Episode 7

1614 Words
Sore itu, Khadija berniat untuk berjalan-jalan sebentar. Sudah lama ia tak menikmati suasana sore di Cijanur, sejak kepindahannya tiga belas tahun yang lalu. Ia berjalan menuju ke warung sate milik Aswin, dan memesan dua porsi seperti yang biasa Alia pesan. Khadija menunggu pesanan satenya, sambil duduk di salah satu kursi dalam warung tenda itu. Tak lama lagi Alia akan pulang dari kantor, maka dari itu ia berniat membeli sate sambil menunggunya di warung milik Aswin. Benar saja, tak lama kemudian Alia benar-benar melintas di depan warung sate tersebut. Alia yang melihat sosok Ibunya di warung milik Aswin segera berhenti untuk memarkirkan motornya. Gadis itu berjalan ke arah tempat Khadija duduk, setelah membuka dan menyimpan helmnya. "Assalamu'alaikum," ujar Alia. "Wa'alaikumsalam," jawab Khadija, Aswin, Ares, dan Aldi. Alia mendekat pada Ibunya, dan mencium tangan wanita itu seperti biasanya. Hanya saja, kali ini tatapan Alia begitu dingin dan tak sehangat biasanya. "Umi kenapa, keluar? 'Kan Alia udah bilang, telepon Alia kalau Umi pengen beli sesuatu. Biar Alia yang belikan kalau Umi mau sesuatu," Alia terlihat khawatir. "Umi bosan di rumah. Makanya jalan-jalan, dan sekalian beli sate di sini. 'Kan nggak jauh juga dari rumah. Cuma sekitar Cijanur aja, nggak sampai di Malangbong," jelas Khadija. Alia tak bergeming, wajahnya tetap datar dan tak menunjukkan ekspresi apapun. Khadija begitu mengerti kalau Alia tak suka, dengan apa yang dilakukannya saat itu. Tapi gadis itu tentu takkan mengungkapkannya, karena sudah terlatih untuk berdiam diri. Sama persis seperti Almarhum Papahnya, dulu. Saat sate yang Aswin bungkus diserahkan pada Alia, gadis itu segera membayarnya tanpa mengatakan apapun. Bahkan Alia tak menanyakan apakah di dalam kantong plastik itu sudah ada kerupuk favoritnya, atau belum. Semua benar-benar datar dan kaku. "Ayo pulang, Mi," ajak Alia, dingin. Aldi dan Ares saling pandang, saat menyadari kalau Alia bisa menjadi sedingin itu. Khadija mengikuti langkah Alia yang keluar lebih dulu dari warung milik Aswin. Ia kemudian menatap putrinya dari arah samping dengan khawatir. "Kamu ada masalah di kantor, geulis?" tanya Khadija. "Nggak ada masalah di kantor, Mi. Alia cuma capek. Ayo, kita langsung pulang," ajak Alia, sekali lagi. Khadija pun mengangguk, ia menaiki motor Alia dan pulang bersama gadis itu. Setibanya di rumah, Alia segera mengunci pintu dan memeriksa semua jendela. Bersikap siaga, seraya mengamati keadaan sekitarnya, agar tak kecolongan. Kewaspadaan yang Alia bangun kini semakin meningkat luar biasa, terlebih setelah ia tahu beberapa hal baru dalam kasus kematian Anis. Baginya, keselamatan Ibunya sangatlah penting dari apapun, selama ia masih menangani kasus itu. Khadija masih saja memperhatikan Alia dengan seksama. Wajah itu masih saja sedatar tadi, meskipun kini telah berada di rumah dan sedang menyajikan sate ke atas piring. "Kamu teh kenapa, geulis? Bilang atuh sama Umi, jangan diam aja," Khadija benar-benar bingung. Alia mendekat, kemudian merangkul Ibunya dengan lembut. Diciumnya pipi kanan sang Ibu, dengan penuh kasih sayang. "Alia nggak kenapa-napa, Mi. Saat ini Alia sedang mengerjakan sebuah kasus. Maka dari itu Alia meminta Umi untuk tetap berada di rumah. Alia ingin Umi tetap aman selama Alia bertugas, jadi tolong, Umi jangan keluar-keluar rumah dulu kecuali sama-sama Alia. Alia ingin memastikan kalau Umi baik-baik aja, selama Alia bekerja. Alia nggak mau terus kepikiran dengan keselamatan Umi, kalau Umi terus saja keluar rumah tanpa Alia. Karena takutnya, pekerjaan Alia berantakan hanya karena terus merasa was-was dengan keadaan Umi di rumah," jawab Alia, memberi pengertian. Khadija pun segera memeluk Alia dengan erat. Kegelisahan yang sedari tadi menggelayuti hatinya kini perlahan memudar. "Ya Allah Neng, Umi kira kamu kenapa sampai bersikap overprotectif begini. Iya, Umi janji nggak akan keluar rumah lagi kalau nggak sama kamu. Umi nggak akan bikin perasaanmu was-was, selama kamu pergi kerja," janji Khadija. "Alhamdulillah kalau begitu, Mi. Sekarang Umi makan satenya ya, Alia mau mandi dulu, nanti Alia temani Umi nonton tv," pamit Alia. Khadija pun menganggukan kepalanya. Alia pun bergegas menuju kamarnya untuk membuka baju seragam dan meraih handuk, sebelum ke kamar mandi. Di atas meja baca, sebuah buku kembali tergeletak seperti yang ditemukan oleh Khadija kemarin. Kali ini buku yang berbeda. "Another Sister...," gumam Alia, membaca judul novel itu. Sentuhan dingin itu kembali merayapi tubuhnya, sosok Anis kini memeluknya dari belakang dan bersandar pada punggung Alia. "Neng Alia, aku kangen," bisiknya. Alia pun tersenyum. "Sama, Neng. Alia juga kangen sama Neng Anis," balasnya. Sosok itu tersenyum, lalu kemudian kembali menghilang. Alia menyimpan novel miliknya ke tempat semula. Ia pun segera beranjak menuju kamar mandi. "Neng, mandinya pakai air panas. Jangan mandi pakai air dingin, nanti kamu masuk angin!" seru Khadija, dari ruang tengah. "Iya, Mi. Alia mandi pakai air panas, kok. Ini udah ada di panci," balas Alia. Khadija mengerenyitkan keningnya. Ia merasa heran dengan apa yang Alia katakan. "Maksud Umi, panasin dulu airnya yang ada di panci. Tadi Umi 'kan keluar beli sate, makanya nggak sempat panasin air mandi, buat kamu," jelas Khadija. "Tapi ini air di panci udah panas, Mi. Tinggal Alia pakai aja, airnya," balas Alia, lagi. Khadija pun segera berlari ke dapur, dan mendapati kalau Alia tengah menciduk air panas dari panci. "Kok, bisa?" heran Khadija. "Apanya yang bisa, Mi?" Alia kebingungan. "Airnya..., kok bisa panas? 'Kan tadi Umi keluar, kompor Umi matiin. Kok bisa airnya panas?" Alia pun terdiam. Ia benar-benar menyesali otaknya yang tak bisa mencerna dengan cepat kata-kata Ibunya sejak tadi. Sekarang ia harus memutar otak agar Khadija tak merasa ada yang janggal dengan rumah itu. Ia tersenyum menggoda. "Hehehe, Umi mau aja Alia kerjain. Dari tadi kompornya memang mati, dan barusan aja Alia nyalain. Makanya air ini sekarang baru mulai panas," ujarnya. "Astaghfirullah, Neng! Bandel banget sih, kamu! Jahilnya kadang kumat, ya!" omel Khadija. Alia terkekeh geli. "Ya maaf, Mi." Khadija hanya bisa geleng-geleng kepala, lalu kembali menuju ruang tengah untuk menonton televisi. Alia bernafas lega, lalu kembali menoleh ke arah panci air panas. Sosok Anis terlihat di sampingnya sekarang, berusaha menahan tawa akibat bantuan yang dia berikan. Alia menatapnya dengan penuh rindu. "Lain kali jangan ya, Neng," pinta Alia. Sosok Anis pun terlihat menganggukan kepalanya. * * * Alia keluar dari kamar sambil menggosok rambutnya yang masih basah menggunakan handuk kecil, yang biasa ia sampirkan di leher. Ia duduk di samping Ibunya, setelah sekesai berpakaian, usai mandi. Acara televisi kali itu adalah tentang berita yang melaporkan beberapa hal viral di sosial media. Salah satunya adalah tentang orang-orang yang menolak barang antaran dari kurir, padahal mereka memesan barang di online shop memakai sistem COD atau Cash On Delivery. "Kok masih ada ya, orang-orang yang begitu tega menyalahkan kurir pengantar barang, kalau barang pesanan mereka tidak sesuai? Padahal 'kan, bukan kurirnya yang punya online shop, dan bukan kurirnya yang mengemas barang," ujar Khadija. Alia tersenyum dengan sifat Ibunya yang selalu blak-blakan jika tak suka sesuatu. "Itulah akibat dari kurangnya sosialisasi para pemilik perusahaan jasa pengiriman, Mi. Seandainya mereka mensosialisasikan dengan detail pada para konsumen, mengenai apa itu sistem COD, maka tidak akan terjadi hal-hal seperti ini pada kurir yang mengantar barang," tanggap Alia. "Iya juga, sih. Tapi 'kan setidaknya mereka si pemesan barang harus bisa lebih manusiawi lah. Kurir-kurir itu juga 'kan perlu digaji, dan mereka perlu gaji itu untuk biaya hidup keluarganya. Kalau dia harus menutupi uang COD pelanggan yang diantarkan secara terus-menerus, anak-istrinya mau makan apa, coba?" protes Khadija. "Ya maka dari itu, kita sebagai orang tahu bagaimana sistem COD pada online shop, tidak boleh melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh mereka yang tidak tahu alias awam. Dengan begitu, kita bisa membantu para kurir itu dan meringankan bebannya." Khadija pun mengusap-usap rambut Alia yang belum kering sempurna. Masih ada sisa sate yang disimpankan oleh Khadija di atas meja, sehingga Alia pun segera memakannya. "Hmm, benar-benar setengah matang, ya," ujar Alia, yang tak suka sate setengah matang. Khadija terkikik geli saat melihat ekspresi Alia yang tak suka dengan sate setengah matang itu, namun tetap berusaha memakannya agar tidak mubadzir. "Tadi Umi keasyikan ngobrol sama Mang Aswin, sampai lupa bilang kalau satenya yang satu porsi harus matang sempurna. Maaf ya, geulis," Khadija mengakui. "Iya, Mi. Nggak apa-apa, kok," jawab Alia, santai. "Bagus 'kan hasil bakaran satenya? Benar-benar setengah matang seperti yang Umi suka. Ares yang bakar satenya, tadi. Dia teh ternyata mewarisi bakat membakar sate dari Mang Aswin, sementara Aldi mewarisi bakat membuat bubur ayam dari Almarhumah Ibunya," tutur Khadija, sambil tetap menatap ke layar televisi. Alia terdiam beberapa saat dan memikirkan apa yang Khadija katakan padanya, barusan. "Umi tahu darimana, kalau Kak Ares mewarisi bakat membakar sate, dan Kak Aldi mewarisi bakat membuat bubur ayam?" tanya Alia. "Dari Mang Aswin. Tadi Mang Aswin sempat cerita-cerita sama Umi, sambil Umi nunggu satenya jadi. Kata Mang Aswin teh, Ares kalau menjelang tengah malam sekarang udah bisa gantiin Mang Aswin bakar sate, jadinya Mang Aswin nggak terlalu capek kaya dulu lagi," jawab Khadija, dengan jelas. Alia kini benar-benar berpikir keras. Kejadian naas yang menimpa Anis mulai terlintas. Saat itu, kejadian naas terjadi tepat menjelang tengah malam, yang artinya pada saat itu hanya ada Ares di warung sate tersebut, karena Mang Aswin dan Aldi sudah beristirahat di dalam rumah. "Mustahil kalau Ares tidak melihat siapapun yang melintas di depan dan samping warungnya, malam itu. Ia pasti melihat sesuatu. Tapi kalau dia tetap menyangkal dan mengatakan tidak melihat apapun, maka sudah pasti ada kemungkinan, kalau dia juga terlibat. Warung sate Mang Aswin terletak di sudut jalan depan, dan ada dua arah yang bisa terlihat dari sana," batin Alia. Khadija menyadari kalau Alia tengah melamun, sehingga membuatnya menepuk paha putrinya dan membuatnya kaget. "Malam-malam kok melamun. Nanti kesambet, baru tahu rasa," sindir Khadija. Alia terkekeh. "Kalau Alia melamun, Insya Allah nggak akan kesambet, Mi. Paling juga kena serangan jantung, karena Umi selalu hobi mengagetkan Alia," balasnya, dengan sindiran yang sama. Khadija pun tertawa dan segera memeluk putrinya dengan erat. "Hmm, putri Umi selalu aja bisa membalas," gumamnya. * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD