Rumah Baru

2704 Words
Suara lantunan ayat suci Al Quran, membuat Azmi secara perlahan membuka matanya. Ia mencoba untuk mengingat apa yang terjadi kepada dirinya. Air mata Azmi mulai mengalir dengan deras, saat ia mengingat dengan jelas jika Maryam telah meninggalkannya untuk selamanya. Azmi langsung berlari keluar dari kamar yang ia tempati, ia ingin duduk di samping jasad sang Ibu yang telah terbujur kaku dan dingin. Sebelum keluar dari kamar, Azmi membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, Azmi mengambil air wudhu, dan ikut duduk di samping jasad sang Ibu. Setiap lantunan ayat suci Al Qur’an yang ia baca, ada air mata yang tidak mampu ia tahan. Setelah selesai, Azmi membuka penutup wajah sang Ibu. Wajah yang biasanya tersenyum manis kepadanya, kini telah diam membeku. “Ibu, tadi Mimi bertemu dengan Alena Bu. Anak ibu masih hidup, dan terlihat semakin cantik. Maafkan Mimi Bu Mimi tidak bisa membawa Alena pulang kembali ke sini Ibu. Maafkan Mimi yang tidak ada di samping Ibu di saat-saat terakhir. Maafkan Mimi yang belum mampu membalas semua kebaikan Ibu. Mimi berjanji Ibu, Mimi akan selalu menjadi anak Sholehah nya Ibu.” Gumam Azmi. Azmi mengusap pipi Maryam yang telah memucat, dan dingin. ia menghela nafas berat, dan menutup kembali wajah Maryam. Azmi mengusap wajahnya. 'Setelah ini apa yang harus Mimi lakukan Ibu, Mimi sudah tidak memiliki siapapun lagi sekarang, Bu.’ Lirih Azmi didalam batin. Keesokan harinya setelah selesai sholat Dzuhur, Almarhumah Maryam telah selesai di kebumikan. Azmi, dan kelima adik asuhnya berjalan kaki untuk kembali ke panti asuhan yang terletak tidak jauh dari tempat pemakaman. Saat mereka sampai di depan panti asuhan, mereka melihat ada seorang pria bertubuh kekar yang sedang berdiri di teras panti asuhan. “Selamat siang? Bapak mencari siapa ya?” tanya Azmi kepada pria bertubuh kekar tersebut. “Saya dari panti asuhan Ananda, saya ingin membawa ke lima anak panti yang berada disini. Saya akan membawa mereka, karena panti asuhan ini akan di tutup.” Sela seorang wanita paruh baya yang baru saja keluar dari dalam panti. “Kalian berkemas lah, saya akan membawa kalian ke panti asuhan milik saya. Dan kamu, kamu sudah dewasa, saya yakin kamu sudah bisa menghidupi dan mengurus diri kamu sendiri.” Wanita itu beranjak meninggalkan Azmi, dan memilih menunggu anak-anak yang sedang bersiap di dalam mobilnya. “Nona, saya dari pihak Bank. Saya datang kemari untuk menyita panti asuhan ini, suami Ibu Maryam telah menggadaikan rumah panti asuhan ini kepada pihak Bank, dan dia tidak pernah sekalipun membayar cicilannya. Jadi, dengan berat hati saya meminta anda untuk mengosongkan panti asuhan ini.” Pria bertubuh kekar itu memberikan sebuah aplop ke tangan Azmi. Dengan tangan bergetar, Azmi menerima amplop tersebut dan membuka nya. Air mata Azmi mengalir begitu saja tanpa mampu ia tahan. “ Ba-baiklah, Pak. Saya akan segera berkemas.” Dengan langkah berat, Azmi masuk kedalam panti dan mulai mengemasi seluruh pakaiannya. “Kak Azmi, kakak nanti akan tinggal dimana?” Adit, salah satu anak panti menemui Azmi. “Kakak belum tau sayang. Mungkin kakak akan mencari sebuah rumah kontrakan atau kosan yang dekat dari kantor. Kamu dan adik-adik jaga diri baik-baik ya. Jika kakak tidak sibuk, kakak pasti akan menemui kalian.” Azmi memeluk adik angkatnya itu. Setelah selesai berkemas, Azmi dan yang lainnya berkumpul di teras panti. Mereka saling berpelukan untuk melepaskan kesedihan mereka. Azmi melambaikan tangannya saat melepas kepergian seluruh adik asuhnya. Ibu... setelah ini, kepada siapa Mimi akan mengadu, ibu? Mimi juga tidak tau harus pergi kemana, dan harus tinggal di mana? Azmi menghela nafasnya berat, dan melangkahkan kakinya untuk meninggalkan panti asuhan yang selama ini menjadi tempat ia tinggal dan di besarkan. Andrean semakin gelisah saat melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam telah menunjukkan pukul sembilan lewat sepuluh menit. Andrean kembali mengintip di balik tirai kaca ruangannya, akan tetapi gadis yang dari tadi ia tunggu tidak kunjung datang. Andrean semakin uring-uringan dan gelisah tidak menentu. Akhirnya, kesabaran Andrean habis juga. Ia mengenyampingkan kedudukannya untuk menanyakan dimana keberadaan Azmi kepada Ega dan Lina, rekan kerja Azmi. Saat Andrean gelisah, begitupun dengan Reno. Pria itu juga sedang mengintip dari kaca ruangannya. 'Kemana dia? Kenapa jam segini dia belum datang juga? Apa dia sakit? Reno terus memandangi kubikel yang di tempati oleh Azmi. Untuk menghilangkan rasa penasarannya, Reno memilih keluar dari ruangannya. Ada satu tempat yang akan membuatnya, bisa menemukan jawaban atas kegelisahan yang ia rasakan. Reno juga menyambar kunci mobil yang berada di atas meja kerjanya. Reno dan Andrean sama-sama tertegun, saat mereka keluar dari ruangan masing-masing. "Abang mau kemana? Tanya Andrean, sambil mengusap tengkuknya. "Abang ada keperluan sebentar. Kamu gantiin Abang ya, Yan. Sebentar lagi ada rapat." Reno bergegas meninggalkan ruangan tersebut. Andrean kembali menelan kata-katanya saat ia ingin protes kepada Reno. Andrean telah memiliki rencana untuk menemui Azmi kerumahnya. Akan tetapi Reno malah memintanya untuk menggantikan posisinya. Andrean mengacak rambutnya dan masuk kedalam ruangan Reno untuk mempersiapkan seluruh keperluan rapat. Dari ruangannya, Reno langsung menuju ruangan HRD untuk meminta data dan alamat rumah Azmi. Setelah mendapatkan alamat Azmi, Reno langsung menuju alamat panti asuhan yang di berikan oleh pihak HRD. Kurang dari dua jam, Reno akhirnya menemukan alamat panti asuhan. Saat ingin masuk kedalam gang sempit, Reno melihat gadis yang ia cari. Gadis itu menenteng sebuah tas rans yang cukup besar. Gadis itu berjalan sambil menunduk dan sesekali menghapus air matanya. "Mimi." Reno menghadang jalan Azmi. "Pak Reno?" Azmi mengerjapkan matanya menatap Reno yang telah berada di hadapannya. Ia tidak percaya, atasannya sekarang berada di hadapannya. "Kamu mau kemana? Kenapa kamu tidak masuk bekerja hari ini?" cerocos Reno. "Maaf, Pak. Ibu saya meninggal dunia kemarin sore Pak. Dan saya ingin mengantarkan beliau ketempat peristirahatan terakhirnya." "Saya turut berdukacita ya, Mi. Semoga ibu mu Husnul khatimah." Rendi mengusap bahu Azmi. "Terimakasih, Pak." Azmi sedikit menundukkan tubuhnya. "Bapak ada apa mencari saya sampai kesini pak? Saya sudah menitipkan pesan kepada Ega dan Lina untuk tidak masuk hari ini." "Ah itu, Mi. Saya kebetulan ingin bertemu klien di dekat sini. Dan saya melihat kamu, dan, ya, makanya saya menemui kamu." Jawab Reno asal. "Klien, Bapak? Di dalam gang sempit ini?" Azmi menatap Reno heran. "Sepertinya saya menyasar, Mi." Reno mengusap tengkuknya berkali-kali. "Ooo. Saya pikir Bapak memiliki klien disini. Boleh saya lihat alamatnya Pak? Saya hafal daerah sini." Azmi mengadahkan tangannya untuk meminta kertas yang berada di dalam genggaman Reno. Padahal kertas tersebut berisi alamat panti asuhan Azmi, yang diberikan oleh pihak HRD "Ah. Lupakan, kliennya bisa saya minta untuk datang kekantor. Kamu ingin kemana, Mi? Dengan membawa tas ransel ini." "Panti asuhan tempat saya tinggal, hari ini disita oleh pihak Bank, Pak. Jadi, saya ingin mencari tempat untuk tinggal." Azmi mengulas senyum di bibirnya. "Kalau begitu ikut saya." Reno mengambil tas yang ada di tangan Azmi, dan membawa ransel itu masuk kedalam mobilnya. "Ayo, Mi. Masuk! Saya akan mengantarkan kamu kerumah mu yang baru." Reno menyeret tangan Azmi untuk masuk kedalam mobilnya. Selama di dalam mobil, tidak ada yang membuka suara di antara mereka berdua. Reno sibuk dengan pikirannya, Azmi juga sibuk dengan kesedihannya. Sepanjang perjalanan Reno tidak pernah berhenti menatap wajah manis milik Azmi. Sesekali Reno mengulas senyum saat gadis itu berusaha membuat matanya agar tetap terjaga. Hampir dua jam perjalanan, Reno akhirnya memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah yang cukup besar. Rumah tersebut di kelilingi oleh banyak pohon dan bunga. Reno langsung turun dari mobil, dan mengambil ransel Azmi yang ia letakkan di kursi belakang. Kemudian Reno memutari mobil untuk membukakan pintu mobil untuk Azmi. Azmi masih heran melihat tingkah Reno dan dimana keberadaannya sekarang. "Kita dimana, Pak?" Gadis itu tidak berkedip saat melihat Reno membuka pintu mobil untuk nya. "Untuk sementara waktu, kamu tinggal disini ya. Di dalam ada asisten rumah tangga dan suaminya yang bekerja sebagai tukang kebun di rumah ini. " Reno menggandeng tangan Azmi, dan membawanya gadis tersebut masuk kedalam rumah. "Pak. Saya bisa mencari rumah kontrakan sendiri, Pak!" Azmi melepaskan tangannya dari Reno. Semua perlakuan Reno membuat Azmi merasa tidak nyaman. "Memangnya kenapa, Mi? Apa rumah ini terlalu kecil? Baiklah saya akan mencarikan rumah yang lebih besar untuk Kamu!" Reno kembali meraih tangan Azmi, dan membawa gadis itu kembali keluar dari rumah tersebut. "Bukan karena itu, Pak, saya tidak ingin menyusahkan Bapak. Dan saya juga tidak ingin membuat istri bapak salah paham terhadap saya." Azmi menundukkan kepalanya. Reno menarik tangan Azmi, dan membawa gadis itu duduk di sebuah kursi yang berada di bawah sebuah pohon. "saya mohon, Mi. Kamu terima bantuan saya satu kali ini saja, Mi. Dengan kamu tinggal disini, anak saya bisa bertemu dengan kamu kapan saja ia mau. Tania sudah terlalu sayang kepada kamu, Mi. Tania sering bermain kesini, untuk melihat kelincinya yang ada di belakang rumah. Saya mohon kamu terima ini semua, demi Tania. Dan untuk istri saya, dia tidak akan pernah peduli dengan apa yang saya lakukan." Reno menatap langit untuk menyembunyikan matanya yang memerah. Azmi menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Sejenak Azmi berpikir, dan ia memutuskan untuk menerima bantuan Reno. "Baiklah, Pak, saya akan menerima bantuan, Bapak." Azmi mengulas senyum di bibirnya. "Terimakasih, Mi." Reno menepuk bahu Azmi pelan. "Sama-sama, Pak." "Baiklah ayo kita masuk! Saya akan memperkenalkan kamu kepada orang-orang yang ada di rumah ini." Reno kembali menggenggam tangan Azmi, dan membawa gadis itu masuk ke dalam rumah tersebut. ”Selamat sore, Tuan Reno,” seorang wanita paruh baya menghampiri Reno dan Azmi. “Sore, Bik. Bik, Perkenalkan ini Azmi, salah satu staf di kantor saya. Sekaligus kakak angkat Tania, dan untuk sementara waktu, Azmi akan tinggal disini bersama Bibik." Ucap Reno. “Baik, Tuan.”Wanita separuh baya itu menundukkan tubuhnya, dan meraih tas yang ada di tangan Azmi. “Mari saya bantu Nona muda. Nama saya Lastri, Non, ayo ikut saya! Saya akan mengantarkan Nona ke dalam kamar.” Lastri membawa Azmi ke lantai dua rumah tersebut, karena kamar utama berada di lantai dua. Dengan langkah yang sedikit ragu, Azmi mengikuti langkah bi Lastri. Sesekali Azmi menoleh ke bawah, dan melihat Reno yang sedang memainkan ponsel yang berada di dalam genggamannya. Sementara di kantor, Andrean melonggarkan dasi yang melingkar di lehernya. Kepala Andrean terasa panas dan berasap saat ia menggantikan Reno untuk rapat dengan klien. Setelah selesai rapat, Andrean masuk kedalam ruangan Reno, ia berniat menyusun semua laporan hasil rapat kedalam komputer milik Reno. Rasa kesal dan lelah yang sedang dirasakan Andrean, terasa semakin parah saat ia mendapati istri Reno yang sedang duduk di sofa yang berada di dalam ruangan Reno. Dengan secepat kilat, Andrean kembali menutup pintu ruangan Reno dan kembali kedalam ruangannya. Andrean menghempaskan tubuhnya ke atas sofa dan memijat pelipisnya sendiri. Kepala Andrean semakin terasa sakit, saat melihat kakak iparnya yang berada di dalam ruangan Reno, dan Andrean yakin sebentar lagi kakak iparnya itu pasti akan menemuinya. “ Kenapa kamu selalu menghindari aku, Mas?” Seperti dugaan Andrean, kakak iparnya itu mengikuti Andrean ke dalam ruangannya. Wanita bertubuh tinggi semampai itu, langsung duduk di hadapan Andrean. “Aku tidak menghindari mu, Len. Karena aku memang tidak ingin bertemu dengan mu.” Andrean menegakkan punggungnya. “Alena. Harus berapa kali aku harus mengatakannya kepada mu. Jangan pernah temui aku lagi, Len!” Andrean menunjuk wanita yang duduk di hadapannya. “Apa karena aku hanyalah seorang bekas office girl mas? Sehingga kamu tidak mau memberikan kesempatan kepada ku untuk hanya sekedar dekat dengan kamu? Tidak bisakah kamu memandangku, dan menganggap aku ada!" wanita itu menatap Andrean, dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. “Bukan, bukan karena itu. Akan tetapi, karena aku tidak mencintaimu, dan kamu adalah istri dari Reno, abang ku, Alena.” Andrean mulai meninggikan suaranya, Andrean langsung berdiri dan berniat keluar dari ruangannya. “Aku mohon, mas! Belajarlah untuk mencintaiku.” Alena memeluk Andrean dari belakang. “Aku sudah memiliki butik sendiri, Mas! aku bukan office girl lagi, Mas. Aku juga sudah rela meninggalkan orang tuaku, demi mengejar cintamu. Hargai aku mas.” Lirih Alena. “Dengarkan aku, Alena Wijaya. Kamu itu Istrinya bang Reno, Len. Kamu harus menjaga kehormatan kamu.” “Aku tidak mencintai dia, Mas! Pria b******k itu menjebak ku. Berapa kali harus aku katakan kepada mu, malam itu, dia memintaku untuk menemuimu di dalam ruangannya. Tapi kenyataannya dia yang berada di sana, bukan kamu, Mas.” “Tapi kamu melakukannya dengan sadar kan, Len? bukan karena paksaan dari bang Reno!” “Aku memang melakukan nya dalam keadaan sadar, Mas. Tetapi, ruangan itu sangat gelap, dia langsung menyergap ku tanpa suara, aroma tubuhnya juga mirip dengan mu.” Gumam Alena. “Berarti kamu adalah wanita yang sangat bodoh, dengan mudahnya memberikan harga dirimu kepada seorang pria yang jelas-jelas tidak mencintaimu. Kamu sebenarnya beruntung, Len, karena jika aku yang berada di sana, aku tidak akan pernah mau menikahimu seperti bang Reno.” Andrean menghentakkan tangan Alena agar ia bisa terlepas dari pelukan Alena. Andrean menarik tangan Alena, dan membawa gadis itu keluar dari ruangannya. “Mommy?” Tania dan Mirna yang ingin masuk kedalam ruangan Reno, terkejut saat melihat Alena di seret oleh Andrean. “Apa?” jawab Alena sinis. “Mommy berkelahi lagi sama papi? sampai-sampai papi menyeret Mami seperti ini?” Tania menyentuh pergelangan tangan Alena yang memerah karena bekas cengkraman Andrean. “Lepaskan aku! Jangan coba-coba kau sentuh aku dengan tangan kotor mu itu!" Alena menarik tangannya dari Tania. Membuat gadis kecil itu menundukkan kepalanya. “Maaf mommy, Tania khilaf.” Serak Tania. “Kamu apa-apaan sih, Len? Ini anak kamu, darah daging kamu, Lena. Kenapa kamu memperlakukannya seperti ini? Katamu, kamu akan belajar menerima kehadiran Tania.” “Aku akan menerima kehadirannya, jika daddy nya mau menceraikan aku, dan kamu menikahi aku mas.” Sengit Alena. “Papi, Tania tidak apa-apa, Pi. Tania rela di benci Mommy, asalkan mommy tidak meninggalkan Daddy.” Tania memeluk kaki Andrean. Gadis kecil itu mulai segugukan disana. Andrean meraih lengan Tania, dan membawa Tania kedalam gendongan. “Kubur semua obsesi kamu Lena, sebelum kamu menyesali semuanya. Dan ingat satu hal, sampai matipun aku tidak akan pernah bisa kamu miliki.” Andrean membawa Tania keluar dari ruangan tersebut, diikuti Mirna dari belakang. Saat Alena datang kekantor, pasti akan selalu ada keributan. Semua ia lakukan agar Reno malu atas kelakuannya dan pergi meninggalkannya. Akan tetapi, sampai saat ini Reno masih enggan untuk menceraikan Alena. Jika Alena yang meminta untuk bercerai, maka Alena tidak berhak membawa apapun saat ia keluar dari kehidupan Reno. Itulah sebabnya Alena selalu mencari cara agar Reno mau menceraikannya. Alena bahkan menikah tanpa sepengetahuan orang tua dan keluarnya. Dan Alena adalah putri tunggal dari Maryam, ibu panti di tempat Azmi tinggal. Sedikit cerita masa lalu, Reno dan Alena. Alena adalah seorang office girl di kantor Reno. Tutur kata yang lembut dan sopan membuat Reno mengagumi sosok Alena Wijaya. Alena juga memiliki kecantikan yang sangat alami, walaupun Alena dulu tidak pernah menggunakan riasan sedikitpun saat ia bekerja, akan tetapi Alena telah memiliki wajah yang sangat mempesona. Hingga membuat Reno jatuh cinta kepadanya, dan sangat terobsesi untuk memiliki Alena. Semua usaha telah dilakukan oleh Reno. Akan tetapi, semua usaha itu sia-sia karena Alena telah terlanjur jatuh cinta kepada Andrean, adik kandung Reno sendiri. Walaupun Alena sangat mencintai Andrean,tetapi Andrean tidak menaruh sedikitpun rasa kepada Alena. Hingga malam itu, Reno putus asa dan menjebak Alena. Reno berpenampilan persis seperti Andrean. Bukan Hanya itu saja, Reno juga memakai parfum yang biasa di gunakan oleh Andrean agar Alena mengira Reno adalah Andrean, dan Reno bisa meniduri Alena tanpa perlawanan. malam itu, Reno bahagia bisa memiliki Alena seutuhnya. Walaupun disaat yang bersamaan, Reno juga harus kecewa karena bukan ia pria pertama yang menyentuh Alena. Karena cinta yang sudah terlanjur tumbuh di dalam hati Reno, membuat Reno tetap menerima segala kekurangan Alena. Setelah kejadian itu, Alena menghilang entah kemana. Reno telah mencari keberadaan Alena kemana-mana. Alamat yang di tulis Alena di CV nya, adalah alamat kontrakannya. Saat Reno menemui alamat tersebut, Alena sudah lama pindah dari sana. Dua bulan berlalu, akhirnya Alena kembali dan menuntut tanggung jawab kepada Reno. Karena kejadian malam itu, membuat Alena hamil. Dengan senang hati Reno langsung menikahi Alena. Walaupun Alena telah menyandang status istri dari Reno, Alena tetap selalu mencoba untuk melenyapkan janin yang berada di dalam rahimnya. Hingga membuat Tania terlahir cacat. Selama menikah, Alena tidak pernah mengizinkan Reno berdekatan dengannya, apalagi sekedar untuk menyentuhnya. Lagi-lagi karena cinta di hati Reno, membuat pria itu sabar dan menerima semua peraturan dari Alena, asalkan Alena tidak pergi meninggalkannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD