunya yang kelam. Lanjutkan, Lena.” Alena menarik nafasnya, “Ayahmu marah saat Maryam menolaknya, dan Ayahmu melampiaskan segalanya kepadaku. Laki-laki tua itu memperkosa ku berkali-kali Azmi. Itu sebabnya aku menghilang dari panti, aku tidak ingin menjadi b***k nafsu Ayahmu. Ibumu mati karena perselingkuhan Ayahmu dan Ibuku. Dan Kamu tau, Ayahku mati karena dibunuh oleh Ayahmu. Itulah sebabnya, aku menggadaikan seluruh peninggalan Ayahku, agar Maryam bisa mendapatkan balasan nya. Aku tidak rela, kalian tinggal di rumah itu. Dan aku bahagia, karena Maryam mati, jantungnya kumat saat ia mendengar panti itu disita.” Alena tersenyum getir. “Dan kamu tau Mi, mata yang dimiliki oleh Tania, sama persis dengan mata milik Ayahmu.” Alena menunjuk Azmi. Tubuhnya bergetar, ia terduduk di atas dinginnya lantai rumah sakit. Reno mengusap wajahnya dengan kasar, mendengar semua kenyataan yang ada membuat tubuhnya seperti dihantam ribuan pisau. Andrean tidak kalah syoknya dengan Reno, pria itu terpaku dan tidak mampu melakukan apa-apa. Ia masih belum percaya, jika gadis kecil itu bukanlah keponakannya. Azmi masih terus menangis didalam pelukan Andrean, ia tidak percaya Ayahnya mampu melakukan itu semua. Hingga membuat Alena hamil dan Tania menderita. Azmi juga tidak menduga, Maryam, Wanita yang ia panggil Ibu, adalah penyebab ia harus kehilangan kasih sayang seorang Ayah, dan harus kehilangan sosok ibu kandung yang sangatlah berarti untuknya. Dua bab aku jadikan satu, agar feelnya dapat. Konflik semakin naik, ayo sediakan tissue. Hai... Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE. Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB. Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH AKU IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilanku? Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan. Walaupun karyaku tidak sebagus milik penulis lain, setidaknya ini adalah hasil karyaku sendiri. Dari hasil kerja keras memeras otak dan tenaga.. Dan aku berharap, kalian semua menyayangiku seperti aku menyayangi kalian semua. Salam Desi Nurfitriani
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD