Episode 8

1523 Words
Malam itu jam hampir menuju pukul sebelas, menjelang tengah malam. Eza menggoreng martabak telur pesanan beberapa pelanggan, meskipun tidak banyak. Sementara Ega bertugas memotong-motong hasil gorengan martabak itu dan mengemasnya, ke dalam kotak. Udara malam itu tak begitu dingin, karena saat ini musim panas tengah merayapi kota Malangbong. Rasa gerah seringkali terasa, meskipun kipas angin selalu menyala di kursi belakang gerobak. Imran baru saja akan beristirahat, ketika sebuah mobil patroli berhenti di depan gerobak dagangannya. Ranti dan Alia turun dari mobil patroli itu untuk membeli martabak telur, sebelum kembali berkeliling. Eza menatap Alia dengan penuh senyuman, saat melihat sosoknya. Pria itu tak pernah sama sekali berusaha menyembunyikan keantusiasannya, jika sudah bertemu dengan Alia. Hal itu tak pernah berubah sejak ia pertama bertemu dengan Eza saat masih remaja, dan tentunya, hal itu jugalah yang membuat Alia merasa berarti setiap kali bertemu Eza. Ega memperhatikan semua itu, dan diam-diam menatap tajam ke arah Alia karena masih tak percaya, bahwa gadis itu benar-benar mau berteman dengan Adiknya yang hanya anak penjual martabak. Baginya, hal itu terasa sangat aneh dan membingungkan. Selama ini banyak sekali gadis yang menjauhi mereka, hanya karena merasa anak seorang penjual martabak bukanlah pekerjaan yang bisa dibanggakan. Mereka dibeda-bedakan, dan Ega pun akhirnya selalu tak percaya jika ada yang mau mendekat pada mereka. Ranti memisahkan diri dari Alia untuk menuju ke Indomaret. "Titip cincau mereka yeos, ya, yang dingin," pesan Alia. "Sipp," balas Ranti. Alia kini menoleh sekaligus mendekat ke arah Eza yang menunggunya menyapa. "Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumsalam. Malam-malam kok masih pakai seragam, kamu nggak pulang ke rumah?" tanya Eza, ingin tahu. Ega masih memperhatikan Alia yang kini sudah mendekat pada Eza seraya tersenyum. "Aku lagi dapat jadwal shift malam, patroli lebih tepatnya," jawab Alia, jujur. Eza pun balas tersenyum. Jujur saja, ini pertama kalinya Alia berbicara di hadapannya tanpa ada kesan curiga pada sikap Eza. Hal itu membuat Eza merasa jauh lebih senang dari pertemuan yang biasanya. "Mau beli martabak?!" tanya Ega, yang memperlihatkan ketidaksukaannya dengan kehadiran Alia. Alia memilih tak menjawab pertanyaan itu. Wajahnya yang tadi berbalut senyum kini berubah datar, setelah mendengar pertanyaan yang ketus dari Ega. Imran menepuk bahu Ega dengan keras, untuk menegur perilaku tidak sopannya terhadap Alia. "Jangan begitu! Sama pelanggan kok nggak ada sopan-sopannya!" omel Imran. Ega hanya meringis sambil memegangi bahunya yang sakit. Eza pun menatap tak enak pada Alia, karena sikap Kakaknya yang ketus dan kasar. Namun Alia terlihat biasa saja, dan tak ingin terlalu menanggapi. "Jangan diambil hati, ya," bisik Eza. Alia pun kembali tersenyum, saat menatap ke arah Eza seperti tadi. "Iya, santai aja." "Kamu mau beli martabak, Lia?" tanya Eza, lagi. "Iya. Aku pesan martabak telur yang jumbo, empat kotak," jawab Alia, sambil tersenyum lagi. Tak lama kemudian, Ranti kembali mendekat ke arah Alia, sambil membawa minuman dalam plastik dari Indomaret yang dibelinya di seberang Masjid Agung Kota Malangbong. Mereka duduk bersama di sebuah kursi yang ada di belakang gerobak martabak tersebut. Alia menerima sekaleng kopi instan dan mulai meminumnya, untuk.menghilangkan rasa kantuk. "Cuma itu minuman yang ada, nggak ada minuman cincau," ujar Ranti. "Iya, nggak apa-apa. Sama kok, isinya dingin," balas Alia, sambil memainkan alisnya. "Ya 'kan memang aku ambilnya dari kulkas. Kalau ku ambil dari oven pasti minumannya panas," tanggap Ranti. "Intinya, pegawai Indomaret nggak akan melakukan hal bodoh dengan menyimpan minuman kaleng ke dalam oven, Ran. Mereka takut dipecat, atau takut dicap sakit jiwa," ujar Alia, santai. Eza dan Ega hampir tertawa, saat mendengar apa hal yang tengah dibahas oleh kedua gadis itu. Imran memperhatikan keduanya, yang kini duduk diam di kursi tempat menunggu pesanan. "Pulang jam berapa kalau shift malam, Neng?" tanya Imran. Alia pun tersenyum ke arah Imran. "Jam enam pagi, Pak," jawab Alia, sopan. "Berarti begadang ya, kalau begitu?" "Iya Pak, cuma jarang kok. Biasanya saya dan rekan saya ini selalu dapat shift siang. Hanya karena hari ini di kantor sedang kekurangan orang, maka kami dipindahkan sementara untuk aktivitas patroli malam," jelas Alia. "Sampai kapan kamu akan bertugas patroli malam?" Eza terdengar khawatir. Alia kini menoleh ke arahnya. "Minggu depan sudah kembali seperti semula kok, jadwal kerjaku," Alia meyakinkan Eza. Eza mengangguk-anggukan kepalanya, lalu kembali menggoreng martabak telur di hadapannya. Ranti dan Alia menoleh ke sekeliling daerah Malangbong yang sudah hampir sepi, karena malam semakin larut. Ada dua orang datang mendekat ke arah gerobak martabak itu, Alia dan Ranti tentu saja mengenali mereka berdua karena foto mereka ada di dalam daftar saksi kasus Anis. "Eh, bukannya itu adalah... ." "Pura-pura nggak tahu, Ran! Pura-pura nggak kenal," bisik Alia, memotong ucapan Ranti. "Oke!" balas Ranti. Kedua orang itu benar-benar berhenti di tempat yang sama dengan Alia dan Ranti. Gaya mereka sangat bisa dibilang urakan, jika dilihat dari bagaimana cara mereka bertindak. Perilaku mereka sangat jauh dari kata sopan, dan bahkan ada beberapa tato buatan sendiri di tangan mereka yang berusaha untuk mereka tutupi. "Martabak spesial dua kotak, Mang," pesan salah satunya, yang diketahui oleh Ranti dan Alia bernama Aspin. Imran pun terlihat segera membuatkan pesanan itu. Pria satunya lagi yang bernama Dito, duduk di dekat Alia. Alia pun segera bergeser agar menjauh dari pria itu. Dito menatapnya. "Nggak perlu geser atuh, Bu, saya mah nggak menggigit," godanya, sambil tersenyum-senyum genit. Eza pun mendadak diam, rahangnya mengatup kuat-kuat untuk menahan emosinya agar tak meledak. Ia tak suka saat seseorang dengan terang-terangan mencoba menggoda Alia, apalagi hal tersebut bisa ia lihat dengan jelas melalui pantulan kaca gerobak di depannya. Ega dan Imran menyadari hal itu, Eza terlihat sangat tak suka jika Alia diganggu. Namun, Alia sendiri tampaknya jauh lebih tangguh dengan tampang datarnya yang masih saja belum berubah sejak tadi. Membuat orang yang tengah menggodanya salah tingkah selama beberapa saat, meski kelihatannya belum menyerah. Dito kembali mencoba mendekati Alia sekali lagi. Kali ini pria itu mengulurkan tangannya untuk menyentuh lengan Alia. Namun sesuatu menghalanginya, dan Alia tahu betul kalau itu adalah tangan Anis yang sosoknya selalu mengikuti Alia kemana-mana, malam ini. Alia pun pura-pura bergerak lebih cepat, dan menekuk tangan pria itu ke belakang punggungnya, agar tak ada yang menyadari keanehan tak kasat mata itu. "Arrggghhh!!! Ampun Bu, ampun...," ringis Dito. Alia menatap Aspin yang hanya bisa mematung ketakutan. "Bayar pesanan kamu, dan pergi dari sini secepatnya! Kalau sampai saya ketemu dengan kalian lagi, maka saya akan membuat kalian menyesal karena harus mendekam di dalam penjara, dengan tuduhan pelecehan terhadap aparat kepolisian!" ancam Alia, tegas. Ranti meraih bungkusan martabak telur dari tangan Ega, lalu menyerahkannya pada Aspin. "Bayar dan pergi!" tegas Ranti, tak kalah garang. Aspin pun menyerahkan uang pada Ranti dengan tangan gemetar, lalu segera meraih bungkusan martabak itu dengan ketakutan. Alia pun mendorong Dito agar menjauh dari tempat itu sama seperti Aspin. Mereka berlari dengan cepat, karena takut Alia dan Ranti mengejar mereka kembali. Eza bernafas lega, ia segera mematikan kompor setelah menggoreng martabak yang terakhir. Tatapannya jatuh pada Alia yang memang sedang menunggunya berbalik. Pria itu mendekat, sambil menyerahkan kantong plastik berisi martabak yang dipesan oleh Alia, tadi. "Hati-hati," pesan Eza, yang sangat khawatir. Alia mengangguk. "Kamu juga harus jauh-jauh, dari masalah. Jangan berbuat macam-macam, kasihan Bapak dan Kakakmu kalau sampai harus melihat jalan hidupmu tidak beres," Alia juga ikut memberikan pesan untuk Eza. Eza mengangguk. Usai membayar, Alia dan Ranti pun berpamitan untuk melanjutkan patroli mereka malam itu. Mereka pergi setelah memundurkan mobil patroli yang dibawa malam itu, dari area parkir dekat gerobak. Eza masih saja memperhatikan mobil yang mulai menjauh ke arah Pasar Kolot, Ega pun menatap Adiknya dari dekat. "Sejak kapan kamu teh kenal sama Polisi, itu? Akrab pisan, kayanya," tanya Ega, menyelidiki. "Udah empat belas tahun aku kenal dia, dulu dia masih anak remaja saat kenal denganku," jawab Eza, jujur. * * * Alia menghentikan mobilnya di pinggir jalan sebuah gang yang mereka masuki, usai mengikuti jejak terakhir Aspin dan Dito. Dari Pasar Kolot, Alia memutar balik mobil patroli itu dan bergegas mengambil jalan lain yang tidak melewati gerobak Martabak milik keluarga Eza. Ranti mengeluarkan teropongnya dari dalam ransel, lalu mencoba mengamati sebuah rumah, yang dari kejauhan tampaknya terlihat seperti sarang para pemabuk. "Mereka benar-benar ke arah rumah itu, Lia," ujar Ranti, sambil memantau dengan teropongnya. Alia juga bisa melihat hal itu dengan jelas, meski tak memakai teropong sekalipun. Kedua matanya menajam, seiring dengan firasatnya yang juga seakan tergelitik ketika melihat Dito dan Aspin di Malangbong, tadi. "Berarti selama ini, mereka semua tinggal tidak jauh dari Cijanur. Itulah kenapa mereka bisa tahu seluk beluk rumah Neng Anis dengan mudah, dan mereka bisa membuat alibi yang meyakinkan, sehingga mereka tidak dicurigai oleh siapapun dalam kasus ini," ujar Alia. Ranti menatap Alia. "Jadi maksudnya, semua orang yang ada di dalam daftar saksi adalah tersangka yang tak pernah ditemukan, itu? Mereka adalah perampok dan p*******a yang dicari-cari, selama ini?" tanya Ranti. "Ya, betul sekali. Nggak nyangka, kita ternyata sepemikiran ya...," Alia tersenyum miring. Gadis itu pun menatap kaca spion di mana pantulannya menampilkan sosok Anis, yang tengah menunjukkan kemarahannya seperti yang pernah terjadi di warung Mang Aswin, waktu itu. Sosok Anis sendiri balas menatap pada Alia melalui pantulan yang sama, lalu menganggukan kepalanya, seakan membenarkan apa yang Alia katakan pada Ranti. "Namun kita masih butuh banyak potongan puzzle yang berkaitan dengan kasus ini. Menemukan potongan puzzle itulah yang tidak mudah," batin Alia. * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD