Pernyataan Cinta

2736 Words
Setelah selesai memasukkan seluruh pakaiannya ke dalam sebuah lemari, Azmi kembali turun kebawah untuk sekedar membantu pekerjaan di rumah tersebut. Rasa haus dan lapar yang ia rasakan, menuntun Azmi untuk melangkah ke dapur. Sesampainya di sana Azmi tertegun melihat Reno yang sedang memasak sesuatu. Aroma dari masakan Reno membuat perut Azmi semakin terasa sangat lapar. Apalagi gadis itu belum sempat memakan apapun dari pagi. “Ada yang bisa saya bantu, Pak?” Azmi berdiri di samping Reno, dan menatap ke wajan yang sedang berada di atas kompor. “Tidak ada, Mi. Ini sudah selesai. Kamu tunggu saya di meja makan ya, saya akan menyiapkan ini semua terlebih dahulu.” Dengan cekatan Reno mulai memindah masakannya ke dalam piring. Azmi hanya manggut-manggut, dan mengikuti perintah Reno. Karena jujur ia sangat lapar. Apalagi saat melihat tumis udang yang sedang dimasak oleh Reno. Azmi duduk dengan manis di ruang makan. Sambil menunggu Reno datang, Azmi memeriksa ponsel jadul nya. Di sana ia melihat ada dua buah pesan dari Ega dan Lina. Kedua sahabatnya itu mengirimkan pesan dengan isi yang sama, yaitu keributan yang dibuat oleh istri Reno. Azmi hanya menggelengkan kepalanya saat membaca pesan dari kedua sahabatnya itu. Hingga Azmi tidak menyadari kehadiran Reno di sampingnya. “Main ponselnya nanti dulu, Mi! Sekarang kita makan dulu ya. Saya yakin kamu belum makan apa-apa dari tadi. Jadi, sekarang kamu makan dulu ya.” Reno mengambil ponsel Azmi dari tangannya. Dan memasukkan ponsel tersebut kedalam kantong celana yang ia gunakan. “Tidak ada komentar, ayo makan.” Reno langsung memotong perkataan Azmi, saat gadis itu mulai membuka mulutnya untuk melayangkan protes kepada Reno. Detik selanjutnya, Reno mengambil sebuah piring dan mengisi piring tersebut dengan nasi dan udang. “Maaf ya, Mi. Tidak ada sayur. Nanti saya akan minta bibik untuk berbelanja.” Reno meletakkan piring tersebut di hadapan Azmi. “Makanlah, saya ingin membuatkan kamu jus sebentar.” Reno kembali ke dapur untuk membuatkan jus untuk Azmi. Saat Reno kembali dari dapur, Azmi masih belum menyentuh makanan nya, membuat Reno menarik kursi yang berada di samping Azmi, dan Reno duduk disana. Azmi masih mencoba mencerna apa yang terjadi kepada dirinya, dan ia masih belum mengerti kenapa Reno bisa sebaik dan seperhatian itu kepadanya. Hingga Azmi tidak menyadari satu sendok nasi telah berada tepat di depan bibirnya. “Buka mulutnya, Mi.” Suara bariton Reno membangunkan Azmi dari lamunannya, dan membuat Azmi tanpa sadar membuka mulutnya, membuat Reno bisa memasukkan nasi tersebut kedalam mulut Azmi. “Bagaimana? Enak?” ucap Reno lembut. Pria itu menatap ke dalam mata Azmi. Membuat nasi yang berada di dalam mulut Azmi, terasa sulit untuk dikunyah apalagi di telan. “Daddyyyyyyy” “Uhuk. Uhuk." Suara teriakan Tania membuat Azmi terkejut, dan membuatnya tersedak nasi yang ingin ia telan. Melihat Azmi tersedak, Reno langsung menyodorkan air putih ke bibir Azmi. Adegan tersebut berhasil membuat seseorang yang ada di ambang pintu ruang makan merasa cemburu. “Tania... Kamu lupa ya? Apa yang Daddy ajarkan. Kalau masuk rumah harus…,” Reno mengangkat telunjuknya. “Baca salam Deddy.” Cicit Tania pelan. “Coba ulangi!” sambung Azmi. “Assalamualaikum, Daddy, Kak Mimi.” “Walaikumsalam.” Jawab Azmi dan Reno serempak. “Ah…, ternyata kamu disini, Bang. Tadi Istri Abang nyariin Abang ke kantor, Bang.” Andrean ikut duduk di seberang Reno dan Azmi. “Wihhhh. Enak nih. Aku ikut makan ya! Selera makan siangku tadi sempat hilang gara-gara istrimu, Bang.” Andrean menekankan kata-kata istri kepada Reno, dan menatap tajam kepada Azmi. Membuat Azmi yang berada di samping Reno menundukkan kepalanya. “Biarkan saja, Yan. Abang sudah lelah menghadapinya. Mungkin Abang akan segera melepaskannya, agar ia bisa melanjutkan hidupnya dan mencari kebahagiaan nya sendiri.” Jawab Reno santai. “Daddy ingin meninggalkan Mommy?" Tania mengangkat kedua tangannya, agar Reno memangku Tania. “Iya, Sayang. Daddy ingin Mommy kamu bahagia.” Reno mengusap pipi Tania, dan beralih menatap Azmi. Yang hanya menunduk dan diam dari mulai kedatangan Andrean dan Tania. “Tania akan mendukung apapun keputusan Daddy.” Tania mencium kedua pipi Reno. “Daddy, bolehkah kak Azmi yang menggantikan posisi Mommy untuk menjadi mommy Tania, Dad?” Tania meraih tangan Azmi, dan menyatukannya dengan tangan Reno. “Boleh ya, Dad?” Mata Tania berbinar menatap Reno dan Azmi secara bergantian. Dengan perlahan Azmi mengangkat kepalanya, dan menatap Andrean yang duduk di seberang meja makan. Pandangan mereka bertemu. Walaupun tidak ada kata yang terucap dari bibir Andrean, Azmi bisa melihat ada sesuatu yang disembunyikan oleh Andrean. Selesai makan, Tania menarik tangan Azmi untuk mengajak kakak angkatnya itu untuk melihat kelinci di belakang rumah. Reno dan Andrean mereka berdua memilih untuk melihat Tania dan Azmi dari jauh. Mereka berdua duduk di kursi yang berada di teras belakang rumah, yang menghadap langsung ke arah taman belakang tempat Azmi, dan Tania bermain kelinci. Azmi dan Tania terlihat sangat antusias melihat gerombolan kelinci yang sedang berlarian di taman belakang rumah tersebut. Membuat Reno mengukir senyuman yang sangat manis di bibirnya. Melihat Reno yang begitu sangat berbeda dari biasanya, membuat Andrean merasakan ada cinta untuk Azmi di dalam hati Reno. Tatapan Reno kepada Azmi sama seperti saat Reno pertama kali bertemu dengan Alena. “Sejak kapan Azmi tinggal di sini, Bang? Perasaan, seminggu yang lalu aku kemari tidak ada Azmi di sini.” Andrean mencoba mengalihkan perhatian Reno. “Semenjak hari ini, Yan. Abang tadi bertemu dengan Azmi di jalan. Dia membawa ransel seperti orang kebingungan. Jadi, Abang membawanya ke sini. Lagian, rumah ini hanya ditempati oleh bi Lastri dan suaminya.” “Memangnya tadi Abang bertemu dengan Azmi dimana?” “Di jalan, Yan. Tidak terlalu jauh dari kantor.” Dusta Reno. “Memangnya orang tua Azmi tidak melarang dia tinggal disini, Bang?” “Dia selama ini tinggal di panti asuhan, Yan. Jadi, Ibu pantinya meninggal kemarin sore. Itu sebabnya Azmi sudah tidak tinggal disana lagi dan berniat untuk mencari kontrakan untuk tempat tinggal yang baru. Karena rumah ini tidak terpakai, apa salahnya dia tinggal disini, Yan.” “Tunggu. Tadi Abang bilang Azmi tinggal di panti asuhan, Bang?" “Iya. Memangnya kenapa?” Tanya Reno heran. “Di dekat kantor kita tidak ada panti asuhan, Bang!” Andrean menaikkan satu alisnya. Ia bisa menangkap kebohongan di dalam cerita Reno. “Abang juga tidak tau kenapa Azmi bisa sampai disitu, sudahlah jangan dipikirkan.” Elak Reno. “Ooo. Baiklah.”Andrean mengangguk-anggukkan kepalanya. 'Aku yakin, tadi kamu mencari keberadaan Azmi bang. Apa bang Reno telah jatuh cinta kepada Azmi? Kalau Iya, bagaimana dengan ku? Setidaknya aku harus berusaha membuat Azmi jatuh cinta kepada ku, agar aku memiliki alasan untuk mempertahankan perasaan ini.” Lirih Andrean di dalam batin. “Papi!” Tania menepuk pipi Andrean yang sedang melamun. Ia tidak menyadari Tania mendekat, dan Reno sudah pergi menemui Azmi. “Papi kenapa? Papi sakit?" Tania menempelkan punggung tangannya ke dahi Andrean. “Tidak, Sayang. Papi tidak sakit.” Reno mencubit kedua pipi chubby Tania. “Pi…, Papi lihat deh! Deddy dan kak Azmi. Mereka cocok ya, Pi. Kira-kira daddy dan kak Azmi mau nggak ya, Pi, mereka berdua menikah. Tania belum pernah melihat daddy tersenyum lebar seperti itu.” Tania menunjuk ke arah Reno yang sedang memberikan makanan untuk kelinci bersama Azmi. "Papi tidak tau, sayang.” Jawab Andrean singkat. “Papi mau nggak bantuin Tania? Untuk menyatukan daddy dan Kak Mimi?” Tania menggenggam erat tangan Andrean. “Papi tidak bisa, Sayang. Karena deddy kamu sudah memiliki istri. Mana mungkin kak Azmi mau menikah dengan deddy kamu. Begitupun sebaliknya, deddy kamu juga sangat mencintai mommy kamu, mana mungkin daddy kamu mau menikah dengan kak Azmi.” “Tapi tadi kata daddy, ia ingin melepaskan mommy agar mommy bisa bahagia, Pi.” Rengek Tania. Gadis kecil itu menggoyangkan lengan Andrean. “Papi kamu sedang emosi, Sayang. Jadi papi kamu berbicara seenaknya saja, padahal di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, papi kamu masih sangat mencintai mommy kamu." Andrean mengusap lembut rambut panjang Tania. “Baiklah, Pi. Tania paham sekarang. Ayo kita pulang, Pi.” Rengek Tania. "Kamu pulang sama daddy kamu, ya. Papi ada keperluan dengan klien.” Andrean mengusap pucuk kepala Tania. “Ya udah deh.” Tania mengerucutkan bibirnya, dan pergi meninggalkan Andrean. “Tan….” Seru Andrean. “Apa?” Membuat Tania semakin memajukan bibirnya. “Sampaikan kepada deddy kamu, Papi duluan. Masih ada klien yang harus Papi temui.” “Iya. Iya Papi.” Tania berlari kecil ke arah Reno dan Azmi. Sedangkan Andrean, langsung beranjak untuk meninggalkan rumah tersebut. “Dad. Kita pulang yuk!” Tania menarik tangan Reno. “Kenapa, Sayang?” Reno berjongkok, dan mengelus pipi Tania. “Tania capek, Dad, Tania ingin istirahat.” Tania menjatuhkan tubuhnya kepada Reno, dan memeluk leher Reno. “Ayo pulang, Dad! Tania capek.” Rengek Tania lagi. “Badan kamu panas, Sayang?” Reno meletakkan punggung tangannya di leher Tania. “Kenapa, Pak?” Mendengar suara Reno yang sedikit panik, membuat Azmi mendekati ayah dan putrinya itu. “Tania, Mi. Badannya panas, saya harus membawa Tania ke rumah sakit sekarang.” Reno menggendong tubuh Tania, dan membawa Tania ke dalam mobil. “Pak saya ikut!” Azmi mengejar langkah Reno. Namun langkah Azmi terhenti, saat ia melihat Andrean yang sedang duduk di sebuah kursi yang terletak di ujung taman rumah Reno. Membuat Azmi tidak sempat untuk mengejar Reno, yang telah melajukan mobilnya. Saat mobil Reno menghilang, Azmi mendekati Andrean yang sedang duduk di ujung taman. Pria itu terlihat sedang asyik bermain game dengan ponsel yang ada di tangannya. Namun, ada satu yang mengganjal di hati Azmi, ia tidak melihat keberadaan mobil Andrean. “Pak.” Sapa Azmi. “Oh, Mi. Silakan duduk!” Andrean membersihkan tempat duduk yang ada di sampingnya. “Saya pikir bapak sudah pulang, karena saya tidak melihat keberadaan mobil Bapak.” “Ohh…, itu, mobil saya ada di bengkel depan, Mi. Bannya bocor lagi.” Jawab Andrean asal. Karena ia memang sengaja memarkirkan mobilnya di tempat lain, agar ia bisa berbicara dengan serius dengan Azmi saat Reno pulang nanti. “Tapi kok, Bapak malah menunggu disini? Bukannya di dalam?” “Di dalam ada Tania, Mi. Anak itu selalu menggangguku saat aku bermain game. Jadi ya, aku menunggu disini.” Andrean menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Astaga aku baru ingat, Tania sakit, Pak.” “Tania?” "Iya, Pak. Barusan Pak Reno membawa Tania ke rumah sakit.” “Saya sudah prediksi itu dari tadi, Mi.” Andrean memasukkan ponselnya ke dalam saku celana yang ia gunakan. "Maksud, Bapak?” Tanya Azmi heran. “Tania itu hanya terlihat kuat dari luarnya saja, Mi. Tetapi daya tahan tubuh Tania sangatlah rentan terkena penyakit. Saat dia sedih, dan tertekan dia pasti langsung jatuh sakit." Andrean menatap ke atas langit. “Tadi di kantor istrinya Reno berulah lagi, Mi Dia membentak dan memaki Tania. Aku rasa itu adalah salah satu faktor yang membuat Tania kembali drop.” “Pak. Maukah bapak mengantarkan saya untuk bertemu dengan Tania?” “Tentu saja. Tapi kita harus menunggu mobil saya selesai diperbaiki. Andrean mengacak rambut Azmi. Membuat pipi gadis itu bersemu merah. “Mi…,” Panggil Andrean lembut. “Ya, Pak?” Azmi menatap lurus ke dalam mata Andrean. “Aku mencintaimu.” Andrean meraih tangan Azmi, dan menggenggamnya dengan sangat erat. “Aku tau ini terlalu cepat, Mi. Tetapi hati ku telah mantap memilih mu. Hatiku juga telah sepenuhnya mencintaimu. Dan kamu, adalah satu-satunya wanita yang bisa membuat aku bisa merasakan jatuh cinta. Semenjak aku kehilangan Natasya istriku.” “Bapak sudah pernah memiliki istri?” Azmi menatap Andrean, ada perasaan kecewa yang tersirat di balik tatapan Azmi. “Iya, Mi. Aku sudah pernah menikah. Akan tetapi Allah SWT, lebih mencintai istri dan calon anakku. Aku menikah, saat aku dan Natasya baru menyelesaikan bangku SMA.” “Saya ikut berduka cita ya, Pak.” Azmi mengusap punggung tangan Andrean yang sedang menggenggam tangannya. “Jangan panggil Bapak lagi, panggil aku mas, abang atau aa mungkin? Karena kamu sekarang sudah resmi menjadi kekasih ku.” Andrean menjawil hidung Azmi. “Saya belum menjawab pertanyaan Bapak!” Azmi mengusap hidungnya yang memerah karena ulah Andrean. “Ah. Kamu benar. Aku terlalu…," “Saya menerimanya, Pak.” Jawab Azmi mantap. “Benarkah?” Azmi mengangguk, dan tersenyum lebar kepada Andrean. “Saya juga jatuh cinta kepada Bapak saat saya pertama kali bertemu dengan Bapak.” “Jangan Bapak, Mi.” Rajuk Andrean. “Baiklah. Abang.” Jawab Azmi malu-malu. Andrean langsung memeluk bahu Azmi. “Walaupun pertemuan kita sangat singkat. Tapi kamu harus percaya, cinta ku tidak kalah besar dibandingkan cinta yang lainnya.” “Aku tau, Bang. Karena aku juga merasakannya.” “Kalau begitu ayo. Kita menemui Tania di rumah sakit.” Andrean mengulurkan tangannya, agar Azmi berdiri dan menggandeng tangannya itu. “Kita ingin pergi menggunakan apa , Bang? Bukannya tadi Abang bilang, mobil abang ada di bengkel?” Azmi menatap heran kepada Andrean. “Aku berbohong.” Andrean mencubit kedua pipi Azmi. Setelah cukup lama ia mencubit pipi Azmi, Andrean langsung berlari sambil tertawa meninggalkan Azmi yang sedang cemberut. Menyadari Andrean mengerjainya, membuat Azmi ikut berlari mengejar Andrean. Mereka berdua berhenti di depan mobil Andrean yang terparkir di sebuah rumah makan, yang terletak tidak jauh dari rumah tersebut. “Ayo! Kita harus melihat keadaan Tania.” Andrean membukakan pintu untuk Azmi. “Terima kasih, Bang.” Ucap Azmi singkat. Setelah menutup pintu mobil, Andrean berlari kecil masuk ke dalam mobil, dan ia mulai menjalankan mobilnya membelah jalanan kota yang mulai macet saat sore hari. Azmi tersenyum melihat wajah Andrean yang sedang kesal karena macet yang menghambat perjalanan mereka. “Sabar, Bang. Namanya juga jam pulang kantor, Bang. Wajar macet.” Azmi mengusap bahu Andrean yang sudah mulai kesal melihat mobil yang berada di depannya yang tidak kunjung berjalan. “Mi…," Andrean menoleh kepada Azmi. “Ya, Bang?” “Kamu tadi siang bertemu dimana dengan bang Reno? Hingga bang Reno bisa bertemu denganmu, dan kamu dibawa ke rumah persinggahan Tania?” “Aku bertemu dengan pak Reno di dekat panti, tempat aku tinggal dulu, Bang. Aku tidak sengaja bertemu dengan pak Reno, saat ia sedang mencari alamat kliennya, dan pak Reno mengajak aku untuk tinggal di sana. karena pak Reno bilang, Tania sering bermain kesana. Karena aku menyayangi Tania dan aku juga segan untuk menolak bantuan Pak Reno, akhirnya aku menerima tawaran pak Reno untuk tinggal di sana. Lagian, aku tidak memiliki siapa-siapa lagi, Bang, aku tidak tau dimana keberadaan ayahku, dan Ibuku sudah meninggalkan ku untuk selamanya. Ibu panti yang menjadi tempat ku bersandar juga telah berpulang kemarin sore.” Azmi berusaha menahan air matanya, tetapi semua sia-sia saja, air mata itu tetap mengalir begitu saja di pipi Azmi. “Kamu jangan bersedih, Mi. Aku akan selalu ada untukmu. Mulai sekarang, aku akan menjagamu dan melindungimu.” Andrean mengusap pipi Azmi. “Terima kasih, Bang.” Azmi mengukir senyum di bibirnya. “Oh ya, Bang.” Azmi sedikit memutar tubuhnya untuk menghadap kepada Andrean. “Ya.” “Aku masih memiliki sahabat sekaligus saudari angkat, Bang. Dia anak dari ibu panti, dan dia juga telah menghilang selama lima tahun lebih. Kemarin aku bertemu dengannya di halte dekat kantor, tapi dia sepertinya tidak ingin bertemu dengan ku. Padahal, aku ingin menyampaikan kepadanya, bahwa Ibu sedang sakit. Ibu selalu bermimpi untuk bertemu dengannya. Namun, harapan Ibu tidak terwujud. Beliau telah pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Aku menyesal bang, kemarin siang tidak mengejarnya dan memaksanya untuk pulang.” Azmi menatap lurus ke depan. “Abang berjanji kepadamu, Mi. Abang akan membantu kamu untuk mencarinya.” Andrean menggenggam tangan Azmi. “Benarkah?” “Iya, Sayang.” Andrean mengusap kepala Azmi. “Siapa nama saudaramu itu, Sayang?” “Namanya Alena Resya Wijaya.” Jawab Azmi semringah. “Alena Resya Wijaya?” Andrean membeo. “Iya, Bang. Apa Abang mengenali Alena?” “Mungkin saja, apa Alena sudah menikah?” Selidik Andrean, dan ia sangat berharap jika Alena yang dimaksud oleh Azmi bukanlah Alena kakak iparnya. “Belum, Bang. Alena masih lajang, karena kami belum pernah melihat ataupun mendengar Alena menikah.” “Baiklah. Abang akan bantu kamu untuk mencarinya." “Terima kasih, Bang.” “Sama-sama” Andrean kembali fokus untuk menyetir, karena jalan yang ada di hadapannya sudah mulai bisa dilalui dengan lancar. 'Alena Wijaya, semoga kalian berdua adalah orang yang berbeda. Aku harus menyelidiki ini semua.' Gumam Andrean di dalam batin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD