Nona Anderson

1305 Words

Cahaya matahari yang mengintip dari balik tirai jendela kaca yang cukup besar, membuat Alena yang masih berada di dalam pelukan Keano, mengerjapkan matanya berkali-kali. Hingga tatapan Alena berhenti pada sebuah jam dinding yang menggantung manis di sebuah dinding bercat biru langit tersebut. Dari sana, Alena bisa melihat bahwa jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi tepat. Ia langsung mencoba bangkit dan melepaskan tangan Keano yang melingkar pada perutnya. "Mmhh, Nona Anderson. Diamlah. Aku masih ingin tidur." Serak Keano. Pria itu juga semakin mempererat pelukannya kepada Alena. "Aku harus pulang! Aku takut suamiku mencari keberadaanku." Ketus Alena, sambil mencoba mendorong d**a kekar, pria yang telah melayaninya bercinta. "Kau boleh pergi Nona Anderson, bahkan aku bersedia mengan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD