Saat langit berubah warna menjadi jingga, Andrean dan Azmi sampai di rumah sakit tempat Tania biasanya di rawat. Begitu selesai memarkirkan mobilnya, Andrean langsung membukakan pintu untuk Azmi dan menggandeng tangan gadis yang beberapa jam yang lalu telah resmi menjadi kekasihnya itu masuk ke dalam rumah sakit.
Saat mereka melalui lorong rumah sakit, Andrean melingkarkan bahunya keatas bahu Azmi. Pria itu ingin semua orang yang berada di rumah sakit tersebut melihat jika Azmi adalah miliknya. Hal itu sukses membuat wajah Azmi memerah karena perhatian orang-orang tertuju kepada mereka berdua.
Beberapa menit kemudian, langkah Andrean berhenti di depan sebuah ruang perawatan kelas VIP. Didalam perjalanan tadi, Andrean telah menghubungi Reno, untuk mengetahui dimana kamar keponakannya itu.
“Disini, Bang?” Azmi menunjuk pintu yang ada di depan mereka.
“Iya disini. Kamu duluan masuk kedalam ya! Jika bang Reno menanyakan keberadaan abang, katakan abang keluar untuk membelikan makanan untuknya.” Andrean mengusap bahu Azmi, dan meninggalkan Azmi yang masih berdiri di depan pintu ruangan tersebut.
Azmi tidak langsung masuk kedalam ruang perawatan Tania, ia masih menunggu Andrean menghilang dari tatapan matanya. Saat ia melihat Andrean benar-benar telah pergi, barulah Azmi masuk kedalam kamar tersebut.
Di dalam ruangan yang cukup besar itu, Azmi melihat Reno yang sedang tertidur di atas kursi yang terletak persis di samping tempat tidur Tania. Azmi menutup pintu kamar rawat Tania dengan perlahan, agar tidak mengganggu istirahat ayah dan anak tersebut.
Saat Azmi ingin mendudukkan tubuhnya diatas sofa, Azmi melihat Tania yang mengerjapkan matanya. Azmi kembali berdiri, dan menghampiri gadis kecil tersebut.
“Kamu sudah bangun sayang? Azmi merapikan anak rambut di kening Tania.
“Sudah, Kak Mi. Kak Mi tau darimana Tania dirawat disini?”
“Papi kamu yang membawa kakak kesini.” Jawab Azmi lembut.
“Kamu disini, Mi?” serak Reno, dengan suara khas orang yang baru bangun tidur. Mendengar suara Tania yang cukup keras membuat Reno terbangun dari tidurnya.
“Iya, Pak. Bang Andrean yang mengajak saya kesini untuk melihat keadaan Tania.” Jawab Azmi lembut.
“Dimana Andrean?” Reno melihat ke sekeliling kamar rawat, tetapi Ia tidak melihat keberadaan adiknya, Andrean.
“Bang Andrean keluar sebentar untuk membelikan makanan untuk Bapak. Tadi sebelum kesini, bang Andrean lupa membelikannya.”
“Kamu jangan panggil saya Bapak, Mi. Tap….”
“Daddy kak, Mi. Bukankah kak Mi sudah berjanji?” Sela Tania.
“Kalau Daddy, berarti anak daddy dong sayang?” Reno menimpali perkataan putri semata wayangnya. Ia tidak ingin Azmi merasa tidak nyaman saat ini.
“Bukan, Dad. Tapi istri Daddy! Iya kan kak, Mi?” Tania meraih tangan Azmi dan Reno. Gadis kecil itu menyatukan kedua tangan orang dewasa tersebut. “Kak, Mi. Dad. Menikahlah. Demi Tania. Tania ingin merasakan kasih sayang seorang Ibu. Tolong kabulkan permintaan Tania.” Mata Tania berkaca-kaca menatap kepada dua orang yang berada di hadapannya.
“Maaf, Pak. Kamar mandinya dimana ya?” Azmi langsung menarik tangannya. Ia tidak ingin terjebak di dalam permintaan Tania.
“Di sana, Mi.” Reno menunjuk sebuah pintu yang berada di sudut kamar rawat Tania.
“Terimakasih, Pak. Saya izin kekamar mandi dulu sebentar.” Dengan langkah cepat, Azmi langsung masuk kedalam kamar mandi.
Reno tertegun melihat respon yang diberikan oleh Azmi. Dan Reno bisa merasakan, jika Azmi tidak nyaman karena permintaan Tania.
“Dad. Kak Azmi tidak mau ya, Dad, menjadi mommy Tania? Apa karena Tania cacat, Dad, sehingga kak Mimi tidak mau menjadi mommy Tania. Tania juga tidak ingin lahir seperti ini, Dad.” Tania mulai menangis dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Kamu jangan bersedih, sayang. Kak Azmi mungkin sudah memiliki kekasih. Dan kamu harus ingat sayang, Daddy masih memiliki istri. Yaitu mommy kamu. Menikah bukanlah perkara yang mudah sayang, karena di dalam sebuah pernikahan harus ada cinta di antara kedua belah pihak.” Reno mengusap air mata di pipi putrinya itu. Agar tidak ada lagi Tania yang lainnya Reno meraih tubuh mungil Tania dan memeluknya.
“Loh. Loh. Anak Papi kenapa, sayang?” celetuk Andrean dari depan pintu. Pria itu terlihat menenteng beberapa paper bag di tangannya.
“Tania ingin kak Azmi menjadi mommynya Tania, Pi.” Isak Tania sambil melepaskan pelukan Reno. “Tapi, kata daddy mungkin kak Azmi sudah memiliki kekasih dan kak Azmi tidak akan bisa menikah dengan daddy jika tidak ada cinta, Pi."
“Daddy kamu benar, sayang. Gadis secantik dan sebaik Kak Azmi mana mungkin tidak memiliki seorang kekasih, sayang. Tidak ada pria yang mampu menolak untuk mencintainya. Dan pondasi terkokoh di dalam sebuah pernikahan adalah 'cinta'. Suatu saat kamu pasti paham.” Andrean mengusap pipi Tania yang sudah basah dengan air mata. Termasuk Papi Andrean tersenyum getir kepada Tania. Ia tidak mungkin mengungkapkan jika ialah, pria yang yang mencintai dan dicintai oleh Azmi.
“Ya sudah, sayang. Kamu jangan menangis lagi, kalau kak Azmi tidak bisa menjadi mommy kamu. Kamu masih bisa memilikinya sebagai seorang kakak.” Sambung Reno.
“Baiklah, Dad.” Tania mulai menghentikan tangisnya.
“Nah gitu dong … Itu baru anak Papi.” Andrean mengusap pucuk kepala Tania. “Lihat sayang, papi membawa ayam tepung untukmu.” Andrean membuka paper bag yang tadi ia bawa.
“Tania tidak lapar, Pi. Tania ingin istirahat saja.” Tania merebahkan tubuhnya dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Rasa kecewa masih bersarang di dalam hati Tania. Karena ia sangat berharap, Azmi bisa menjadi ibu pengganti untuk dirinya.
Reno menarik nafas panjang dan menghembuskanya dengan kuat. Walaupun ia setuju dengan permintaan Tania, akan tetapi Azmi jelas-jelas tidak menginginkan itu semua. Apalagi, sekarang ini ia masih memiliki Alena yang masih sah menjadi istrinya. Walaupun cinta yang ia miliki untuk Alena telah semakin pudar semenjak kehadiran Azmi di dalam kehidupannya.
Daddy akan berusaha untuk membuat Azmi jatuh cinta kepada daddy. Daddy yakin, dengan cinta yang kita miliki, pasti bisa membuat Azmi masuk ke dalam kehidupan kita. Reno mengusap pucuk kepala Tania.
Azmi yang masih mengurung diri di dalam kamar mandi, hanya berjalan mondar-mandir di sana. Sambil menggigit kuku-kuku jarinya untuk menghilangkan rasa gelisah di hatinya. Azmi mengembuskan nafas lega saat ia mendengar suara bariton milik Andrean. Sebelum keluar dari kamar mandi, Azmi mencuci tangan dan wajahnya. Agar ia terlihat lebih segar. Sebelum membuka pintu kamar mandi, Azmi kembali menetralkan perasaannya. Karena permintaan dari Tania membuat Azmi merasa bersalah kepada gadis kecil tersebut.
“Azmi. Kemarilah!” Andrean melambaikan tangannya kepada Azmi, dan menepuk sofa kosong yang ada di sampingnya.
“Baik, Bang.” Azmi sedikit menundukkan tubuhnya, saat melintas di hadapan Reno.
“Bang ayo! Kita makan sama-sama.” Andrean sedikit mengangkat Paper bag yang berada di atas meja.
“Kamu duluan saja, Yan. Abang belum lapar. Oh ya, setelah ini kamu langsung mengantarkan Azmi pulang ya, dan sebelum kamu pulang ke apartemen kamu mampir dulu ke rumah ya, Yan. Minta supir untuk mengantarkan baju ganti abang dan Tania.”
“Baik, bang.” Andrean memulai makan malamnya bersama Azmi. Azmi yang merasa segan kepada Reno, memilih menutup rapat mulutnya.
Selesai makan, Andrean dan Azmi pamit untuk pulang karena jam telah menunjukkan pukul sembilan malam. Melihat keakraban Azmi dan Andrean, membuat d**a Reno terasa panas dan terbakar. Ia langsung menggelengkan kepalanya untuk mengusir rasa aneh yang tiba-tiba muncul dan membuat dadanya terasa sesak. Reno juga merasa heran, kenapa rasa itu muncul saat ia melihat kedekatan Andrean dengan Azmi. Padahal, selama ini Alena terang-terangan mengatakan kalau ia sangat mencintai Andrean.
Di dalam perjalanan menuju pulang, Andrean membelokkan mobilnya ke arah jalan yang berbeda.
“Kita mau kemana, bang?” Azmi mengernyitkan dahinya, melihat jalan yang mereka lewati berbeda dengan yang tadi.
“Kita mampir ke rumah bang Reno dulu. Abang ingin menyampaikan pesan dari bang Reno.” Jawab Andrean santai.
Azmi menganggukkan kepalanya, untuk merespon perkataan Andrean.
Sepuluh menit perjalanan, akhirnya mobil Andrean berhenti di depan gerbang sebuah rumah mewah berlantai tiga. Membuat Azmi tidak mampu berkedip saat melihat bangunan megah yang berada di hadapannya.
“Kamu tunggu disini sebentar ya. Abang ingin menyampaikan pesan bang Reno, sekaligus mengambil beberapa barang milik abang.” Andrean mengusap bahu Azmi sebelum turun dari mobil. Azmi hanya tersenyum untuk menanggapinya.
Saat Andrean hampir sampai di pintu rumah mewah tersebut, dari kejauhan Azmi melihat seorang wanita yang langsung memeluk tubuh Andrean. Azmi menghempaskan punggung ke sandaran kursi mobil. Melihat Andrean di peluk oleh wanita lain, membuat d**a Azmi terasa sesak, dan sulit bernafas. Tapi ia masih tetap mencoba berpikir positif untuk menanggapi itu semua. Agar rasa cemburunya, tidak merusak hubungannya dengan Andrean. Kamu jangan cemburu buta seperti ini, Mi. Dan jangan berpikiran buruk dulu. Bisa saja wanita itu adalah adiknya Andrean. Azmi berusaha berdamai dengan perasaannya sendiri.