Pernikahan

1628 Words
Lelah menangis, Azmi perlahan tertidur didalam pelukan Andrean. Gadis itu begitu hancur saat mendengar Ayahnya lah yang menjadi penyebab kehancuran di dalam hidupnya dan Alena. Bahkan, sang Ayah harus menyebabkan Tania hidup dan tumbuh dengan fisik yang tidak sempurna. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Reno dan Andrean, kedua pria itu sama-sama menekuk wajahnya. Sedangkan Alena, ia masih duduk di atas dinginnya lantai rumah sakit sambil menangis dalam diam. “Maaf pak, Buk, Tania ingin bertemu dengan Azmi, dan daddynya.” Seorang suster membuka pintu ruang ICU, dan meminta Azmi dan Reno untuk masuk menemui Tania di dalam ruangan ICU. “Baik, Sus.” Andrean menjawab perkataan suster tersebut, karena Reno terlihat enggan untuk menjawab. Pria itu memang masih berada disana, tetapi pikirin dan jiwanya tidak berada di sana. Sedari tadi, ia masih diam dan bungkam. Ada perasaan marah dan kecewa di dalam hatinya. “Mi …, bangun, Tania ingin bertemu dengan kamu dan bang Reno.” Andrean membangunkan Azmi, yang terlelap di dalam pelukannya. “Tania sudah sadar, Bang? Bagaimana keadaan Tania?” Azmi mengerjapkan matanya perlahan. “Abang tidak tau, Mi. Suster hanya meminta kamu dan bang Reno untuk masuk kedalam.” Andrean merapikan anak rambut di dahi Azmi. "Masuklah, Abang tunggu kamu di sini." “Baik, Bang.” Azmi berdiri dari duduknya, ia mengikuti langkah suster yang menunggunya di depan pintu ruangan ICU. “Bang. Abang di minta Tania untuk masuk.” Andrean menggoyangkan lengan Reno, agar pria itu bisa sadar dari lamunannya. “Apa, Yan?” “Tania ingin bertemu abang dan Azmi. Azmi sudah masuk duluan.” “Kamu saja yang masuk, Yan!” Reno menepis tangan Andrean. “Bang. Abang daddy nya, bang.” Sergah Andrean. “Dia bukan anakku, Yan.” Sengit Reno. “Apa karena dia bukan anak kandung abang, Abang langsung membuangnya begitu saja? Dimana hati nurani mu bang? Tidak ada bedanya Abang dengan wanita ular itu.” Andrean menunjuk Alena yang masih duduk di atas lantai. “Ok. Ok aku masuk!” Dengan raut wajah kesal, Reno akhirnya menuruti keinginan Andrean untuk menemui Tania. Di dalam ruangan ICU tersebut, Reno tertegun melihat tubuh kecil Tania yang dikelilingi oleh alat-alat medis untuk membantu gadis kecil itu agar tetap hidup. Semua rasa kecewa yang sempat ia rasakan, perlahan menguap begitu saja. Reno ikut berdiri di samping Azmi, yang sedang menggenggam tangan mungil Tania. “Ini daddy, nak.” Lirih Reno. Mata Reno mulai kabur, saat air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. “Daddy.” Tania mengukir senyum di wajah pucatnya. “Dad. Maukah daddy memberi ku seorang Ibu?” Lirih Tania. “Kamu sudah memiliki Ibu sayang. Dan dia berada disini sekarang, kamu tunggu sebentar ya, deddy akan panggilkan mommy kamu.” “Mommy tidak akan pernah mau menganggap Tania anaknya, Dad. Tania ingin kak Azmi menjadi Ibu untuk Tania!” Serak Tania. Azmi langsung mengangkat kepalanya untuk menatap Reno. “Aku mohon, pak, menikahlah denganku.” Ucap Azmi lirih. Ada perasaan senang di dalam hati Reno, karena Azmi memintanya untuk menikahi dirinya. Akan tetapi, kebenaran tentang siapa Azmi dan Tania membuat Reno ragu untuk menikahi Azmi. Apalagi, ia masih memiliki Alena sebagai istri sahnya. “Saya tidak bisa, Mi! Saya sudah memiliki Alena, sebagai istri sah saya.” Reno sedikit menundukkan badannya untuk berbisik kepada Azmi. “Saya mohon, pak. Bantu saya, setidaknya sampai Tania sembuh. Setelah itu, bapak bisa menceraikan saya." “Saya menyetujui kalian berdua untuk menikah.” Ucap Alena yang baru saja masuk ke dalam ruangan Tania. “Saya akan carikan penghulu, agar kalian berdua bisa menikah hari ini juga. Siapa tau ini adalah permintaan terakhir anak itu, dan kalian berdua bisa bercerai kembali setelah dia mati.” Alena kembali meninggalkan ruangan tersebut. Padahal awalnya ia masuk keruangan ICU, untuk meminta kunci mobil kepada Reno, karena Andrean tidak mau mengantarkannya kembali ke butik. Mendengar ucapan dari Alena, membuat tubuh Tania bergetar dan kondisinya semakin menurun. “Maaf, pak, Buk, silahkan bapak dan ibu menunggu di luar. Kondisi pasien kembali turun sangat drastis. Kalau boleh saya memberi usul, turuti dulu permintaan anak bapak! Agar dia kembali memiliki semangat untuk sembuh.” Suster membukakan pintu ruangan untuk Azmi dan Reno. “Bagaiamana keadaan Tania Mi?” Andrean langsung menghampiri Azmi. “Kondisi Tania cukup buruk, bang. Dia memintaku untuk menikah dengan pak Reno. Aku bingung harus apa sekarang, bang. Aku tidak ingin menikah dengan pak Reno, karena aku tidak mencintainya. Tapi aku juga tidak ingin menolak keinginan adikku bang.” Azmi kembali terisak dan menangis cukup nyaring. Andrean membawa tubuh Azmi kedalam pelukannya. “Aku mengerti perasaan kamu, Mi. Kita akan mencari jalan keluarnya sama-sama, kamu jangan menangis lagi." Andrean menghapus air mata yang mengalir deras di pipi Azmi. Kedekatan Azmi dan Andrean kembali menyalakan api cemburu di dalam hati Reno. Pria itu juga merasa sakit hati, saat Azmi mengakui rasa cintanya kepada Andrean. Membuat Reno memutuskan untuk menyetujui keinginan Tania. “Ehem. Saya akan menikahi kamu, jika memang itu keinginan kamu dan Tania.” Ketus Reno, dengan rahang yang mengeras. “Tidak, bang. Abang bisa berpura-pura menjadi suaminya Azmi di hadapan Tania. Tanpa harus menikahi Azmi. Abang sudah memiliki kak Alena, bang, apa lagi yang abang cari? Aku mencintai Azmi, begitupun sebaliknya. Azmi adalah kekasihku. Tidak bisakah kalian berdua menjaga perasaanku?" Sarkas Andrean. “ Dan asal abang tau, dengan abang menikahi Azmi, Alena akan memiliki alasan yang kuat untuk meninggalkan abang.” “Alena juga menyetujui pernikahan ini.” Jawab Reno mantap. “Aku tetap tidak setuju.” Andrean menatap tajam kepada Reno. “ Dan untuk kamu, Mi, jika kamu menikah dengan bang Reno, itu berarti kamu harus siap kehilanganku. Karena pernikahan itu, tidak untuk dipermainkan.” "Aku bingung, bang.” Lirih Azmi. “Cepat ganti pakaian kamu,Mi.” Alena yang baru datang, langsung melemparkan sebuah dress panjang kepada Azmi. “Saya sudah membawa penghulu dan pengurus KUA. Kalian bisa langsung menikah di hadapan Tania.” Alena menunjuk seorang pria paruh baya yang berada di sampingnya. Pria itu juga membawa tiga orang pengurus dari KUA. “Tidak ada yang akan menikah Lena!” Sergah Andrean. “Aku hanya ingin membantu, mas! Aku hanya ingin Azmi berkorban untuk adiknya sendiri, karena aku sudah mengorbankan nyawaku untuk melahirkannya. Mas Reno juga sudah mengorbankan waktu untuk anak itu. Dan sekarang giliran kalian berdua, mengorbankan cinta yang kalian miliki untuk membahagiakan anak itu.” Sengit Alena. “Baiklah. Aku akan menikah dengan pak Reno.” Azmi melepaskan pelukan Andrean, dan memungut dress dari Alena yang terjatuh di atas lantai. “Mi. Jika kamu melakukannya, kita tidak akan pernah bertemu lagi.” Andrean pergi meninggalkan Azmi yang sedang berjalan menuju ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Azmi mencoba menahan tangisnya sendiri, ia sungguh tidak sanggup harus kehilangan sosok pria yang sangat ia cintai. Dengan langkah berat, Azmi terus berjalan tanpa melihat kebelakang. Setelah mengganti pakaiannya, Azmi kembali keruangan ICU. Air mata yang dari tadi ia tahan, akhirnya tumpah juga. Saat ia melihat, Andrean benar-benar meninggalkan dirinya. Pria itu sudah tidak berada disana. Yang berada disana hanya; Reno, Alena, penghulu dan ketiga orang petugas KUA. Dengan langkah berat, Azmi menemui orang-orang tersebut. “Aku sudah siap.” Azmi meremas jari-jarinya. Rasa gugup dan sakit, secara bersamaan menghantam tumbuhnya. “Ayo.” Jawab Reno singkat. Setelah meminta izin kepada dokter yang merawat Tania, mereka semua masuk dan mempersiapkan segala sesuatu untuk melangsungkan akad nikah. Akad nikah dilakukan, di hadapan tempat tidur Tania. Mata gadis itu terpejam, tetapi ia bisa mendengar dengan jelas. Saat Azmi membisikkan, jika ia akan menikah dengan Reno. Gadis kecil itu meneteskan air matanya. Akad nikah langsung dilaksanakan. Dengan saksi dari pihak KUA, dan dokter yang merawat Tania. Dalam satu kali tarikan nafas, Reno menyelesaikan ijab Kabul dengan sangat lantang dan baik. Saat saksi mengucapakan kata 'sah' Alena mengukir senyum kemenangan di bibirnya. Karena bisa dipastikan, Andrean dan Azmi tidak akan bisa bersatu. Karena Alena sangat tau bagaimana Reno suaminya, ia tidak akan melepaskan sesuatu yang telah menjadi miliknya. Apa yang dirasakan Alena, berbanding terbalik dengan Azmi. Gadis itu tidak mampu mengangkat wajahnya sendiri. Kepalanya tertunduk dalam, dan ia menangis dalam diam. Semua angan dan harapan hidup bahagia dengan pria yang ia cintai sirna sudah. Tidak Ada lagi Andrean di dalam hidupnya, karena ia sudah resmi menyandang status istri seorang Reno Putra Anderson. Andrean mengepalkan kedua tangannya, saat penghulu membacakan doa untuk kedua mempelai. Membuat hati Andrean semakin sakit dan hancur. Ia kembali ke rumah sakit, berniat untuk mencoba berbicara dengan Tania. Ia ingin menggantikan Reno untuk menikahi Azmi, karena bagaimanapun Andrean adalah papi bagi Tania. Jika ia menikahi Azmi, maka Azmi akan menjadi mami untuk Tania. Namun Andrean terlambat. Gadis yang ia cintai telah resmi menjadi istri kedua dari abangnya sendiri. Andrean memutuskan untuk meninggalkan semua yang ada. Dan kembali tinggal dengan kedua orangtuanya yang menetap di Singapura. Selama ini Andrean hanya bolak balik Indonesia-singapura. Sekarang ia ingin menetap di sana, untuk menghapus segala kenangan yang ada. Akhirnya Mereka Menikah, Hiks Hiks pupus sudah harapan kita semua, untuk melihat Azmi dan Andrean bersatu. Hai... Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE. Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB. Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH AKU IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilanku? Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan. Walaupun karyaku tidak sebagus milik penulis lain, setidaknya ini adalah hasil karyaku sendiri. Dari hasil kerja keras memeras otak dan tenaga.. Dan aku berharap, kalian semua menyayangiku seperti aku menyayangi kalian semua. Salam Desi Nurfitriani
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD